Travelove~

Travelove~
47. Menemukan (2)



“Menghadapimu kembali, aku tidak pernah menyangka akan secanggung ini.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Taksi online yang dipesan dan ditumpangi Bram berhenti tepat di salah satu rumah beraksen klasik yang tampak besar dengan pagar menjulang. Menyelesaikan pembayaran dengan menyerahkan beberapa lembar euro, lelaki itu turun dan menatapi bangunan itu dengan mata sedikit memicing. Sempat memiringkan tubuh untuk membaca papan nama yang tertera di dinding marmer paling depan, Bram menelan ludah.


Schoff, Luke.


Benar, itu adalah alamat yang dia cari, alamat yang dia tuju. Tidak butuh waktu lama ternyata untuk menemukan orang itu. Kini berdiri tepat di depan rumah dari seorang Luke Schoff, Bram menarik napas pelan-pelan guna menghimpun kekuatan. Mengepalkan tangan di kedua sisinya dan mengembuskan napas ke arah telapak, lelaki itu siap untuk masuk.


Menekan bel, Bram menunggu beberapa saat hingga pagar tinggi itu mulai terbuka. Saat maniknya bertatapan dengan manik tajam seorang pria berbadan tegap yang mengenakan setelan jas rapi, Bram melebarkan senyuman meski canggung.


“Permisi, aku mencari Luke Schoff untuk bertemu dia,” berujar pelan dengan bahasa Inggris yang fasih, berharap dalam hati agar pria yang masih memandanginya dari ujung kaki hingga ujung rambut itu memahami apa yang dia katakan.


“Tunggu sebentar. Kau punya identitas? Namamu?”


Bram menghela napas. Bersyukur pria itu mengerti apa yang dia katakan.


“Bram. Bram Trahwijaya.” Mengeluarkan selembar foto ibunya yang dia selipkan di tas backpack-nya, Bram menunjukkan alamat yang tertera tepat di belakang foto. Beberapa detik kemudian dia mengeluarkan paspor yang memang dia bawa kemana-mana, menyerahkannya pada sang pria tinggi.


Menerima sodoran foto dan paspor dari tamu asing mereka yang tampak begitu berbeda, penjaga itu menaikkan kedua alisnya. Membaca dengan seksama tulisan tangan yang tertera dengan rapi, dia kemudian mengangguk.


“Tunggu di sini. Akan aku periksa identitasmu,” balasnya dengan nada sopan.


Bram yang mengangguk kali ini. Mengedarkan pandangannya ke arah bangunan yang tampak lebih megah dan mewah daripada yang terlihat dari luar, dia sempat berdecak kagum.


Siapa Luke Schoff sebenarnya? Benarkah ada hubungannya dengan Marin?


Masih diliputi tanda tanya yang belum bisa dia tuntaskan, Bram tersentak kecil saat pria tadi kembali dan memberikannya instruksi kali ini.


“Ikut denganku. Aku akan mengantarmu,” ucapnya seraya menyerahkan paspor dan foto yang tadi dia periksa, sudah mengambil langkah lebih dulu untuk membawa tamu tuannya.


***


Marin menurunkan ponselnya dengan gemetar.


Tidak. Tidak mungkin. Bram akan datang ke sini? Menemui ayahku? Apa yang membawanya ke sini? Tidak Bram, jangan datang. Kumohon.


Mengigit bibir bawahnya dengan jarinya yang saling bertaut, gadis itu sedang berfikir apa yang kira-kira harus dilakukannya sekarang. Tidak mampu menahan pacuan adrenalin yang semakin meningkat, satu-satunya cara yang terlintas di fikirannya adalah mencegat langkah lelaki itu agar Bram tidak bertemu dengan ayahnya.


Masih menggenggam erat ponsel di tangan kanannya, dia sempat menyesali mengapa dia memblokir nomor ponsel lelaki itu. Berfikir bahwa mereka tidak akan pernah dipertemukan kembali oleh takdir atau hal apapun, kini Marin tahu jika tidak semuanya berakhir meski dia telah meninggalkan Indonesia.


Terburu-buru melangkah ke arah pintu kamarnya, gadis itu berlari kecil saat dia menuruni tangga.


Lagi-lagi hanya satu detik.


Langkahnya tertahan. Kerongkongannya tercekat saat maniknya hampir saja keluar. Membelalak lebar, dia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana tampilan wajahnya saat ini.


Memandangi ke arah lantai satu rumahnya yang tampak lengang, maniknya tertuju pada seorang pria yang sedang duduk di sofa mereka.


