
"Sebab aku menyukai keheningan. Apa kau merasakan hal yang sama?" ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Lelaki itu masih hening. Tidak menjawab pertanyaan Alberto terakhir kali, Bram hanya menatap lurus pada kunci mobil yang tergeletak di atas meja, kunci yang baru saja dikeluarkan Alberto dari saku celananya.
"Kau beli mobil baru lagi?" tanya Bram datar, merasa dia tidak mengetahui bahwa Alberto memiliki mobil baru belakangan ini.
Mengangguk, Alberto tertawa kecil.
"Mobilku masuk bengkel. Pihak showroom mengizinkan aku memilih mobil yang tersedia, untuk aku gunakan selama mereka menyelesaikan pekerjaannya," beber Alberto kemudian, memberikan penjelasan.
Bram hanya menaikkan alis, tampaknya kurang begitu tertarik.
"Pergilah, Bram. Kau tahu aku tidak memberikan kesempatan dengan cuma-cuma. Lain kali akan kuminta kau melakukan sesuatu," Alberto kini telah bangkit dari duduknya, menggenggam sekaleng bir di tangan kanannya, bir nya yang kedua.
Manik Bram mengikuti gerakan Alberto.
"Berikan kunci mobilmu! Kita bisa bertukar mobil kali ini kan?" Alberto mengulurkan tangannya ke hadapan Bram, meminta sesuatu.
Berdecak malas, tetapi Bram juga bangkit dari sofa, melangkah cepat ke arah nakas dan mengambil kunci mobil.
"Pastikan mobil itu bagus, Al. Kalau tidak, siap-siap aku akan membuat perhitungan padamu!" Bram memberikan ultimatum, seraya menyerahkan kunci mobilnya pada Alberto. Dia tahu lelaki itu sudah lama mendamba mobilnya, dan mungkin inilah saat yang tepat untuk Alberto mengendarai mobil Bram meski hanya untuk satu hari saja.
Alberto tergelak.
"Kau akan senang melihat mobil itu nanti, Bram. Waktuku sudah habis, kan? Terima kasih atas birnya ya!" melambaikan tangan sekilas lelaki itu dan langsung melangkah ke arah pintu keluar.
Bram mengikuti langkah Alberto hingga ambang pintu, mempersilakan tamu tak diundang itu pergi dari sana sesegera mungkin.
"Jangan kembali lagi!" ancam Bram tepat saat Alberto telah berada di lorong apartemennya, memberikan tatapan tajam yang menyatakan bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya.
Alberto tertawa kecil.
"Isilah kulkasmu dengan makanan, Bram. Agar lain kali aku datang, kau punya sesuatu untuk dimakan!" berseru senang lelaki itu, sembari melangkah besar menjauhi apartemen Bram. Masih bisa Alberto mendengar teriakan Bram yang menggema, sebelum akhirnya dia berbelok untuk menuju lift dan pergi dari sana.
***
Marin meraih jaketnya. Mematut diri di depan cermin, gadis itu sudah siap sejak pukul setengah tujuh pagi. Menggantikan Leah yang tiba-tiba menelepon kemarin malam, Marin mau tidak mau harus merelakan hari minggunya diisi dengan perjalanan bersama Alberto. Marin tidak begitu mengenal lelaki itu, tetapi dia tidak punya pilihan lagi. Project ini adalah kesepakatan besar untuk Leah, dan dia sungguh tidak mau membuat kecewa sepupunya.
Mengenakan kaus santai dan celana jeans, Marin memilih untuk mengenakan sepasang sepatu kets berwarna hitam. Dia juga membawa jaket, untuk sekedar melengkapi outfit-nya hari itu dan berjaga-jaga mana tahu cuaca tiba-tiba berubah tidak bersahabat.
Marin mengikat rambutnya dengan ikatan kucir kuda, dan memoles make up tipis di wajahnya. Dia berjanji akan bersedia pukul setengah delapan pagi, dan dia masih punya waktu sekitar lima belas menit untuk sekedar membeli snack di swalayan lantai dasar.
Meraih tasnya, Marin sudah siap untuk pergi. Perjalanan ini akan menjadi perjalanan panjang, dan dia berharap dia dapat melewatinya dengan baik bersama Alberto.
