Travelove~

Travelove~
85. Satu Jiwa (2)



Warning: Masih mengandung unsur kehaluan. Maafkan aku yang obsesinya berlebihan, haha ๐Ÿ˜‚


"Hadiah terindah untukku adalah kau. Tidak perlu yang lain lagi." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Diandra pastilah tahu kalimat tanyanya baru saja seperti membangkitkan macan yang sedang tidur.


Seiring dengan udara yang dia hirup pelan-pelan, embusan napas Bram ditengkuknya terasa semakin cepat dan memburu. Menempelkan bibir di tengkuk istrinya, Bram tertawa setelah memberikan satu gigitan kecil tetapi menggoda di bahu atas Diandra.


"Kau menggodaku, Diandra? Atau kau baru saja terlena dengan surga dunia kita sekarang?"


Refleks terbahak, rasanya kalimat Bram baru saja sungguh menggelitik. Surga dunia? Astaga, yang benar saja!


Perempuan itu menggeleng. Tidak menepis tangan Bram yang mulai menjalar di atas kulitnya, sebagai jawaban dari permintaan istrinya tadi meski dia belum mengiyakan.


"Bram." Berbisik pelan, Diandra menahan rasa geli yang bercampur dengan gairah sekarang. Sekian persen menyesali kalimat provokasinya tadi, kini dia harus siap menerima konsekuensi.


"Apa, Sayang?" Balas berbisik, tidak memberikan jarak antara tubuhnya dan tubuh Diandra. Mengembuskan napasnya di tengkuk perempuan itu, mencari celah di mana dia bisa kembali menempelkan bibir. Menelaah lahan kosong, di antara banyaknya jejak kemerahan yang telah tercipta di sana.


"Bram, geli!" Nada suara Diandra menaik, seiring dengan gerakan tubuhnya yang refleks bergerak akibat jari-jari Bram yang terus bermain di tubuhnya.


Lelaki itu tergelak. Mengamati punggung polos istrinya dengan kulit yang begitu menggoda, rasanya ia ingin menarik Diandra sekali lagi. Menyatu kembali, menyelami kenikmatan bersama-sama dalam satu rengkuhan rapat.


Tetapi dia tahu Diandra mungkin tidak akan nyaman untuk berada di dalam sana, saat air dari bak itu saja sudah hampir menutupi setengah dari tubuh mereka. Dia ingin melakukannya, tentu saja. Dengan cara yang benar kali ini.


***


Malam itu terasa panjang sekali. Setelah menyelesaikan adegan mandi yang benar-benar mandi tanpa interupsi yang aneh-aneh, akhirnya Diandra merasakan tubuhnya kembali segar.


Setelah seharian beraktivitas dan berakhir dengan menempel ke dinding tadi, Diandra melemaskan otot-ototnya yang mulai terasa lelah.


Dia keluar dari kamar mandi itu lebih dulu, meninggalkan Bram yang masih berada di bawah kucuran shower saat dirinya sudah selesai membersihkan diri. Berjalan cepat menuju walk in wardrobe yang masih dipenuhi oleh barang-barang miliknya, sebab Bram belum memindahkan barang-barang yang masih berada di apartemen lelaki itu.


Meraih sepasang piyama nyaman yang kemudian dia kenakan dengan cepat, maniknya bertatapan dengan mata kehitaman Bram saat lelaki itu telah berada di tepi ranjang.


Belum mengenakan baju, hanya satu handuk saja yang tersampir di sepanjang pinggang, menutupi tubuh bagian bawahnya yang tadi sempat terpampang nyata, haha.


"Sudah selesai?" Diandra berjalan menuju meja rias, menarik sebuah kursi kecil dan duduk di atasnya. Memilih serum malam untuk dia aplikasikan ke wajah, Diandra melirik Bram melalui kaca.


