Travelove~

Travelove~
35. Fakta



“Bagaimana caraku meminta agar bisa menghindari takdir? Aku sungguh tidak siap, tidak mampu menghadapi matamu sebagai orang yang lain.” ~Marinda Schoff.


.


.


.


Marin kembali menegang. Menatapi pusara yang kini berada tepat di hadapannya, gadis itu menahan napas bahkan tanpa ia sadari. Tidak berujar sepatah kata pun sejak tadi, Marin bahkan tidak menoleh barang sedikit pun pada Michael yang sedari tadi memperhatikan dirinya dengan lekat.


Diam-diam lelaki itu memuji betapa visual Marin ternyata sungguh secantik itu, bertanya-tanya dalam hati mengapa dia baru menyadari aura yang jelas dipancarkan oleh seorang Marinda Schoff.


Marin hampir saja lemas. Bibirnya terkatup rapat-rapat saat dia benar-benar tidak berkedip untuk beberapa saat. Tidak lagi memperhatikan pasokan oksigen yang dia hirup masuk, gadis itu tampak begitu terkejut meski kenyataan ini sudah dia fikirkan sebelumnya.


Makam yang sama. Itu bukan pertama kalinya Marin berdiri di depan makam seseorang, sebab dia pernah mengunjungi makam itu sebelumnya. Membaca nama yang terukir jelas di sebuah batu nisan, mengucapkannya berulang kali di dalam hati.


Ki Rei. Ki Rei. Kobayashi-san. Kobayashi-san. Trahwijaya. Bram Trahwijaya.


Tidak kuasa menahan gejolak perasaan di dadanya yang setiap detik semakin membuncah, Marin tampak tertunduk lesu dan hampir kehilangan keseimbangan.


Bagaimana takdir bisa sekejam ini, Bram? Siapa sangka bahwa misiku sebenarnya adalah mendiang ibumu? Misi yang membawaku datang ke sini, dengan harapan kaulah yang akan membuatku tinggal lebih lama. Ini sungguh terlalu di luar dugaanku, Bram. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menghadapimu setelah ini.


Michael mendekat beberapa langkah. Memperhatikan Marin yang juga dalam keheningan, lelaki itu tampaknya siaga saat Marin mulai menunduk dan melemas. Sesungguhnya Michael sendiri tidak tahu mengapa Marin bersikap demikian, saat dia sendiri sedang menahan diri untuk tidak mengeluarkan satu pun pertanyaan meski dia telah begitu penasaran.


“Marin,” panggil lelaki itu pelan.


Butuh beberapa detik hingga kemudian Marin menegakkan kembali kepalanya, melirik sekilas pada Michael yang tanpa dia sadari telah berada lebih dekat dengannya.


“Kau yakin kau tidak salah makam, Michael?” bertanya dengan nada penuh keputusasaan, Marin sepertinya masih belum siap untuk menerima kenyataan.


Michael menggeleng pelan.


“Aku tidak tahu apa yang kau rasakan, Marin. Hanya inilah yang bisa kulakukan untukmu. Tetapi jika kau benar ingin menemukan keluarga lainnya, maka aku mungkin bisa membantu untuk mencari identitas keluarga dari wanita ini dengan bertanya pada pihak pengurus makam,” jelas Michael kemudian.


Marin masih terlalu lemah. Setelah Marin mengetahui siapa misinya sebenarnya, gadis itu sepatutnya senang karena kini dia secara tidak langsung telah mengukuhkan dirinya menjadi pemimpin klan Schoff seperti yang ayahnya janjikan. Namun entah mengapa menyadari bahwa keluarga Trahwijaya terlibat dengan keluarga mereka, dia sungguh tidak bisa senang sama sekali. Bahkan keinginannya untuk cepat mengambil alih klan Schoff dari ayahnya sirna begitu saja, digantikan dengan perasaan was-was yang tiba-tiba timbul sejak dia mengetahui bahwa ayahnya dan ayah Bram pernah mencintai orang yang sama.


“Tidak perlu, Michael. Aku tidak ingin mencari lebih lanjut, hanya ini yang aku butuhkan,” Marin menjawab dengan sangat pelan, diikuti oleh anggukan Michael di sampingnya.


Apa takdir yang kira-kira mengikat kita, Bram? Benarkan ibumu dan ayahku hanyalah sepasang kekasih di masa lalu? Apakah ini ada hubungannya dengan posisi klan Schoff yang seharusnya aku ambil alih dengan mudah sejak dulu?


Diliputi fikiran yang masih sarat akan benang kusut, Marin kembali menegakkan kepalanya untuk menatap pusara Kobayashi-san yang dia cari-cari.


