
"Sebab itu bukan dirimu, sebab itu bukan isi hatimu yang sebenarnya." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Alberto buru-buru keluar dari ruang rapat. Rapat pagi itu sungguh membosankan, meski dia sudah ratusan kali menghadiri rapat yang serupa dalam empat tahun terakhir ini. Menjadi pimpinan perusahaan Lee ternyata sungguh menyita waktu dan pikirannya.
Bahkan kini orang-orang mungkin tidak lagi mengingat Diandra Lee, tetapi lebih ingat pada dirinya sebagai pimpinan dan pemilik perusahaan raksasa itu.
Melonggarkan ikatan dasinya sebab dia mulai gerah, getaran di ponselnya tiba-tiba saja begitu menarik perhatian. Meraih benda pipih yang sedari tadi dia letakkan di atas meja, lelaki itu memeriksa sebuah pesan yang masuk di aplikasi Whatsapp-nya.
Bram Trahwijaya:
Kau di kantor, Al? Aku di ruanganmu, urgent.
Membaca tanpa berencana untuk membalas pesan itu, Alberto telah bangkit dari kursinya. Memberikan instruksi bahwa dia punya hal penting yang harus dilakukan, dia meminta pada stafnya untuk menunda rapat ke lain waktu.
Dia perlu bergegas, pastilah sesuatu terjadi. Jika tidak, sang pewaris Trahwijaya tidak mungkin di sana sepagi itu.
Menyusuri lorong dan menaiki lift dengan tergesa-gesa, Alberto akhirnya meraih gagang pintu ruangannya hanya berselang lima menit setelah dia membaca pesan itu.
Bertemu pandang dengan Bram yang sedang menyandarkan kepala pada sandaran sofa, Alberto sudah melebarkan senyuman terbaiknya.
"Halo, mantan abang ipar yang sepertinya akan menjadi abang ipar, kau sehat?" Berjalan memasuki ruangan kerjanya dengan langkah besar, pria itu berbelok untuk bergabung bersama Bram di sofa.
Bram mendengus kesal. Belum mengangkat kepalanya, dia tampak memperhatikan langit-langit ruang kerja Alberto. Ruangan yang sama, yang dulu digunakan oleh Diandra dan dirinya sebelum perceraian mengacaukan semuanya.
Alberto sudah duduk di sofa tepat di hadapan Bram.
"Dia di sana malam tadi, kan?" Bertanya tanpa ragu, lelaki itu sukses membuat Bram tersentak. Tidak menyangka dia akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Alberto, saat dia sendiri sebenarnya masih menimang apakah dia akan bercerita pada lelaki ini atau tidak.
Manik kehitaman Bram melebar.
"Bagaimana kau tahu, Al?" Menegakkan tubuh, Bram tidak lagi menyandarkan kepala. Memandangi Alberto yang memasang wajah mengejek, dia sedang menunggu.
"Tentu saja aku tahu. Karena kalian melupakan dua hal," ujar lelaki itu. Mengambil jeda untuk menarik napas.
"Pertama, sebab kau tidak membuka pintu dengan benar saat aku datang. Tingkahmu semalam itu sungguh terlihat nyata, Bram. Kau jelas-jelas menyembunyikan seseorang di dalam sana saat kau hanya membuka pintu itu lima senti. Siapa lagi kalau bukan Diandra? Tidak mungkin mamiku, kan?!"
Bram tercengang. Tetapi Alberto memang benar. Tepat saat lelaki itu berteriak dan mengetuk pintu untuk yang ketiga kalinya, Bram buru-buru turun dari ranjang itu dan berlari menuju pintu. Membuka pintu itu hanya beberapa senti untuk menyembulkan kepala, dia memberi perintah agar Alberto menunggunya di bawah.
"Bahkan kau tidak mengenakan baju, sialan! Yang benar saja!" lanjut Alberto lagi.
Bram belum bersuara. Dia melayangkan pandangan tidak suka pada lelaki itu, tetapi itu memang fakta yang terjadi.
"Fakta kedua adalah, aku jelas-jelas melihat Diandra keluar dari sana beberapa saat setelah kau turun. Lain kali kalian harus memperhitungkan semuanya, bukan begitu?"
Alberto kini benar-benar menguji kesabaran Bram. Tidak biasanya lelaki itu pintar seperti pagi ini, entah apa yang merasukinya hingga dia bisa berpikir baik seperti itu.
Bram hendak membantah, tetapi pastilah percuma. Dia sudah tertangkap basah.
"Jadi, sampai di mana kalian semalam?"
Sialan Alberto. Menyunggingkan senyuman yang kali ini tampak benar-benar mengejek, Bram tidak bisa menahan untuk tidak merasa kesal.
