
"Karena bahagia itu sederhana. Hanya tentang sejauh mana kau mempertahankan hal-hal indah di hidupmu, seberapa jauh kau bersyukur akan takdir kehidupan." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Alberto melebarkan senyuman. Memajukan tubuh untuk meraih kembali kaleng bir yang sudah terbuka di atas meja, lelaki itu menenggak habis isinya dalam sekali teguk.
"Jadi, bagaimana perasaanmu, Bram?"
Bertanya sekaligus memandangi Bram yang duduk di depannya. Lelaki itu sedang melipat kedua kaki panjangnya ke atas sofa, saat dia juga memecah konsentrasi antara memperhatikan layar ipad dan calon abang iparnya.
Bram mendesah. Memutar bola matanya saat dia memilih untuk menjauhkan ipad itu sekarang.
"Kau juga harus menikah jika kau penasaran bagaimana perasaanku sekarang, Al." Tidak menjawab dengan gamblang, Bram tahu dia memang hanya ingin membuat Alberto berdecak kesal.
Sama persis seperti yang diharapkannya, Alberto sudah mendengus kesal.
"Aku akan menikah nanti, Bram. Mungkin memang belum ketemu sama perempuan yang pas sekarang ini," kilahnya.
"Kau terlalu menutup diri, Al. Kau harus berani berada dalam satu hubungan jika kau ingin mencobanya, bukan begitu?"
Telak. Bram benar kali ini. Sesaat Alberto menarik napas, memikirkan tentang dirinya yang memang selama ini tidak berniat untuk berada dalam satu hubungan serius dengan seorang perempuan.
"Laki-laki harus berani mengambil resiko, Al. Kau tidak lihat aku? Kau yang paling tahu sejauh mana aku mencintai adik sepupumu." Bram bersuara lagi, kali ini menarik gelasnya yang berisi air jahe hangat dari atas meja.
Diandra berpesan agar lelaki itu tidak minum kopi malam ini, tidak ingin calon suaminya itu malah bergadang dan ujung-ujungnya terlambat datang ke resepsi pernikahan mereka esok hari.
Alberto melebarkan senyuman. "Aku salut padamu, Bram. Untuk beberapa hal, kau memang luar biasa," puji Alberto lagi. Kali ini dia mengatakannya dengan tulus, sebab dia telah menjadi saksi bagaimana lelaki itu bertahan untuk perasaannya selama ini.
Jika lelaki lain mungkin akan menyerah begitu saja, tidak dengan seorang Bram Trahwijaya. Jika pada awalnya dia melakukan kesalahan saat pernikahannya dulu, maka perpisahan sungguh membawa pelajaran berharga baginya. Meninggalkan kebiasaan yang menjadi intisari dari hidupnya selama hampir dua puluh sembilan tahun, siapa sangka sebuah sayatan di hati mampu mengubah pribadinya untuk menjadi seseorang yang lebih baik.
"Karena aku memilihnya, Al. Karena aku membiarkannya mengisi hatiku, karena perasaan ini tulus," jawab Bram kemudian.
Alberto kembali menganggukkan kepala. Memandangi dua kaleng bir yang sudah kosong di depannya, melirik sekilas pada arloji branded yang dia sematkan di pergelangan tangan kanan.
"Istirahatlah, Bram. Aku akan pergi," ujarnya. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam, dan dia yakin sang calon mempelai pria pastilah membutuhkan istirahat.
"Aku akan menjemputmu pukul tujuh besok, bersiaplah," lanjutnya lagi. Beberapa detik kemudian lelaki itu sudah bangkit dari tempat duduknya, meregangkan kedua tangan sebelum berdiri tegak.
Mendapati tamunya hendak undur diri, Bram juga bangkit.
"Baiklah, Al."
"Pastikan kau tidur dengan cukup, Bram. Kau akan membutuhkan tenaga yang banyak untuk besok, kan?" Menyampirkan senyuman mengejek di sudut bibirnya, Alberto berbalik badan.
Mendapati Bram menepuk bahunya dengan tenaga sedang, sudah berada di samping lelaki itu untuk mengantarkannya ke pintu keluar.
"Tentu saja. Besok dan malamnya tentu saja akan menjadi hari bersejarah yang penuh dengan gairah, kau tahu?" Berniat pamer, membuat Alberto menggelengkan kepala.