Keluar dari apartemennya, Marin berhenti sejenak untuk memandang ke arah pintu apartemen milik Bram. Membaca nomor di pintu apartemen itu, Marin tanpa sadar menyunggingkan senyuman.
Sedang apa kau, Bram?
Apa kau libur?
Selamat menikmati hari liburmu, Bram.
Mematung di posisinya beberapa saat, Marin akhirnya kembali melanjutkan langkah. Menuju lift dengan langkah kaki besar, Marin sempat berangan-angan dalam hati.
Memasuki lift setelah pintu itu terbuka, Marin menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menarik napas panjang, dia menggeleng pelan.
Hari panjangnya akan segera dimulai.
***
Gadis itu berdiri di lobi apartemen. Celingukan sembari memeriksa ponselnya, dia menanti kedatangan Alberto. Memperhatikan banyaknya mobil yang lewat, Marin terus menunggu. Melirik arlojinya yang masih menunjukkan pukul 07.15, Marin memang terbiasa untuk datang lebih cepat dari waktu yang disepakati.
Gadis itu menenteng sekantung besar belanjaan, berisi beberapa kaleng soft drink, beberapa bungkus kue dan cemilan kecil. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berwarna merah hati tampak mendekat sembari membunyikan klakson. Menepi dan berhenti tepat di samping Marin, gadis itu menyimpulkan sebuah senyuman.
Itu pasti mobil Alberto.
Tidak menunggu pengemudi itu membuka kaca lebih dulu, Marin sudah melangkah mendekati mobil dan meraih handle pintu. Memasukkan kantung belanjaannya lebih dulu, Marin sama sekali tidak memperhatikan pria di balik kemudi.
"Pagi, Al. Kau siap untuk pergi?" gadis itu meraih sabuk pengaman dengan sigap, sungguh berencana agar perjalanan mereka dapat dimulai dan dapat selesai dengan cepat.
Mendapati tidak ada respon dari sang pengemudi, Marin menoleh sekilas untuk meminta jawaban. Dan saat manik mereka bertemu, Marin tahu semesta mungkin mendengar doanya tadi.
"Ini aku, Marin. Apa kau kecewa karena aku yang hadir?" suara khas milik Bram telah memenuhi seisi mobil, saat Marin masih mengerjapkan mata tidak percaya.
Ada Bram di hadapannya. Lelaki itu tampak begitu tampan dengan kemeja berwarna gading, dengan tiga kancing paling atas yang dibiarkan tidak terkancing. Marin hampir saja kesulitan bernapas, tiba-tiba merasa gerah meski mereka berada di dalam ruangan dengan hembusan AC. Berusaha kembali menguasai diri, Marin tertawa kecil.
"Ah, tidak Bram! Bukan begitu," jawab gadis itu cepat. Dia sungguh tidak menyangka bahwa Bram akan berada di sana, sudah mencengkram setir mobil dengan satu tangannya.
"Jadi kau senang?" pertanyaan yang begitu saja keluar dari bibir Bram, entah pertanyaan macam apa itu.
Marin memutar bola matanya, berusaha menerka kemana arah pembicaraan yang Bram maksudkan kali ini.
Tersenyum lebar, gadis itu kembali bersuara.
"Tentu, Bram. Aku senang kau datang."
Aku memang berharap kau akan menggantikan Alberto, Bram. Siapa sangka ternyata itu memang terjadi?
Bram tersenyum tipis.
"Kau siap?" tanyanya memastikan. Melirik sekilas pada Marin yang pagi ini tampak segar dan cerah, sekaligus kelihatan sedikit kasual dengan outfit yang dia kenakan.
"Aku siap. Ayo berangkat!" Marin tidak menyadari perubahan pada nada suaranya yang terdengar lebih bersemangat, namun seseorang yang lain di sana mendengarnya dengan jelas.
Bersiap untuk melajukan kembali mobil yang berhenti sejenak, Bram telah kembali memegang setir kemudi dengan kedua tangannya, menatap dengan awas pada jalanan yang terbentang.
Marin melirik pada Bram sekilas, sebelum akhirnya dia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Kau tampan sekali, Bram. Dan juga, seksi.
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~Dukung terus dengan like, komen dan vote ya kak readers. Terima kasih sudah mampir 💪