
mendengar jawaban yang di lontar kan oleh Mahen yang terdengar sedikit ambigu bagi nya kini hanya membuat nya memutar bola mata nya malas dalam menanggapi
"kamu sudah makan belum Za, mau kakak goreng kan ikan, atau kamu makan whiskas saja?" tanya nya yang tidak berhenti mengelus lembut kepala Mauza dengan sayang
melihat hal itu, kini hanya membuat Mahen terdiam saja, antara ragu ingin menyapa nya kembali atau kah tidak
dari sorot mata nya bisa terlihat jelas, jika laki laki ini ingin sekali mengeluar kan suara nya kembali, namun hati nya kian merasa ragu antara menjawab meski tidak di tanya sekali pun
"Za,, kamu tunggu kakak sebentar ya, atau,, apa kah kamu juga mau ikut kakak ke dapur, ayo,, kita ke dapur saja sama kamu, temani kakak di dapur ya?" ajak nya seraya beranjak
"eh eh,, kamu mau ke mana?" tanya Mahen yang mencegah nya, benggenggam tangan kanan nya dengan lembut, dan lagi lagi mengundang putaran bola mata malas dari diri nya
"ke dapur,, aku mau goreng ikan dulu buat Mauza,," jawab nya yang membuat Mahen ikut berdiri juga
"aku ikut ya,, aku,, aku mau,, cuci tangan,, ya,, cuci tangan,," seru Mahen yang terdengar gugup dan gelagapan
"hhhhh,, terserah,," jawab nya seraya kembali berjalan ke arah dapur dan meninggal kan Mahen yang masih terdiam
"ais,, kamu bisa menunggu ku barang sebentar nggak sih Ay,, main tinggal tinggal kan terus ih,," ujar Mahen lagi seraya berlari ke arah nya
diri nya yang merasa mulai malas dalam menanggapi ocehan dari Mahen kini hanya memasang raut wajah datar nya saja di kala terus berjalan menuju arah dapur
"Ay,, sini deh, biar Mauza aku yang gendong,, kasihan kamunya lagi masak, pasti nanggung?" imbuh Mahen seraya mengambil alih Mauza di gendongan nya
"kamu tunggu di sini sama Ayah saja ya Za,, ibu nya kasihan kalau masak sambil gendong kamu?" tutur Mahen seraya mengelus lembut kepala Mauza yang sekarang ada di gendongan nya
namun hal itu rupa nya kini berhasil membuat diri nya yang mendengar sedikit emosi dan merasa jengkel yang benar benar tinggi
"hhhhh,, siapa yang kamu sebut ibu?" tanya nya dengan bersedekap dada juga tangan kanan yang masih memegang spatula yang sudah panas
"kamu lah,, siapa lagi,, Mama bilang juga kayak gitu kan, kamu jadi ibu, aku jadi Ayah nya buat Mauza, iya nggak Za?" jawab Mahen seraya menunduk melihat Mauza sekilas
"miau,," seakan paham dengan apa yang di bicara kan oleh kedua nya, kini Mauza pun menyahuti, membuat Mahen semakin mengembang kan senyum di buat nya
"tuh,, kamu mendengarnya sendiri bukan, Mauza saja mau, panggil kamu Ibu, kenapa kamu nya nggak mau sih?" tanya Mahen yang sudah tidak di tanggapi oleh nya dan memilih fokus pada mesakan yang sudah di dalam wajah
"Ay awas,,!!!" seru Mahen yang melihat wajan yang sudah berisi minyak panas itu meluap luap, yang berhasil membuat Mahen sendiri merasa khawatir
"kenapa,,?" tanya nya yang tiba tiba saja mendapat pelukan dari Mahen,, laki laki itu terlihat menyandar kan kepala nya di permukaan dada bidang nya
"ini kamu nggak lihat,, minyak panas nya meluap luap, takut nya kena kulit juga,, kan panas, nanti kulit kamu melepuh?" jawab Mahen yang beralih mengajaknya mundur menjauhi kompor yang sudah menyala itu
"ck,, gak usah lebay deh, itu belum aku tutup aja wajan nya, nanti juga kalau aku sudah memasukkan ikan nya aku tutup juga kok" jawab nya
