
“Selalu ada jalan. Asalkan kau tidak berhenti berharap, tidak berhenti menyebut namanya dalam doamu.” ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Meta menahan senyuman. Sebisa mungkin menghindari tatapan sinis Alberto yang kini berkacak pinggang persis di depan pintu ruangan bosnya, tampak menahan kesal sebab pintu itu terkunci.
“Kau bilang Diandra di dalam, Meta?” tanyanya mengulang, dia sudah bertanya dua kali sebelum ini.
Meta menganggukkan kepala. “Benar, Pak.”
“Kau yakin mereka di dalam? Tidak pergi keluar?”
Meta menggeleng. Semua tampak masih di tempatnya, dan Bram bukan tipikal bos yang akan mengunci pintu ruangannya jika tidak ada sesuatu di dalam sana. Terlebih lagi saat perempuan itu kembali ke mejanya tadi, ia mendapati seluruh jendela ruangan Bram sudah ikut tertutup rapat.
“Tidak, Pak. Pak Bos ada di dalam,” jawabnya kalem. Sepertinya Meta sudah bisa menebak apa yang mungkin terjadi di dalam sana, namun balik lagi itu bukan urusannya.
Semakin menggeram Alberto, berkacak pinggang saat memutar tubuhnya untuk membelakangi pintu. Menghadap pada meja Meta, memutar bola matanya tidak percaya.
“Dasar pengantin baru! Supaya apa coba mereka mengunci pintu segala? Astaga--“
“Supaya kau tidak menerobos masuk, Al.” Suara Bram sontak membuat lelaki itu tersentak, buru-buru membalik badan dan mendapati Bram kini telah berdiri di ambang pintu.
Melayangkan tatapan sinis, Bram menyembunyikan Diandra tepat di belakangnya.
“Kau datang, Al?” tanya Diandra pelan, menahan tawa sebab ia juga mendapati raut wajah kesal dari Alberto. Sepupunya itu mungkin saja sudah menunggu sejak tadi.
“Astaga, Bram. Kalian ini benar-benar ya!” gerutu Alberto lagi. Mendengus sembari memalingkan wajah.
“Ada apa kau datang?” tanya Bram cepat, belum memberikan ruang bagi Alberto untuk masuk ke dalam ruangannya.
“Ada yang ingin aku bicarakan,” jawab Alberto pelan, kini bersandar pada dinding. Ujung kemejanya sudah terlipat ke atas, dan tampaknya rambut lelaki itu sedikit berantakan.
Bram menaikkan alis. Menoleh ke belakang untuk melihat pada istrinya.
“Kuantar kau ke bawah, Sayang. Ayo,” bisiknya pelan.
Diandra mengangguk. Dia sudah terlalu lama di sana, dan si kembar mungkin saja sudah kecarian sekarang. Mengikuti langkah suaminya yang telah lebih dulu berjalan, Diandra sempat melempar senyuman ke arah Alberto. “Aku pergi, Al,” katanya.
Disambut dengan lambaian tangan Alberto. “Hati-hati di jalan, Diandra.”
Meta berdiri dari kursinya dan membungkukkan badan, saling memberikan senyuman dengan Diandra yang kini sudah digandeng oleh Bram untuk menuju arah parkir.
Bram tidak berucap apa-apa tadi, tetapi lelaki itu membiarkan pintu ruangannya terbuka begitu saja. Meta melirik pada Alberto yang masih bersandar pada dinding, saat lelaki itu mengetukkan ujung sepatunya ke arah lantai.
“Pak,” panggil perempuan itu pelan.
“Oh, apa?”
“Silakan masuk, Bapak mau minum apa?”
***
Bram mengernyitkan dahi. Memperhatikan Alberto yang kini meraih kaleng bir yang keduanya, meminum cairan dingin itu dengan tegukan cepat. Kakinya terlipat, dan dia tampak menyimpan hal yang bercokol di kepalanya.
“Kau tidak tahu kan, Bram, apa yang baru saja aku lihat?” Alberto membuka suara, mengembalikan kaleng itu ke atas meja.
Bram bersedekap saat ia bersandar di sofa empuknya. “Apa yang terjadi?”
Tidak lupa pula dia memberitahu tentang kalimat Hana yang terakhir kali, bagaimana perempuan itu menyuruhnya untuk pergi secepat mungkin. Juga peringatan yang dikatakan Hana, bahwa Alberto tidak tahu siapa yang mungkin akan dihadapinya setelah ini.
