
"Ibu, aku datang. Kuharap kau akan senantiasa senang di sana, meski dimensi memisahkan kita." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
"Duduklah, Michael. Kau mau minum apa?" Marin mempersilakan tamu tak diundangnya untuk menduduki sofa, saat dia sendiri berbelok ke arah pantry untuk menuju kulkas.
"Bir saja, kalau kau punya," jawab Michael tanpa ragu, kini memilih sebuah sofa berukuran dua orang dan duduk di atasnya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemen Marin, lelaki itu menggumam dalam hati. Mengagumi perabotan yang tampak mahal, diam-diam menduga jika Marin tampaknya bukanlah seseorang yang berlatarbelakang orang biasa.
Marin datang dengan beberapa kaleng bir di tangannya. Meletakkan kaleng itu di atas meja, dia sudah mengambil posisi bersebrangan dengan Michael yang duduk tegak sembari melebarkan sedikit kedua kakinya.
"Maaf, aku tidak tahu ponselku kehabisan baterai. Jadi, apa yang kau temukan?" Marin berujar cepat, telah membuka obrolan di antara keduanya.
Michael yang sudah mengangkat kaleng birnya lalu menarik kembali kaleng itu perlahan, menjauhkan dari bibirnya setelah beberapa tegukan.
"Tunjukkan fotonya padaku, Nona Schoff. Aku belum bisa menyimpulkan, tetapi bukankah kau meminta untuk tetap menyelidiki meski kemungkinannya sangat kecil, benarkan?"
Marin mengedipkan mata. Mengangguk kecil pertanda dia setuju akan kalimat Michael yang baru saja mengudara, gadis itu bangkit kali ini.
"Apakah kau menemukan sesuatu yang spesifik, Michael?" tanyanya sembari berjalan menuju sebuah lemari, mengayunkan tangan untuk menarik sebuah laci kecil di sana.
"Tidak, belum. Aku hanya ingin memastikan wajahnya."
Marin menoleh. Telah menarik selembar foto dari dalam laci, dia kembali mendekati posisi duduk Michael dan menyodorkan foto itu.
"Hanya ini yang kau punya, Marin?"
Michael memperhatikan wajah wanita di foto itu lekat-lekat. Berusaha mengidentifikasi dan menyimpan wajah itu dengan baik, meski dia tanpa sadar mengerutkan kening. Wanita di foto itu tampak mengenakan riasan ala wanita Jepang, yang kemudian bisa saja menampilkan garis wajah berbeda dengan wajah tanpa rias yang sebenarnya. Merogoh ponselnya, Michael memotret kembali foto itu, menekan tombol di ponselnya beberapa kali.
"Baiklah. Kusimpan ini sekarang." Mengembalikan foto itu ke arah Marin, Michael lalu menyimpan kembali ponselnya ke saku belakang celana.
"Hubungi aku jika kau memerlukan sesuatu, atau jika kau menemukan sesuatu," ujar Marin kemudian, menatap lurus pada wajah Michael yang masih berada tepat di sebrang kursinya.
Michael tersenyum tipis, sembari mengangguk pelan.
"Baiklah, Marin. Aku pergi dulu." Lelaki itu telah bangkit, kini menegakkan badan dan melebarkan senyuman.
"Baiklah. Sampai jumpa lagi, Michael."
Mengantar Michael hingga ke arah pintu depan, Marin telah meraih gagang pintu dan membukakan pintu itu guna memberikan jalan pada Michael untuk keluar dari sana.
***
Bram memandangi Marin lekat-lekat. Memiliki begitu banyak pertanyaan di benaknya, namun dia tidak tahu harus memulainya dari mana. Lebih memilih diam sepertinya adalah pilihan cerdas, meski dirinya sendiri begitu ingin tahu tentang apa yang terjadi di apartemen gadis itu malam kemarin.
Siapa lelaki itu? Apa hubungannya denganmu, Marin? Hal apa yang jadi topik pembicaraan kalian kemarin malam?
Pertanyaan-pertanyaan receh yang Bram tahu sebenarnya dia tidak punya hak untuk menanyakannya. Terlebih itu akan mengusik kehidupan pribadi gadis bermanik biru ini, tidak peduli meski niatan Bram hanya sekedar 'ingin tahu'.
"Bram?" Marin maju dua langkah, mendekatkan dirinya pada tubuh Bram yang tampak kaku. Memandang ke arah lelaki itu, Marin tampak kebingungan.
"Bram?!" Kali ini menaikkan nada suaranya, hingga membuat Bram tersentak kecil. Ternyata Bram sedang larut dalam lamunannya.
"Eh? Baiklah. Ayo kita berangkat," berujar cepat lelaki itu sembari menguasai diri, telah berjalan lebih dulu meninggalkan Marin.
