Travelove~

Travelove~
52. Butcher



"Melawan takdir, beberapa saat aku berharap agar kau jatuh ke dalam pelukanku saja." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


"Diandra!"


Lagi-lagi hanya tentang dentingan waktu.


Manik Bram hampir saja lepas saat mendapati tubuh Diandra melemas seketika. Syukurnya sang pengasuh si kembar tadi sigap menahan tubuh linglung nyonyanya, meski kemudian mereka berakhir dengan sama-sama tersungkur di lantai mall itu.


Tidak menyadari bahwa sedari tadi mereka diawasi oleh tiga orang lelaki bertubuh tinggi dan tegap yang menjaga jarak dari tempat mereka berdiri, Bram lagi-lagi kembali terkejut saat ketiga lelaki tadi sontak mendekat dan dengan cekatan membopong tubuh Diandra tepat di depan matanya.


Belum sempat dia mengambil alih, Diandra sudah lebih dulu diangkat dan digendong oleh salah satu pria berdada bidang, yang juga tampak mengenakan perangkat komunikasi di telinga kanan. Berbicara dengan bahasa Perancis yang fasih, Bram menarik kesimpulan dengan cepat bahwa mungkin saja dia sedang memberikan instruksi.


Tunggu, apa yang sedang terjadi?


Masih mencoba mencerna sebaik mungkin, Bram ternyata belum bisa berfikir jernih. Saat langkahnya otomatis terayun seiring dengan tubuh Diandra yang dibawa menjauh, lelaki itu harus berhenti tiba-tiba sebab salah satu dari seorang pria tadi telah menahan langkahnya.


"Kau mengenal Nyonya kami?" tanyanya datar dengan nada suara yang terkesan dingin dan tidak bersahabat sama sekali.


Mengetahui pandangannya ditutupi oleh badan kekar pria itu, Bram tidak langsung menjawab. Dia malah berjinjit untuk melihat ke arah mana pria-pria tadi membawa Diandra dan bayi kembarnya pergi.


Pria tegap itu tidak berpindah sedikit pun. Bahkan ketika manik keduanya bertemu, raut wajahnya tidak berubah sama sekali.


"Aku tidak mengerti bahasamu," kata Bram cepat. Pria tadi menggunakan bahasa yang dia tidak pahami, setidaknya jika mereka memang ingin berkomunikasi satu sama lain mereka harus menggunakan bahasa lainnya.


"Apa kau mengenal Nyonya kami?" Bertanya kembali tetapi kali ini dengan bahasa Inggris yang terdengar fasih, Bram menjawab dengan anggukan.


"Aku mengenalnya."


"Ikutlah bersama kami. Kami harus memastikan identitasmu," katanya kemudian. Tidak memberi ruang untuk Bram berfikir, atau bahkan lelaki itu tidak mempunyai pilihan 'tidak'.


Menarik napas sebab dia kesulitan untuk menormalkan detak jantung, Bram tahu dia telah dipenuhi rasa khawatir yang membuncah. Untuk sedetik dia merasa dia tidak perlu ke sana, tetapi entah mengapa hatinya berkata lain saat dia menjawab dengan satu kata saja.


"Baiklah."


***


Lelaki itu memandangi sekeliling ruangan berukuran 5x5 meter yang didominasi warna putih dan emas. Berdiam diri di sana hampir setengah jam lamanya, Bram sungguh sedang menyimpan banyak pertanyaan dalam kepala.


Mengapa aku berada di sini?


Menyangka mereka akan menuju ke rumah sakit pada awalnya, Bram menelan pil pahit sebab ternyata mereka tidak menuju ke sana. Pria tegap itu mengiringnya untuk masuk ke dalam sebuah mobil mewah dengan cat berwarna biru metalik, memberikan instruksi agar lelaki itu duduk di kursi penumpang bagian belakang. Setelah berkendara hampir tiga puluh menit, Bram sempat mengernyitkan dahi saat menyadari mereka memasuki sebuah mansion mewah nan megah. Setelah itu, di ruangan itulah dia disuruh untuk menunggu, sendirian.


