Travelove~

Travelove~
Bonchap 13 - Menggeser Prinsipku



“Kehidupanku di masa depan mungkin tergantung dengan keputusan yang akan aku ambil saat ini. Dan aku, tidak ingin menyesalinya di belakang nanti.” ~Alberto Vigez.


.


.


.


“So, it’s a baby girl?”


Suara Alberto mengudara, tepat ketika lelaki itu menaikkan garpu untuk menyuap mie gorengnya ke dalam mulut.


Menatap ke arah Bram yang juga sedang menikmati makan siang, masih berkutat dengan sepiring nasi ayam geprek dengan sambal ekstra pedas di piringnya.


Bram Trahwijaya menganggukkan kepala. “Perempuan yang bahkan sudah mencuri hatiku, Al,” jawab lelaki itu tenang. “Dia terlihat kecil sekali, namun begitu luar biasa.”


Ada nada bahagia yang tidak bisa disembunyikan oleh Bram, saat kini membicarakan kehamilan Diandra dan calon anak mereka sungguh membuatnya merasa terbang ke awang-awang.


Masih tidak percaya rasanya, padahal dia sudah melihat bagaimana janin itu—buah cinta mereka, bergerak perlahan-lahan di dalam perut istrinya.


Menaruh perhatian penuh ketika dokter Rossa menjelaskan dan menunjuk ke layar monitor saat kontrol mereka sore kemarin, Bram benar-benar terpana akan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


“Congrats, Bro,” ujar Alberto lagi. “I’m so happy for you and Diandra. Akhirnya si kembar bakal punya adik dan cewek pula, bisa aku bayangkan bagaimana potret lengkap keluarga kalian nanti.”


Bram melengkungkan senyuman. Menyendok satu lagi tumpukan nasi ke dalam mulutnya, lelaki itu hampir menyelesaikan makan siangnya hari itu.


Alberto juga melakukan hal yang sama, memilih untuk berfokus pada piringnya yang juga hampir kosong sekarang. Bersamaan meraih gelas masing-masing, keduanya tampak sudah selesai makan.


“Bagaimana proses tender terakhirmu kemarin? Semua berjalan lancar?” Kali ini Bram yang membuka suara, melonggarkan dasinya untuk mendapatkan sedikit udara.


Sambal pedas dari ayam geprek tadi cukup membuat tubuhnya menghangat, dengan buliran kristal yang timbul di seputaran kening dan leher kini.


Cukup membakar, dan dia suka itu.


Alberto menyeruput es tehnya dengan satu isapan dalam.


“Lancar,” jawabnya. “Mereka tidak banyak meminta dan kontrak sudah ditandatangani dengan baik. Ah, iya. Sebenarnya aku ingin membicarakan hal ini padamu lain kali, tapi berhubung aku ingat maka aku sekalian katakan saja.”


Semilir angin berembus dari jendela besar restoran itu, cukup membantu Bram untuk mendinginkan badannya kini. Mengusapkan beberapa helai tisu ke kening dan lehernya, lelaki itu berusaha menaruh perhatian pada Alberto kini.


“Katakan, ada apa?”


Alberto menarik napas panjang.


“Aku berencana untuk mundur dari posisiku sekarang, Bram,” kata lelaki itu hati-hati. Dengan mata yang menyorot dalam, Bram tahu sepupu iparnya itu tampak tidak main-main dengan kalimatnya sekarang.


Bram mengerutkan dahi. “Apa maksudmu? Kau bercanda?!”


Alberto menyimpulkan senyuman. “Hold on, Brother. Aku sedang mencoba menjelaskannya padamu sekarang.”


Giliran Bram yang menarik napas dalam-dalam. Berupaya untuk tetap berada di jalur yang sama dengan Alberto, ketika lelaki itu tampak sedang memperbaiki posisi duduknya untuk menjadi lebih tegap.


“Joergen masih sesekali datang, Bram,” ungkap Alberto dengan nada serius. Sorot mata lelaki itu berubah perlahan-lahan, seiring dengan lanjutan kalimat yang ia katakan kemudian.


“Memindahkan tempat tinggal Hana tidak semerta-merta membuat perempuan itu aman. Joergen sesekali masih mengirimi pesan singkat, dan entah bagaimana lelaki itu selalu tahu nomor ponsel Hana meski ia mengganti nomornya beberapa kali. Tidak hanya itu, dia juga pernah muncul di parkiran apartemen Hana, meski kemudian berlalu ketika Hana memergokinya ada di sana.”


Bram mulai masuk ke dalam penuturan Alberto. “Apa Joergen mengancam atau mengganggu Hana lagi?” tanyanya penasaran.


Alberto menggeleng samar. “Tidak,” katanya pelan. “Lelaki sialan itu tidak lagi berani menyapa memang, dan Hana sebisa mungkin mengabaikan pesan yang ia terima. Dia berkata dia baik-baik saja, tetapi aku rasa tetap tidak akan aman jika masih berada di tempat yang sama dengan di mana Joergen berada.”


Bram berusaha memahami dan menebak ke mana arah pembicaraan Alberto kini. Dia tidak tahu sejauh mana hubungan Alberto dan Hana berjalan setelah peristiwa pertarungan tempo lalu, sebab Alberto juga belum menceritakan secara detil padanya.


