
“Takdir yang mengikat kita, tidak pernah kusangka akan semenarik ini.” ~Marinda Schoff.
.
.
.
“Sang pencuri?”
Bram tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bersuara. Tidak terima begitu saja ayahnya dikatakan sang pencuri oleh seseorang yang harus dia temui kali ini, Bram benar-benar dengan refleks memotong perkataan Luke Schoff tanpa berfikir panjang.
Membuat Marin menaikkan kepala dan memandang Bram penuh rona khawatir, saat Luke Schoff malah tertawa kecil mendengar balasan dari tamunya.
“Benar. Ayahmu adalah pencuri, lelaki muda. Apakah dia baik-baik saja?” ujarnya memperjelas, namun nada suaranya terdengar lebih ramah dari sebelumnya. Bahkan dia bertanya bagaimana kabar pria yang baru saja dia sebut sang pencuri.
Luke merubah posisi duduk menjadi lebih santai, kini dia menyandarkan tubuh yang hampir ringkihnya pada sofa.
“Ayahku tidak sehat. Dia dirawat di rumah sakit akibat stroke ringan dan dia menyuruhku untuk menemuimu segera. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, dia bilang aku hanya perlu datang,” jawab Bram kemudian.
Marin masih hening. Memandangi bergantian ke arah ayahnya dan Bram yang saling mengeluarkan suara, dia masih berusaha mempelajari apa yang terjadi sekarang. Mengapa mereka terlihat akrab dan mengapa Luke begitu tampak santai berbicara dengan anak dari kekasihnya yang dia bilang memegang satu kunci klan Schoff?
Luke menarik napas panjang. Menyimpan keterkejutannya sendirian.
“Sudah kuduga. Dia tidak akan menyuruhmu datang jika tidak terdesak. Dia sama sekali tidak berubah, dasar Brio sialan.” Terdengar lebih kepada bergumam sendiri Luke pada kalimatnya kali ini, sebab lelaki tua itu merendahkan nada suaranya.
Bram masih memandangi Luke dengan seksama, sesekali mencuri pandang pada Marin.
Apa yang sebenarnya terjadi, Marin? Apa kau tahu sesuatu?
“Apa yang Brio katakan padamu, Bram?” Pertanyaan yang diajukan Luke kembali memecah keheningan.
Bram menggeleng pelan, menyusun kata-kata.
“Ayahku mengatakan aku harus mendengar apa yang akan kau katakan, Tuan Luke. Itu saja,” jawab lelaki itu kemudian.
Luke tertawa kecil.
“Panggil aku Luke, tanpa embel-embel Tuan. Aku sama seperti ayah untukmu, Bram,” balas Luke lagi.
Kali ini sukses membuat Marin melongo, menatap tidak percaya sembari memiringkan kepala pada ayahnya.
“Papap bilang dia memegang kunci klan dan kau akan menembaknya jika aku membawanya ke sini. Sekarang apa maksud perkataan manismu baru saja?!” Memotong perkataan Luke dengan bahasa Perancis yang fasih, Marin sedang menyembunyikan beberapa hal dari Bram. Memasang wajah tidak percaya dan khawatir yang tampak berlebihan, Marin kini semakin penasaran.
Luke semakin tertawa.
“Kau benar, Ma Cherry. Dengarkan aku, meski aku memang tidak serius dengan ucapanku tentang tembak-menembak,” balas Luke santai.
Dua orang pelayan datang dengan beberapa nampan yang berisi kue kering dan kudapan, serta teh hijau dan lemonade hangat yang disajikan di dalam sebuah teko berbahan keramik yang tampak antik.
“Kenalkan, Bram. Ini Marin, Marinda Schoff, putriku.” Luke sudah kembali berbicara kepada Bram, namun Bram masih memasang wajah datar.
Dia hanya asal menebak apa yang mungkin terjadi di belakang ini, dan mengapa Marin sedari tadi diam tanpa mengatakan apapun. Mungkin sebaiknya mereka memang berlagak tidak kenal satu sama lain.
Bram mengangguk kecil, melemparkan senyuman bermakna ganda kepada Marin.
“Dia kembali beberapa bulan yang lalu dari Indonesia. Seharusnya dia membawamu lebih cepat untuk menemui aku, tetapi dia tidak berhasil menyelesaikan misi yang dia bawa ke sana. Aku tidak menyangka Brio yang akan menyuruhmu datang. Dunia benar-benar sempit, Bram.”
Bram menelan ludah dengan susah payah. Benar, berarti Marin memang merahasiakan keberadaannya dan kebenaran bahwa mereka bahkan menghabiskan waktu bersama selama gadis itu berada di Indonesia.
Mengapa kau begitu, Marin? Apa alasanmu?
“Ah, begitu. Katakan apa yang harus kau katakan padaku Luke, jika kau tidak keberatan. Aku berencana untuk pulang dalam beberapa hari sebab kondisi ayahku belum pulih sepenuhnya. Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?”
“Kau pasti penasaran apa yang terjadi kan, Bram? Aku akan menjelaskannya padamu dengan rinci, sebaik-baiknya. Kau siap mendengarkan?”
Luke meraih gelasnya, menatap dalam pada manik kehitaman Bram yang tampak menunggu dengan tidak sabar. Pastilah ada begitu banyak hal yang berkeliaran dalam fikiran lelaki itu.
“Ibumu adalah mantan kekasihku, Bram. Kobayashi-san, yang mengubah namanya menjadi Ki Rei. Kami berniat menikah kala itu, tetapi entah mengapa dia lebih memilih sahabatku dibanding aku. Sahabat yang aku percaya hingga aku mati, Brio Trahwijaya. Kami berada di satu universitas yang sama di Swedia dulu, saat entah bagaimana cinta memporakporandakan semuanya.” Luke berujar pelan. Memegangi gelasnya yang masih terasa hangat, dia menangkupkan tangan pada sisi gelas untuk mendapatkan aliran kehangatan.
