
"Mungkin saja semesta sedang menertawai kita saat ini." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Marin memandangi ke arah luar. Menatap dengan senyuman merekah yang dia tidak sadari sudah terukir di wajah cantiknya, gadis itu sedang bersatu dengan pemandangan yang tampak indah. Memperhatikan dengan lekat pohon-pohon rindang di sepanjang jalan, Marin kini tahu mengapa dia adalah salah seorang yang sangat menyukai warna hijau. Sebab hijau itu memberikan ketenangan, sebab hijau itu memberikan harapan.
Bram yang masih erat memegangi setir kemudinya melirik sekilas pada Marin, mencuri pandang.
"Apa kau sering melihat pemandangan seperti ini, Marin?" tanya lelaki itu tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka.
Marin menoleh, masih dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Ah, tidak juga Bram. Kurasa setiap negara punya ciri khas pemandangannya masing-masing, benar kan? Aku hanya sungguh menyukai warna hijau. Itu membuatku merasa tenang entah bagaimana caranya," Marin menjawab panjang.
Bram menganggukkan kepalanya pertanda dia setuju.
"Desa itu tidak jauh lagi. Tetapi kurasa jalannya akan sedikit sulit." Terdengar lebih kepada sedang bergumam sendiri, Bram terus memperhatikan jalanan di depannya dengan awas. Memasuki jalanan yang kian lama kian mengerucut dan mengecil, kini Bram melajukan mobilnya tidak lagi di jalanan beraspal.
Jalanan tanah dengan bebatuan kecil menunggu mereka, pertanda bahwa perjalanan mereka hampir menemui titik tiba. Marin membuka kaca mobil, menjulurkan kepalanya untuk melihat ke sekeliling dan memeriksa keadaan.
"Sepertinya jalannya memang buruk, Bram," berbisik pelan gadis itu, masih dengan kepala yang menyembul di jendela. Maniknya menatap pada jalanan tanah yang tampak panjang, dengan banyaknya lubang-lubang kecil yang membuat mobil mereka sedikit banyaknya bergoyang. Bram harus memelankan laju mobilnya, mengemudi dengan sabar untuk melalui jalanan desa itu.
"Apa kalian yakin akan berinvestasi di sini, Bram?" Marin terlanjur penasaran. Entah apa yang menjadi alasan bagi perusahaan Lee yang dipimpin Alberto mau memilih lokasi terpencil seperti ini untuk sebuah investasi.
Bram tersenyum tipis.
"Ini adalah salah satu lokasi paling strategis, Marin. Pembangunan desa mereka tergolong cepat, dengan perputaran uang yang tidak sedikit. Meski aku juga tidak menyangka mengapa perangkat desa tidak memilih untuk melakukan perbaikan pada jalanannya lebih dulu." Bram tampaknya sedikit menahan kesal, jika ditelaah dari nada suaranya yang baru saja terdengar. Mengemudi dengan mobil sport sepertinya bukan pilihan yang cerdas kali ini. Diam-diam lelaki itu menyesali mengapa dia menyanggupi permintaan Alberto untuk bertukar mobil. Jika tahu jalanan yang ditempuh akan buruk begini, dia pasti tidak akan membawa mobil sport itu ke sana.
"Sepertinya kita hampir sampai, Bram!" seru Marin senang ketika maniknya menangkap sebuah gapura yang terbuat dari kayu telah tampak terlihat dekat. Sebuah jembatan yang tidak panjang juga terbentang kokoh, dialiri aliran sungai di bawahnya.
"Bram, kau yakin jembatan itu kokoh?" Marin memutar bola matanya, melirik sekilas pada Bram yang tampak lebih awas dari sebelumnya.
Mengangguk pelan, Bram berusaha menenangkan diri. Sepertinya jembatan itu cukup kokoh dan dia yakin dia bisa melewatinya dengan baik. Menahan napas sejenak, Bram mengurangi gas dan sangat berhati-hati ketika mobil mereka melewati jembatan itu. Syukurnya, Bram adalah seorang pengemudi handal.
"Kau hebat juga, Bram!" Marin sedikit berbisik, memandangi jembatan yang baru saja mereka lewati melalui kaca spion mobil.
Bram hanya tersenyum tipis, meneruskan laju kendaraannya untuk mencapai titik lokasi survey. Manik Bram membesar saat dia melihat beberapa pria yang tampak sudah menunggu, tepat di depan kantor pedesaan.
"Di sana, Marin! Kita sudah sampai."
