
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi setidaknya aku bersyukur aku berakhir di sampingmu."
.
.
.
Terdiam. Hening seribu bahasa. Begitulah reaksi pertama yang diberikan Bram untuk gadis yang tampaknya hampir mabuk itu, meski telinga Bram mampu mendengar dan mencerna pertanyaan Marin dengan sangat baik. Tertutupnya pintu ruang VIP dimana mereka berada ternyata tidak memihak Bram kali ini. Di tengah suasana hening yang melanda, lelaki itu juga merasa lidahnya kelu seakan dia tidak siap untuk menerima pertanyaan Marin yang begitu tiba-tiba.
“Bram, apa kau pernah mencintai dua wanita pada waktu bersamaan?”
Rangkaian kata yang disusun Marin menjadi sebuah pertanyaan sederhana namun entah mengapa menembus ke dalam hati Bram tanpa dia sadari. Menatap manik kebiruan milik Marin yang kali ini tampak sendu dan tidak bercahaya, Bram tanpa sadar mengembuskan napas berat.
“Marin, apa yang terjadi?” Alih-alih menjawab pertanyaan Marin, Bram merespon gadis itu dengansebuah pertanyaan pula. Dia khawatir, sungguh. Pastilah sesuatu terjadi hingga Marin yang dikenal Bram sebagai gadis tangguh kini berakhir dengan kondisi seperti itu di depan matanya sendiri.
Marin menegakkan kepala, masih bertaut manik dengan manik kehitaman Bram yang memancarkan kekhawatiran.
“Bram, jawablah pertanyaanku,” pinta gadis itu lagi. Tidak ingin mengikuti alur Bram yang berusaha mengalihkan pembicaraan, Marin masih cukup sadar bahwa Bram belum memberikan jawaban atas pertanyaannya tadi.
Jawablah, Bram. Jawabanmu sangat penting untukku.
Bram mendesah. Hatinya penuh sesak, namun dia bersyukur bahwa Marin ternyata belum sepenuhnya mabuk. Gadis itu masih memiliki kesadaran, meski mungkin sudah tidak penuh lagi. Bram mengambil jeda untuknya berfikir. Membiarkan manik gadis itu menatap lurus ke dalam matanya, Bram sedang mengatur tentang bagaimana dia akan memberikan jawabannya.
Jawaban seperti apa yang kau butuhkan, Marin? Apakah kelak jawabanku akan mempengaruhi sudut pandangmu atau malah akan menambah beban di hatimu?
“Tidak, Marin. Tidak pernah,” berujar pelan Bram tepat di hadapan Marin, memastikan gadis itu mendengar suaranya meski volume-nya pelan sekali.
Marin mengerjapkan mata. Menyunggingkan senyuman kecil di sudut bibirnya, gadis itu telah beralih pandang dari wajah tampan Bram, kini meraih botol wine yang masih tersisa sepertiga lagi di dalamnya. Menuang ke gelas putih berukuran sedang dengan diameter yang tidak terlalu lebar, Marin telah menenggak cepat cairan itu, membiarkan wine kembali mengaliri kerongkongannya.
“Berhentilah minum, Marin.” Suara Bram kali ini berat seolah dia sedang memberikan peringatan.
“Aku tidak tahu, Bram. Tidak kusangka ada lelaki yang mampu membagi hati untuk dua wanita,” berujar pelan gadis itu seraya tampak memandang nanar ke arah lantai.
Bram hening, masih belum tahu bagaimana dia harus menanggapi perkataan Marin baru saja. Rasanya tidak pas untuk memberikan saran, sebab Bram saja masih tidak yakin atas apa yang dia simpan di dalam hatinya. Mencintai dua wanita dalam waktu bersamaan? Benarkah hatinya tidak pernah mengalami hal itu? Apakah memang sudah benar-benar tidak ada lagi cinta di dalam sana?
“Kau tidak tahu seberapa besar aku mengagumi ayahku, Bram. Kini mengetahui bahwa dia memiliki wanita lain meski mungkin itu adalah masa lalunya, entah mengapa membuat hatiku begitu sakit. Aku kecewa padanya, meski aku tahu aku tidak boleh bersikap demikian,” Marin melanjutkan. Nada suara gadis itu sudah melemah, namun dia tampaknya masih mampu menahan kesadarannya untuk tetap terjaga.
Bram belum memahami ke arah mana pembicaraan Marin akan bergulir. Di tengah keheningannya, dia masih berusaha memahami keadaan. Tidak mengerti apa yang telah terjadi, lelaki itu mencoba menghubungkan arti dari setiap kalimat Marin yang sedari tadi diucapkan gadis itu.
