Travelove~

Travelove~
67. Bermain Kata (2)



"Gelisah. Hanya saja aku benar-benar penasaran apakah kau memiliki sejumput rasa." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Bram melirik ke arah ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas meja. Memandangi benda pipih itu berulang kali, sembari berpikir apakah dia akan meraihnya atau tidak. Penasaran, sekaligus tidak sabaran.


Alberto menyuruhnya untuk berdiam diri di apartemen malam ini. Bahkan lelaki itu juga memerintahkan Bram untuk mematikan daya ponselnya, agar tidak seorang pun bisa menghubunginya malam itu. Bram hendak mendebat, bertanya apa kira-kira yang direncanakan oleh Alberto untuknya, namun setiap kali dia ingin bertanya, pria itu sudah lebih dulu bersuara.


"Serahkan padaku, Bram. Aku mengenal bagaimana sifat Diandra. Pastikan saja kau membelikan motor sport itu dengan tunai, tidak ada istilah indent."


Kalimat Alberto yang terus terngiang, meski Bram sendiri tidak yakin apakah partner jomblonya itu akan berhasil kali ini. Alberto saja tidak pernah berkencan, setidaknya selama dia mengenal pria itu. Lebih suka menghabiskan waktu untuk berada di club, Bram memang mengetahui Alberto sering bermain dengan beberapa wanita di sana. Tetapi apakah dia menaiki ranjang wanita itu, Bram tidak tahu. Kini saat Alberto hendak berubah profesi menjadi dewa cupid, Bram tadinya ragu. Namun setelah dia memikirkan berulang kali, dia akhirnya menyetujui saja rencana Alberto dan mengikuti instruksi pria itu seperti saat ini.


Hampir pukul delapan malam. Saat Bram bangkit dari kursinya untuk berjalan ke arah pantry, mengambil satu gelas keramik bundar dan menyeduh teh tarik kemasan yang dia campur dengan susu. Kini bir dan wine tidak lagi berada di daftar pilihan minumannya, setelah Diandra terus menggerutu tentang kebiasaan minumnya yang dikatakan perempuan itu tidak sehat.


Ah, Diandra. Aku merindukanmu. Apa yang sedang terjadi? Sampai kapan aku harus menjauh darimu dan dari anak-anak kita?


Berdiri dengan sebelah tangan bersandar pada meja makan, Bram tersentak kecil saat tiba-tiba bel apartemennya berbunyi nyaring. Hampir saja menumpahkan cairan cokelat susu itu ke meja, Bram buru-buru meletakkan gelasnya dengan hati-hati. Melangkah besar untuk mencapai pintu, lelaki itu sempat melirik ke arah luar melalui celah kecil di pintunya, memeriksa siapa gerangan yang menekan bel.


Hampir mencelos hati Bram saat mendapati Diandra berdiri tepat di depan pintu apartemennya, kali ini kembali menekan bel beberapa kali dengan tidak sabar.


Merapikan rambutnya sekilas menggunakan jari, Bram menyunggingkan senyuman di sudut bibir saat tangannya meraih gagang pintu dan menariknya.


Tatapan mata itu, manik kecoklatan yang membuatnya jatuh cinta.


"Diandra."


Diandra bergeming. Menatap lelaki di depannya itu dengan tatapan setajam elang, saat dia tanpa sadar berbisik dalam hati.


Suara itu. Suara yang aku inginkan sepanjang hidupku mulai detik ini.


"Kau jahat!" Nada suara Diandra yang meninggi menjadi balasan pertama dari sapaan Bram, yang sontak membuat lelaki itu memicingkan mata.


Baru saja dia hendak membuka suara, pikirannya langsung melayang pada peringatan Alberto beberapa jam yang lalu.


Pasal pertama. Jika Diandra datang, jangan katakan apa pun dan biarkan dia berbicara panjang lebar.


"Diandra."


Perempuan itu sudah menerobos masuk, bahkan saat Bram belum mempersilakannya masuk. Melangkah ke dalam apartemen lelaki itu, Diandra menutup pintu hingga bunyi klik terdengar, menyisakan raga keduanya yang saling berhadapan dengan napas yang saling memburu pula.


"Kau jahat, Bram! Apa yang kau lakukan padaku itu jahat!" Diandra berkata dengan nada tinggi, saat kedua tangannya sudah melayang untuk memberi pukulan tepat pada dada bidang Bram.


Baru saja hendak menangkis tangan perempuan itu, Bram kembali teringat akan petuah Alberto.


Pasal kedua. Jika Diandra melakukan kontak fisik, jangan melawan dan nikmati saja.


