
"Mungkin saja aku tidak pantas, sebab kau mempunyai kesempatan untuk memilih yang lebih baik." ~Diandra Lee.
.
.
.
Manik berwarna hazel yang menawan. Yang entah mengapa mampu meruntuhkan pertahanan Bram dalam setiap kali mereka bersitatap. Mencuri hatinya, memberikan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.
Bram tidak pernah menyangka dia akan jatuh cinta, pada seorang anak kecil yang berambut sedikit ikal.
"Vallois!"
Melebarkan kedua tangan untuk menyambut bocah kecil itu, Bram mendekap dan menggendong Vallois beberapa detik kemudian. Senyuman terpancar dari masing-masing mereka, saat Vallois kecil tampaknya begitu menyukai kehadiran Bram di sana. Bocah yang berusia hampir dua tahun itu menyandarkan kepalanya pada ceruk leher Bram, menggelayut manja.
"Mandi! Mandi sama ayah!" pintanya kemudian. Dengan mimik khas bocah kecil yang terlalu menggemaskan, Bram tahu Vallois telah berada di hatinya meski dia tidak tahu sejak kapan.
"Kau mau mandi?" tanya lelaki itu saat menolehkan kepala. Diikuti dengan anggukan Vallois yang tampak senang.
"Mandi! Mandi!" katanya lagi.
Bram tertawa. Mendaratkan berulang kali kecupan di pipi Vallois, dia melangkah memasuki rumah saat Tante Luna tampak berjalan dari arah dapur.
Menghampiri Bram yang menggendong Vallois di tangannya, wanita paruh baya itu melebarkan senyuman ramah. "Kau datang, Bram?"
Bram mengangguk. "Iya, Tan. Di mana Diandra dan Verden?"
"Ah, di atas. Vallois tidak ingin mandi, sedangkan Diandra berhasil membujuk Verden dengan memberikannya permen karamel. Dia mungkin tidak ingin kau terlalu letih," jawab Tante Luna senang.
"Apakah kau bertemu Alberto?" tanyanya lagi.
Bram menggangguk, melirik ke arah lantai dua tepat di mana kamar si kembar berada.
"Ah, iya. Dia mampir tadi ke kantorku untuk minum, mungkin masih berada di kantornya." Bram menjawab asal, sebab dia memang tidak tahu Alberto di mana.
Tante Luna berdecak. "Andaikan dia lebih sering datang sepertimu, Bram. Tante mungkin akan mencarikan istri untuknya. Eh, Bram. Apa kau tahu apakah dia berkencan?" Membisikkan kalimat terakhirnya, Tante Luna bergeser lebih dekat pada lelaki itu.
"Tentu saja, Tan. Dia mungkin akan membawanya ke sini jika Tante terus meminta," jawabnya asal. Bram bahkan menahan senyuman yang mendadak melebar, membayangkan reaksi Alberto jika kelak Tante Luna menanyakan tentang itu padanya.
Habis kau, Al.
"Yang benar?" Mata wanita itu melebar, seakan tidak percaya. "Dasar anak tidak peka! Tidak tahu ibunya sudah khawatir karena dia tidak kunjung menikah. Awas saja kau ya!"
Cekikikan sudah Bram di sana. "Naik dulu, Tan," pamitnya sopan. Mendapati Tante Luna mengangguk, lelaki itu melangkahkan kakinya untuk menuju tangga, menaiki anak tangga satu per satu. Berceloteh dengan Vallois yang melingkarkan lengan kecilnya di sepanjang bahu.
"Kau sudah makan, Jagoan?"
"Sudah. Verden sudah."
"Bagus sekali. Apa kau makan sayur hari ini?"
Vallois merubah raut wajah tampannya. Mengerucutkan bibir, dia menggeleng pelan.
"Tidak. Itu brokoli, Val tidak mau. Tapi Verden makan," ujarnya memberi alasan.
Bram terkekeh, mencubit pelan pipi Vallois.
"Ayo, kita mandi dan memakai sabun bergambar robot. Kau siap?" Nada suaranya sengaja dibuat-buat, membangkitkan rasa senang pada bocah yang masih dia gendong.
"Ayo!"
***
Diandra sedang mengelapi tubuh Verden yang sedari tadi meloncat-loncat di atas kasur besar mereka, saat seseorang mendorong pintu kemudian tampak Bram dan Vallois muncul dari sana.
"Ayah!" Teriakan Verden sudah terdengar nyaring, saat bocah laki-laki yang juga merupakan kembaran Vallois itu turun dari kasurnya, berlari ke arah kaki Bram.
"Verden, lihat jalanmu!" Berseru sebab gerakan Verden begitu tiba-tiba, Diandra beranjak bangkit untuk berdiri tegak.
Beranjak mendekati Diandra, Bram melebarkan senyuman khas miliknya. Memamerkan deretan giginya yang rapi bersih, dia ingin sekali mendekap wanita itu dalam pelukannya. Apa daya kedua bocah sudah berada di sana lebih dulu.
"Kau datang, Bram," sambut Diandra menatap lelaki itu.
Mengangguk, Bram membalas tatapan Diandra dengan manik yang mendamba.
"Mandi! Mandi!" Teriakan Vallois kali ini memenuhi kamar, saat dia menggerakkan tangannya untuk meraih handuk yang berada di pundak ibunya.
