
"Kini berjanjilah hanya akan ada kita, hanya akan ada bahagia." ~Diandra Lee.
.
.
.
Kecupan itu terasa hangat. Mengalirkan rasa cinta yang menjalar, Diandra mampu menangkap sebesar apa perasaan cinta yang dimiliki suaminya untuk dia. Hanya dia, hanya dirinya sendiri.
Saat alunan musik dan suara merdu sang penyanyi sudah mengalun lembut, keduanya masih berada di depan sana. Namun kini tidak lagi berdiri di depan para saksi dan petugas pemersatu pasangan, tetapi sudah duduk di singgasana yang telah disiapkan.
Satu buah kursi besar nan panjang bak kursi raja, diletakkan dan dihias sedemikian rupa dengan campuran bunga lili putih dan mawar. Terdapat dua buah kursi kecil di sisi kanan dan kiri kursi besar itu, yang mana ditujukan untuk diduduki Vallois dan Verden. Hanya saja kursi kecil itu masih kosong sejak tadi, karena yang empunya masih sibuk berlari dengan beberapa teman dan kerabat yang lain.
Kini para tamu undangan tampak menikmati hidangan yang telah disajikan, sebelum kelak akan memberikan salam pernikahan pada kedua mempelai.
Bram melirik pada istrinya--Diandra Lee, yang tampak sedang memperhatikan kedua bocah kembarnya bermain pedang-pedangan.
"Diandra." Memanggil dengan volume suara rendah, Bram seperti sedang berbisik. Berada di satu kursi yang sama, mereka bisa dikatakan sedang berdempet daripada duduk berdampingan.
Menoleh, Diandra tersenyum. "Apa, Bram?"
Bram melebarkan senyuman. Mengamati wajah perempuan itu yang begitu cantik sekali, saat auranya terpancar dengan sangat baik.
"Aku bahagia sekali, Diandra. Apa kau juga?" Bertanya sekaligus menarik tangan kiri Diandra yang berada di atas paha perempuan itu, kini keduanya sedang bergandeng tangan.
Tetapi kali ini bergandengan yang tidak lagi menimbulkan dosa, namun mengalirkan pahala. Ceileh.
"Tentu saja, Bram. Aku memperhatikan Val dan Ver sejak tadi, menatap kebahagiaan dan keceriaan mereka. Aku bersyukur mereka memilikimu sebagai ayah mereka," jawab Diandra tanpa ragu.
Perempuan itu meremas jemari Bram, ingin juga mengatakan bahwa dia bahagia. Jika di pernikahan mereka dulu mereka bahkan tidak saling melirik satu sama lain, kini keduanya malah saling menatap dengan perasaan mendamba. Berbeda sekali memang, sebab kini cinta sudah mengalahkan semuanya.
"Justru aku yang bersyukur karena kau menerimaku kembali, Diandra. Aku sungguh ingin memulai semuanya bersamamu," ujar Bram lagi, tulus dari dalam hatinya.
Entah mengapa berhasil sekali membuat Diandra tersipu, bahkan pipinya merona perlahan.
"Kau semakin pandai berbicara sekarang, Bram," katanya.
Kali ini Bram yang tertawa kecil, senang akan rona kemerahan di pipi istrinya.
"Aku ingin menciummu sekarang, hmm?" bisiknya pelan.
Diandra sontak melotot, meski bibirnya tersenyum.
"Bram! Kau benar-benar membuatku malu. Hentikan!"
Semakin Diandra tersipu, Bram semakin terkekeh. Bersyukur beribu kali dalam hatinya, sebab kini hidupnya tidak lagi kelabu.
***
Alberto mengerang, pura-pura. "Argh, tolong!" ucapnya bersandiwara, saat pedang milik Verden mengenai kakinya. Bocah kecil itu tertawa terbahak-bahak, mendapati pamannya berakting seolah dia adalah pahlawan yang sedang mengalahkan monster jahat.
Melihat Verden tergelak, Alberto ikut tertawa.
"Kau senang, Jagoan?" tanyanya sembari meraih bocah itu ke dalam pelukan, menaikkan Verden dalam gendongan.
"Iya iya! Uncle sakit, arrrgh!" ucap bocah itu senang, menirukan seperti apa ekspresi yang dibuat Alberto tadi. Lelaki itu tergelak.
"Kau bisa saja, Ver. Kau mau minum?" tanyanya.
Verden mengangguk cepat. "Mau, Uncle!" serunya senang. Memegang pedang berbahan plastik di tangannya, bocah itu menunjuk pada deretan gelas dan minuman yang disusun rapi di atas sebuah meja panjang.
"Mau itu!" serunya lagi.
"Baiklah. Ayo kita ke sana!" Bangkit dari tempat duduknya, Alberto menggendong Verden di sisi sebelah kiri. Saat Vallois tampak masih bermain dengan Tuan Brio Trahwijaya, dia membawa Verden menuju meja minuman.
Mengambil segelas air buah untuk kemudian ditempelkan ke ujung bibir Verden, Alberto membantu bocah itu minum.
"Sudah?"
Verden mengangguk. "Sudah. Sekarang Vel mau turun, Uncle!"
"Baiklah, Ver. Perhatikan langkahmu, jangan berlari, oke?"