Bram berusaha duduk tenang. Mencerna setiap detail poin-poin yang disampaikan Alberto melalui kalimatnya, saat ia sendiri cukup kaget dengan penuturan lelaki itu. Tapi dengan jelas ia mendapati raut kecemasan di sana, pada mimik wajah dan suara Alberto yang bergetar.
“Kau bilang Hana menikah, kan?” tanya Alberto kemudian.
“Benar.”
“Apa kau tahu siapa suaminya?”
Kali ini Bram diam. Hana tidak pernah menceritakan apa pun, dan ia merasa hubungan mereka tidak sedekat itu untuk saling bercerita satu sama lain. Lagipula, Hana dulunya adalah karyawan Diandra, yang akhirnya dipercaya oleh Bram untuk mengurusi D-Gallery setelah Diandra pergi ke Paris beberapa tahun lalu.
Bram menggeleng kemudian. “Aku tidak tahu,” katanya jujur.
Alberto menegakkan tubuh, menautkan jari-jari yang ia letakkan tepat di ujung lutut.
“Aku curiga lelaki tadi adalah suaminya, Bram. Tetapi mengapa dia melakukan kekerasan pada istrinya sendiri?” Alberto bergumam sendiri.
Bram menarik napas. “Kau begitu berminat kini pada kehidupan rumah tangga orang lain, Al?”
Pertanyaan menohok, yang entah mengapa membuat lelaki itu sontak terdiam. Jika dipikir-pikir lagi, pertanyaan Bram ini ada benarnya juga.
Mengapa aku berminat pada kehidupan perempuan itu? Ah, entahlah. Dia hanya berhasil mencuri atensiku, itu saja. Mungkin aku hanya kasihan. Iya, kasihan.
Tidak menjawab, Alberto memilih untuk meraih lagi kaleng birnya. Melirik berulang kali pada Bram yang masih menunggu jawaban, dia sepertinya memang tidak punya jawaban untuk itu.
“Kau tahu kau tidak diperbolehkan mencampuri urusan rumah tangga orang lain, Al.” Kalimat Bram terdengar seperti peringatan kali ini.
Alberto menarik napas, mengembuskannya dengan resah. Bram lagi-lagi benar.
“Kau tahu ini akan salah ketika kau berusaha memperbaiki keadaan saat yang terlibat sebenarnya tidak ingin memperbaikinya,” lanjut Bram lagi.
“Kalimatmu sulit dicerna, Bram. Membuatku bingung saja,” sungut Alberto. Dia sendiri sebenarnya memahami itu, tetapi aneh rasanya mendengar Bram layaknya pengkhutbah saat ini.
Bram terkekeh pelan. Membenarkan posisi tubuhnya, merapatkan dua kakinya di sela meja dan sofa. Menarik gelas yang berisi kopi hitam yang sudah tidak hangat lagi, menyesap cairan itu pelan-pelan.
“Kau tahu konsekuensinya jika kau terus ingin maju, kan?” Bram sudah tahu apa maksud kedatangan Alberto ke kantornya. Bahkan saat lelaki itu tidak mengutarakan niatnya dengan gamblang, Bram bisa membaca melalui sorot mata Alberto saat ia bercerita tentang lelaki lain tadi. Lelaki yang menampar dan berlaku keras pada Hana, saat mungkin Alberto sendiri mulai memikirkan perempuan itu di kepalanya.
Menarik napas Alberto. Merasakan sesak di dada, saat ia juga sebenarnya tidak tahu apa yang sedang ia lakukan saat ini.
“Aku tahu, dan kuterima itu.” Entah bagaimana bibirnya bisa mengeluarkan kalimat seperti tadi, saat dia pun masih belum yakin.
Astaga, Al. Kau sudah gila.
Bram menyeringai.
“Kubawa lelaki itu ke hadapanmu dan selesaikanlah dengan cara laki-laki.”
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~Uwuu Brambang bisa diandalkan banget ya kan? Siapa yang gak meleleh bak lilin? Kwkwkw.
Readers, sambil menunggu ini up terus sampe tamat, main-main ke novel Bridesmaid's Secret karya Ayy yuk, sahabatku juga. Di sana juga ada Galang dan Ikhsan, hehe. Ditunggu yak, terima kasih ❤️