Travelove~

Travelove~
19. Bunga



"Aku menyimpanmu dalam hatiku. Meski tidak banyak waktu yang kita lalui bersama-sama." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Matahari pagi tampak sudah mengambil alih bumi. Memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru, sinar itu tanpa sadar sedang memberikan kehangatan pada seseorang.


Bram muncul dari dalam kolam untuk mengambil jeda sejenak, melirik pada arloji tahan air yang dia kenakan pagi itu. Hampir pukul delapan pagi, dan dia masih punya sekitar dua jam sebelum jadwal meeting pertamanya. Bertumpu pada pinggiran kolam, lelaki itu membiarkan sinar mentari menghangatkan sebagian tubuhnya yang terekspos, berharap sinarnya akan membuatnya tidak lagi merasa dingin.



Merasa cukup, lelaki itu kembali membelah lautan air untuk berenang ke arah tangga. Menegakkan badan seraya meninggalkan kolam, Bram menuju handuknya yang tersampir pada sebuah kursi panjang. Mengeringkan tubuh sekenanya, lelaki itu melangkah pelan untuk meninggalkan kawasan kolam, telah berdiri tepat di depan lift dan menunggu.


Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka. Senyuman merekah lebar di wajah tampan Bram, saat maniknya bertemu dengan manik seseorang yang telah lebih dulu berada di dalam sana. Bram melangkah masuk.


"Marin, kau dari mana?" Mengambil posisi tepat di samping Marin yang juga tersenyum, Bram melirik sekilas pada beberapa kantung belanjaan yang dipegangi Marin.


"Hai, Bram. Aku dari mini market bawah. Kau baru saja berenang? Aku lupa menekan tombol lantai dan tanpa sadar terbawa hingga ke atas sini."


Bram mengangguk kecil.


"Baiklah. Siapa sangka kita akan bertemu, kan? Kau sudah sarapan?"


"Baru saja, Bram. Kau tidak ke kantor?"


Bram memainkan handuk kecil di belakang kepalanya, mengusap rambutnya yang basah.


"Sebentar lagi. Tidak terlalu banyak pekerjaan hari ini," jawab lelaki itu.


Marin kembali tersenyum. Suara dentingan lift terdengar, menandakan keduanya sudah sampai di lantai tujuan mereka. Keluar dari sana bersamaan, Marin melangkah lebih dulu. Hingga keduanya mendekati pintu apartemen, Bram menghentikan langkah.


"Marin," panggilnya pelan. Membuat Marin refleks menoleh, membalikkan badan untuk menghadap lelaki itu.


"Hmm?" Marin menaikkan alisnya.


Bram mengusap lengan, mengusir rasa canggung.


"Apa kau ada waktu malam nanti?" tanyanya.


Belum sempat Marin menjawab, Bram telah kembali bersuara.


"Aku perlu mencari sebuket bunga. Tetapi aku tidak tahu bunga apa yang bagus dan menarik. Kufikir kau mungkin lebih memahami selera wanita, apa kau mau menemaniku?"


Marin hening sesaat. Telinganya menangkap seluruh kata yang diucapkan jelas oleh Bram, berusaha mencerna informasi dengan sangat baik.


Kau akan membeli sebuket bunga, Bram?


Meski memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya, sejurus kemudian Marin sudah menganggukkan kepala.


"Tentu, Bram. Aku memiliki banyak waktu. Pukul berapa kita akan pergi?" Seutas senyuman sudah terukir pada wajah Marin.


"Bagaimana kalau pukul tujuh?"


Mengangguk lagi gadis itu.


"Baiklah, Bram. Aku akan bersiap pukul tujuh. Sampai jumpa!" ujar Marin kemudian, telah melanjutkan beberapa lagi langkahnya untuk mencapai gagang pintu apartemen miliknya.


Bram masih memandangi punggung Marin yang kini menghilang di balik pintu, sebelum akhirnya dia juga masuk ke apartemennya dan bersiap untuk berangkat kerja.


***


"Bunga apa yang kau suka, Marin?" Bram melirik sekilas ke arah Marin yang duduk di kursi penumpang, tampak sedang memperhatikan arah depan. Tangan lelaki itu masih memegangi setir, berkonsentrasi pada jalanan yang berada di depannya.


"Aku? Hmm, mungkin mawar merah akan jadi pilihanku, Bram. Warnanya yang menyala tampak indah untukku." Suara khas milik Marin memenuhi mobil Bram.


Itu cocok untukmu, Marin. Merah. Seperti dirimu yang menyala terang.


Bram tersenyum. Membelokkan mobilnya menuju sebuah florist, dia telah memarkirkan mobil dengan sangat piawai. Marin telah lebih dulu melepaskan sabuk pengamannya, kini meraih gagang pintu untuk keluar dari sana. Diikuti Bram yang juga melakukan hal yang sama, lelaki itu mengambil posisi bersisian dengan Marin untuk memasuki toko yang penuh dengan bunga.