***
Melirik pada Marin yang tampak berbanding terbalik dengannya, gadis itu terlihat sangat senang. Bahkan dia menjulurkan telapak tangannya untuk menampung air hujan, gadis itu seperti sedang mengagumi hujan.
"Kau akan terkena flu, Marin," Bram berbisik kecil, masih memandangi Marin yang bermain dengan air hujan.
Marin menoleh. Memperhatikan beberapa pria perangkat desa yang tampaknya khawatir, gadis itu mendekatkan diri ke arah Bram.
"Kurasa para pria itu khawatir kalian akan membatalkan investasi, Bram. Sebab hujan turun tepat setelah kita menginjak kantor desa ini. Bahkan kau belum melihat lokasinya sama sekali," ujar Marin berbisik pelan, tidak ingin para perangkat desa itu mendengar kata-katanya.
Bram tersenyum tipis. Melirik sekilas ke arah belakang, dia melebarkan senyumannya.
"Kau mungkin benar, Marin. Ah, aku tidak tahu ramalan cuaca akan salah besar."
Marin mengangkat bahu. Tidak lagi menanggapi perkataan Bram, dia memilih untuk kembali bermain dengan air hujan. Tidak peduli atas peringatan yang diucapkan Bram tadi, Marin hanya terlalu menyukai hujan.
Hujan itu tampaknya sedang tidak ingin berhenti. Hampir dua jam lebih Bram dan Marin tertahan di kantor desa dan mereka tidak punya banyak lagi waktu. Hari semakin merangkak sore ketika Bram dan Marin harus memutuskan sesuatu.
Bram mendekati seorang pria yang memakai pakaian safari, yang tampaknya adalah penanggungjawab dari kunjungan ini. Tampak berbicara dengan postur tubuh sopan, Bram berkata bahwa mereka tidak bisa tinggal lebih lama. Mengucapkan maaf sebab tidak bisa membawa Bram ke lokasi survey, pria paruh baya itu tampak sangat menyesal. Tetapi semuanya tahu itu bukanlah kesalahan siapapun, hanya mungkin cuaca saja yang kurang bersahabat.
Berpamitan, akhirnya Bram dan Marin memutuskan untuk kembali saat hari hampir petang. Hujan masih betah berada di bumi pertiwi, meski kini tidak sederas tadi. Mereka harus berlari kecil menuju mobil yang terparkir, masuk ke dalam sana dengan baju sedikit basah yang disebabkan oleh terpaan hujan yang terbawa angin.
Marin mengibaskan kausnya. Mengelapi lengannya yang basah dengan beberapa helai tisu, melirik sekilas pada Bram yang kini sudah menghidupkan mesin mobil. Mengaktifkan wiper, Bram mengelapi kaca depan yang tampak berkabut.
Berharap hujan akan berhenti setelah mereka keluar dari desa itu, Bram mulai menginjak gas. Mereka harus segera pergi, tidak boleh tertahan lebih lama lagi.
Bram masih memegangi kemudi, memajukan tubuhnya untuk melihat lebih jelas ke arah jalan. Dia menatap pada jembatan kokoh yang tidak lagi jauh di depannya, saat tiba-tiba beberapa orang dengan payung di tangan mereka berlari kecil menuju ke arahnya. Menaikkan tangan di udara, para pemuda itu seolah memberi tanda agar Bram menghentikan laju mobilnya. Kini seorang pemuda tampak mendekat, dengan baju basah kuyup seolah payung itu tidak berfungsi dengan baik.
Bram menurunkan kaca mobilnya perlahan, mengantisipasi rintik hujan yang masuk dari celah jendela. Pemuda tadi berdiri tepat di samping kacanya, menundukkan badan.
"Jembatan itu tidak bisa dilewati, Pak. Air sungai meluap dan jalanan di depan mengalami longsor. Bapak harus kembali ke desa saja," berucap keras di antara suara hujan, lelaki itu membawakan sebuah berita yang cukup mengejutkan.
Bram mengerjapkan mata, yang juga membuat Marin tersentak kecil setelah mendengar penuturan pemuda tadi. Bram menoleh ke arah Marin, memandangi gadis itu dengan tatapan yang sulit di tebak.
Marin membalas tatapan Bram dengan manik kebiruannya. Wajahnya tampak tenang, meski gadis itu terlihat penuh tanda tanya.
"Bram, kita harus bagaimana?"
.
.
.
🗼Bersambung🗼