Tetapi mendapati bagaimana Alberto menaruh rasa empati dan peduli pada salah satu karyawan terbaiknya itu, Bram tidak bisa menahan diri untuk tidak kepo kini.


Alberto bersuara cepat, bahkan sebelum Bram menyelesaikan kalimatnya.


“Kami memutuskan untuk berkencan, Bram,” potong lelaki itu. Menyunggingkan satu senyuman tipis di sudut bibirnya, ketika kini raut wajah Alberto tampak mulai merona.


Bram tidak tahu dia harus mengucapkan selamat atau tidak. Tentu Alberto sudah berpikir matang-matang mengenai keputusan ini, dan Bram tidak memiliki kuasa apa pun untuk mendebat pilihan sepupu iparnya itu.


“Ah, akhirnya, Al. Kau menanggalkan status jomblomu itu setelah bertahun-tahun,” komentar Bram sembari tertawa.


Alberto menanggapi tawa Bram juga dengan tawa renyahnya, bercampur sedikit rasa malu di sana.


“Jangan katakan pada Mami lebih dulu,” kata Alberto lagi. “Oleh sebab itu aku berencana untuk kembali ke Spanyol, sekaligus membawa Hana pergi jauh dari sini.”


Manik Bram membulat sempurna. “Hei,” selanya. “Kau akan pergi dan aku juga akan kehilangan karyawanku! Kau licik sekali, Al!”


Alberto meringis. Tertawa lebih kencang kini, ketika ia menganggukkan kepala.


“Maaf, Bram. Itulah sebabnya aku berencana untuk membicarakan hal ini padamu di lain waktu karena mungkin pembahasannya akan memakan waktu yang tidak sedikit,” bela Alberto.


“Tetapi jika kau menilik pada masa lalu, aku sudah terlalu lama berada di Indonesia. Kedatanganku ke perusahaan Lee adalah untuk menggantikan Diandra karna perceraian kalian tempo lalu, dan kini semuanya sudah kembali pada tempatnya masing-masing,” jelas Alberto panjang lebar.


“Jadi kurasa, kini saatnya aku pergi dan kembali, Bram. Untuk melanjutkan kehidupanku, terlebih aku mungkin akan membawa Hana pergi dari sini.”


Bram mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diungkapkan Alberto siang ini. Tidak menduga momen makan siang mereka akan berubah menjadi obrolan cukup serius seperti ini, ketika kini yang dapat dilakukan Bram hanyalah menarik napas dalam-dalam.


Kepergian Alberto akan berpengaruh besar pada perusahaan Lee yang selama ini dipimpin oleh lelaki itu, dan Alberto sungguh membuktikan bahwa dia mampu menjadi pemimpin yang diakui meski dalam usia yang cukup muda.


“Kau sudah mendapatkan hal-hal yang kau inginkan dalam hidup, Bram,” sambung Alberto lagi. “Dan kini, aku juga berencana untuk mulai menata hidupku, meski aku tidak tahu ke mana kami akan berlabuh nanti.”


Bram tersenyum sambil mengangguk kecil kemudian.


“Aku mengerti, Al.”


“Melihatmu kembali ke pelukan Diandra dan kini akan menjadi ayah lagi, sungguh menggeser prinsip yang selama ini aku pegang erat. Pernikahan tidak pernah tersirat di benakku sebelumnya, tetapi setelah melihat kalian bersama, entah mengapa prinsip itu mulai terkikis perlahan-lahan,” jelas Alberto lagi.


Dia tidak terbiasa berbicara serius seperti ini, namun apa yang disampaikannya ini benar-benar terjadi. Kini ketika dia memiliki ketertarikan pada satu perempuan, siapa yang tahu apakah mereka akan berakhir di pelaminan suatu saat nanti?


“Aku senang kau berpikir demikian, Al,” sahut Bram kali ini. Melirik sekilas ke arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lelaki itu memeriksa waktu.


“Akan kudiskusikan dengan beberapa direksi penting tentang itu. Kuharap kau mau menunggu, hingga keputusan finalnya nanti akan kuberitahu padamu. Kau sendiri kan tahu, berhenti mendadak seperti ini sedikit sulit,” Bram menjelaskan.


Alberto mengangguk, lagi. Dia sungguh tahu akan hal itu, sebab itulah dia mencoba mendekati Bram untuk meminta bantuan.


Apakah kelak perusahaan Lee akan kembali bergabung dengan perusahaan Trahwijaya seperti kala itu, semuanya di luar otoritasnya. Dia hanya menunggu, dan berharap keputusan direksi akan menyetujui pengunduran dirinya nanti.


Bram memperbaiki posisi duduknya kali ini, berencana untuk bangkit dan pergi dari sana. Masih ada beberapa meeting dan pekerjaan yang harus ia selesaikan, sebelum ia bisa pulang untuk menemui Diandra dan kedua anak kembarnya nanti.


Berjalan beriringan menuju parkiran di mana mobil Alberto berada, Bram kembali bersuara.


“Akan kulakukan yang terbaik untuk membantumu, Al,” katanya. “Kuharap kau akan bahagia kali ini, terlebih sudah ada perempuan yang berada di sampingmu.”


Alberto menepuk pundak sepupu iparnya itu seiring dengan senyuman yang melengkung lebar, tepat sebelum ia beranjak untuk menuju pintu pengemudi.


“Thanks, Bram. Kau selalu bisa diandalkan.”


.


.


.


~Yang terbaik untukmu, Al~