Lelaki itu memperhatikannya dengan lekat. Menyampirkan senyuman di sudut bibir, saat gerakan tangan Diandra tampak lihai menyapukan cairan yang Bram tidak pahami itu ke daerah pipi dan bawah matanya.


"Kenapa melihatku seperti itu, Bram?" Diandra kembali bersuara, mengamati suaminya.


"Tidak. Kau tahu kau punya sihir terhadapku, Diandra?"


"Huh? Sihir?"


Bram tertawa kecil. Diandra meletakkan kembali jar yang dia pegang sebelumnya, telah selesai dengan ritual malamnya kali ini. Memutar tubuh untuk menghadap pada Bram, saat tampaknya lelaki itu tidak berniat untuk mengenakan bajunya sama sekali. Buktinya dia masih duduk tampan di sana, bahkan menggoyangkan kakinya dengan senang.


"Sihir apa? Katakan padaku?" Diandra mendekat, mengambil posisi duduk tepat di samping Bram. Menghadap lelaki itu, bertukar tatapan.


Bram mendesah. "Kau menyihirku dengan pesonamu yang entah bagaimana membuatku ingin terus menatap kau saja. Seakan tidak ada arah lain, aku hanya mampu melihat padamu saja, Diandra."


Diandra mengerjap. Memutar bola matanya saat bibirnya melengkungkan senyuman.


Mengapa Bram semakin terdengar cheesy sekarang? Sejak kapan lelaki itu semanis ini?


"Kau semakin pandai berkata-kata, Bram. Gombal sekali!"


Bram beringsut mendekat, menarik Diandra ke dalam pelukannya dengan satu uluran tangan. Tidak peduli reaksi istrinya yang tampak terkejut dan tersentak pelan, saat kini kepala perempuan itu sudah berada di dada bidangnya.


"Kau mengira aku gombal, Sayang? Ya sudah, biarin aja. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku ...." Menghentikan kalimatnya sesaat, mendapati jari-jari Diandra sudah bermain tepat di atas perut kotak-kotaknya.


Bram tersenyum. "Aku selalu ingin kita seperti ini. Menghabiskan waktu, melihatmu setiap kali aku memejamkan dan membuka mata. Untuk waktu-waktu yang pernah hilang, aku ingin menebusnya sekarang, Diandra. Bersamamu, bersama anak-anak kita."


Perasaan hangat itu kembali datang. Menelusup masuk ke dalam relung hati Diandra, saat dia dapat mencium aroma maskulin dari tubuh Bram yang menyeruak. Harum yang masih sama, tidak berubah sejak dahulu kala. Sama sepertinya yang tidak pernah berganti aroma, Bram juga demikian.


Tidak menjawab dengan kalimat, kali ini Diandra menaikkan kepalanya untuk menghadap pada ceruk leher tegas milik Bram. Tanpa pemberitahuan, dia sudah memberikan satu kecupan beserta hisapan kecil di sana, membuat Bram bergidik pelan.


Melingkarkan kedua lengannya di leher lelaki itu, tanpa sadar Diandra sudah menempelkan kembali bibirnya ke bibir milik Bram. Memagutnya, menginisiasi ciuman mereka. Merasakan tetes air yang turun dari rambut suaminya yang masih basah, Diandra lagi-lagi meninggalkan harga dirinya entah di mana.


Bram tersenyum kecil. Meraih tubuh Diandra dalam dekapannya, menarik pinggang perempuan itu dengan tatapan rakus dan lapar. Hasratnya telah kembali naik, begitu mudahnya mengambil alih dan menjalar hingga ke ubun-ubun.


Terlepas untuk beberapa detik, keduanya saling pandang untuk kemudian sama-sama terengah.


"Diandra."


Perempuan yang dipanggil namanya itu menaikkan alis, selalu menyukai bagaimana Bram menyebut dan memanggil namanya.


"Apa, Sayang?" Kali ini membalas dan membuat Bram membelalakkan mata.


