
"Satu-satunya hal yang penting kini adalah kau. Sebab semuanya bermuara padamu." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Sinar mentari tidak pernah cukup kuat untuk membuat Bram terjaga. Tetapi hanya dengan embusan napas istrinya, lelaki itu begitu cepat tersadar dari tidurnya yang lelap.
Membuka mata, Bram tersenyum saat mendapati Diandra tengah bersandar di dadanya, memberikan beberapa kecupan di pipi kirinya.
Merasakan gerakan suaminya yang perlahan-lahan, Diandra melebarkan senyuman.
"Kau sudah bangun, Bram?" bisik perempuan itu pelan sekali. Sedang suaminya itu masih mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang telah memenuhi seisi kamar.
"Selamat pagi, Diandra," balasnya berbisik, menarik Diandra ke dalam dekapannya. Kembali memejamkan mata, sepertinya ia ingin terlelap sebentar lagi.
"Selamat pagi, Bram." Diandra melebarkan senyuman, mengusap-usap wajah lelakinya yang kini tampak dipenuhi bulu-bulu halus di sepanjang dagu.
"Kau ingin terlelap lagi?"
Bram berdehem pelan. "Jam berapa ini, Sayang?" Matanya masih terpejam rapat, tetapi tangannya sudah bergerak untuk mengelus punggung Diandra.
Diandra mengeratkan dekapan. "Hampir jam enam," bisiknya. "Tidurlah sebentar lagi, akan kubangunkan kau beberapa menit lagi."
Bram tidak menjawab. Hening beberapa saat, ketika Diandra melirik kembali pada Bram yang telah kembali tertidur.
Mendaratkan lagi beberapa kecupan di pipi lelaki itu, Diandra diam-diam berbicara dalam hati.
Terima kasih karena sudah di sini, Bram. Pagiku indah sebab kau ada, malamku tenang karena aku berada dalam dekapanmu.
***
Paris, Perancis.
Alegra menekan layar tab-nya dengan terburu-buru. Berdoa dalam hati agar kali ini timnya tidak melakukan lagi kesalahan, sebelum bos mereka--Leonard Butcher, menarik pelatuk pistolnya untuk menghabisi nyawa mereka dalam satu kali tembakan.
"Pastikan info ini valid, William. Jika tidak, maka aku yang akan menembakmu lebih dulu!" Perintahnya tegas sekali, sungguh ingin memberikan ultimatum pada salah satu anak buahnya yang paling dia percaya.
Lelaki yang dipanggil dengan sebutan William tadi menganggukkan kepala, seolah memberikan isyarat bahwa dia mengerti. Manik hazelnya berputar cepat, seiring dengan remasan di sekitar jari-jari sebab dia juga sedang tidak percaya diri.
Alegra melipat kakinya, bersandar pada sofa. William masih duduk tegak di hadapannya, dipisahkan oleh sebuah meja kaca yang diatasnya berisi beberapa kaleng minuman dan cemilan yang berada dalam satu wadah.
"Alegra," panggil pria itu kemudian.
Kali ini tidak menarik perhatian Alegra, sebab perempuan itu masih meneliti layar tab-nya dengan seksama.
"Katakan apa yang ada di pikiranmu." Suara Alegra memenuhi ruang kerjanya, tetapi ia sama sekali tidak menaikkan kepala untuk melihat pada William.
"Jikalau saja--"
"Jikalau apa?!" potong Alegra cepat. Kini menghentikan gerakan jarinya di atas layar, menatap dalam pada manik William. Sesungguhnya dia juga berdebar, tidak tahu nasib apa yang akan menunggunya di depan sana. Habis sudah mereka jika hal ini benar-benar terjadi.
William menarik napas, ragu. "Jikalau saja orang itu adalah Tuan Butcher, maka apa yang akan terjadi?" tanyanya dengan susah payah sekali, sudah memikirkan hal-hal buruk di kepalanya sejak tadi.
Alegra terdiam. Sebenarnya dia yang lebih takut akan hal itu, karena sudah pasti dialah yang akan lebih dulu mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Memikirkannya saja sudah membuatnya merinding.
"Dengar, Will. Kita belum memastikan identitas seseorang itu," ujar Alegra dingin. Matanya menyorot tajam.
William masih hening, meremas kembali jarinya saat bayangan anak perempuan dan istrinya sudah membayang di pelupuk mata.
Dia hampir kehilangan napas, tepat saat Alegra menutup pembicaraan mereka dengan satu kalimat tegas.
"Tapi jika memang dia adalah Tuan Besar, maka bersiaplah untuk mati."
***
Diandra menaiki tangga untuk menuju lantai dua dengan membawa sebuah nampan di tangannya. Bram belum beranjak ke kamar, karena lelaki itu mengatakan ia akan tidur terlambat malam ini.
Besok adalah akhir pekan, dan Bram bersikeras untuk mengerjakan pekerjaannya yang tertunda malam ini. Agar esok ia tidak perlu membuka laptop, agar esok ia bisa fokus untuk bermain bersama Vallois dan Verden seharian.
Mengetuk pintu ruang kerja Bram dua kali, Diandra mendorong pintu berwarna cokelat itu kemudian. Menyembulkan kepala di ambang pintu, melebarkan senyuman saat manik keduanya bertemu.