Marin masih menunduk. Membiarkan rambutnya tergerai, gadis itu tampak begitu menahan kesedihan. Meski tenaganya hampir habis sebab menahan perasaan, dia masih menggerakkan tangannya untuk meraih kembali botol wine di atas meja. Menyadari gerakan tangan Marin, Bram dengan cepat menahan tangan gadis itu, memintanya untuk berhenti kali ini.
“Berhentilah, Marin. Kau sudah banyak minum,” pinta lelaki itu.
Marin menaikkan kepala, menatap pada tangan Bram yang masih memegangi lengannya.
Apa kau benar tidak menyimpan dua orang dalam hatimu, Bram? Apa benar kau telah melupakan mantan istrimu sepenuhnya?
“Bram...,” berbisik hampir tanpa suara Marin.
Lelaki yang dipanggil menoleh sekilas, sebelum kemudian menatap manik kebiruan Marin dengan pandangan lurus dan dalam.
“Marin, berjanjilah untuk tidak minum sendirian lagi.”
***
Marin mengerjapkan mata. Merasakan nyeri yang sungguh berdenyut di tengkuk dan kepalanya, gadis itu berusaha untuk membuka mata. Sinar matahari tampak mencoba menerobos masuk melalui celah-celah gorden panjang yang menutupi jendela, tetapi belum mampu menerangi ruang apartemen gadis itu yang masih tampak menggelap.
Tersadar dalam posisi tubuh miring ke arah kanan, Marin memijat pelan kening dan tengkuknya untuk menghilangkan rasa sakit yang masih menjalar. Belum selesai dengan bekas luka bakar yang masih berada di pangkal kakinya, kini gadis itu harus berurusan dengan sakit di bagian kepalanya.
Apa yang terjadi? Mengapa aku pusing sekali?
Berusaha mengembalikan ingatannya yang sempat terpotong mengenai kejadian malam tadi, Marin mulai mengingat satu per satu kejadian yang dia alami. Hari yang panjang, hari dimana dia akhirnya merasa hatinya hancur sebab ayahnya mengucapkan satu kalimat yang begitu menyayat.
Club. Dia ingat dia membelokkan mobilnya untuk memasuki sebuah club, berniat untuk menenggak beberapa gelas wine demi mencari ketenangan. Masih hening, saat tiba-tiba manik Marin kembali mengerjap. Kini gadis itu tampak mengingat sesuatu. Bram. Kedatangan lelaki itu, tatapan mata mereka yang berulang kali menyatu. Pertanyaan yang dia lontarkan, jawaban Bram yang entah mengapa membekas di hatinya.
Bram. Permintaan lelaki itu agar dia berhenti minum. Sanggahan tangan lelaki itu yang menggenggam tangannya. Hingga Marin terbelalak saat Bram mengambil alih gelasnya, bergantian menenggak cairan itu di depan matanya. Bram.
Ah, Bram. Aku pasti terlihat menyedihkan di matamu.
Menggigit bibir bawahnya, Marin mengerutkan dahi. Memikirkan betapa memalukannya dirinya malam tadi, mengutuk dirinya dalam hati. Entah apa yang dia lakukan di depan Bram, tidak yakin apakah image-nya masih akan terjaga jika dia memang benar-benar mabuk.
Kuharap aku tidak mengatakan hal yang membuatmu tersinggung, Bram. Jika iya, maka aku minta maaf.
Di tengah-tengah kegalauannya tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Bram malam tadi, Marin menegang saat dia merasakan sebuah gerakan lain di atas ranjang. Itu bukan gerakan yang dia ciptakan sebab dia masih diam sejak tadi. Membelalakkan mata, degupan jantung gadis itu telah lebih dulu memburu.
Siapa itu? Apa yang terjadi?
Merubah posisinya untuk melihat apa yang sedang terjadi di belakangnya, Marin melongo bahkan hingga mulutnya terbuka lebar. Menatapi tubuh Bram yang sedang tertidur pulas di sampingnya, lelaki itu tampak menyandarkan wajah tampannya di atas bantal sembari memeluk bantal milik Marin. Tidur dengan tubuh telungkup, Marin dapat melihat dengan jelas punggung lebar Bram yang berbalut kulit berwarna kecoklatan. Ditutupi selimut tebalnya hingga sebatas pinggang, Bram masih dibuai mimpi.
Menegang, Marin hampir saja lemas.
Bram, apa yang kau lakukan di atas ranjangku?
.
.
.
🗼Bersambung🗼