Membiarkan Diandra menghujaninya dengan tepukan bertubi-tubi, Bram merasa dia sudah gila sebab dia malah menyukai setiap pukulan itu. Ikatan rambut Diandra yang bergoyang seiring dengan gerakan tangannya mengeluarkan aroma lavender yang begitu Bram suka.


"Hei." Memanggil Diandra yang tampak sedang kesal, Bram tidak mendapat gubrisan.


"Kau jahat! Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku?!" Geram Diandra tertahan, saat dirinya semakin mendekat pada tubuh lelaki itu untuk meminta penjelasan. Meski dalam hati dia bersyukur bahwa Bram masih di sana, belum berangkat ke bandara seperti yang Alberto katakan.


"Diandra."


Baru saja dia hendak membuka bibir, tertahan lagi saat Diandra kembali berteriak.


"Mana?! Mana yang kau bilang kau mencintaiku? Apakah karena aku menyuruhmu pergi maka kau langsung pergi? Itu bukan gayamu, Bram! Kau selalu datang saat aku menyuruhmu pergi, mengapa kini kau benar-benar pergi?!" Kehabisan napas Diandra saat menyampaikan kalimatnya dengan nada yang naik turun, saat Bram dengan jelas mendapati manik kecoklatan Diandra tampak berkaca-kaca kali ini.


Tidak, Diandra. Jangan menangis.


"Diandra."


"Diam! Jangan sebut namaku! Aku membencimu, Bram! Aku berharap kau akan memelukku saat itu dan mengatakan kau akan datang lagi. Aku menunggumu sepanjang malam, berharap mobilmu akan muncul tetapi kau tidak datang!" Berkata sesegukan sekarang, sebab air mata yang dia tahan sedari tadi telah turun dan meluncur bebas.


Bram menarik perempuan itu ke dalam pelukannya, menahan pukulan kecil yang masih diluapkan Diandra pada dadanya. Memeluk Diandra dengan erat sekali, mengalirkan rasa rindu yang membuncah yang hampir saja menyesakkan jiwa raganya.


"Hei, tenanglah, Diandra. Jangan menangis, hmm?" Bram berkata untuk menenangkan, mengelus puncak kepala Diandra dengan lembut.


Diandra beringsut menjauh. Menghapus air mata yang terus mengalir dengan punggung tangan, kini mereka telah kembali berhadapan.


"Biar! Biarkan saja aku menangis, kau tidak peduli padaku, kan?! Sebab itu kau ingin meninggalkan aku dan anak-anak kita, begitu kan?!"


Anak-anak kita. Kau akhirnya mengucapkan itu, Diandra.


"Tidak, bukan begitu ...." Tertahan lagi sebab Diandra telah menempelkan bibirnya pada bibir lelaki itu, saat Bram tanpa sadar membelalakkan mata akibat rasa keterkejutan yang membuncah.


Diandra memagut bibirnya dengan tanpa ampun, menjadi dominan untuk beberapa saat. Bram merasakan kedua lengan perempuannya yang sukses melingkar kokoh di leher, saat dia mengambil langkah untuk menarik Diandra semakin masuk dalam dekapannya.


Memejamkan mata, Diandra menghujaninya dengan satu french kiss panjang nan memabukkan, saat Bram sendiri hampir terbang kehilangan kesadaran sebab rasa bahagia yang bercampur dengan rasa tidak percaya.


Setelah hampir beberapa menit menggigit dan memainkan bibir lelaki itu dengan sesuka hatinya, Diandra menjauhkan bibir mereka secara perlahan. Mendapati Bram dengan napasnya yang memburu, saat manik kehitamannya sudah menelusup masuk ke dalam hati Diandra.


Ini pertama kalinya, Diandra mencumbu Bram lebih dulu. Dia hanya ingin mengatakan meski tidak melalui kalimat panjang nan romantis, mungkin sebuah tindakan bisa memberikan arti yang membekas.


Memandangi Diandra dengan bibir yang hampir membengkak, Bram masih terus berusaha menahan diri dari keinginan yang meronta.


"Bram." Nada suara perempuan itu kali ini terdengar pelan, berbanding terbalik dengan suaranya yang menggelegar ke seluruh penjuru ruangan beberapa menit lalu.


Masih berada dalam dekapan, manik keduanya bertaut untuk menyelami hati masing-masing.


"Hmm?"


Hanya satu detik. Satu detik yang menentukan ke mana kisah mereka akan bermuara.


"Ayo kita menikah."


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Yang baper yang baper kwwkwk.. tahan yaaa.. minta izin libur up sebab besok ada kegiatan, inshaAllah di up secepatnya. Selamat bergalau ria 🤣