"Kau benar-benar, Bram!" desisnya.
Membukakan pintu, Bram sudah kembali tertawa. "Makanya kubilang kau harus segera menikah!" sambungnya lagi.
"Berkendaralah dengan baik, Al. Sampai jumpa!" Melambaikan tangan, Bram masih berdiri di depan pintu apartemennya.
Memandangi tubuh Alberto yang berjalan menjauh, barulah dia berbalik badan setelah bayangan Alberto menghilang di ujung lorong.
***
"Mereka sudah tidur, Diandra?" Tante Luna bertanya pelan, mendapati keponakannya itu yang turun dari lantai dua rumah mereka dan bergabung di ruang keluarga bersamanya.
"Sudah, Tan. Baru saja," jawab perempuan itu seraya tersenyum tipis. Mengambil posisi duduk di deretan sofa yang sama yang diduduki Tante Luna.
Wanita paruh baya itu memutar tubuhnya, memandangi wajah Diandra yang tampak tetap cantik meski tanpa polesan make up. Tidak lama lagi keponakannya itu akan kembali melangsungkan pernikahan, memulai kembali biduk rumah tangga yang pernah gagal dulu.
"Diandra." Manik teduh Tante Luna memandangi Diandra dengan seksama, saat bibirnya terbuka untuk memanggil nama perempuan itu.
Diandra mengangguk. "Iya, Tan?"
Tante Luna meraih tangan Diandra, membawanya dalam genggaman.
"Besok kau akan kembali menjadi seorang istri, Diandra. Istri untuk seseorang yang mencintaimu tanpa syarat, yang menerimamu apa adanya bahkan menyayangi si kembar dengan begitu tulus. Tante sungguh berharap kau akan bahagia hingga akhir hayatmu kali ini, Diandra."
Mata Tante Luna tampak berkaca-kaca, saat kini dia menyampaikan apa yang sedang dia rasakan. Memandangi Diandra yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri, memuji Diandra dalam hati sebab perempuan itu begitu tegar berdiri.
Menikah, kemudian menghadapi perceraian akibat pengkhianatan di usianya yang masih sungguh muda. Menjadi janda, lalu menemukan cinta yang lain pada seorang pria baik yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Namun lagi-lagi takdir menghempaskannya ke titik terendah kehidupan, saat kali ini kematian yang memisahkan. Sekarang setelah bertahun berlalu, Tante Luna bersyukur Diandra akan kembali memiliki keluarga yang utuh.
"Terima kasih, Tan. Aku juga berharap kali ini akan hidup lama dan bahagia. Bersama Bram, bersama Val dan Ver." Sudah beringsut masuk ke dalam pelukan Tante Luna, Diandra juga tidak bisa menahan haru.
Mengelus punggung Diandra dengan lembut, Tante Luna mengangguk pelan.
"Kau sungguh berhak bahagia, Diandra. Tante yakin kali ini akan berjalan lancar, dan Bram akan menjadi kepala keluarga yang baik untuk kalian nanti. Dia sudah begitu banyak berubah, dia sudah menjadi seseorang yang lebih baik sekarang," bisik Tante Luna lagi.
Diandra setuju tentang itu. Hal yang juga menjadi alasan mengapa Diandra akhirnya memutuskan untuk mengulang semuanya dari awal dengan lelaki itu. Sebab dia percaya Bram mampu, sebab dia percaya Bram akan melakukan yang terbaik untuk biduk rumah tangga mereka kali ini.
Melepaskan pelukannya, Tante Luna memandangi kedua punggung tangan Diandra yang telah dihiasi seni ukir henna. Sungguh tampak cantik dan menawan.
"Berbahagialah, Diandra. Jangan lagi berikan ruang untuk kesedihan di kehidupanmu. Tertawalah selalu, semoga kau dan Bram senantiasa diberikan kemudahan dalam mengarungi bahtera rumah tangga." Meremas pelan jari-jemari Diandra yang tampak memerah, Tante Luna mengucapkannya dengan tulus sekali.
"Kau siap untuk hari besarmu besok, Sayang?"
Kali ini Diandra mengangguk pelan, melebarkan senyuman di wajah cantiknya yang besok akan dipoles oleh salah satu make up artist ternama tanah air.
"Aku siap, Tante. Aku siap untuk kembali menjadi Nyonya Trahwijaya."
.
.
.
🗼Bersambung🗼