Itu memang kau, Bram. Kau benar-benar datang.


Pria yang pernah dirindukan Marin, pria yang dia pilih untuk dia sembunyikan dari ayahnya sebab dia khawatir akan hal yang mungkin menimpa pria itu. Pria yang dia khawatirkan, pria yang mungkin telah mengambil sebagian hatinya diam-diam.


Marin termenung.


Menyadari seseorang hadir, Bram mengadahkan kepala untuk mencari sumber kedatangan. Tidak pernah menyangka dia akan bertemu lagi dengan manik gadis itu, gadis yang meninggalkannya tanpa ucapan apa-apa.


Menahan ratusan, tidak-kali ini ribuan tanda tanya yang secara tidak terkendali bermunculan, Bram terdiam seribu bahasa. Menancapkan tatapannya pada manik kebiruan gadis itu, manik yang pernah mengisi beberapa saat dari waktu yang dia punya.


Belum ada yang bersuara saat tiba-tiba seorang pria datang dari arah berlawanan, menimbulkan suara deheman keras yang jelas ditujukan pada tamunya kali ini.


Bram menoleh. Kini bersitatap dengan seorang lelaki paruh baya berwajah khas Parisian, dengan bola mata berwarna kecoklatan.


“Trahwijaya?” Suara Luke sudah menggema ke seluruh ruang tamu besar itu, memanggil nama keluarga Bram dengan nada suara datar sekaligus memecah keheningan.


Marin menahan napas.


Tidak, Pap. Tidak, kumohon.


Luke mendekat. Mempersempit jarak di antara dirinya dan tamu tak diundangnya, yang dia sendiri pun terkejut mengapa pria muda itu berlabuh di kediamannya pagi ini. Sungguh di luar dugaan, padahal putrinya jelas-jelas mengatakan bahwa dia tidak bisa melacak keberadaan Trahwijaya.


“Tuan Luke Schoff?” Dengan volume suara sedang Bram membalas panggilan dari sang empunya rumah.


Luke mengambil posisi duduk tepat di sofa yang terletak di depan sofa yang tadinya diduduki oleh Bram.


“Duduklah!” perintahnya tegas.


Bram menurut. Sempat melirik sekilas ke arah Marin yang masih berdiri pada sebuah anak tangga, dia telah kembali duduk di posisi sebelumnya. Mengaitkan kedua tangannya di depan, Bram duduk tegak dengan tumpuan pada kedua lututnya.


Luke Schoff tidak bersuara lagi. Memperhatikan dengan lekat pria muda yang datang dan duduk di hadapannya kali ini, dia menyeringai kecil di sudut bibir tanpa ia sadari.


Ini benar kau, Ki Rei. Dia memang putramu.


“Ma Cherry.” Mendongakkan kepala untuk memanggil Marin yang masih berdiri di sana, Luke menyunggingkan senyuman tipis.


Marin menegang saat mendengar ayahnya memanggil, tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Membentuk pertahanan, mengumpulkan keberanian.


“Kemarilah!” Belum menjawab Marin, Luke sudah kembali mengambil alih ruangan dengan suaranya yang khas.


Perlu beberapa saat untuk Marin mencerna situasi dan kondisi yang sedang berlangsung saat ini, sebelum dia akhirnya melangkahkan kaki dengan langkah yang teramat berat untuk menuruni sisa anak tangga yang terbentang.


Mendekati ayahnya, Marin mengambil posisi duduk tepat di sofa yang baru saja ditepuk oleh Luke, menandakan di sanalah dia harus duduk. Tidak membantah, Marin mengikuti keinginan ayahnya meski jantungnya hampir mau copot.


Parfummu masih sama, Bram. Aku masih mengingatnya.


Bram belum bersuara, namun maniknya mengamati dengan lekat keberadaan Marin yang kini berada tepat di depannya. Tidak menyangka pertemuannya kembali dengan gadis itu akan secanggung ini, Bram menarik napas pelan-pelan. Pastilah ada sesuatu, pastilah ada yang harus diluruskan.


Luke membiarkan keheningan menyelimuti untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia kembali berdehem.


“Jadi, namamu adalah Bram?” Bertanya dengan nada datar ke arah Bram, Luke menjaga posisinya sebagai sang dominan dalam pertemuan kali ini.


Bram mengangguk pelan.


“Benar. Aku Bram Trahwijaya, putra dari Brio Trahwijaya,” jawabnya pelan.


Hening beberapa detik, kemudian Luke menyeringai kecil.


“Ah, benar. Brio, Sang Pencuri.”


.


.


.


🗼Bersambung🗼