Travelove~

Travelove~
62. Yang Tertahan (1)



"Karena kau adalah candu. Yang bisa hentikan waktuku." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Manik perempuan itu melebar. Tanpa sadar mundur dua langkah, dia menggerakkan tangan untuk mencubit perut Bram yang telah ditutupi kaos berwarna abu-abu.


"Bram! Kau sudah tidak waras?!" Bertanya dengan nada yang terdengar seperti berbisik, Diandra tampaknya khawatir jika ada pihak lain selain mereka yang mendengar kalimat Bram baru saja.


"Kenapa?" Bertanya seolah tidak bersalah apapun, Bram masih mempertahankan wajah cool.


"Kenapa kau bilang? Kau serius, Bram?!" Menaikkan nadanya satu oktaf, Diandra sudah memelototi lelaki itu dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.


Tertawa kecil, Bram maju dua langkah untuk mengganti langkah Diandra yang tadi menjauhinya. Tidak rela dua langkah memisahkan mereka.


"Kau benar, Diandra. Kau bagai candu yang menghentikan waktuku. Aku hampir gila karenamu, kau tahu?"


Kali ini Diandra yang menundukkan kepala beberapa detik, sebelum kembali menatap pada lelaki itu


"Kau tahu itu tidak mungkin, Bram," ujar Diandra kemudian. Meski hatinya tidak sepenuhnya berkata demikian.


"Kata siapa tidak mungkin?" Malah balik bertanya.


Membesar manik perempuan itu. "Kataku, Bram! Aku yang mengatakannya baru saja, kau tidak dengar?"


Bram semakin melebarkan senyumannya. Memandangi wajah Diandra yang mulai memerah sebab dia mungkin sedang menahan amarah, di saat Bram menahan diri untuk tidak menarik kaus yang dikenakan Diandra.


Kesalmu tetap menjadi favoritku, Diandra. Matamu yang membesar, pipi yang memerah dan napas yang mulai memburu. Aku sungguh merindukan itu.


"Baiklah, Sayangku. Aku mendengarmu dengan jelas," bisik Bram kali ini.


Menaikkan alisnya, Diandra tidak ingin memperpanjang pertengkaran mereka malam itu. Sebaiknya dia segera berlalu dari sana sebelum semuanya kembali canggung atau bahkan runyam.


"Diandra."


Perempuan itu menoleh. Menatap lurus pada manik Bram yang bercahaya, dia tidak bisa memungkiri bahwa dia selalu menyukai cara Bram menyebut namanya.


Bram memegang tengkuknya dengan tangan kanan, mengelus lehernya dengan gerakan memutar.


"Sebenarnya aku merasa belakangan ini leher dan tengkukku cepat sekali pegal," ujar lelaki itu yang sontak membuat Diandra tersentak kecil.


"Kau sakit?!" potongnya cepat.


Bram menjawab dengan gelengan. "Tidak. Mungkin aku hanya terlalu lelah."


"Duduklah, Bram." Menyadari mereka telah berdiri sejak tadi, Diandra memberikan perintah agar Bram duduk di atas ranjang.


"Kau ingin tidur?"


Bram lagi-lagi menggeleng. "Aku hanya merasa tidak enak badan dan aku sedikit mual. Tengkuk yang sakit dan badan yang mulai terasa memberat," jelasnya.


"Kau perlu menemui dokter, Bram. Kau mungkin butuh konsultasi," balas Diandra cepat. Tidak pernah dia benar-benar menyaksikan Bram mengeluh atas dirinya, ini pertama kali untuk lelaki itu mengutarakan bahwa dia merasakan sakit.


"Aku tidak perlu menemui dokter, Diandra. Aku hanya masuk angin, kurasa." Masih memijat lehernya yang terasa mulai kebas, Bram melirik ke arah Diandra.


"Kau masuk angin? Kau mau aku mengerok punggungmu?" tawar perempuan itu cepat.


Bram hening sementara. Memikirkan sesuatu yang telah melayang-layang, dia tidak bisa menghentikan senyuman yang terukir di wajahnya.


"Kau mau mengerokiku?" tanyanya memastikan.


"Tunggulah di sini." Melirik ke arah handuk yang masih melilit pinggang lelaki itu, Diandra bangkit dari duduknya. "Pakai celanamu dan buka kaosmu, aku akan segera kembali."


Berjalan dengan langkah besar menuju arah pintu, Diandra sudah berlalu dari sana. Meninggalkan Bram yang masih tersenyum selebar mungkin, bersorak sorai dalam hati saat dia melepas kaosnya dengan suka rela dan mengenakan sehelai celana panjang untuk menutupi bagian bawah tubuh.


Tidak beberapa lama kemudian, Diandra sudah muncul kembali dengan sebuah mangkuk berisi healing oil dan koin di tangan kanan.