"Selamat datang." Sebuah suara ramah dari gadis yang tampak muda, memberikan sambutan hangat pada dua insan yang baru saja memasuki toko.


"Anda mencari bunga apa, Tuan?" Sang pelayan sudah menghampiri mereka, berdiri tepat di depan dengan menjaga jarak aman.


Bram melirik sekilas pada Marin yang tampak sedang memperhatikan sekitar, tanpa sadar menyunggingkan senyuman sebab dia sedang menikmati keindahan dan wangi semerbak dari berbagai macam bunga yang ada. Bunga adalah keindahan, dan Marin suka akan hal itu.


"Berikan aku dua buket mawar merah," ujar Bram dengan sedikit berbisik kepada sang pelayan, yang diikuti dengan anggukan tanda mengerti dari pelayan itu.


Marin tampaknya tidak mendengar apa yang Bram minta, saat dia melangkah kecil-kecil untuk menuju tempat dimana bunga-bunga itu diletakkan. Maniknya membesar, dan wajah Marin tampak sangat berbinar. Bram mengikuti langkah kaki gadis itu, kini berada tepat di belakangnya.


"Kau begitu menyukai bunga, Marin?" Pertanyaan Bram yang tiba-tiba membuat Marin sedikit terkejut. Berbalik badan, gadis itu kini berada tepat di hadapan Bram, dengan jarak yang amat sempit.


"Uhm, tidak juga Bram. Hanya saja berada di antara bunga seperti ini terasa sangat menyenangkan." Berusaha mengatur deru napas yang tiba-tiba meningkat, Marin memandangi dada bidang Bram yang masih berdiri tegap. Lelaki itu tersenyum.


"Kau mau memilih untukmu?" tawarnya.


Marin menggeleng.


"Tidak usah. Ah, bunga apa yang kau cari? Kau sudah dapatkan?" Tiba-tiba teringat bahwa kepergiannya bersama lelaki ini bertujuan untuk membantu Bram memilihkan sebuket bunga. Buket yang Marin penasaran akan diberikan Bram ntuk siapa, tetapi dia menahan diri untuk tidak bertanya.


"Sudah. Aku sudah memilihnya."


Marin terdiam sesaat.


"Ah, benarkah? Bunga apa yang kau pilih?" Masih merasa canggung sebab dia dan Bram rasanya terlalu dekat, tetapi Marin diam-diam menikmati keadaan.


"Mawar merah. Seperti bunga kesukaanmu. Kau tidak penasaran aku membelinya untuk siapa, Marin?" tanya Bram dengan tatapan dalam, menatap pada manik kebiruan Marin yang selalu tampak indah.


"Ah... aku memang penasaran. Apa aku boleh bertanya?" Marin ragu-ragu.


Kali ini membuat Bram menyunggingkan senyuman, masih mempertahankan posisinya yang begitu dekat dengan Marin. Tidak mempedulikan beberapa pasang mata yang mengarah kepada mereka, diselingi dengan bisik-bisik yang tidak dapat terdengar jelas. Mungkin mengagumi ketampanan dan kecantikan keduanya, mungkin menerka hubungan apa yang terjadi antara keduanya, atau malah hanya sedang bergosip ria.


"Mengapa kau menahan diri dengan sangat baik saat kau sebenarnya penasaran, Marin?" Belum menjawab, Bram malah mengajukan pertanyaan lain.


Membuat Marin mengerjapkan mata, memandang penuh tanda tanya pada Bram.


"Ah, itu. Aku memang penasaran, Bram. Namun aku berfikir mungkin aku tidak punya hak untuk menanyakan tentang itu padamu," kata gadis itu pelan.


Bram hening. Menyadari panggilan dari sang pelayan yang telah hadir di belakangnya, Bram menoleh cepat. Meraih sebuket bunga yang disodorkan oleh pelayan tadi, Bram kini membawa buket mawar merah itu ke hadapan Marin.


"Untukmu, Marin." Bram mengembangkan senyuman tipis. Marin masih diam mematung untuk beberapa detik.


"Terima kasih, Bram," ujarnya saat menerima sebuket bunga mawar merah, kini memeganginya di tangan kanan.


Bram mendekat, mempersempit jarak di antara kedua, dengan senyuman yang masih bertengger di sudut bibirnya. Menunduk untuk menuju samping telinga kiri Marin, Bram bersuara pelan.


"Mulai sekarang bertanyalah apapun, Marin. Karena aku akan selalu menjawabmu, tidak peduli sesulit apakah pertanyaan itu."


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Hai... jangan lupa klik tombol like dan vote terus cerita ini ya. Sampai jumpa 😊