
"Aku sudah melepaskan. Tidak akan aku ingat lagi, tidak akan aku pikirkan lagi. Tetapi jika kau muncul lagi seperti ini, kupastikan aku tidak akan melepaskanmu begitu saja."
.
.
.
Suara mesin yang dikemudikan Alberto terdengar samar, seiring dengan laju yang ia pelankan untuk beberapa saat. Membelokkan mobil berwarna hitamnya untuk masuk ke dalam pekarangan rumah mewah milik Trahwijaya, lelaki itu sempat melirik ke arah pintu masuk.
Pagi itu dia memang sengaja mampir ke kediaman Bram, berniat untuk mengambil beberapa dokumen dari sepupu iparnya itu sebelum berangkat ke kantor. Bram tadi sebenarnya sudah menelepon dan mengatakan bahwa dia akan mengirimkan dokumen itu melalui email saja, tetapi saat bertanya menu makanan apa yang tersedia di meja makan mereka pagi itu, Alberto akhinya memutuskan untuk sekalian mampir.
“Masuk, Al.” Bram membukakan pintu besar itu untuk Alberto, mempersilakan lelaki yang sudah siap dengan setelan jasnya untuk masuk bersamanya.
“Kau tidak berencana ke kantor, Bram?” Alberto memicing sekilas ke arah Bram, mengernyit saat melihat lelaki masih mengenakan baju rumahan. Sebuah kaus berlengan pendek dan celana pendek sebatas lutut.
Bram menggeleng. Mengiring Alberto menuju meja makan, ingin mengajak lelaki itu untuk ikut sarapan bersama mereka.
“Tidak,” jawab Bram mendekat. “Diandra tidak membiarkan aku pergi hari ini. Mungkin aku akan membujuknya lagi nanti, tergantung moodnya.”
Alberto tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. “Baiklah, Bro. Nikmati waktumu,” balasnya.
Melambaikan tangan ke arah Vallois dan Verden yang sudah duduk di kursi duduk mereka masing-masing, Alberto mendaratkan satu kecupan di masing-masing keponakannya itu.
“Duduklah, Al. Makan, isi tenagamu sebelum kau ke kantor.” Bram sudah menarik satu kursi tepat di samping Vallois dan Verden.
“Oke.” Alberto mengangguk. Tidak mendapati Diandra di ruang makan itu, lelaki itu tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
“Di mana ibu hamil?”
“Masih di atas. Dia mabuk,” jawab Bram pelan.
Alberto mengangguk kecil, tidak lagi bertanya. Memperhatikan kedua keponakannya yang mulai memakan makanan mereka dengan pengawasan pengasuh yang berada tidak jauh dari sana, sesekali melirik ke arah Bram yang sedang menyendok nasinya.
Beberapa saat kemudian ia sudah mengambil sebuah piring, bersiap untuk ikut makan pagi bersama Bram dan anak-anaknya.
***
Jalanan kota mereka tidak ramai pagi itu. Setelah menyelesaikan sarapan paginya di tempat Bram tadi, Alberto kemudian pamit untuk berangkat ke kantor. Tidak lupa membawa dokumen yang memang ingin ia ambil tadi, lelaki itu sudah kembali berada di dalam mobilnya, memacu kendaraan roda empat itu untuk menuju perusahaan Lee.
Alunan musik dan lirik dari lagu It Must Have Been Love dari Roxette terdengar memenuhi seisi mobil, saat lelaki itu tanpa sadar ikut menggoyangkan kepala untuk menikmati lagu.
It must have been love
But it’s over now
It must have been good
But I lose it somehow
It must have been love
But it’s over now
From the moment we touched
Till the time had run out
Alberto hening. Meresapi setiap kata dari reffrain lagu yang sudah tergolong lagu lawas itu dalam diam. Entah mengapa tiba-tiba saja pikirannya sudah melayang tinggi, berandai-andai pada seseorang yang masih dia ingat segar dalam ingatan.
Mungkin seharusnya itu cinta, tetapi terlanjur berakhir bahkan sebelum benar-benar dimulai. Dari mulai kita bersentuhan di waktu itu, hingga kini waktu sudah berhenti berputar.
Lelaki itu mengela napas pelan, seolah-olah tiba-tiba merasa sesak.
Kau apa kabar? Apakah kau baik-baik saja?
