
"Apa kau benar-benar telah mengosongkan hati? Atau kau hanya berpura-pura agar tidak terlihat menyedihkan?" ~Marinda Schoff.
.
.
.
Marin memasuki mobilnya dengan langkah pelan. Deringan teleponnya tidak berhenti terdengar sejak tadi, namun gadis itu mengurungkan niat untuk merogoh ponsel kecilnya. Dia lebih suka untuk membiarkan lagu dari Jassie J itu terus terdengar, sambil sesekali menggoyangkan kepala mengikuti irama musik.
Masuk ke mobil berwarna putih terang, Marin tahu dia harus berhati-hati. Mobil itu adalah mobil yang dia sewa dengan kurun waktu satu bulan, sesuai dengan waktu yang diberikan ayahnya untuk dia mengungkap sesuatu. Terkait misi yang dia bawa ke Indonesia. Terkait masa lalu.
Mengenakan sabuk pengaman hingga terdengar bunyi klik, gadis itu bersyukur dia pernah tinggal sedikit lebih lama di Malaysia. Sebab itulah tidak sulit baginya untuk menyesuaikan posisi pengemudi di Indonesia yang berada di sebelah kanan, berbanding terbalik dengan posisi pengemudi yang berada di sebelah kiri di Paris.
Dapat menyesuaikan diri dengan cepat, Marin sudah menghidupkan mesin mobil dan mengamati dengan awas jalanan di depannya. Beberapa detik kemudian, gadis itu sudah mulai meluncur bebas untuk bergabung dengan hiruk pikuk jalanan kota.
Jika ada satu hal yang ingin dia hindari, sudah pasti itu adalah kemacetan panjang lalu lintas. Berada dalam antrian dengan berbagai jenis kendaraan dan sikap pengemudinya, sungguh membuat bosan dan jengah. Meski dia juga mengalami hal serupa seperti ini di Paris, rasanya sedikit lebih berbeda sebab ini bukan kotanya. Karena dia pendatang, maka dia harus ekstra berhati-hati.
Menghentikan mobilnya sebab tidak mendapat giliran jalan meski lampu telah berwarna hijau, Marin harus mengikhlaskan lampu itu kembali berubah menjadi warna merah. Menaikkan kepalanya untuk melihat antrian di depan, tampaknya dia akan berada di sana hingga giliran jalan selanjutnya.
Bersyukur dia sempat membeli beberapa bungkus cemilan, beberapa air mineral, dan beberapa kaleng soft drink yang dia letakkan di kursi belakang. Meraih kantung belanjaan itu, Marin memilih sebungkus roti sandwich berisi tomat dan telur, bersiap untuk melahap makanan itu untuk menjadi menu makan paginya.
Baru saja satu gigitan besat masuk ke dalam mulutny, tiba-tiba terdengar kembali deringan ponselnya setelah hening beberapa saat. Namun kali ini panggilan itu sukses membuat Marin tertawa kecil.
Leah pasti kesal sekali.
Merogoh ponsel yang berada di dalam tas dengan tangan kiri, gadis itu mengaktifkan mode handsfree sebelum menjawab panggilan.
"Ya, Cerewet?" ujarnya santai, sudah tersambung pada panggilan telepon dengan mulut yang penuh dengan potongan sandwich.
"Marin! Kau benar-benar mengujiku ya?!" Suara tinggi Leah terdengar di sebrang sana, membuat Marin mengerjapkan mata seketika.
"Astaga, Leah. Kau membuat gendang telingaku pecah, tahu?!" Tidak mau kalah dalam bersewot, Marin telah menimpali kekesalan Leah.
Terdengar gadis yang dipanggil Marin dengan nama Leah itu berdecak, memang benar-benar kesal.
"Kau pasti terlambat. Iya kan?!" Tuduh Leah tidak sabaran.
Marin tertawa.
"Oh, tidak! Bagaimana ini?!" Marin membuat suara kaget, terlalu senang karena mengerjai Leah di pagi hari.
"Ayolah, Marin! Kau tidak boleh begini padaku, kau tahu?!" Leah masih teramat kesal, namun nada suaranya kini sudah terdengar melemah. Mungkin Leah sudah menyadari bahwa teriakannya tidak berdampak apa pun pada keadaan.
Marin terkekeh. Tidak menyangka sepupunya yang satu itu akan sungguh kesal hanya karena Marin tidak memberi kabar atau menjawab teleponnya. Menghabiskan potongan sandwich pertamanya, Marin sudah menggigit yang kedua.
"Kau di mana, Leah?" tanya Marin kali ini, matanya masih memandang jalanan dengan sangat awas. Sesekali melirik peta di layar mobilnya, mengawasi keadaan.
"Aku sudah di Lee Coorporation sejak tadi. Kapan kau akan tiba?"
Marin kembali tersenyum senang.
"Tenanglah, Sayang. Aku akan tiba sepuluh menit lagi." Marin memutuskan panggilan telepon itu setelah mendengar Leah bersorak-sorai di sebrang, menandakan bahwa gadis itu sungguh bahagia akibat mendengar perkataan Marin baru saja.
Melepaskan perangkat earphone di telinga kanannya, Marin kembali memegang setir kemudi, membelah jalanan untuk memacu mobil putih itu lebih cepat.
Lampu sudah kembali berubah menjadi warna hijau, dan dia harus bergegas.
***
Alberto menganga. Memperhatikan dengan lekat pada dua gadis cantik yang berdiri di depannya, dia hampir saja tidak bernapas.
"Tuan Alberto?" Suara khas milik Leah memecah keheningan, terdengar pelan dan lembut namun sukses sekali menyadarkan Alberto dari lamunannya.
