Travelove~

Travelove~
Bonchap 9 - Pesawat Terbang



“Apa pun akan kuberikan. Jangankan hanya ingin melihatnya, membelinya pun aku bisa jika itu memang bisa membuatmu bahagia.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Diandra tidak pernah menduga dia akan merasakan hal seperti ini.


Kehamilan yang benar-benar berbeda, dengan kehamilan yang pernah ia alami sebelumnya. Jika pada saat mengandung si kembar Vallois dan Verden dia merasa tubuhnya semakin kuat dan tidak pernah merengek apa pun pada Gionard, maka kali ini semuanya berbeda hampir seratus delapan puluh derajat.


Dulu dia bisa kemana-mana sendirian. Bisa menyetir sendirian. Bisa mengajar meski berada di trimester pertama. Napsu makannya tidak berkurang atau hilang sama sekali, dengan hampir tidak pernah ada rasa mual. Tidak ada muntah di pagi hari, bahkan dia hampir tidak pernah mengeluh pada Gionard tentang kehamilannya kala itu.


Tetapi entah mengapa yang satu ini sungguh terasa berbeda. Sejak mengetahui dia hamil beberapa bulan lalu, perempuan itu sudah akrab sekali dengan aktivitas mual dan muntah bahkan tidak hanya di pagi hari. Semua napsu makan menghilang, menguap entah ke mana. Tidak ada kekuatan, bahkan untuk sekedar bangun dari tempat tidur saja dia bagai tidak punya tenaga.


Dan yang lebih membuat geleng-geleng kepala lagi, kini Diandra benar-benar tidak ingin jauh dari Bram. Tidak sedetik pun, tidak kapan pun. Perempuan itu selalu ingin Bram berada di sampingnya, tidak ingin ada jarak di antara mereka.


Sesekali Diandra tanpa sadar membandingkan dua kehamilannya, dan tanpa terasa mengalirkan air mata yang begitu saja meleleh menuruni pipi. Sebab ada sebagian dirinya yang masih merasa kehilangan, setiap kali dia mengingat akan kejadian masa lalu.


Semuanya terasa lancar dulu, bahkan hingga mereka pindah ke Marsaille dari Paris beberapa tahun lalu. Menjalani kehidupan di tengah hamparan hijaunya kebun teh bersama Gionard, Diandra bahkan sempat tidak merasakan hal-hal yang membuatnya kesulitan.


Hingga peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang tidak pernah ia duga sebelumnya, yang bahkan langsung menghancurkan kehidupannya dalam sekali hentakan. Kehilangan seseorang sebagai tempatnya bersandar, kehilangan seseorang yang selama ini menjadi sumber kekuatannya. Kepergian Gionard begitu terburu-buru, bahkan lelaki Parisian itu tidak lagi sempat untuk menatap manik anak-anaknya hingga detik ini.


Kini, dia bertekad dia tidak akan kehilangan lagi. Terutama seseorang itu, yang sekarang sedang ia pandangi lekat-lekat. Menyelipkan satu tangan di antara bantal empuk dan pipinya, Diandra sedang memperhatikan bagaimana Bram terlelap malam itu. Berada dalam posisi tubuh yang ia miringkan dan berhadapan dengan wajah tampan Bram, Diandra sedang berdoa dalam hati.


Agar lelaki itu akan senantiasa diberikan kesehatan oleh sang maha Kuasa, agar lelaki itu kelak akan bersamanya hingga akhir waktu. Agar lelaki itu tetap menggandeng tangannya, agar lelaki itu tetap akan menjadi sumber cintanya yang tidak pernah padam.


Kini menggerakkan tangan untuk mengelus pipi suaminya, Diandra dapat merasakan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitaran wajah lelaki itu. Bram mungkin belum bercukur beberapa hari ini, tetapi entah mengapa itu malah membuat Diandra semakin senang memainkan jemari di atas sana.


“Bram.”


Lirihan Diandra terdengar pelan sekali, dengan nada suara serak yang tidak dibuat-buat. Perempuan itu sempat melirik sekilas ke arah jam besar yang berada di dinding, dan mendapati kini waktu hampir memasuki pukul dua pagi.


Kamar tidur itu temaram, dengan lampu utama yang memang sengaja dimatikan. Hanya dua lampu tidur di masing-masing nakas sebelah kanan dan kiri ranjang, yang dibiarkan menyala untuk memberikan sedikit penerangan.


“Sayang.”


Diandra tidak tahu pukul berapa tepatnya Bram terlelap. Setelah makan malam tadi, dia menidurkan si kembar tanpa kehadiran Bram di kamar para bocah itu. Bahkan Bram tidak terlihat di meja makan, sebab lelaki itu langsung menuju ruang kerjanya begitu ia sampai di rumah. Tampak jelas beberapa garis lelah yang terukir di wajah seorang Bram Trahwijaya, dan mungkin lelaki itu belum cukup tidur belakangan ini.


Mengelus lagi pipi milik Bram, Diandra tidak bisa menahan diri untuk tidak mengumandangkan nama lelaki itu.


“Bram, kau benar-benar tertidur?” bisiknya.


Tidak sepelan tadi, Diandra menaikkan volume suara pada panggilan kali ini. Dan ternyata, itu membuahkan hasil.


Bram mengerjapkan mata. Hampir tersadar karena merasa seseorang memanggil namanya, lelaki itu menggeliat pelan. Menyadari manik kecokelatan istrinya menjadi objek pertama yang ia lihat begitu ia membuka mata, lelaki itu tersenyum di sudut bibir meski kesadaran belum sepenuhnya terkumpul.


“Hmm?”