Tidak mempedulikan Bram dan Marin yang memperhatikannya dengan seksama, bahkan Marin tampak menutup mulut dengan kedua tangannya sebab dia begitu terkejut.
Pilinan benang kusut di antara dirinya, lelaki itu dan klannya akan mulai terungkap hari ini.
Luke menarik napas pelan.
“Merelakan kekasihmu menikah dan hidup dengan pria lain sungguh menyakitkan, bukan begitu Bram?” Luke menggantung kalimatnya sejenak. Membuat Marin refleks menoleh pada Bram, saat lelaki itu sedang fokus mendengarkan dan menatap ke arah ayahnya.
Mencerna pertanyaan Luke yang begitu sederhana, hati Bram terasa sesak.
Kau benar, Luke. Itu sungguh tidak mudah. Sebab aku sudah mengalaminya dan aku hampir gila karena itu.
“Tetapi aku merelakan Ibumu untuk memilih, Bram. Aku terlanjur mencintai dia, sebelum aku bertemu dengan istriku. Saat terluka sebab cinta yang tak berujung, aku membangun klan Schoff dengan susah payah.” Luke kembali berujar.
“Satu-satunya hal yang ingin kurebut kembali dari Brio adalah Ki Rei, kekasihku. Sebab itu aku mengatakan padanya bahwa jika dia kelak memiliki anak, anak itu akan menjadi penerus klanku selanjutnya,” ucap Luke.
Ada semburat luka yang terpartri di wajah lelaki tua itu, saat Marin tidak bisa menahan diri untuk mengarahkan tangannya ke arah punggung tangan ayahnya. Gadis itu tahu Luke sedang menahan gejolak perasaan, sebab itu dia ingin memberikan dukungan dan kekuatan.
“Aku mendengarkan, Luke,” balas Bram pelan.
Luke mengangguk.
“Aku tidak tahu aku akan menikah dan memiliki seorang putri. Saat aku tahu Ki Rei dan Brio memiliki seorang putra, itu berarti ada dua orang yang dapat menggantikanku untuk menjadi penerus klan Schoff selanjutnya. Laki-laki sejati selalu memegang teguh kata-katanya, kau setuju itu kan, Bram?” Luke berujar dengan senyuman tipis. Meletakkan gelas yang dia pegang sedari tadi, memberikan isyarat kepada Bram untuk meneguk minumannya.
Bram menarik napas. Memproses setiap kata dan informasi yang dia dapatkan, menarik lurus benang kusut untuk mendapatkan jawabannya.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya lelaki itu polos. Dia sungguh tidak tahu menahu, dia hanya diperintah untuk datang dan mendengarkan.
Luke tersenyum.
“Putriku telah gagal dalam misinya untuk membawamu kemari. Jika kau memang berniat untuk mengambil alih klanku, maka tinggallah di sini untuk belajar tentang seluk beluknya. Aku bisa mengajarimu sebelum aku semakin menua.” Tidak ada rasa khawatir dalam nada suara Luke. Pria tua itu bahkan mengatakannya dengan santai sekali.
Bram mendesah. Dia tidak pernah berfikir untuk mengambil alih sebuah komplotan mafia, apalagi untuk tinggal di sana. Itu tidak mungkin, saat dia sendiri sudah cukup mumpuni untuk menjalani hidupnya sebagai seorang pebisnis muda.
“Tidak, Luke. Aku tidak datang untuk itu. Aku tidak pernah memikirkan tentang klan sebelumnya, dan tidak tertarik untuk itu. Jika itu yang harus aku pilih, maka aku akan memilih tidak.” Bram membalas perkataan Luke dengan nada yang sama tegasnya, kini memajukan tubuh untuk meraih gelas minuman.
Luke tertawa. Melirik sekilas pada Marin yang sejak tadi diam membisu.
“Dia tidak berniat mengambil alih kepemimpinanmu, Ma Cherry. Maafkan aku, kurasa Anderson yang akan menggantikanku kali ini,” bisiknya pelan.
Marin masih memasang wajah dengan ekspresi datar. Tidak berniat memberitahu ayahnya bahwa dia mengenal Bram sebelum ini, dia memilih untuk tetap bungkam.
“Ada lagi hal penting yang harus aku ketahui selain ini, Luke?” Bram kembali bersuara, melirik sekilas ke arah luar jendela yang sudah mulai terik disinari matahari.
Luke mengangguk kecil, berfikir. Dia sudah menyampaikan maksudnya, menceritakan apa yang pernah terjadi antara dirinya dan orang tua tamunya bertahun-tahun lalu. Kini setelah memastikan Brio Trahwijaya masih dalam keadaan sehat dan anak dari sahabatnya itu tumbuh dengan baik, Luke sudah memberitahu apa yang harus lelaki muda itu ketahui.
Bram bukanlah ancaman untuk klan mereka, dia bersyukur saat mendengar lelaki itu tidak memiliki minat sama sekali untuk mengambil alih klan mereka. Meski jika Bram mau, Luke pasti akan memberikan klan itu padanya.
Kini hati pria tua itu telah terasa lega, saat dia sudah menarik benang kusut itu. Tersenyum lebih lebar kali ini, Luke sudah bersedia untuk menyampaikan sebuah berita baik untuk lelaki muda itu.
“Ki Rei memiliki tabungan senilai jutaan dollar di Bank Swiss, Bram. Kurasa kau harus tahu itu, karena hanya kau yang bisa membukanya sebagai ahli waris.”
.
.
.
🗼Bersambung🗼