Diandra tidak lagi tampak, begitu juga dengan si kembar dan pengasuhnya. Bram sempat menduga mungkin saja ini adalah kediaman dari Gionard Butcher yang baru, sebab seingatnya terakhir kali Diandra dan Gionard tinggal di sebuah apartemen, bukan di sini. Mungkin setelah kelahiran si kembar mereka memang membutuhkan rumah yang lebih luas, dan memiliki sebuah mansion megah seperti ini pastilah hal kecil bagi seorang Gionard Butcher.


Lamunan lelaki itu tersadar saat suara pintu yang didorong jelas terdengar. Seorang gadis muncul dari ambang pintu itu, diikuti dengan suara heels yang mengetuk lantai.


Menyodorkan satu botol minum kemasan yang dia ambil saat melewati sebuah meja, gadis itu menundukkan sedikit tubuhnya sebelum mengambil posisi duduk tepat di depan Bram. Menerima, Bram tidak langsung membuka botol itu tetapi memilih untuk meletakkannya di atas meja kaca yang berada di antara mereka.


Kini saling menaikkan kepala, mereka memandang satu sama lain.


"Namamu, Tuan?" tanya gadis itu cepat, dengan nada dingin yang terdengar menusuk tulang.


"Bram. Bram Trahwijaya."


Untuk beberapa detik tampak gadis itu terdiam, saat maniknya menatap lebih lekat pada Bram dengan mata memicing. Menekan tombol pada perangkat yang terpasang di telinga kanannya, gadis itu sudah berbicara dalam bahasa Perancis. Tak berapa lama, dia menyudahi pembicaraannya dan kembali menatap pada Bram. Namun kali ini tatapannya tampak berbeda.


"Aku Alegra Fachuas. Bisa kau ceritakan apa yang terjadi? Kudengar kau berada di sana saat Nyonya kami jatuh pingsan."


Bram menautkan jari-jarinya dengan resah.


"Di mana Diandra? Apa dia baik-baik saja?" Tidak menjawab pertanyaan sang gadis, dia malah mengeluarkan pertanyaan lain. Pertanyaan yang sudah disimpannya rapat-rapat sejak tadi.


Raut wajah gadis yang bernama Alegra itu tidak berubah. Namun maniknya masih terus menatap pada lelaki yang duduk di depannya, masih terus memeriksa sesuatu melalui tatapan mata.


"Jawab pertanyaanku, Tuan Bram." Tidak memberikan jawabannya, dia kembali bersuara. "Bukankah kau di sini untuk memberikan penjelasan?"


Bram menarik napas, membiarkan fikirannya terbang pada kejadian tadi.


"Entahlah, aku juga tidak yakin. Kami bertemu secara tidak sengaja saat sedang mengantri untuk membeli minuman dan mengobrol beberapa menit. Setelah berbincang, aku bertanya apakah dia akan pulang dan dia mengangguk. Setelah itu semuanya terjadi begitu saja."


Alegra mendengarkan dengan seksama. Menekan beberapa kali di layar tab-nya, dia kemudian mengangkat kepala untuk melihat pada Bram lagi.


"Apa kau mengatakan sesuatu pada Nyonya sebelum dia jatuh pingsan?" tanyanya lebih rinci.


Bram hening sesaat. Jidatnya tampak berkerut saat dia mengingat-ingat ucapan apa yang dia lontarkan terakhir kali pada Diandra.


"Ah, kurasa tidak ada yang aneh. Aku bertanya apa Gionard juga ikut dan meminta agar Diandra menyampaikan salamku padanya, itu saja. Karena aku tidak melihat Gionard bersama mereka saat itu," jawab lelaki itu jujur.


Alegra menyorot dengan pancaran mata serius kali ini, saat tiba-tiba dia kembali memegang telinga kanannya untuk mendengarkan sesuatu dari sana.


Setelah hening beberapa saat di antara mereka, gadis itu kemudian bangkit dari duduknya dan berdiri tegak di hadapan Bram.


"Baiklah. Tetaplah berada di dalam ruangan, Tuan. Tuan Butcher akan segera tiba."


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Hi Readers, yuks follow Instagram @tulisan_bee untuk seru-seruan bareng, terima kasih dan jangan lupa vote yak 😂