
"Sebab ibuku berkata aku harus membalas kebaikan orang lain, sekecil apa pun itu." ~Marinda Schoff.
.
.
.
Hening. Hanya sekian detik, saat kecupan itu terjadi begitu saja. Mengalirkan perasaan aneh yang mulai menjalar, saat Bram mengingat kembali bahwa dia telah hampir satu tahun lebih tidak bersentuhan dengan wanita mana pun tepat setelah perceraiannya tempo lalu.
Kini mendapati seorang gadis yang sebenarnya masih asing untuknya--tiba-tiba datang dan memberikan sebuah kecupan di bibir, Bram benar-benar terpaku sebab kehabisan kata-kata. Tidak tahu harus memunculkan reaksi seperti apa, tidak tahu harus berkata apa untuk merespon hal ini.
Marin, kau sadar apa yang kau lakukan?!
Bram tidak ingin beranjak. Telinganya berbisik bahwa dia tidak perlu melakukan apa pun, melainkan lebih baik dia diam saja dan membiarkan wanita berbodi aduhai itu berlalu. Tetapi kali ini sepertinya tubuh dan hatinya tidak berpijak di tempat yang sama. Berperang dengan diri sendiri, Bram akhirnya mengambil langkah, merasa dia harus mendapatkan penjelasan. Jika bukan penjelasan, setidaknya dia ingin melakukan sesuatu. Entah apalah, dia pun belum tahu pasti.
Sekuat tenaga ingin mengabaikan apa yang baru saja terjadi di antara mereka, Bram nyatanya kalah dengan hasrat yang terpendam lama.
Menyeburkan diri ke dalam kolam dan telah membelah air, Bram buru-buru naik dari sana. Menyeimbangkan tubuh dan menuju handuknya, lelaki itu berusaha secepat mungkin melesat untuk menuju Marin yang hampir hilang di balik pintu.
Bahkan Bram hampir jatuh terpeleset, bersyukur dia masih mampu menyeimbangkan badan dengan sangat baik hingga tidak berakhir dengan dentuman di lantai.
Memandangi tiga lift yang masih terus bergerak, Bram merasa dia tidak punya waktu untuk menunggu. Memutuskan untuk mengejar gadis itu, Bram beralih langkah ke arah pintu darurat, menuruni tangga satu per satu untuk menuju lantai apartemennya. Dia berlari, berpacu dengan waktu.
Tanpa Bram sadari, semesta memang telah mendukungnya. Marin baru saja hendak meraih handle pintu apartemennya, saat langkah kaki Bram telah terhenti tepat di belakang gadis itu. Menoleh, Marin tampak sedikit terkejut, namun kali ini bukan terkejut yang dibuat-buat.
"Bram?" Maniknya telah menyorot pada sosok Bram yang kini bertelanjang dada, menampakkan bentuk tubuh bagian atasnya dengan sangat jelas. Marin sempat ragu sesaat, apakah dia harus menunduk saja atau dia akan terus memandangi perut Bram yang tampak kencang nan menggoda.
Lelaki itu masih mengatur napasnya, terengah karena olahraga dadakan yang dia lakukan.
Kau telah mencobaku, Marin. Kini aku penasaran apakah sebuah kecupan memang tidak berarti apa-apa untukmu.
Bram menarik napas panjang, mengatakan kalimatnya dalam satu helaan napas.
"Marin, kau mau makan malam di apartemenku?"
***
Marin tidak pernah diajarkan untuk menolak kebaikan. Sebaliknya, dia ingat dengan benar bagaimana ibunya selalu berkata saat menyisiri rambutnya, bahwa dia harus sebisa mungkin menerima dan membalas kebaikan orang lain. Ibunya juga mengemukakan dua alasan penting saat mengajarinya hal itu.
Pertama, terimalah kebaikan yang diberikan oleh orang lain, atas wujud syukurmu karena Tuhan masih mempertemukan dengan orang baik. Kedua, balaslah kebaikan untuk orang yang telah melakukan kebaikan untukmu, guna memastikan orang yang memberi kebaikan merasa dihargai. Sesederhana itu.
Sebab itulah dia sama sekali tidak menolak ajakan dari Bram, saat lelaki itu mengajukan tawaran untuk makan malam di apartemennya. Lagi pula Marin tahu Bram bukan seorang laki-laki yang jahat, dan dia sama sekali tidak punya pikiran negatif pada lelaki itu. Bahkan Marin telah membawa sebotol sampanye, yang dia berikan pada Bram sebagai hadiah.