Lagi-lagi Verden mengangguk. Tidak memperhatikan ke sekelilingnya, Alberto begitu saja berbalik saat menurunkan Verden dari gendongannya.
Tidak menyadari seorang gadis berada di belakangnya, Alberto secara tidak sengaja menyebabkan gelas yang digenggam gadis itu bergoyang, membuat isi dari gelas itu bertumpahan ke luar.
Membelalak, Alberto lekas bangkit tegak saat Verden sudah kembali berlari.
"Maafkan aku, apa kau terluka?" Khawatir dia menyebabkan seseorang terluka, Alberto cepat bertanya.
Gadis yang tadi ditabrak Alberto menyunggingkan satu senyuman tipis, masih memperhatikan gelas yang dia pegang. Menelusuri apakah cipratan air itu mengenai dress yang dia pakai, tetapi syukurnya tidak. Air buah itu hanya mengenai tangannya, membuat tangan kanannya basah.
Alberto masih belum bergerak, menunggu gadis itu membalas tatapannya.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, sekali lagi aku minta maaf," ujarnya lagi.
Kali ini gadis itu menaikkan kepala, membalas tatapan Alberto yang sejak tadi menunggunya.
"Tidak masalah, aku baik-baik saja," balasnya sopan.
Hanya satu detik. Satu detik yang menentukan. Tepat begitu saja saat manik keduanya bertaut, Alberto tertegun dan terdiam. Memandangi gadis di depannya ini dengan tatapan berbeda, seolah ada alasan yang membuatnya menatap gadis itu lebih dari lima detik.
Menyadari lelaki yang berada di depannya itu terdiam, gadis itu pun memilih untuk pamit undur diri.
"Baiklah, permisi," katanya kemudian.
Jika kali ini seseorang bertanya pada Alberto suara siapa yang terdengar menawan di telinga, maka pastilah Alberto menjawab suara dari gadis di depannya tadi. Seakan terbius, Alberto tampaknya sudah terhipnotis.
"Tunggu!" Bersuara juga akhirnya setelah keheningan panjang, saat tangannya refleks menahan pergelangan tangan sang gadis. Bak pelem picisan, Alberto melebarkan senyuman yang paling tampan.
Berbalik, gadis itu menatapnya dengan penuh pertanyaan. "Ya?"
Alberto menarik napas. "Siapa namamu? Apa aku boleh tahu?" Cih, kali ini suaranya bak dewa Yunani.
Gadis itu tersenyum kecil, saat maniknya melirik ke arah lengannya yang masih dipegang Alberto. Seolah mengatakan dalam diam 'lepaskan aku!'. Menyadari itu, Alberto buru-buru melepaskan jerat tangannya dengan lembut sekali.
"Maaf," katanya. "Aku tidak sengaja."
Gadis itu mengangguk, dan saat itulah Alberto merasa jantungnya mau lepas.
"Aku Alberto," katanya lagi, mengulurkan tangan kali ini. Berharap sekali gadis di depannya itu akan menyambut uluran tangannya.
Sang gadis tampak berpikir sesaat, namun beberapa detik kemudian dia telah menyambut tangan Alberto, mengucapkan namanya dengan jelas.
"Aku Hana. Hanalia Esava."
***
Setelah prosesi acara pernikahan yang tidak berlangsung lama itu, kini keluarga besar Trahwijaya dan Lee sudah berkumpul di sebuah restoran untuk acara makan malam.
Jika tamu undangan sudah pamit undur diri sejak beberapa jam lalu, maka kedua keluarga masih bertahan di sana untuk satu acara lagi. Makan malam keluarga, yang kali ini akan dihadiri oleh kerabat dekat. Karena kebetulan mereka sedang berkumpul di sana, dan belum tentu setahun sekali bisa bertemu sapa seperti ini akibat kesibukan masing-masing.
Mengenakan outfit senada bernuansa hitam, baik Diandra dan Bram tampak begitu serasi. Merekalah inti dari acara ini, untuk mendoakan merekalah semua keluarga berkumpul.
Memegangi pinggang istrinya, Bram tidak kuasa menahan pancaran bahagia.
Mendekati Diandra dan berbisik tepat di telinga istrinya, Bram menahan sebuah senyuman.
"Kita pulang, Diandra?" tanyanya pelan.
Diandra menoleh. Mendapati wajah Bram yang begitu dekat, dia tidak bisa menahan diri untuk menganggukkan kepala.
"Baiklah, ayo. Lagi pula Val dan Ver sudah tertidur. Sebaiknya kita pulang, benarkan?"
Kali ini Bram yang mengangguk.
"Benar, Sayangku. Ada hal yang harus kita lakukan, bukan begitu menurutmu?" Benar-benar menggoda, mencuri satu kecupan di pipi Diandra.
Diandra memilih untuk diam, tidak menjawab lagi perkataan dari suaminya. Hal yang harus mereka lakukan? Hal apa? Melakukan apa?
.
.
.
🗼Bersambung🗼
BONUS!!! BONUS!!! BONUS!!!
.
.
.
Foto TERNIAT untuk fans Diandra & Bram, muahahahaaaaaaa 😂😂😂
~Sampai jumpe lagi, cekgu ( ˘ ³˘)♥