
“Mungkin aku tidak perlu bertanya. Kau telah memberikan jawabannya lebih dulu.” ~Marinda Schoff.
.
.
.
Tidak ada yang mampu mengelabui takdir. Meski sekuat apapun seseorang menyembunyikannya, waktu kelak akan mengungkap dengan gamblang meski dengan ritme yang begitu pelan. Mendengar nama itu menyeruak hadir kembali, Marin tidak berkata apapun. Membiarkan tangannya masih berada dalam genggaman tangan Bram yang terasa erat, gadis itu memilih untuk hening seribu bahasa.
Kau menyimpannya dengan sangat baik, Bram. Aku hampir saja lengah dan salah menarik kesimpulan atas sikapmu padaku.
Manik kebiruan Marin menatap lekat pada sosok Bram yang masih tertidur pulas, tampak napas lelaki itu naik turun dengan teratur. Marin tidak tahu semabuk apa Bram malam tadi atau seberapa banyak alkohol yang ditenggak oleh lelaki itu. Satu-satunya yang dia ingat ialah detik-detik saat dia hampir saja kehilangan kesadaran, dia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan. Alkohol mengambil alih kesadarannya, membuatnya tidak mampu berfikir jernih.
Maafkan aku, Bram. Seharusnya aku memang tidak berharap meski sekecil apapun. Aku seharusnya tahu kau benar menutup dirimu rapat-rapat.
Perlahan-lahan Marin melangkah mendekat. Menuju ke arah ranjang tempat dimana Bram berbaring, gadis itu melepaskan cengkraman Bram dengan gerakan yang sangat perlahan. Khawatir lelaki itu mungkin akan terusik dan kemudian bangun, Marin mencoba menimbulkan sedikit sekali suara agar tidak berisik.
Meletakkan kembali lengan Bram di sisi tempat tidur, Marin menarik napas panjang. Dia seharusnya tahu bawa dia datang untuk misi, bukan untuk sesuatu yang lain. Seharusnya dia menyadari bahwa misinya saja sudah terlalu sulit, dan tampaknya bermain dengan perasaan hanya akan menyulitkan keadaan.
Merasa hampir saja terbawa arus yang entah bermuara kemana, Marin kini menarik garis tegas antara dirinya dan lelaki itu. Memasuki hati seseorang yang pernah terluka sebab ditinggalkan, mungkin memang tidak pernah semudah membalikkan telapak tangan.
Tertutupnya Bram selama ini, seharusnya jadi pengingat bagi Marin bahwa lelaki itu tidak siap untuk membuka diri. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba, tidak peduli saat bahkan dia mengabaikan dirinya sendiri.
Marin mendesah. Masih berdiri tegak di tempatnya tadi, fikiran gadis itu telah melalang buana ke segala arah. Memperhatikan sinar matahari yang begitu terik saat ini, Marin sadar dia hampir saja melupakan jati dirinya sendiri. Tidak lagi merasakan lapar yang tiba-tiba menguap entah kemana, gadis itu memutuskan untuk melangkah ke arah lemari besar guna mengambil sesuatu.
Berganti pakaian dengan cepat, langkahnya telah menuntun untuk menuju ke arah pintu agar dia bisa keluar dari ruangan yang mulai terasa sesak. Mengayunkan kakinya dengan gerakan cepat, Marin telah mengarah ke arah lift. Meneggelamkan diri di antara air kolam yang dingin mungkin akan membantunya merasa lebih rileks pagi itu.
***
Bram tersadar tidak lama setelah Marin meninggalkan apartemennya. Membuka mata dengan perlahan, lelaki itu mengamati ke sekeliling ruangan, menyadari tiba-tiba bahwa dia tidak berada di tempatnya seharusnya.
Ini bukan apartemenku.
Beringsut bangkit, Bram masih merasakan pusing yang melanda area kepala bagian kiri. Bersandar pada ujung ranjang untuk mengumpulkan nyawa yang masih beterbangan, lelaki itu berusaha menggali kembali memori tentang apa yang terjadi malam kemarin.
