
Warning: Menimbulkan efek 'itu', muahaha.
"Kenyataannya memang tidak mudah. Tetapi setelah perjalanan terjal, kuharap kita akan menjadi sekuat karang." ~Diandra Lee.
.
.
.
Rumah itu terasa sepi. Setelah menyelesaikan makan malam keluarga dan mengantri untuk keluar dari kompleks venue tadi, kini baik keluarga besar Trahwijaya ataupun Lee sudah kembali ke tempatnya masing-masing.
Begitu juga dengan Bram yang kali ini menumpangi mobil Alberto, mobil yang digunakan lelaki itu untuk menjemputnya tadi. Bram duduk tepat di samping Alberto, memangku Vallois yang terlelap dalam pelukannya. Sedangkan Diandra bersama Verden di kursi penumpang belakang, juga menyandarkan kepala bocah lelaki itu tepat di dadanya. Sang kembar tampaknya kelelahan bermain, hingga sulit sekali untuk hanya mengambil foto bersama.
Setelah mobil itu memasuki rumah, keduanya dengan sigap menggendong si kembar dan langsung berjalan menuju kamar mereka. Meletakkan Vallois dan Verden yang sudah diganti bajunya sebelum makan malam tadi, Diandra menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil si kembar agar tidak kedinginan.
"Selamat tidur, Sayang Bunda," ucap Diandra berbisik, memberikan masing-masing kecupan di kening keduanya. Memandangi anak-anak itu dengan tatapan penuh sayang, saat Bram mendekat untuk melakukan hal yang sama.
"Mimpi yang indah, Jagoan Ayah," ujar Bram kemudian, lalu mengecup pipi keduanya tanpa ragu.
Ada setitik perasaan hangat yang mengalir di relung hati Diandra, saat menyadari kini Bram bukan lagi orang asing untuk mereka. Sekarang lelaki itu adalah suaminya yang sah, yang dia nikahi tanpa keterpaksaan. Justru sebab cinta dan perasaan yang membuncahlah mereka kembali mengikat tali kasih.
Kini Vallois dan Verden pastilah senang jika mendapati 'ayah' mereka telah benar-benar menjadi ayah. Sang penanggungjawab, sang lelaki yang akan mengajarkan banyak hal.
Mendekati istrinya yang masih terduduk di tepi ranjang, Bram mengelus lengan Diandra dengan lembut. Menariknya untuk kemudian berdiri, menatap perempuan itu dengan tatapan nakal yang entah bagaimana juga terasa memabukkan.
"Ayo, Sayang. Giliran kita."
***
Kamar Diandra telah dihiasi sedemikian rupa. Jika awalnya perempuan itu bersikeras agar kamarnya dibiarkan begitu saja, namun pihak Wedding Organizer yang mereka sewa semakin bersikukuh bahwa kamar pengantin adalah bagian dari layanan.
Meski harus menghias di tempat yang berbeda dari venue, mereka bahkan tidak menagih tambahan biaya. Seniat itu untuk menghadiahi kamar pengantin yang begitu istimewa, bagi dua insan yang pernah menikah sebelumnya.
Membuka pintu kamar, nuansa peach dan putih yang serupa dengan dekorasi di venue tadi langsung jelas terlihat memanjakan mata.
Menapaki lantai marmer itu dengan perasaan aneh, Bram baru kali ini mengunjungi kamar Diandra. Setelah dua tahun perempuan itu pindah ke Indonesia, belum sekali pun ia masuk ke dalam sana. Dan kini, kamar itu akan menjadi saksi bisu atas apa yang mungkin saja terjadi beberapa saat lagi.
Jika malam pengantin mereka dulu dilalui dengan tidur yang lelap akibat kelelahan, itu semua disebabkan karena tidak adanya rasa-rasa menggelora di dalam dada. Tidak ada hasrat, tidak ada keinginan. Bahkan saat mereka berdua tidur bersebelahan, sungguh tidak terjadi apa-apa hingga pagi menjelang.
Namun yang kali ini, pastilah sungguh berbeda. Kedua pasang mata itu benar-benar saling mendamba, dialiri perasaan yang begitu berdenyut di dalam dada. Tinggal menunggu waktu, untuk sebuah penyatuan cinta yang telah tertahan begitu lama.
Meletakkan tas yang dia jinjing, Bram sudah duduk di tepi ranjang. Tersenyum saat Diandra mendekat, manik perempuan itu masih mengagumi akan hasil dari sulapan yang terjadi di kamarnya.
Ranjangnya dihiasi oleh taburan bunga lili dan mawar putih, saat empat tiang penyangga ranjangnya dihiasi ornamen dari bunga-bunga yang dirangkai begitu rapi. Menawan, sekaligus menyejukkan mata.
Diandra baru menyadari spreinya telah berganti warna, dengan selimut bermotif bunga yang juga senada.
"Mereka sepertinya bekerja keras, bukan begitu menurutmu, Bram?" tanya perempuan itu saat menggelengkan kepala, menahan senyuman di sudut bibirnya.
Bram mengangguk. Sesekali menaikkan bahu, ikut memperhatikan dengan seksama hiasan kamar ini.
Ternyata di sini kau menghabiskan malam-malammu sendirian, Diandra. Tenanglah, kini kau tidak lagi kesepian karena aku akan selalu ada.
"Tetapi aku suka. Warnanya, juga harum bunganya." Bram membalas singkat. Tangannya sudah bergerak untuk membuka jas yang melapisi kemejanya. Bangkit dari duduk, lelaki itu menyampirkan jas tadi pada sofa terdekat.
