
"Kini kehangatan keluarga telah menjadi prioritas utama. Terima kasih karena kau menemaniku di sini. ~Diandra Lee.
.
.
.
Bram menggandeng sang kembar di tangan kanan dan kirinya. Memberikan masing-masing jari telunjuk untuk digenggam Vallois dan Verden bersamaan, ketiga ayah dan anak itu telah keluar dari kamar. Menuruni anak tangga satu per satu, siap untuk bergabung dengan anggota keluarga yang lainnya.
Tante Luna dan Alberto sudah di sana, mengelilingi meja makan dan duduk di kursi masing-masing. Alberto tampak sudah mengenakan setelan jas rapi, sepertinya akan pergi setelah makan pagi ini selesai.
"Pagi, Ganteng," sapa Tante Luna pada kedua cucunya yang telah tampak rapi. Bocah kembar itu kompak mengenakan kaus tidak berlengan bergambar batman dengan celana pendek selutut yang senada.
Vallois dan Verden tersenyum senang, memberikan kecupan hangat pada Oma mereka sebelum kemudian naik ke kursi. Dibantu sang pengasuh yang sudah berada di sana sejak tadi, keduanya sudah mulai memegangi sendok di tangan masing-masing setelah dipasangi celemek bayi.
Diandra memutar tubuhnya. Menaruh semangkuk besar nasi goreng yang masih panas, meletakkannya di atas meja. Perempuan itu sudah tampak segar, dengan rambut yang ia biarkan terurai karena belum sepenuhnya kering. Mengenakan kaus rajutan yang menutupinya hingga leher atas, berusaha menyembunyikan sisa-sisa dari pekerjaan Bram yang ditinggalkan lelaki itu di tubuhnya.
Alberto sendiri mencuri pandang pada Bram--menahan tawa sebab mengamati fashion sepupunya yang tampak berbeda pagi ini. Rencana ingin mengolok Bram, dia malah mendapat satu tendangan di kaki yang cukup keras dari lelaki itu.
"Kau akan pergi setelah ini, Al?" Suara Tante Luna memenuhi ruang dapur, menyendok nasi goreng untuk dirinya sendiri.
"Aku ada meeting, Mi. Mengesalkan untuk pergi pagi-pagi seperti ini tapi apa boleh buat," jawab Alberto kemudian. Lelaki itu masih berkutat dengan roasted bread yang dilapisinya dengan selai serikaya.
"Jangan terlalu sibuk bekerja, Al," potong Bram cepat. Mendapati Alberto kini mendelik dan melotot padanya, lelaki itu malah tersenyum lebar.
"Benar kata Bram, Al. Kau setidaknya harus mulai berpikir untuk membangun keluarga, bukan begitu? Apa kau tidak ingin memiliki anak yang lucu seperti keponakanmu ini? Lihat itu," balas Tante Luna mengompori. "Vallois dan Verden membuat rumah ini jadi hidup," lanjutnya lagi.
Alberto meringis. Ia tahu cepat atau lambat ia akan jadi bulan-bulanan di rumah ini, memang sebaiknya ia tidak tinggal sejak malam tadi. Sebaiknya ia bersemedi saja di apartemennya, meski di sana hening sekali. Daripada berada di rumah besar itu namun selalu jadi target olok-olokan seisi rumah.
Alberto tidak menanggapi. Melemparkan tatapan sinis ke arah Bram, namun tampaknya lelaki itu tidak terusik sama sekali. Bram malah asyik dengan makanannya.
"Halo? Kamu mau ke sini, Han?" Suara Diandra yang tiba-tiba terdengar memecah konsentrasi Alberto, saat ia mendengar kata yang sepertinya familiar di telinga.
Diandra sedang berada dalam sambungan telepon dengan Hana, pengelola butik D-Gallery sekaligus orang kepercayaan Bram.
"Oke. Saya tunggu ya. Nanti sekalian nitip baju untuk Gloria kemarin ya. Makasih banyak, Hana," lanjut perempuan itu lagi sebelum kemudian menutup panggilannya.
Alberto mendelik.
"Hana mau datang?" bisik Bram ke arah istrinya, mendapati anggukan dari Diandra kemudian.
"Mau ambil baju," jawab perempuan itu.
Alberto mengerjap. Hana? Apakah Hana si perempuan tempo lalu? Dirinya sudah terlanjur penasaran.
"Diandra," panggil lelaki itu cepat. Melayangkan tatapan pada Diandra yang duduk di depannya.
"Hmm?" Diandra menoleh.
"Apa itu Hana yang namanya Hanalia Esava, temanmu yang baru saja kau telepon?" tanya Alberto ragu-ragu.
Bram menyeringai. "Bagaimana kau mengenalnya?" potongnya cepat.
"Ah, tidak. Hanya angin lalu. Tetapi memang benar dia?" Masih penasaran Alberto.