Menggeser tubuh atletisnya untuk memangkas jarak antara dia dan Diandra, Bram menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Dia tadinya ingin memeluk Diandra saat ia terlelap, tetapi Diandra sudah begitu dibuai mimpi dan Bram tidak ingin mengganggu tidur si ibu hamil.


Dia tahu dengan benar bahwa Diandra sering kali terbangun di malam hari, dan kemudian tidak bisa tidur lagi hingga beberapa jam ke depan. Perempuan itu beberapa kali berpura-pura tidur agar Bram tidak ikut terbangun, sebab mungkin khawatir Bram tidak cukup tidur untuk aktivitasnya yang padat sebagai seorang pebisnis sekaligus Ayah siaga tiga.


“Apa aku membangunkanmu?” bisik Diandra lagi.


Menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya, Diandra sempat menutup mata sekilas saat ia menghidu aroma tubuh suaminya kini. Berada dalam pelukan Bram selalu memberikan rasa nyaman, sekaligus rasa tentram dan aman di saat yang bersamaan.


Bram belum membuka mata sepenuhnya, tetapi kemudian dia menunduk untuk memeriksa keberadaan Diandra di dalam dekapannya.


“Kau tidak bisa tidur lagi?” tanya lelaki itu.


Sempat memicing ketika memeriksa waktu dengan melirik ke arah dinding, Bram menghela napas perlahan-lahan. Rasa kantuk masih menyelimutinya, sebab dia baru saja terlelap hampir dua jam. Merasakan kepalanya yang masih terasa berat, tetapi Diandra telah tersadar dan dia tidak mau perempuan itu mengarungi waktu sendirian.


Diandra mengangguk samar. Mengeratkan tangannya untuk memeluk tubuh lelaki itu, Diandra terdengar menarik napas panjang.


“Hampir selalu seperti ini sekarang,” ujarnya pelan. “Terbangun, kemudian tidak bisa tidur lagi hingga hampir pagi.”


Benar-benar berusaha membuka mata, kini Bram melepaskan pelukan itu perlahan-lahan. Memundurkan wajah untuk menatap pada wajah cantik Diandra, yang tampak menawan meski tanpa polesan make up. Begitu polos, dan selalu berhasil memancarkan cinta dari tatapan perempuan itu.


“Apa kau haus? Atau lapar?” tanya Bram berbisik.


“Apa adek bayinya sedang bermain di dalam sana?” Mengarahkan satu tangan untuk mengusap dan mengelus perut istrinya, Bram tiba-tiba saja merasakan penat yang sedari tadi bercokol di kepalanya itu berangsur-angsur


menghilang.


Diandra mengangguk, dengan satu senyuman yang hampir menjadi tawa kecil.


“Kurasa iya,” sahutnya senang. Membicarakan tentang bayi mereka selalu membuatnya gembira, terlebih Diandra begitu penasaran kelak akan mirip siapa anak yang akan dia lahirkan beberapa bulan lagi itu.


“Apa yang dia lakukan di dalam sana, Diandra?” Bram bertanya antusias.


Pertanyaan yang sukses membuat Diandra menerbitkan satu senyum selebar wajah, dengan perasaan bahagia yang terlanjur membuncah di dalam dada.


“Dia berkata dia ingin menyampaikan sesuatu pada ayahnya,” ujar perempuan itu.


Menggerakkan tangan untuk ia timpa pada tangan Bram yang masih berada di atas perutnya, kedua calon orang tua itu sedang berbagi perasaan yang sama. Bram tidak bisa menahan senyuman yang menular dari istrinya begitu saja, saat kini bola mata keduanya sedang beradu dalam-dalam.


“Begitukah?” sahut lelaki itu. “Katakan, apa yang ingin dia beritahu pada ayahnya ini?”


Diandra mengerjapkan mata, terdengar menarik napas sebelum memberikan jawaban. Dia sudah menunggu kesempatan ini sejak tadi, dan inilah saat yang tepat untuk mengutarakan semuanya.


“Dia berkata dia ingin melihat pesawat terbang, Bram,” jawab Diandra senang.


Bram melongo sesaat, sebelum kemudian ia menimpali.


“Pesawat terbang? Baiklah, besok akan kita lihat ya. Kita tunggu di depan rumah—“ Bram berusaha menjelaskan, tetapi suara Diandra sudah lebih dulu terdengar.


“Sekarang katanya,” potong Diandra cepat. Nada suara perempuan itu terdengar tegas, meski diucapkan Diandra dengan volume yang rendah.


“Tapi ini sudah—“


“Sekarang atau tidak usah sama sekali,” potong Diandra lagi.


Bram tidak tahu sejak kapan Diandra jadi jago soal potong-memotong kalimat seperti ini, terlebih kini perempuan itu


sedang menatap penuh harap padanya. Mengerlingkan matanya dan mengerucutkan bibir, Diandra tampak semakin senang mengelus perutnya yang telah mulai membuncit.


Bram mendesah samar.


“Sekarang?” ulangnya memastikan.


Berharap yang didengarnya ini hanyalah khayalan, tetapi kemudian yang ia dapati adalah anggukan yakin dari


perempuan yang paling ia cintai di seluruh dunia.


Diandra sudah melepaskan pelukan mereka, sebelum kini mundur untuk beranjak bangun perlahan-lahan.


“Ayo, Bram. Kita ke bandara. Pesawatnya yang besar sekalian biar puas,” kata perempuan itu tanpa beban, bahkan kini dia tersenyum ceria ketika melangkah menuruni ranjang.


Meninggalkan Bram yang kembali terdiam, saat lelaki itu menyugar rambutnya perlahan-lahan.


Ini jam dua pagi, dan anaknya ingin melihat pesawat terbang.


.


.


.


~