Manik lelaki itu memandang pada Leah sekilas, lalu beralih pada sosok gadis yang berdiri di samping Leah. Marin melebarkan senyum di wajahnya, seolah-olah sudah memperkirakan akan bertemu dengan lelaki ini.
"Hai, Al. Kau sehat?" Marin menyodorkan tangan kanannya, memandangi Alberto yang masih terdiam.
"Ah, kurasa seperti ini salam di sini, benar? Atau aku harus memelukmu saja?" Marin kembali bersuara, saat tangannya masih tergantung di hadapan Alberto.
"Ini benar kau, Marin? Bagaimana bisa?!" seru Alberto tertahan, tidak menyangka si gadis Parisian akan muncul di hadapannya. Terlebih lagi, gadis itu muncul di Indonesia!
Marin tertawa.
"Aku akan tinggal selama sebulan. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan, Al," balas Marin kemudian, telah mengendurkan jabat tangannya dengan Alberto.
Lelaki itu mengangguk. Leah yang sebelumnya tidak memahami situasi yang terjadi di antara mereka hanya mampu terdiam dan mengernyitkan dahi. Tidak menyangka calon mitra bisnisnya telah lebih dulu kenal dengan kakak sepupunya. Begitu penasaran bagaimana mereka bisa saling kenal.
"Kalian saling mengenal?" Tidak mampu menahan rasa penasaran, kini Leah yang gantian mengeluarkan suara saat dia memiringkan tubuh untuk bertanya ke arah Marin.
Marin tersenyum tipis.
"Kami bertemu di Paris beberapa waktu lalu, Leah. Itu saja," jawab Marin singkat. Terlalu malas untuk menjelaskan apa yang telah terjadi di antara dia, Alberto bahkan satu lagi lelaki lain, di saat yang sama yang dimaksudkan Marin baru saja.
Alberto mengangguk setuju.
"Begitulah Nona ...." Alberto menggantung kalimatnya, menatap pada Leah kali ini.
"Leah. Leah Lahm," potong Leah cepat.
"Ah, baiklah Nona Leah. Jadi, kalian adalah perwakilan dari Lahm Enterprises?" Alberto mengeluarkan sebuah pertanyaan.
Leah mengangguk.
"Ah, benar. Seharusnya aku bersama rekanku untuk rapat ini. Tetapi mendadak dia mengatakan tidak bisa hadir, jadi Marin akan menggantikan posisinya untuk kali ini," jelas Leah kemudian, yang diikuti dengan anggukan Marin. Dia memang di sana untuk membantu Leah, sesuai dengan pesan ayahnya yang dia bawa saat dia datang ke Indonesia.
Alberto berdehem pelan, ikut mengangguk.
"Baiklah, Marin. Sampai bertemu di rapat nanti. Ah ya, Bram juga akan ada di sana." Alberto berujar sembari melirik pada Marin, memberitahu sesuatu yang mungkin saja akan membuat Marin terkejut. Lelaki itu yakin sekali kelak kedua orang itu akan saling menganga satu sama lain.
Menarik napas, Marin sebenarnya benar sedikit terkejut.
"Bram?" tanyanya memastikan.
Mengapa Bram berada di sisi Lee Coorporation?
"Benar, Bram. Sampai jumpa, Marin!" Alberto telah pamit undur diri, berjalan dengan langkah besar memasuki perusahaan yang dia pimpin. Bram belum tiba, dan masih ada setengah jam lagi sebelum rapatnya bersama beberapa staff perusahaan dan perwakilan Lahm Enterprises akan dimulai.
Menekan tombol lift dan menunggu beberapa saat hingga benda bergerak itu terbuka di depannya, Alberto meremas jari-jari tanpa sadar. Menggosok dagunya yang tidak terasa gatal, lelaki itu telah dipenuhi banyak pertanyaan yang berterbangan di benaknya kali ini.
Marin, mengapa kau datang? Apakah ini hanya sebuah kebetulan atau takdir yang mengaturnya sedemikian rupa?
Memandangi tubuh Alberto yang telah menghilang di balik pintu, Marin mengernyitkan dahi. Mengikuti ajakan Leah untuk duduk di ruang tunggu lobi utama hingga jadwal mereka tiba, Marin masih bergumul dengan dirinya sendiri.
Apa hubungannya Bram dengan Lee Coorporation?
Berfikir keras, Marin mencoba menarik benang kusut dalam kepalanya. Menerka-nerka kemungkinan yang ada, namun dia malah bertambah penasaran.
Lee Corporation. Bram Trahwijaya. Diandra Lee. Apa keberadaan lelaki itu di sini ada hubungannya dengan mantan istrinya, Diandra Lee? Sebenarnya apa yang terjadi?
Marin masih termenung. Tersentak kecil saat dia maniknya menangkap sosok lelaki gagah yang berjalan pelan melewati pintu kaca utama, yang tampak begitu menawan dengan setelan jas berwarna biru langit. Memperhatikan Bram yang kini juga berstatus sebagai tetangga barunya, Marin tanpa sadar menyunggingkan senyuman kecil.
Aku hampir saja melupakan fakta bahwa kau adalah duda tampan, Bram. Tidak menyangka akan bertemu kembali sesering ini, apa kau mungkin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?
Marin masih menancapkan manik kebiruannya pada Bram yang tampak berbelok ke arah lift, menekan tombol dan berdiri di sana beberapa saat. Ketika pintu lift itu terbuka, Bram masuk dengan cepat tanpa menyadari sepasang manik kebiruan sedang menatap padanya.
Jika benar kau di sini karena Diandra, apa kau masih memilikinya di hatimu, Bram?
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~Helloww.. selamat membaca kak readers, makasih banyak untuk semua dukungannya ya.. bahagia dan sehat selalu 🤗