Menyantap makan malam yang disediakan Bram untuknya, Marin melebarkan senyuman sebagai bukti bahwa dia menikmati masakan yang disuguhkan oleh lelaki itu. Meski tidak seenak makanan restoran, tapi Marin harus mengakui bahwa Bram termasuk pada pria yang punya keahlian memasak di atas rata-rata.
Berpatokan pada prinsipnya tadi, Marin secara otomatis bangkit dari kursinya dan memungut piring kotor, melangkah tanpa ragu menuju westafel. Meski Bram sempat melarangnya, dia telah berargumen bahwa dia perlu untuk membalas sebuah kebaikan, bagaimanapun caranya.
"Kau telah memberiku makan malam gratis, Bram. Sebagai gantinya aku akan mencuci piring untukmu."
Dan begitulah Bram hampir saja terpana saat menyaksikan Marin dengan cekatan meraih sarung tangan, menyabuni piring dan membilasnya hingga mengkilap. Bahkan gadis itu meletakkan piring-piring itu di tempat yang benar.
Tanpa sadar Bram bergumam, masih mencerna apa yang dia saksikan malam ini. Marin sungguh tampak lihai, sekaligus cekatan. Sepertinya tidak tampak keraguan pada setiap gerakannya, menandakan mungkin dia telah terbiasa melakukan itu sebelumnya.
Mengapa kau tampak menarik saat ini, Marin? Apa yang kau lakukan padaku?
"Baiklah, Bram. Terima kasih. Aku pergi." Marin telah memecah keheningan, mengembangkan senyumannya untuk mengucapkan selamat tinggal seraya berjalan pelan menuju arah pintu.
"Baiklah. Kuantar kau hingga pintu depan." Bram berujar pelan, telah mengambil langkah tepat di depan Marin. Dia akan mengantar Marin pulang dengan selamat, meski mereka hanya terpisah oleh sebuah lorong.
Marin tertawa kecil. Namun tiba-tiba dia kembali terkejut, saat Bram entah mengapa menghentikan langkahnya. Lelaki itu berbalik, kini menatap pada manik Marin dengan penuh tanda tanya, menerka-nerka dalam hati.
Apakah sebuah kecupan berarti sesuatu untukmu, Marin? Atau mungkin tidak berarti apa pun?
"Kenapa, Bram?" Marin bertanya bingung, tidak melepaskan tatapannya dari lelaki itu.
Bram mendesah pelan.
"Uhm, kau bilang kau harus membalas kebaikan seseorang padamu, iya kan?" Bukannya menjawab, Bram malah berbalik bertanya.
"Sebaiknya begitu, Bram." Masih tidak memahami ke mana arah pembicaraan Bram, namun dia menjawab pelan.
Lakukanlah, Bram. Dan lihat apakah itu berarti sesuatu untuknya.
Bergumul dengan pikirannya beberapa saat lalu, Bram ternyata telah mengambil suatu kesimpulan. Kesimpulan yang entah akan dia sesali di kemudian hari atau tidak. Mendekat, kini Bram gantian mengecup bibir merah muda milik Marin, mengalirkan perasaan yang dia tidak tahu apa.
Bram tahu Marin terkejut, namun sepertinya gadis itu terlalu pandai dalam hal menguasai diri. Tepat sebelum Marin memagut bibirnya, Bram telah beringsut menjauhkan wajah.
Kau hampir saja memagutku, Marin. Apa kau sedang tidak sadar atau memang kau hanya ingin?
Memandangi Marin sekilas dengan tatapan penuh penasaran, menerka reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan oleh gadis itu. Namun Marin malah tersenyum, rona wajahnya sungguh tidak berubah sama sekali.
"Terima kasih, Bram. Selamat malam," ucap gadis itu jelas, telah melangkah dari apartemen milik Bram untuk keluar dari sana.
Bram dapat melihat punggung Marin yang menghilang, saat gadis itu meraih gagang pintu dan masuk ke apartemennya tanpa melihat lagi ke belakang.
Masih berada di ambang pintu, Bram tanpa sadar tersenyum tipis.
Marin, apakah ini pertanda kisah kita baru saja dimulai?
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Readers, siap untuk perjalanan cinta yang sebenarnya? 😊