Melewati pintu perusahaan mereka, Alberto membalas beberapa sapaan karyawan yang sudah lebih dulu datang. Matahari mulai merangkak naik, lelaki itu membelokkan langkah ke arah kafe yang berada di lantai dasar, berencana untuk memesan satu gelas kopi untuk menemani paginya.
“Mau ngopi, Pak?” Suara seorang pria menyapa Alberto, memberikan senyuman terbaiknya.
“Iya.” Alberto membalas sapaan lelaki itu, yang dikenalnya sebagai salah satu staf departemen Procurement mereka.
Mendekati meja kasir, manik Alberto mengitari ke arah sekeliling kafe yang tempat duduknya telah diisi beberapa orang, menyisakan beberapa lagi tempat duduk kosong.
Hanya sekian detik. Lagi-lagi permainan waktu, saat maniknya tertuju pada sepasang manik indah yang kini menatap ke arahnya. Wajah perempuan itu menampilkan mimik datar, saat tubuhnya refleks berdiri ketika manik mereka bertemu.
Terdiam dalam hening, Alberto tidak mampu berbicara. Melangkah mendekati perempuan itu yang memang tampak terus menatap ke arahnya, lelaki itu memberanikan diri untuk maju beberapa langkah.
Menyempitkan jarak, Alberto menarik napas dalam.
“Aku tidak tahu kantormu di mana.” Suara perempuan itu membuyarkan keheningan di antara keduanya, saat Alberto merasa dirinya sudah begitu lama menegang.
“Duduklah,” pinta perempuan itu lagi.
Alberto mengangguk kecil. Menuruti permintaan dari perempuan yang ia tidak pernah sangka akan kembali muncul di depannya, lelaki itu masih mengatupkan bibir. Tidak berusaha menjawab, tidak memberikan suara sama sekali.
Hening kembali menyelimuti, menebarkan suasana sejuk meski di luar terik mentari sudah mulai meninggi.
“Kenapa kau bisa di sini?” Suara Alberto terdengar pelan. Maniknya menatap lurus pada manik perempuan yang duduk di depannya. Mengamati dengan seksama, diam-diam bersyukur dalam hati bahwa perempuan itu tampak baik-baik saja. Tidak lagi ada luka, tidak lagi ada bekas memar di tubuhnya.
Bahkan pagi ini dia terlihat menawan dengan balutan dress berlengan pendek berwarna merah jambu lembut sebatas lutut, dengan rambut yang dikucir kuda rapi.
“Aku ... mencarimu.”
Alberto tercekat napasnya sendiri. “A-aku?” Tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Perempuan itu menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibir.
“Aku tidak tahu di mana kau bekerja,” kata perempuan itu pelan. “Aku ingin bertanya tetapi masih ragu-ragu, jadi aku mencoba untuk pergi ke sini saja. Bapak pernah berkata bahwa kau bekerja di perusahaan ini, tetapi aku tidak tahu di departemen atau bagian mana kau berada.”
Ada setitik cahaya yang menelusup hadir di hati Alberto. Menyadari bahwa kalimat yang baru saja didengarnya adalah kalimat terpanjang yang ia dengar dari perempuan itu, membuatnya merasa hangat entah mengapa. Fakta bahwa perempuan itu datang dan mencarinya pagi ini sudah sukses membuat harinya bersinar.
“Ah, begitu.”
Perempuan itu meraih gelas kopinya, menyesapnya perlahan di sudut bibir.
“Aku mengganggumu? Aku bisa menunggu hingga kau selesai bekerja.” Melirik ke arah arloji yang dikenakannya di pergelangan tangan kanan, perempuan itu memeriksa waktu. Khawatir dia mengganggu pekerjaan lelaki itu.
“Ah, tidak.” Alberto menyadari jawabannya terlalu cepat. “Aku punya waktu.”
Menerbitkan satu senyuman lagi—yang kali ini lebih lebar, di sudut bibir perempuan itu.
“Baiklah kalau begitu,” perempuan itu menarik napas. “Ada banyak hal yang ingin kusampaikan padamu,” katanya kemudian.
Alberto menunggu. Tidak peduli dengan dokumen tender yang seharusnya ia tinjau pagi ini, karena sepertinya duduk di depan perempuan itu jauh lebih penting sekarang.
“Katakanlah, aku akan mendengarkan.” Alberto mengangkat kepala, memperhatikan dengan lekat lawan bicaranya kini.
Terdengar helaan napas sebelum perempuan itu berujar pelan.
“Aku sudah bercerai.”
.
.
.
🎶