
“Sebab bola itu bundar. Seperti duniaku yang hanya berputar di sekitarmu saja.” ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Diandra menggeliat. Dinginnya embusan dari pendingin udara di kamar mereka entah mengapa terasa terlalu menusuk tulang malam ini, dan tidak bisa ditepis dengan hanya menarik selimut kembali.
Perempuan itu mengerjapkan mata, berusaha membuka kelopak matanya saat merasakan gerakan selimut yang terlalu cepat. Menyadari ada yang salah, dia akhirnya memutuskan untuk bangkit beberapa saat kemudian.
Menghidupkan lampu yang terletak di atas nakas, perempuan itu menoleh ke arah samping. Bram tidak di sana. Dahinya berkerut, saat ia meraih remote pendingin ruangan dan kemudian menekan tombolnya beberapa kali untuk menghangatkan kamar mereka.
Dalam temaram lampu, Diandra menggesek tangannya ke arah bantal suaminya.
“Bram?” panggilnya pelan. Suaranya masih serak, saat maniknya mengarah pada jam yang tergantung di dinding.
Pukul setengah tiga pagi. Seingatnya malam tadi mereka bersama-sama naik ke atas ranjang, dan tepukan lembut Bram di punggungnya adalah simfoni yang mengantarkan Diandra menuju terlelap.
“Bram?”
Tidak ada jawaban. Manik perempuan itu mengitari kamar mereka dan berhenti pada pintu kamar mandi, tetapi pintu itu terbuka lebar. Yang berarti Bram tidak berada di sana, sebab lampunya mati.
Di mana Bram? Apakah dia di ruang kerjanya? Tetapi ini sudah tengah malam.
Perempuan itu dipenuhi tanda tanya, berniat untuk menemukan suaminya yang entah di mana. Ponsel lelaki itu tergeletak di atas nakas, yang berarti Bram tidak pergi jauh atau keluar dari rumah.
Menarik napas pelan, Diandra bangkit dari ranjang dan melangkah pelan menuju walk in wardrobe mereka. Menarik satu jaket untuk menutupi bagian tubuh atasnya yang terekspos sebab dia hanya mengenakan gaun tidur tipis, perempuan itu berniat untuk menuju ruang kerja Bram.
Melangkah di antara keheningan malam, Diandra meraih gagang pintu ruang kerja suaminya yang berada di jalur lorong yang sama. Tetapi Bram tidak juga berada di sana, saat lampu dari ruangan itu juga tidak menyala.
“Bram?” panggil Diandra pelan. Menunggu beberapa detik mana tahu Bram berada di dalam sana, tetapi tetap saja tidak ada jawaban.
Di mana dia?
Diandra baru saja hendak berbalik setelah menutup kembali pintu ruang kerja lelaki itu, saat samar-samar ia mendengar suara televisi yang dinyalakan dari arah bawah. Tersentak kecil dirinya saat telinganya mendengar teriakan dari suara yang sangat ia kenal dengan baik.
“Yes! You'll never walk alone!”
Teriakan kencang itu terdengar sekali lagi, yang membuat Diandra buru-buru berbelok untuk menuju tangga. Menuruni anak tangga satu per satu dengan langkah hati-hati, perempuan itu bertumpu pada pegangan.
Lantai satu rumah megah Trahwijaya itu tampak temaram, tetapi semakin mendekati ruang keluarga maka suara dari televisi semakin terdengar jelas. Cahaya lampu dari televisi yang menyala kini benar-benar menandakan bahwa ada seseorang yang menyalakan benda datar itu sekarang.
Diandra mendekat. Begitu yakin Bram berada di antara sofa tinggi yang terletak di depan televisi, saat suara teriakan lelaki itu terdengar untuk kesekian kalinya.
“Gol! Tiga kosong!” serunya senang.
Perhatian lelaki itu sungguh sepenuhnya teralihkan pada televisi, yang sedang menayangkan pertandingan bola kaki. Bram bahkan tidak menyadari Diandra kini telah berada di ambang sofa.
“Bram?”
Lelaki itu hampir saja terjungkal. Setengah kaget, maniknya melebar.
“Diandra?! Mengapa kau terbangun?” Bram melengkungkan satu senyuman, seraya melebarkan kedua lengan untuk menyambut kehadiran istrinya di sana.
Diandra tertawa kecil. Bersyukur sebab dia menemukan suaminya, merasa lega sekali entah kenapa. Tidak perlu waktu lama untuk perempuan itu masuk ke dalam dekapan hangat Bram, mengedipkan mata saat lelaki itu mendaratkan kecupan hangat di pangkal kepalanya.
“Aku mencarimu, kau tidak ada,” bisik perempuan itu pelan. Meraih satu tangan Bram dan membawanya dalam genggaman. “Kenapa kau tidak menonton di dalam kamar?”
Bram menarik napas. Maniknya masih memperhatikan ke arah televisi dengan suara komentator yang terdengar nyaring. Pertandingan antara dua tim besar asal Inggris yang tampak berkostum biru merah dan merah terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja.
“Tidak apa-apa,” bisik Bram. “Aku takut kau terbangun karena aku mungkin akan berisik,” kata lelaki itu lagi.
Diandra mengangguk kecil. Kini ikut menatap ke arah layar, memperhatikan bagaimana dua puluh lelaki terus berlari tanpa henti, demi mendapatkan satu bola yang bergulir di rumput hijau sesuka hatinya.
“Aku tidak tahu kau menyukai sepakbola, Bram,” bisik Diandra. Menerbitkan satu senyuman di wajahnya, lelaki itu mengeratkan pelukan.