"Ver, turun. Kau sudah mandi, sekarang pakai bajumu." Diandra menyerahkan handuk Vallois untuk digenggam bocah itu, saat dia bergeser untuk meraih Verden dari gendongan Bram. Tetapi sang bocah malah beringsut mendekati ayahnya, menolak uluran tangan Diandra.
"Vel mau mandi lagi, sama ayah. Sama Val," ucapnya cepat. Seolah meminta pertolongan agar Bram tidak menurunkannya dari gendongan.
"Tapi kau sudah mandi, Ver. Biarkan Val mandi bersama ayah, oke?" Berusaha membujuk, Diandra mengulurkan tangannya sekali lagi. Tidak berubah, Verden masih bersikeras dengan rengekan yang mulai terdengar saat Diandra membesarkan maniknya.
"Biarkan dia mandi sekali lagi, tidak apa-apa kan?" Bram memotong cepat, sudah melangkahkan kakinya menuju kamar mandi bocah-bocah itu. Meninggalkan Diandra yang terdengar menarik napas, Bram sudah masuk ke dalam kamar mandi yang didominasi keramik dinding bermotif robot dan tayo.
Menurunkan kedua bocah di dalam bak mandi, Bram melepas baju Vallois dengan cekatan. Membiarkan Verden kembali merasakan siraman air yang diarahkan oleh abangnya, mereka sudah terlibat dalam permainan yang tampak menyenangkan.
Membuka kancing kemeja yang dia kenakan, Bram kini membiarkan kaos dalamnya membalut tubuh. Menyampirkan kemeja tadi pada westafel yang tidak jauh dari sana, lelaki itu kemudian bergabung untuk memandikan anak kembar yang telah diam-diam mencuri hatinya.
Meraih sabun yang berada di dalam sebuah botol besar bergambar robot, Bram dengan cekatan membuat busa-busa dan membuat ketiganya tertawa lebar. Menyabuni rambut ikal milik Verden, dia kemudian beralih untuk menyabuni tubuh kecil Vallois.
Tidak menyadari kehadiran Diandra yang berada di ambang pintu sejak tadi, Bram sudah menyelesaikan rutinitas mandi Vallois dan Verden. Beberapa saat kemudian, dia membiarkan pengasuh bocah-bocah itu mengambil alih keduanya, saat dia kini memandangi kaosnya yang basah sebab terkena siraman air.
Melangkah mendekati posisi Bram yang masih berada di kamar mandi, Diandra mengulurkan sebuah handuk saat lelaki itu menyadari kehadirannya di sana.
"Terima kasih." Melepaskan kausnya dengan cepat, Bram bertelanjang dada saat dia gantian mengelapi dadanya yang basah.
Memperhatikan Bram yang tampak tidak canggung sama sekali, Diandra berusaha menghindari tatapan lelaki itu.
"Ada yang ingin kau sampaikan, Diandra?" tanya Bram saat tampaknya Diandra sedang memikirkan sesuatu, tetapi tidak urung mengeluarkan suara.
"Ayolah, Bram. Hentikan." Suara Diandra terdengar pelan sekali, saat Bram kini menatapnya dengan tatapan dalam.
"Apa yang harus aku hentikan, Diandra?" Maju dua langkah, Bram mengeliminasi jarak yang terbentang di antara mereka.
Menaikkan kepala untuk membalas tatapan Bram, Diandra hampir saja tidak bisa bernapas. Bram dengan dada bidangnya yang begitu terpampang nyata, sukses sekali membuatnya hampir mati lemas.
"Kau tahu maksudku, Bram. Ini tidak benar, iya kan?" katanya kemudian.
Bram tersenyum kecil. Menarik napas perlahan untuk mengisi rongga dada, lelaki itu tidak gentar sama sekali. Meraih kemejanya yang tadi dia buka, namun sengaja belum memakainya meski dia di depan Diandra. Melangkah maju kali ini, Bram memaksa Diandra untuk mundur hingga tubuh gadis itu berdempet pada dinding.
"Bram."
Menyadari jarak mereka terlalu dekat, tetapi Diandra sungguh tidak mengelak. Wajah Bram tampak dekat sekali, saat Diandra dapat mencium aroma parfum khas milik Bram pada tubuh lelaki itu. Parfum yang sama.
Menunduk untuk benar-benar menatap pada manik kecoklatan Diandra, Bram sekuat tenaga menahan keinginan untuk mencumbu wanita itu sekarang juga.
"Semuanya mengenai kau dan anak-anakku akan selalu benar, Diandra." Kalimat Bram meluncur begitu saja, saat dia menegakkan tubuh untuk mengenakan kemejanya.
Membiarkan kancing-kancing itu masih terbuka, Bram meraih tangan kanan Diandra dan meletakkannya di depan dada untuk memberikan sebuah isyarat.
Menyunggingkan senyuman tipis, Diandra menggerakkan kedua tangannya untuk menutupi tubuh tegap Bram, saat maniknya masih tertuju pada dada bidang lelaki itu.
"Bram, kau sungguh punya kesempatan untuk menemukan yang lebih baik." Berbisik Diandra tepat saat tangannya berada di kancing terakhir, meski dia sendiri tidak yakin apakah hatinya baik-baik saja setelah mengatakan itu.
Bram menarik napas pelan, mendekatkan wajahnya pada wajah Diandra saat dia membalas dengan kalimat yang begitu jelas.
"Tidak ada yang lebih baik selain kau, Diandra. Aku akan menginap malam ini."
.
.
.
🗼Bersambung🗼