"Kau benar. Putih selalu menenangkan meski kalau itu adalah baju pasti akan cepat sekali kotor," sambung Diandra. Perempuan itu bergeser ke arah ranjang, menunduk sedikit untuk meletakkan ponselnya di atas nakas. Beberapa saat kemudian dia telah kembali bangkit, melangkah menuju walk in wardrobe untuk meletakkan tas dan melepaskan sepatunya di sana.
"Kemarikan jasmu, Bram. Kusimpan di sini dulu," panggil Diandra dari dalam ruangan, mendapati Bram mendekat beberapa saat kemudian. Lelaki itu memutar kepala untuk memperhatikan koleksi baju istrinya.
Setelah perempuan itu menggantung jasnya tadi, Bram mendekat dan memberinya satu pelukan hangat dari belakang. Menempelkan kepalanya di ceruk leher wanita itu, mencium sisa-sisa aroma parfum yang masih tertinggal.
"Apa kau merancang ini semua, Diandra?" bisiknya pelan.
Diandra tersenyum kecil. Mengangguk kemudian, saat tangannya bergerak menyusuri punggung tangan Bram yang melingkari pinggangnya.
"Sebagian besar iya, Bram. Tetapi banyak juga yang aku beli."
Bram mengeratkan dekapannya. "Apakah kau akan mendesain satu untukku?" Bertanya dengan nada seperti rengekan, kalimat Bram tadi terdengar manja.
"Kau ingin aku mendesain untukmu?" tanyanya. Bram mengangguk kecil.
"Kau mau?" Malah balik bertanya.
"Tentu saja, Bram. Apa yang kau inginkan?" Merasakan tangan Bram kembali melingkari pinggangnya, Diandra sungguh sedang berusaha menahan diri. Dia kan tidak mau disebut wanita gampangan, haha.
"Hmm, bagaimana kalau jas? Atau yang sederhana seperti kemeja atau kaus saja?" tawar Bram.
"Oke, tidak masalah. Kubuatkan semuanya untukmu, bagaimana?"
Bram menyunggingkan senyuman. "Terima kasih, Sayangku."
Mencuri satu kecupan di pipi Diandra, Bram sedang menahan diri untuk tidak menarik perempuan itu sekarang juga.
"Kau mau mandi, Bram? Atau aku yang mandi lebih dulu?" Suara Diandra membuyarkan lamunan Bram yang sudah melayang kemana-mana.
"Uhm, ya sudah kau saja lebih dulu. Aku ingin minum," jawab Bram cepat. Diandra ada benarnya juga, sebab mereka pastilah berkeringat dan merasa sumpek setelah acara hari ini. Mandi sudah pasti akan menyegarkan.
Melebarkan senyuman, Diandra melepas kaitan tangan Bram di pinggangnya.
"Pergilah ke pantry. Ada kulkas mini di sana dan beberapa kaleng soft drink. Aku mandi lebih dulu ya."
Bram mengangguk, meski tidak rela. "Oke."
Memutar tubuh untuk keluar dari ruangan itu, Bram berbelok menuju mini pantry yang ada di kamar itu. Menarik satu kaleng soft drink dan menenggaknya cepat, saat maniknya mengawasi pergerakan Diandra yang berjalan menuju arah kamar mandi.
Menyampirkan handuk di tangan, Diandra sempat melebarkan senyuman saat manik keduanya bersitatap untuk beberapa saat. Menatap visual istrinya yang menghilang di balik pintu, Bram mencengkram kaleng itu dengan tidak sabar dan menenggak isinya hingga tuntas.
Entah bagaimana pandangannya tertuju begitu saja ke arah kasur, dan seketika pikirannya sudah berlarian ke ujung fana.
Tenang, Bram. Kau menunggu empat tahun, kini kau pasti bisa menunggu lagi untuk sepuluh menit. Tunggulah hingga dia kembali.
Mengetukkan kakinya ke lantai marmer yang dingin itu, Bram terus menarik napas panjang. Dadanya bergemuruh, seiring dengan bayangan di pelupuk mata yang hadir begitu jelas. Diandra yang berada di kamar mandi. Diandra yang sedang melakukan sesuatu di dalam sana.
Buyar. Sesaat kemudian lelaki itu sudah bangkit dari duduknya, berjalan cepat menuju arah kamar mandi dan meraih gagang pintu itu dengan satu tarikan.
Tidak terkunci.
Menahan napas. Bram melangkah untuk masuk ke dalam sana tanpa ragu, saat maniknya mendapati Diandra baru saja akan menurunkan tali dari kaus dalamnya.
"Bram?"
Candu. Suara itu sudah menjadi candu.
Tidak berkata apa-apa, Bram mendorong tubuh Diandra hingga mendempet dinding. Menempelkan bibirnya tepat pada bibir merah muda istrinya, yang entah mengapa terlihat sungguh menggoda iman.
Diandra membiarkan Bram memagut bibirnya, saat ia masih bisa mencecap sisa-sisa perisa dari soft drink yang baru ditenggak suaminya. Beberapa saat kemudian ia sudah membalas ciuman itu, ikut larut dalam satu ciuman hangat dan menuntut.
Bram melonggarkan pagutan itu saat hampir kehabisan napas. Mendapati Diandra menyunggingkan senyuman tipis, menatap lekat pada maniknya yang tampak berkilat dengan hasrat membara.
Sesuatu telah mengganjal di bawah sana, saat tangan Bram menelusuri tali baju dalam milik Diandra dan menurunkannya perlahan.
"Bram."
Lagi-lagi suara yang menimbulkan efek mabuk, suara yang tidak bisa Bram tolak.
"Aku tidak bisa menunggu lagi, Diandra. Aku menginginkanmu, sekarang juga."
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~ Eak eak eak, tahaaaannnnn 😂~