"Iya. Itu benar dia. Dulu dia adalah karyawanku di D-Gallery, sekarang jadi kepercayaan Bram untuk mengelola butik itu. Aku bersyukur dia kompeten sekali, hingga semuanya berjalan aman hingga sekarang. Bukan begitu, Bram?"
Bram mengangguk. Meraih gelas minuman yang berisi jus jeruk lalu menenggaknya perlahan.
"Kau benar. Dia kompeten dan cerdas," sambung Bram.
Entah kenapa Alberto tiba-tiba saja tersenyum. Tanpa sadar merasa sedikit bahagia di dalam hati, sebab ternyata track record perempuan itu tidaklah buruk. Dari tampilannya saja Alberto sudah menilai bahwa dia adalah gadis yang cerdas, selain cantik tentunya.
"Kau mengenalnya, Al?" tanya Bram lagi, mendapati sinyal dari istrinya untuk bertanya.
Alberto semakin melebarkan senyuman.
"Ah, tidak begitu," tepisnya. Lelaki itu sedang mengetik sesuatu di ponsel, mengirim pesan pada sekretarisnya untuk mengundur jadwal meeting mereka. Dia berencana untuk berada di rumah, saat Hana nanti datang.
Menekan tombol kirim, lelaki itu menaikkan kepala untuk menghadap pada Bram.
"Hanya saja kami sempat berpapasan kemarin, saat aku tidak sengaja menumpahkan minumannya," terang Alberto kemudian. Mendapati pandangan orang-orang yang berada di meja makan itu kini tertuju padanya, Alberto meringis kecil.
"Benarkah? Apa dia cantik, Bram?" Tante Luna sudah lebih dulu bersuara.
Diandra tertawa kecil. "Tentu saja, Tante. Hana adalah gadis tangguh, dia bahkan membiayai kuliahnya dari pekerjaan paruh waktu yang ia lakukan. Cerdas, dan memiliki bakat yang terpendam dalam dirinya," jelas Diandra kemudian.
Membuat Tante Luna mengangguk pelan, saat Alberto sudah berbunga di tempat duduknya.
Aku memang tidak pernah salah dalam menilai wanita.
"Apa yang kalian bicarakan, Al?" Diandra beralih kepada Alberto, bertanya pelan.
Lelaki itu menggeleng. "Tidak ada. Aku meminta maaf karena membuat tangannya basah dan sudah, berakhir begitu saja," jawab Alberto cepat.
Bram menoleh. Melemparkan pandangan penuh arti pada Diandra, saat perempuan itu menaikkan bahu.
"Kau sudah selesai, Al? Cepatlah berangkat atau kau bisa terlambat," ujar Tante Luna kemudian, melirik pada jam di ruangan itu yang hampir menunjukkan pukul delapan pagi.
Alberto melirik pada ponselnya yang baru saja bergetar. Menandakan satu notifikasi pesan masuk dari sekretarisnya, yang berisi dua kata saja, "baik, Pak". Senyumnya merekah kemudian, tidak menyangka dia akan kembali bertemu dengan perempuan itu.
Perempuan yang mencuri atensinya, perempuan dengan senyum yang menawan.
"Tidak apa-apa, Mi. Rapatnya sudah diundur," jawab lelaki itu senang. Kini menarik gelas kaca yang berisi teh hangat, ia menyesap cairan kecokelatan itu pelan-pelan.
Bram dan Diandra saling pandang, saat sepertinya Alberto menunjukkan gelagat yang tampak aneh. Sedang Tante Luna sudah beranjak dari kursinya, melakukan sesuatu di sudut dapur yang lain.
"Al," panggil Bram kemudian.
"Apa?"
"Jika kau berniat untuk menunggu kedatangan Hana, maka aku tidak bisa melarangnya," ucap Bram pelan. "Tetapi jika kau berniat untuk mendekatinya, kurasa kau harus tahu bahwa kau mungkin tidak punya kesempatan."
Alberto berdecak. Melayangkan maniknya yang melotot tidak terima. Melihat Diandra yang juga memperhatikan ke arahnya, namun sepertinya tidak berniat ikut campur dalam percakapan antar lelaki ini.
"Astaga, Bram. Aku hanya ingin berkenalan saja, tahu? Jangan mentang-mentang dia orangmu lalu kau melarangnya berkenalan denganku. Itu tidak fair," jawab Alberto kesal.
"Bukan begitu, Brother," lanjut Bram lagi. "Dia--"
"Dia kenapa?" potong Alberto cepat, tidak sabar. Mereka saja belum saling berkenalan, bisa-bisanya Bram sudah berkata ia tidak punya kesempatan.
Bram menghela napas sebelum kemudian menjawab dalam satu kalimat tegas. Kalimat yang juga sukses membuat Alberto terdiam seribu bahasa.
"Dia sudah menikah."
.
.
.
🗼Bersambung🗼