"Kau sungguh pengganggu, Al. Hampir saja! Hampir saja!" gerutu Bram kesal, kini menumpahkan kekesalannya dengan nada suara yang meninggi.
Bukannya merasa tidak enak, Alberto malah tergelak.
"Bram, Bram. Maafkan aku, oke? Seharusnya aku tidak menginterupsi, benarkan? Kurasa kalian memang hampir melakukannya, ya? Apakah itu menyakitkan, Bram? Berhenti saat itu sedang meronta naik?"
"Diam!"
"Astaga, Bram. Kalian seharusnya menikah saja, bukan bermain belakang seperti ini!"
Bram melotot. Mengeraskan rahang saat dia tidak terima dengan kalimat yang baru saja diucapkan Alberto.
"Dengar, Al. Kami tidak bermain belakang. Itu semua terjadi begitu saja, tanpa direncanakan bahkan tanpa diduga. Diandra tidak seperti itu!" Membela Diandra sebab dia tidak ingin Alberto berpikir yang macam-macam tentang perempuan itu, Bram sungguh ingin melindungi wanitanya. Meski dia tidak yakin apakah dia harus menjelaskan situasinya atau tidak pada Alberto sendiri.
Alberto berdecak.
"Cih! Kalian sudah sejauh ini, apalagi yang ditunggu, Bram?" Berhenti untuk memperbaiki posisi tubuhnya. "Bukankah si kembar juga menyukai kau? Kau adalah ayah mereka, benarkan?"
Alberto lagi-lagi benar. Hal itulah yang dia pikirkan sedari tadi, bagaimana bisa dia menjauh dari kedua anak-anaknya? Bram telah menjadi saksi untuk perkembangan Vallois dan Verden hingga dua tahun ini, saat dia juga menunggu untuk memiliki kesempatan kedua bersama ibu dari si kembar. Tetapi memikirkan kalimat Diandra pagi tadi, entah mengapa Bram langsung menciut.
"Tidak semudah yang kau pikirkan, Al." Bram menarik napas dengan susah payah. "Diandra memintaku untuk tidak lagi datang. Kupikir dia mungkin bosan dengan kedatanganku yang terus-terus berada di sana. Bagaimana menurutmu?" tanyanya lagi.
Alberto mengerucutkan bibir. Tidak menduga Bram akan menyampaikan hal semacam itu, saat dia pikir cupid sudah menembakkan panah cinta di antara keduanya.
"Diandra hanya belum menyadari perasaannya, Bram. Mungkin ada hal yang masih mengganjal di hatinya, mungkin dia belum menemukan titik penting kehadiranmu dalam kehidupannya hingga dia bisa berkata demikian," Alberto berujar pelan.
Bram menunggu.
"Bagaimana rasanya mencintai orang yang sama selama bertahun-tahun meski kau tidak bisa memilikinya, Bram?" tanya lelaki itu kemudian.
Pertanyaan Alberto kali ini memang benar membuat Bram terdiam, memikirkan kalimat yang sesuai untuk mendeskripsikan jawabannya.
"Hmm, itu ...." Bram terbata.
"Rasanya tercabik, menyakitkan. Tetapi cinta tidak hilang semudah itu, Al. Jika aku bisa menggantikan bayangannya, aku tidak akan muncul di sini," jawabnya kemudian.
Alberto tersenyum. Menegakkan tubuh untuk bertumpu pada lutut, memajukan badan lebih dekat.
"Kau mencintainya, kan?" Sesuatu yang seharusnya tidak ditanyakan Alberto pada seorang Bram Trahwijaya.
"Tentu saja. Pertanyaanmu konyol sekali!" Bram menggerutu.
Alberto mengangguk kecil.
"Kini kau hanya harus membantu Diandra untuk sadar bahwa dia mencintaimu. Buat dia merasakan sakit yang menyiksa hatinya, hingga dia menyadari bahwa dia tidak bisa hidup tanpamu. Bagaimana?"
Bram terdiam sejenak. Tidak yakin bahwa perkataan Alberto yang terdengar sok kali ini akan berhasil. Jangankan berhasil, Bram saja tidak yakin apakah Alberto sedang sadar sekarang.
"Bagaimana? Kau berpikir lama sekali, Bram!"
Lelaki itu mendengus kesal.
"Apa yang akan kau lakukan? Jika dia tetap bersikeras, bagaimana?" Terselip nada ragu pada nada suara Bram, sebab dia tidak siap untuk kehilangan perempuan itu. Tidak lagi, tidak akan lagi.
Alberto melebarkan senyuman.
"Aku yakin dia sebenarnya mencintaimu. Hanya saja belum waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya," katanya.
Bram mendesah. Mengaitkan kedua tangan.
"Jadi, apa rencanamu?"
.
.
.
🗼Bersambung🗼