“Kau tahu delapan puluh persen lelaki menyukai sepakbola, Diandra,” katanya. “Entah mengapa menonton pertandingan seperti ini selalu bisa membangkitkan adrenalin,” tambah lelaki itu lagi.
Diandra tidak mengerti. Seumur hidup ia tidak pernah benar-benar menonton pertandingan sepak bola, baik secara langsung atau hanya lewat layar televisi. Kini mendapati suaminya menonton sepakbola dan berteriak senang seperti tadi, ia menyadari bahwa ada sisi lelaki-lakian Bram yang mencuat naik.
“Tim mana yang sedang bertanding ini, Bram?” tanya Diandra. Meski ia tidak tahu, mungkin saja ikut dalam menonton pertandingan itu akan membuat Bram merasa senang.
“Sedikit lagi, giring terus!” seru Bram tiba-tiba. “Argghh, lepas lagi,” omelnya kesal.
Ada perasaan hangat yang menjalar ke dalam hati Diandra saat menyaksikan betapa Bram terlihat seperti anak-anak sekarang. Tiba-tiba saja dia berpikir mungkin akan terasa menyenangkan jika nanti Bram mengajari Vallois dan Verden bermain bola, atau menjadi pelatih mereka sekalian.
Bram menunduk. Mendapati manik kecokelatan istrinya yang juga terpatri ke arah layar, lelaki itu kembali tersenyum saat menunduk kecil.
“Kau tidak mengantuk, Sayang?”
Diandra menggeleng. Masih tersisa dua puluh menit lagi sebelum pertandingan itu berakhir, dan sepertinya Diandra tidak berniat untuk beranjak.
“Tidak,” jawab perempuan itu. “Aku akan di sini saja, menemanimu menonton hingga selesai.”
Bram tertawa kecil. “Baiklah,” bisiknya pelan. Kembali menatap ke arah layar, mengikuti pertandingan dari salah satu tim favoritnya.
Liverpool, salah satu tim Liga Inggris yang akhirnya mendapatkan juara setelah menunggu lebih dari belasan tahun. Tim berseragam merah yang asuh oleh Jürgen Klopp, yang juga dijuluki sebagai pasukan ‘The Reds’.
“Tim mana yang kau dukung, Bram?” Suara Diandra kembali terdengar pelan, saat perempuan itu masih senang bersandar pada dada bidang suaminya. Menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, sepertinya Diandra sudah ikut masuk dalam pertandingan itu.
Bram menoleh. “Tentu saja yang merah, Sayang. Liverpool. Kau tahu tagline mereka?” bisik Bram kemudian
Mendapati gelengan dari istrinya yang tampak menggoda dengan dress tidur yang kebetulan juga berwarna merah menyala, Bram mendaratkan satu kecupan singkat di pipi Diandra.
“YNWA. You'll Never Walk Alone,” katanya berbisik. Membuat Diandra refleks menolehkan kepala, otomatis menautkan manik kecokelatannya pada manik kehitaaman Bram. Wajah keduanya berada dekat sekali.
“Hmm?”
“You'll Never Walk Alone. Sama sepertiku yang tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian, aku berjanji aku akan terus bersamamu hingga nanti,” bisik lelaki itu lagi.
Diandra tersipu. Tidak menduga Bram bisa mengatakan hal romantis seperti ini, saat perempuan itu kemudian maju untuk memberikan satu kecupan di bibir lelaki itu.
Kecupan yang tentu saja tidak akan berakhir semudah itu, saat Bram sudah kembali mengeratkan dekapannya pada Diandra. Mengubah satu kecupan menjadi satu ciuman panjang, yang terhenti saat suara komentator terdengar keras.
Liverpool again goooaaaallll....
Refleks melepaskan pagutan itu dan menoleh ke arah televisi, Bram tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak.
“Yes! Gol lagi! Empat kosong!” serunya senang. Membuat tanda ‘yes’ dengan tangannya, yang sontak membuat Diandra terkekeh pelan.
Kenapa lelaki ini malah terlihat jauh lebih tampan sekarang?
Menarik kembali Diandra ke dalam pelukannya, wajah Bram masih menerbitkan senyuman lebar.
“Aku senang kau di sini, Diandra. Aku senang Liverpool menang, terlebih lagi karena kau ada di sini bersamaku,” ujar lelaki itu. Tidak bisa dipungkiri dia memang benar-benar senang sekarang, tidak peduli dengan jam tidurnya yang terpotong sebab besok dia masih harus berangkat ke kantor.
Gol terakhir tadi menjadi penutup pertandingan dini hari itu, dengan Liverpool yang otomatis dinobatkan menjadi juara.
“Bram.”
Keduanya masih bersandar di sofa, menanti menit-menit terakhir sebelum pertandingan itu benar-benar usai. Menanti selebrasi yang akan dilaksanakan saat itu juga.
“Hmm? Apa Sayang?”
Bram menggenggam tangan Diandra, menghirup aroma buah dari rambut istrinya yang masih bersandar tepat di dadanya.
Diandra menahan napas sejenak. Mendongakkan kepala untuk melihat ke arah Bram, sebelum ia menyampirkan satu senyuman manis.
“Kalau nanti aku melahirkannya di Liverpool saja, bagaimana?” bisiknya pelan.
Membuat Bram terhenyak, saat maniknya memutar sempurna.
“Hah?”
.
.
.
~Selamat malming readers. Jangan ditunggu ya, karena bonchap ini hanya diterbitkan secara acak saja tanpa jadwal. Terima kasih masih di sini :) Salam Brambang Lovers muwaahh..