Menarik napasnya panjang-panjang, Marin tampak sudah lebih baik setelah dia menyampaikan kalimatnya untuk mendiang ibu Bram. Meski tidak bersuara, setidaknya Marin terus mengupayakan yang terbaik untuk menguatkan diri dan berdoa agar Trahwijaya bukanlah seseorang yang berbahaya bagi Schoff, dan begitu pula sebaliknya.


Kini setelah mengetahui identitas dari wanita berparas Jepang yang dia cari, Marin ingin pergi dari sana segera mungkin. Hal berikutnya adalah, dia harus memastikan apa yang tersembunyi antara ayahnya dan wanita Jepang itu, ingin tahu sejelas-jelasnya hubungan apa yang mungkin tercipta di masa lalu. Dengan begitu, setidaknya Marin bisa mengambil kesimpulan, apakah dia membahayakan Bram atau tidak. Dari situ juga dia mungkin bisa berfikir untuk mengambil langkah berikutnya, tanpa menyebabkan atau menyeret lelaki itu berada dalam masalah.


Tidak ada yang mengetahui seluk beluk klannya seperti Marin, dan gadis itu paham betul konsekuensi seperti apa yang mungkin timbul jika seseorang berurusan dengan klan Schoff secara tidak baik. Meski tidak lagi membunuh, klan mereka bukanlah klan yang terkenal dengan belas kasihan.


“Ayo kita pergi, Michael.” Berujar gadis itu sembari melirik ke arah Michael, memberikan isyarat bahwa dia telah selesai.


“Baiklah. Ayo,” menjawab pelan, Michael sudah mengambil langkah lebih dulu, disusul oleh Marin yang berjalan pelan tepat di belakang lelaki itu.


Menuju parkiran mobil beberapa menit kemudian, keduanya masih diliputi keheningan bahkan hingga mereka kembali duduk di kursi masing-masing. Mengenakan sabuk pengamannya dengan cepat, Marin masih memandangi ke arah luar jendela yang mengarah ke makam, menatapi kompleks pemakaman itu untuk yang terakhir kalinya.


Michael sudah menyalakan mesin mobilnya, siap untuk menginjak gas dan pergi dari pelataran parkir.


“Kau ingin makan siang, Marin?” Michael berusaha memecah keheningan, tepat setelah mobilnya telah keluar dari kompleks pemakaman dan berbaur dengan barisan mobil di jalanan.


“Uhm, maafkan aku, Michael. Aku kurang tidur dan sepertinya aku ingin segera beristirahat. Kau tidak keberatan, kan?” Melirik sekilas pada Michael dan berupaya untuk menyunggingkan sebuah senyuman tipis, Marin menolak dengan halus ajakan Michael siang itu.


“Okay, tidak masalah. Jadi, misimu telah selesai, begitu? Apa ada yang harus kulakukan lagi untukmu, Nona Schoff?”


Marin menarik napas.


“Tidak ada, sungguh. Kau melakukannya dengan sangat baik, sekaligus menghemat waktuku dengan sangat banyak pula. Akan kuselesaikan pembayaran beserta bonusnya untukmu sore ini, Michael,” ujar gadis itu.


Michael tidak bisa menahan senyuman yang mengembang begitu saja di bibirnya. Akhirnya setelah menginvestasikan waktu dan tenaga yang tidak sedikit untuk mencari seseorang, kini dia bisa bernapas lega sebab pekerjaannya baru saja selesai. Bangga pada dirinya sendiri dengan kemampuannya yang telah dianggapnya meningkat drastis, lelaki itu mulai berfikir untuk menaikkan tarifnya pada pelanggan selanjutnya. Menemukan seseorang dengan hanya petunjuk sebuah foto kini adalah pencapaian terbaiknya selama rentang waktu sepak terjangnya.


“Terima kasih, Marin. Kau tidak hanya cantik, tetapi juga gadis yang baik.” Melupakan pertanyaannya yang hendak dia tanyakan sebelumnya pada Marin, Michael tampaknya tidak lagi begitu peduli mengenai apa yang Marin simpan dan mengapa gadis itu tampak sedih tadi. Kini, lelaki itu hanya memilih untuk bungkam, menyadari bahwa memang tidak ranahnya untuk mencampuri urusan orang lain.


“Terima kasih atas kerja kerasmu, Michael. Kau sungguh tidak mengecewakan.” Memuji dari hati yang paling dalam, Marin kembali mengeluarkan suara. Masih menyunggingkan senyuman tipis yang dia arahkan kepada Michael, setidaknya gadis itu kini bisa sementara melupakan tentang fakta yang harus dia hadapi.


Mari tersenyum saat ini, sebelum kelak air mata yang mungkin akan turun.


.


.


.


🗼Bersambung🗼