Bram tersenyum senang, meregangkan kedua tangannya ke atas untuk mengusir rasa lelah karena telah memandangi layar laptop sejak tadi.
Melebarkan kedua tangannya, Bram bersiap untuk menyambut kedatangan Diandra. Perempuan itu tertawa senang, meletakkan segelas susu hangat ke atas meja, sebelum kemudian duduk di atas pangkuan suaminya.
"Aku lelah sekali tadi, tetapi kini bateraiku mulai terisi lagi," bisik Bram pelan, sudah menciumi aroma parfum istrinya dengan perasaan berbunga.
Diandra mengalungkan kedua lengannya di leher Bram, memberikan satu kecupan manis di kening lelaki itu.
"Jangan bekerja terlalu lelah, Bram. Aku tidak mau kau kecapekan, sungguh." Suara Diandra terdengar seperti berbisik, yang entah mengapa menimbulkan efek tagih bagi seorang Bram Trahwijaya.
"Semua ini untuk kalian, Sayang," balasnya. "Aku ingin memastikan kalian hidup nyaman bahkan hingga puluhan tahun ke depan."
Diandra tersenyum tipis. Mendengarkan kalimat Bram tadi membuatnya menggeleng pelan, saat Bram kini terdengar seperti bapak-bapak yang terlalu khawatir.
"Terima kasih karena begitu peduli pada kami, Bram," bisik Diandra tulus. "Sekarang minum susumu, oke?"
Bram mengangguk. Membiarkan Diandra turun dari pangkuannya meski ia sebenarnya tidak ingin, namun akhirnya ia melepaskan perempuan itu dari jerat kedua tangannya.
Meraih gelas susu yang disodorkan istrinya, Bram meminum cairan kecokelatan itu hingga habis tak bersisa. Membuat Diandra tersenyum lebar, saat kemudian ia menerima kembali sodoran gelas yang telah kosong.
"Lezat sekali, Diandra. Terima kasih banyak, Sayangku." Menarik kembali Diandra ke dalam pangkuannya, Bram mendongakkan kepala untuk menatap pada manik istrinya.
Manik teduh yang ia rindukan sepanjang hari, manik kecokelatan yang membuatnya terus semangat dalam menjalani hari-hari. Manik yang membuatnya ingin segera pulang, manik yang akan selalu dia damba.
"Kau belepotan, Bram," ujar Diandra terkekeh pelan, saat mendapati sisa-sisa tetesan cokelat di seputaran bibir suaminya.
Bram memiringkan kepala. Sengaja tidak meraih tisu yang sebenarnya berada dalam jangkauannya, ia benar-benar ingin menggoda Diandra sekarang.
"Kau mau membersihkannya untukku?" tanya lelaki itu pelan, mengerlingkan sebelah mata yang langsung memecahkan gelak tawa Diandra.
"Astaga, bayi besarku ini!"
Beberapa detik kemudian Diandra sudah menempelkan bibir merah muda miliknya pada bibir lelaki itu, menyesapi sisa-sisa susu cokelat di sana. Merasakan manisnya susu yang bercampur dengan manisnya bibir suaminya, Diandra tidak bisa mundur saat Bram sudah memagutnya lebih dulu.
Ciuman itu berlangsung panjang, hingga menyebabkan keduanya terengah di waktu yang bersamaan.
Dada bidang Bram naik turun, saat Diandra pikir suaminya akan meminta lebih detik itu juga. Bram biasanya tidak membuang waktu, biasanya ia akan langsung memulai tempo permainan mereka.
Tetapi kali ini tidak, saat lelaki itu mengernyitkan dahinya sekarang.
"Diandra," bisiknya sambil bergelayut manja. Jari lelaki itu tidak menelusup masuk ke dalam gaun malam Diandra, tidak juga bibirnya menghujani Diandra dengan kecupannya yang hangat.
"Apa, Bram?"
Lelaki yang ditanyai masih sibuk menenggelamkan kepalanya pada ceruk dada istrinya, menyembunyikan wajah di sana.
"Aku ingin makan bubur ayam," bisiknya pelan.
Membuat Diandra memutar bola mata, takut-takut dia salah dengar kali ini.
"Hah?"
Melepaskan pelukannya, Bram kembali mendongak untuk melihat pada Diandra.
"Aku pengen makan bubur ayam, Diandra," katanya memperjelas.
Manik lelaki itu memancarkan sinar memelas, saat sepertinya Bram benar-benar serius dengan ucapannya kali ini. Membuat Diandra benar-benar hening, terpana beberapa saat.
"Ayo kita beli bubur ayam, Diandra." Bram sudah menurunkan Diandra dari pangkuannya dengan gerakan lembut, saat tangannya meraba-raba di atas meja untuk mencari kunci mobil.
Mendapatkan yang ia cari, lelaki itu tersenyum sumringah sembari meraih tangan Diandra, beranjak untuk membawa perempuan itu keluar dari sana.
Diandra mengikuti tarikan tangan Bram dengan mata menyipit, saat tidak sengaja ia melihat ke arah jam yang terpasang di dinding.
Sudah hampir pukul dua belas malam.
.
.
.
🗼Bersambung🗼