Benarkah apa yang baru saja dia dengar? Diandra memanggilnya 'sayang'?


Bram memajukan kembali wajahnya. "Kenapa kau susah payah memakai baju?" tanyanya hampir seperti berbisik, saat jari-jarinya sudah menelusup masuk ke dalam piyama Diandra.


"Hah?"


Tidak menyadari gerakan Bram yang begitu cepat, lelaki itu sudah membaringkannya di atas tumpukan bunga lili dan mawar merah.


"Seperti aku, dong. Tidak repot-repot membuka baju kan," lanjut lelaki itu lagi, saat dia sudah menyingkap baju piyama Diandra dengan sempurna. Ternyata selain tampan dan memiliki banyak uang, lelaki itu juga memiliki jari yang sangat lincah.


Sudah berada di atas istrinya, Bram bertumpu dengan lutut saat ia menarik paksa lilitan handuk di sepanjang pinggang. Membuat Diandra terpana dan menelan ludah, sebab sepertinya lelaki itu sudah memperkirakan hal ini akan terjadi lagi.


Bram benar. Seharusnya Diandra tidak mengenakan baju sedari tadi, seperti lelaki itu yang sudah tampil polos sekarang.


"Bram, kau cepat sekali," komentar Diandra sembari tertawa kecil.


Bram mengangguk, menurunkan tubuhnya untuk mendempet Diandra di atas ranjang yang dipenuhi harum bunga.


"Itu aku, Diandra. Apalagi untuk urusan bersamamu."


Diandra mengerang pelan, saat Bram memulai kembali permainan mereka. Melayangkan kecupan di sepanjang leher dan telinga istrinya, membangkitkan hasrat yang sudah merangkak naik.


Setelah bertahun-tahun menanti, kini Bram memiliki perempuan itu seutuhnya. Hanya miliknya, tempat dia berpulang.


Jika sesi pertama mereka tadi terkesan terburu-buru, maka permainan Bram kali ini lebih lembut dan tidak memiliki ketergesaan. Keduanya tahu bahwa mereka punya banyak waktu untuk saling menelusuri satu sama lain, melewati malam yang panjang dengan desahan memabukkan.


Di dalam kamar yang biasanya hening, kini lenguhan dan erangan mulai terdengar. Menghujani istrinya dengan ciuman di sekujur tubuh, Bram bahkan tidak bisa membayangkan akan semerah apa tubuh Diandra besok.


Membiarkan dan memberikan ruang untuk Diandra menciptakan kembali 'miliknya' di tubuh lelaki itu, Bram semakin mempercepat ritme gerakan. Cengkraman Diandra menguat, menimbulkan bekas di punggung lelaki itu tetapi Bram tidak peduli. Hampir tiba.


"Bram." Kembali Diandra mendesah pelan, mengagungkan nama suaminya di sela-sela kesadaran yang hampir menguap. Mendongak untuk membalas ciuman lelaki itu, benar-benar bertekuk lutut saat dirinya melepaskan semua.


Tidak memberikan kesempatan bagi Diandra untuk pergi dari sisinya, Bram mengkungkung perempuan itu dalam jangkauan. Napasnya memburu, terdiam untuk beberapa saat setelah penyaluran halal yang dia lakukan bersama Diandra.


Bram tertunduk. Menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya, kali ini dia yang tampak melemas. Napasnya belum teratur, saat ia sempat-sempatnya berbisik di telinga Diandra.


"I love you."


.


.


.


๐Ÿ—ผBersambung๐Ÿ—ผ


~Heii semuanyaa, makasih banyak utk semua dukungannya yaa.. terharu awak ini cerita brambang bisa di urutan 14 tadi, hehe ๐Ÿ™ Meski rank naik turun seperti gerakan Bram (muahaha) gak masalah yang penting semuanya tetep sehat dan bahagia. Sekali lagi makasih banyak yaaa aku padamu kakak baik ๐Ÿ˜˜