
"Karena tatapanmu begitu mengayomi. Sebab itulah orang-orang berkata ada mantan suami, tetapi tidak ada mantan orang tua." ~Diandra Lee.
.
.
.
Wajah Bram berubah pias. Tepat setelah dia memasuki mobil kembali dan menyodorkan bungkusan berwarna putih itu kepada Diandra, ia menyadari bahwa perempuannya sedang memegang ponselnya.
Menatap manik kehitamannya dengan tatapan dalam, Diandra sedang berusaha mencari kejujuran.
"Bram, katakan ini siapa? Mengapa ia menyuruhmu datang? Datang ke mana?" Rentetan pertanyaan sudah menggema di udara, saat Bram tidak menyadari bahwa ponselnya dia tinggalkan di dashboard mobil tadi.
"Diandra, itu ...." Terbata. Menyesali mengapa dia tidak menceritakan sejak awal perkara ini pada Diandra.
"Apa kau sakit, Bram? Mengapa ...." Memicingkan mata untuk membaca nama yang tertera di layar sebagai pengirim pesan. "Dokter Aryo? Siapa Dokter Aryo? Dan mengapa dia menyuruhmu datang?" Begitu penasarannya Diandra, saat dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.
Pesan yang dia baca dari kontak yang disimpan Bram sebagai Dokter Aryo itu sungguh menimbulkan berbagai pertanyaan di kepala.
"Itu, dokter Papa." Bram menarik napas pelan.
"Boleh kuambil ponselnya? Akan kujelaskan padamu nanti, Sayang. Tunggulah, hmm? Aku harus meneleponnya sekarang juga."
Mendengar kata 'dokter papa' yang disebutkan Bram tanpa ragu, hati Diandra semakin mencelos. Keputusannya untuk pindah ke Indonesia memang benar, tetapi dia selama ini memilih untuk tidak menunjukkan diri ke publik. Bahkan Hana saja yang telah bertahun-tahun menggantikan dirinya untuk mengurusi D-Gallery tidak tahu bahwa pemiliknya yang asli sedang berada di Indonesia.
"Tentu, Bram." Merendahkan nada suaranya pada kalimatnya kali ini, Diandra menyerahkan ponsel Bram pada lelaki itu. Memperhatikan Bram yang langsung menelepon kembali nomor ponsel Dokter Aryo, Diandra menunggu dengan hening. Bahkan entah mengapa napsu makannya tiba-tiba menguap begitu saja, meski aroma cilok sudah menyebar ke seluruh penjuru mobil.
"Baiklah, Dok. Aku ke sana sekarang." Bram menyudahi panggilan telepon yang tidak lama itu dengan satu kalimat jelas.
Diandra dapat melihat raut wajah calon suaminya yang berubah sendu, seiring dengan terkulainya tangan lelaki itu di atas paha.
"Bram, apa Papa baik-baik saja? Apa beliau sedang sakit, Bram?" Bertanya penuh kekhawatiran kali ini, Diandra sedang menyesali mengapa dia tidak pernah terpikir untuk datang mengunjungi mantan mertuanya, Brio Trahwijaya. Kini rasa bersalah itu semakin terasa dalam, terlebih saat menyimpulkan bahwa ayah Bram itu sedang dalam kondisi tidak sehat.
Bram memalingkan kepala. Membiarkan pandangan mereka bertemu, dia sedang memikirkan sesuatu di benaknya. Menimang masak-masak, sebelum dia mengajukan sebuah permintaan.
Awalnya Bram berencana untuk memberitahu perihal pernikahannya dengan Diandra dalam beberapa hari ke depan pada ayahnya, setelah dia mengurus semua persiapan pernikahan di atas 50 persen. Tidak mengatakan apa pun perihal keberadaan Diandra di Indonesia selama ini, Bram tahu ayahnya terus berharap agar dia segera mengakhiri masa lajang.
Mungkin Brio Trahwijaya hanya menginginkan anak semata wayangnya itu hidup dengan benar, membangun lagi satu biduk rumah tangga sebelum dia benar-benar menjadi bujang lapuk.
"Diandra," panggil Bram pelan.
"Hm? Katakan, Bram. Kau ingin mengatakan apa?" Mendapati Bram memandanginya dengan tatapan mata penuh kasih sayang, Diandra tahu lelaki itu sedang menyimpan sesuatu.
"Akan kuceritakan sebuah kisah selama perjalanan nanti. Kau keberatan jika kita mengunjungi Papa sekarang juga?" tanyanya hati-hati.