"Berbaringlah, Bram. Telungkupkan badanmu." Diandra mendekati tepi ranjang untuk mendekati tubuh lelaki itu, memberikan instruksi agar Bram menyandarkan kepala pada sebuah bantal.


"Baiklah, Sayang."



Tidak menanggapi panggilan yang ditujukan Bram padanya, Diandra memilih untuk menatap pada punggung lebar Bram yang berkulit cokelat menggelap. Mencelupkan koin ke dalam mangkuk dan mengoles healing oil pada permukaan tubuh lelaki itu, Diandra mengusap punggung Bram dengan gerakan lembut dan halus.


Diandra terdiam pelan.


Menikmati percikan gejolak perasaan yang mulai menjalar, keduanya tetap bertahan dalam keheningan.


Mengolesi healing oil itu hingga menutupi punggung Bram yang terbuka, Diandra mulai menggoreskan koin untuk membentuk garis melengkung.


"Jika kau merasa sakit bilang ya, Bram." Memberikan wanti-wanti sebab dia khawatir jika gerakannya menyakiti Bram.


Bram tertawa kecil. Kini benar-benar menyandarkan kepala pada sebuah bantal, dia mulai menikmati gerakan demi gerakan yang diciptakan Diandra di atas kulitnya.


"Bahkan jika sakit aku akan menahannya, Diandra. Kau melakukannya dengan sangat baik," pujinya.


Diandra menyeringai kecil.


"Kau tetap pintar dalam bermain kata-kata, Bram."


Sudah melukis beberapa garis sejajar di bagian punggung atas, kini tangan Diandra menuruni punggung lelaki itu untuk menuju bagian bawah.


Terhenti sejenak tangannya saat dia menangkap sebuah tato yang tersemat di pinggang kanan lelaki itu, Diandra memecah keheningan.


"Kapan kau memiliki tato ini, Bram?" tanyanya penasaran, tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Bram menegakkan kepala, menoleh ke arah kanan untuk melirik pada Diandra. Tidak menyadari bahwa kini Diandra benar-benar melihat seni lukis tubuh yang pernah dia coba dulu.


"Empat tahun lalu, saat kau pergi meninggalkanku," jawabnya pelan.


Terhenti lagi gerakan tangan Diandra, terdiam sebab tidak menyangka dia akan mendapati jawaban seperti itu.


Menyadari Diandra hening, Bram kembali melanjutkan. "Kau ada di dalam sana, Diandra," katanya.


Semakin tersentak Diandra, benar-benar menarik tangannya dari atas punggung lelaki itu. Membiarkan kecanggungan mulai mengambil alih, saat mereka tanpa sadar sedang membuka kenangan lama. Kenangan retak yang mungkin tidak pernah benar-benar mereka mulai dengan baik.


"Apa maksudmu?"


Bram belum bergerak dari posisinya.


"Kau bisa baca tulisannya, Diandra?" tanya lelaki itu.


Tidak menunggu lama, manik Diandra sudah menelusuri tato milik Bram yang entah mengapa tampak macho dan menggoda.


"Forever?" Suara Diandra menggantung di udara.


"Apakah tulisannya terlihat seperti forever?"


Menggeleng kecil Diandra, memastikan kembali. Memicingkan mata dia kemudian.


"Forever dengan huruf D di belakang? Foreverd?" tanyanya lagi.


Bram melebarkan senyuman. Bangkit untuk menegakkan tubuh, dia sudah duduk di atas ranjang dengan tubuh menghadap pada Diandra.


"Foreverd. Forever-D. Selamanya-D. Selamanya kau, Diandra."


Tidak ada respon yang bisa diberikan Diandra selain mata yang mengerjap dengan mulut terbuka lebar. Tidak menyangka dia akan mendengar kata itu dari bibir tipis Bram.


Bram benar. Tulisan di pinggang lelaki itu memang rangkaian huruf yang membentuk kata 'forever' yang berarti 'selamanya', ditambah dengan huruf D tepat di belakang kata itu. Forever yang menjadi Foreverd. Siapa sangka D yang dimaksud adalah dirinya, Diandra?


"Bram, hentikan." Merasakan hatinya sudah bergemuruh hebat, Diandra hampir saja melupakan jati diri sebenarnya.


Menundukkan kepala untuk menghindari tatapan Bram, Diandra kembali tersentak ketika Bram tiba-tiba menangkupkan kedua tangan di pipinya. Manik mereka beradu, diiringi dengan keinginan yang semakin meronta naik.


"Jangan menghindariku, Diandra. Aku sungguh mencintaimu."


Menutup mata saat bibir Bram menyentuh bibirnya, Diandra tidak bisa menolak ciuman itu. Gesekan kulit yang semakin menimbulkan rasa tagih, menenggelamkan keduanya dalam sebuah pagutan panjang.


Waktu kini mulai terasa sangat sangat lambat.


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Readers, maafkan kehaluanku yang tidak berujung ini yaak 😋~