Mereka akan segera pergi, mengunjungi mendiang ibu Bram yang sedang berulang tahun hari ini.
***
Mendiang istri Brio Trahwijaya dimakamkan di sebuah pemakaman elit nan asri, yang didominasi dengan warna hijau dari rumput dan pepohonan yang terawat dengan baik.
Bram mengiringi Marin untuk melangkah mendekati sebuah tangga yang tidak terlalu tinggi, memberikan isyarat bahwa mereka harus menaiki anak tangga itu. Marin dapat membaca papan tanda yang bertuliskan 'Clausterion' terpasang jelas di gapura saat mereka menginjak anak tangga paling atas. Membawa mereka ke salah satu cluster yang terletak di kiri jalan, Bram berbelok untuk menginjak rerumputan pendek yang tampak kering. Perlahan menghentikan langkah, Bram telah menatap dalam pada sebuah makam dengan sebuket besar bunga yang sudah terletak di atasnya.
Marin berdiri tepat di samping Bram. Melirik sekilas lelaki itu menundukkan kepala dan menyunggingkan senyuman, Marin mengambil kesimpulan bahwa Bram memang telah lama tidak berkunjung. Air muka lelaki itu berubah, kini tanpa sadar memancarkan aura kerinduan. Menatap ke arah nisan itu sekilas, Marin dapat membaca dengan jelas nama yang tertera di sana.
Ki Rei.
"Ma, aku datang," Bram berbisik pelan. Meletakkan sebuket bunga mawar merah yang dibelinya kemarin malam, tepat di samping buket besar bunga yang dia tahu itu adalah pemberian ayahnya. Brio Trahwijaya telah lebih dulu singgah sebelum dia hadir di sana.
"Selamat ulang tahun, Ma." Suara Bram mengudara dengan sangat pelan, hampir terdengar gemetar.
Setelah sekian tahun tidak muncul di sana, Bram tidak tahu bahwa kemunculannya hari itu akan membawa kerinduan yang begitu mendalam. Memandangi ukiran nama ibunya yang terpahat, Bram berusaha sekuat tenaga menahan emosi kesedihan yang mulai mengambil alih. Entah bagaimana kenangan itu kembali berputar begitu saja, meski dia telah bertekad dia tidak akan goyah lagi.
Marin terdiam. Memandangi Bram yang tampak seperti bukan dirinya, lelaki itu terlihat begitu berbeda. Itulah sebabnya orang berkata sekuat apapun dirimu, ibu tetaplah tempatmu kembali. Tidak peduli apakah dia masih hidup, atau bahkan telah lebih dulu menghadap Ilahi.
"Ma, aku rindu." Berguncang kecil bahu Bram saat dia mengucapkan kalimatnya, sebab terlalu banyak perasaan yang campur aduk di dalam hatinya. Perasaan bahagia, sedih, menyesal, hingga rasa bersalah yang mulai terasa silih berganti.
Bram tidak ingin melemah. Terlebih lagi dia bersama Marin di sana, dia sungguh tidak ingin Marin melihat sisinya yang lain. Tetapi tidak begitu dengan hati.
Marin mendekat, mempersempit jarak di antara mereka. Meski dia belum mengucap sepatah kata pun, maniknya lekat memperhatikan semuanya sejak tadi. Guncangan di bahu Bram dan suara lelaki itu yang terdengar sedikit gemetar, membuat Marin lagi-lagi menyimpulkan keadaan dengan cepat.
Kau boleh menangis, Bram. Tidak masalah.
Melirik Bram yang masih menunduk dan menyembunyikan wajahnya, Marin telah meraih lengan kiri pria itu dan membawanya dalam genggaman. Mengalirkan kekuatan, ingin mengatakan bahwa Bram tidak sendirian saat itu.
Merasakan tangan hangat Marin yang menggandeng tangannya, Bram menaikkan kepala perlahan. Dia sungguh tidak ingin menatap Marin, tetapi genggaman gadis itu menuntutnya untuk melakukan demikian.
Saling menatap lurus, Marin memberikan sebuah senyuman.
"Kau kuat, Bram. Menangislah jika kau sedih. Apa kau ingin meminjam pundakku?"
Bram tertegun sejenak.
Kau tidak boleh melihat sisi lemahku, Marin. Bahkan sisi ini tidak kutunjukkan pada siapapun termasuk pada mantan istriku. Tetapi entah mengapa tawaranmu terdengar sungguh menggiurkan.
Tidak bersuara, Bram telah menghambur ke dalam pelukan Marin, memecahkan kesedihannya di pundak gadis itu. Merasakan tepukan lembut dari tangan Marin di punggungnya, Bram benar-benar larut dalam kesedihan yang tidak dia duga.
Menangislah, Bram. Kau juga hanya manusia biasa.
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~Jangan lupa tekan jempol 👍