Bram tidak ingin egois. Dia tahu Diandra mungkin saja akan terkejut dengan permintaannya, namun dia tidak bisa mengulur waktu. Dokter Aryo berkata kondisi ayahnya semakin melemah, mungkin saja bertemu dengan perempuan ini akan sedikit menyenangkan hati pria tua itu.
Tidak menunggu waktu lama, Diandra sudah menganggukkan kepala tanpa ragu.
"Ayo, Bram! Kita berangkat sekarang juga!"
***
Tidak ada hiburan untuk pria tua yang kini tampak semakin kurus, selain memandangi hamparan bunga-bunga berbagai warna yang bermekaran di pekarangannya. Bahkan buku-buku koleksinya tidak lagi tersentuh, sebab matanya yang semakin senja membuatnya sulit untuk membaca. Deretan huruf-huruf itu membuatnya pusing, oleh karena itu dia lebih memilih untuk memandangi warna saja.
Pastilah Aryo yang menelepon. Dokter itu tampak begitu khawatir, padahal Brio hanya melewatkan satu sesi minum obatnya malam tadi sebab dia telah terlanjur tertidur.
"Kau tidak perlu meneleponnya, Aryo. Dia mungkin sedang sibuk dengan urusan kantor," ucap Brio pelan, melirik sekilas pada Dokter Aryo yang sekaligus juga sahabatnya, yang masih duduk di sofa tepat di kamar yang sama.
Dokter Aryo tersenyum. "Aku ingin menyampaikan beberapa hal padanya, karena itulah aku menyuruhnya datang. Sebaiknya kau tidak melupakan obatmu lagi, Bri," balas dokter berjas putih itu seraya bangkit berdiri.
Brio Trahwijaya bergeming. Masih diam di kursinya dan bersandar di sana, maniknya masih memandangi ke arah pekarangan.
"Tunggulah di sini. Aku segera kembali." Dokter Aryo sudah melangkah menuju pintu, meraih gagang berwarna perak itu dan keluar dari sana.
***
Diandra meremas jari-jarinya dengan cemas. Terlebih saat langkah kakinya dan Bram berhenti karena seorang dokter paruh baya tampak mendekati mereka, Diandra semakin menyimpan kecemasan yang menggunung di dalam dada.
Mendengarkan dengan seksama penuturan Bram mengenai kondisi mantan mertuanya itu selama di perjalanan tadi, dirinya tidak bisa mengatur emosi kesedihan yang muncul begitu saja.
Berkaca-kaca manik kecokelatannya, saat dia sungguh tidak menyangka bahwa mantan ayah mertua yang kelak akan menjadi ayah mertuanya lagi, ternyata mengidap penyakit yang cukup serius.
Kerutan di kening Bram dan wajah khawatir lelaki itu juga tampak jelas terlihat, saat tangan keduanya bertaut untuk mengalirkan kekuatan.
Diandra merasa bersalah, dan mungkin inilah saat yang tepat untuknya menebus rasa bersalah itu. Dia akan meminta maaf, berlutut di depan Brio Trahwijaya dan memohon ampun.
Bram mendekati Dokter Aryo dan terlibat dengan percakapan yang cukup serius tampaknya, saat Diandra berhenti beberapa langkah di belakang keduanya.
Bram berulang kali menundukkan kepala, sesekali meremas jari-jari. Beberapa saat kemudian lelaki itu kembali berjalan mendekati Diandra, menghampiri wanitanya yang masih diliputi keheningan.
"Bram, bagaimana Papa?" tanya wanita itu cepat.
Bram menganggukkan kepala. "Papa baik-baik saja, Diandra. Papa melewatkan minum obatnya malam tadi dan itu menyebabkan kondisinya tidak stabil. Namun kini sudah kembali membaik," jelas Bram.
Ada rasa lega yang menyelimuti keduanya. Bersyukur berulang kali pada Tuhan sebab masih memberikan kesembuhan pada orang tua mereka.
"Apa Papa tidur, Bram?" tanya Diandra lagi.
"Tidak. Papa ada di kamar. Aku akan masuk dan menyapa. Kau mau menunggu di sini?"
Manik Diandra membesar, saat kepalanya dia gelengkan kemudian. Tidak ada kesempatan yang mungkin lebih baik dari saat ini, saat dia tersenyum kecil sebelum memberikan jawaban.
"Tidak, Bram. Aku ikut. Aku akan menyapa papaku."
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~Dear readers, terima kasih untuk semua dukungan yang terus mengalir ya❤️
Tapi aku ini polos lho. Jangan di suudzonin dongs 😂 Sampe ada yang males baca ya karena update sebelumnya, haha. Maafkan ya, memang begitu style penulisan author remah kacang ini 😋 Selamat membaca, siap-siap mengucapkan selamat tinggal di beberapa eps ke depan yaa... 👋