"bukan nya lebay,, kamu tuh kenapa sih susah banget aku bilangin,, kamu nggak tahu saja kalau aku tuh khawatir sama kamu tahu nggak,, nyata nya orang yang di khawatir kan malah kayak gitu" jawab Mahen yang membuang pandangan nya dengan malas
"kenapa jadi ikut ikutan marah sih?" tanya Mahen yang seraya memandangi gerak gerik nya dari belakang
"Za,, ibu marah sama Ayah,, gimana dong,, kamu bilang sama ibu ya,, ibu jangan suka marah marah,, kalau ibu marah,, nanti cantik nya hilang,, Ayah jadi sedih kalau ibu marah,," ucap Mahen yang memandangi Mauza, dengan tutur kata yang sengaja di keras kan agar dapat di dengar oleh nya sendiri
diri nya yang memang bisa mendengar karena Mahen yang terlihat sengaja sedikit mengeras kan suara nya pun kini malah semakin malas menanggapi dan hanya fokus saja pada wajan di depan nya
"sini Za, makan siang nya sudah siap,,," panggil nya yang menoleh sekilas ke arah Mauza yang masih setia berada di gendongan Mahen
seolah mengerti dengan apa yang di bicara kan oleh nya, kini Mauza pun menurut dan segera berlari ke arah nya dengan rasa semangat
"ni,, awas tersedak ya Za,, kakak mau ganti outfit dulu,, mau bersih bersih juga,, kamu makan nya baik baik ya,, ini minum nya,,?" tutur nya seraya melangkah pergi setelah menyiap kan makan siang biasa untuk Mauza si kucing kesayangan nya
"Ay,, tunggu,, jangan diemin aku,, kamu kebiasaan banget deh suka nya diemin aku kayak gini,, sudah tahu aku nggak bisa didiemin orang nya" ucap Mahen yang terus mengikuti ke mana arah nya berjalan, membuat nya kembali memutar bola mata nya dengan malas
"apa si Nan, jangan mengikuti aku bisa nggak?" tanya nya dengan menepis tangan Mahen yang masih menggenggam erat tangan nya
"emmm,, itu,, aku,, aku juga mau makan siang,, seperti Mauza,, kita masak sama sama ya?" tanya Mahen dengan memelas membuat nya tidak tega di kala ingin mendiami laki laki ini
"hhhhh,, aku ganti baju dulu,, kamu tunggu di sana saja sama Mauza, nanti aku menyusul" jawab nya singkat kemudian kembali berjalan
...°°° ...
meja makan kini penuh dengan masakan dan keluarga kecil nya yang tengah makan siang bersama,, karena merasa simpati terhadap istri nya, Mahen pun mencoba membantu nya memasak tadi, jadi lah pekerjaan nya bisa di selesai kan dengan sedikit cepat
"Ay,, kamu kenapa si,, terus lihat dan perhatikan aku sejak tadi,, kamu ada mau bilang sesuatu,, atau,, kalau kamu mau bertanya,, tanya kan saja?" tanya Mahen yang terus menerus melihat nya memperhatikan sejak tadi
"kamu yakin,, nggak akan marah kalau aku tanya kan hal ini, maksud aku,, aku takut nya menyinggung perasaan kamu saja" jawab nya
"xixi,, ya nggak lah Ay,, aku ini suami kamu,, sudah berapa lama kita menjalin hubungan,, aku nggak pernah marah kok sama kamu" jawab Mahen seraya tersenyum
"tadi waktu di mobil kamu bilang itu apa, itu juga marah dengan tiba tiba bukan?" tanya nya kala mengingat sesuatu
"ya',, itu bukan marah,, kesal saja sama kamu,, kenapa kamu makin dekat sama anak kecebong itu sih,, dah lah,, nggak usah bahas dia,," jawab Mahen lagi
"ya sudah iya,, aku tanya kan saja sama kamu gitu ya?" gumam nya yang ternyata masih bisa di dengar oleh Mahen sendiri
"mau tanya apa,, tanya kan saja,, aku nggak bakalan marah sama kamu kok, lagi pula,, kalau pun aku marah,, aku nggak akan bisa marah lama sama kamu" imbuh Mahen lagi
_**That Naughty Girl Is My Wife (LDN)_
Kamis, 3 Agustus 2023**