Perlahan demi perlahan kepingan ingatan itu bermunculan, membantu Bram mengingat dengan jelas mengapa dia bisa terdampar di apartemen milik Marin, khususnya berbaring di atas ranjang gadis itu. Mencari sosok pemilik apartemen, Bram ingin menjelaskan kronologi kejadiannya yang mungkin saja Marin ingin dengarkan. Seingatnya, mereka berdua terlalu dipengaruhi alkohol dan Marin hampir saja tidak bisa berjalan dengan baik. Meski dia berfikir awalnya untuk membawa gadis itu ke dalam apartemennya, Bram masih sempat berfikir jernih bahkan saat dia hampir tumbang.
Jika dia membawa Marin ke apartemen miliknya, Bram khawatir Marin akan berfikir yang tidak-tidak, atau memiliki dugaan lain terhadapnya. Sebab itulah dia akhirnya membopong Marin menuju pintu apartemen gadis itu, memeriksa apakah Marin masih mengingat kode sandi pintunya. Dalam beberapa kali percobaan, Marin rupanya tidak mengingat kombinasi sandinya dengan baik. Hampir saja mereka berbelok kembali ke arah apartemen lelaki itu, saat tiba-tiba Marin tertawa kecil dan menempelkan jari telunjuknya di mesin detector. Ternyata gadis itu memasang mode sidik jari dan tampak senang sebab telah mengerjai Bram sebelumnya.
Dan begitu saja Bram memapah Marin memasuki apartemen gadis itu, membawanya ke arah ranjang dan membaringkannya di sana. Entah bagaimana, rasanya Bram tidak memiliki tenaga lagi untuk bangkit setelah Marin meringkuk. Hingga akhirnya dia juga mengambil posisi tepat di sebelah gadis itu, berniat untuk membaringkan saja tubuhnya yang sudah terlalu lelah.
Tanpa berniat apapun, Bram sungguh hanya ingin istirahat. Dia tidak menginginkan apapun, terlebih lagi dia bukanlah orang jahat yang bisa melakukan hal sesuka hati pada Marin.
Kini, lelaki itu telah sepenuhnya bangun dan tersadar dari tidur panjangnya. Menatapi sekeliling apartemen Marin, tidak ada tanda-tanda kemunculan sang pemilik di sana.
“Marin?” Suara serak Bram memenuhi ruangan, menggema tanpa jawaban.
Menggelengkan kepalanya yang masih sedikit pusing, Bram menurunkan kedua kakinya ke atas lantai. Tidak sengaja memandangi secarik kertas berwarna kuning yang terletak di atas nakas, buru-buru lelaki itu mengambil dan membaca isi yang tertulis di sana. Itu tulisan tangan Marin.
~Aku ada urusan penting, Bram. Makanlah sebelum kau kembali. Marin.~
Begitu beberapa kata yang dituliskan Marin di atas kertas, memberikan pesan setidaknya agar tamu tak diundang itu tidak kebingungan saat dia tidak berada di sana. Setelah menyelesaikan olahraga paginya beberapa menit lalu, gadis itu memutuskan untuk pergi mengunjungi kantor Leah, meski dia tidak punya sesuatu yang penting untuk dilakukan di sana.
Marin hanya tidak ingin menatap manik Bram, dia hanya belum siap. Berfikir dia mempunyai kesempatan untuk bertanya tentang kehidupan dan rahasia yang dikunci erat-erat oleh lelaki itu, Marin tampaknya sudah memutuskan sesuatu. Tepat setelah dia mendengar sendiri apa yang keluar dari bibir Bram pagi tadi, kalimat yang benar-benar jelas menyatakan bahwa lelaki itu mungkin masih mencintai orang yang sama.
Bram menarik napas pendek-pendek. Maniknya masih memandangi lekat ke arah notes tadi, sebelum akhirnya dia meletakkan kembali ke atas nakas. Mengedipkan matanya berulang kali, lelaki itu hanya memohon sesuatu di dalam hatinya. Memohon agar dia tidak melakukan kesalahan, khawatir dia lepas kendali saat alkohol mengambil alih dirinya.
Terima kasih sebab kau mengerti dan tidak bertanya, Marin. Kuharap aku benar-benar tidak berkata sesuatu yang aneh atau menyakitkan, saat aku kehilangan kesadaran.
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~Alon-alon yaw cekgu ... maafkan lama up sebab ada hal yang mendesak di dunia nyata ... sabar adalah koentji yaa 😅