
bergantian dengan hari kemarin, jika kemarin diri nya yang terlihat termenung, kini sore ini menjadi dia yang merenung, dengan gitar milik nya di pangkuan dia, pikiran laki laki ini rupa nya di penuhi dengan pertanyaan pertanyaan yang memenuhi dan berusaha dia cari jawaban nya, ingatan nya tertuju pada pembicaraan nya dengan kedua orang tua dari istri nya, bagaimana dia mendengar cerita demi cerita, juga penderitaan demi penderitaan yang selalu di derita nya selama ini
"kenapa kamu tanya kan hal ini Mahen?" tanya Papa yang terlihat seperti memendam rasa penasaran
"entah lah Pa, seketika aku merasa penasaran, aku bingung dengan semua nya, dari mulai Mama dan Papa yang tidak pernah cerita sama aku, mengapa?" tanya Mahen lagi
"nggak papa, Papa takut menyinggung hati nya, Papa tidak ingin membuat luka itu terbuka kembali dalam hati nya Mahen" jawab Papa seadanya
"lalu,, kenapa Mama sama Papa juga nggak ada pajang foto almarhum mas nya Ay?" tanya Mahen
"Mama, nggak mau buat Ayla sakit lagi Mahen, setiap dia melihat, meski hanya sekedar berupa foto nya saja,," Mama terlihat menggeleng sejenak tak yakin "dia pasti akan teringat kejadian itu, apa lagi dia yang sudah menjadi saksi dari kejadian itu sepulang dari Amerika dulu" jawab Mama dengan menerawang jauh di depan sana
"gitu yah Ma, maaf Ma, apa aku boleh tahu, seakrab apa kedekatan kedua nya dahulu?" tanya Mahen ragu ragu
mendengar hal itu, membuat kedua orang tua istri nya itu terdiam mematung, namun hanya beberapa detik
"mengapa kamu pertanyakan hal ini, apa kah terjadi sesuatu dengan nya di sana Mahen, apa kah kalian sedang menghadapi masalah, atau, apa kah dia sedang mencari masalah dengan mu?" tanya Papa dengan kening mengerut, merasa heran saja, mengapa menantu idaman nya ini menanyakan hal ini secara tiba tiba?
"nggak Pa, alhamdulillaah, Ay baik baik saja di sini, kita juga sedang tidak menghadapi masalah, hanya saja, dia izin ke toko buku tadi, temani sahabat nya sama aku, dia belum pulang, jadi bagaimana?" tanya Mahen lagi yang terdengar mendesak dan tidak sabaran dengan mendengar jawaban nya
"hhhhh,, kedua nya memang terlihat lebih akrab Mahen, jujur, sewaktu kedua nya masih kecil saja,, banyak yang bilang dan bahkan mengira, jika kedua nya lahir dalam keadaan kembar, padahal tidak sama sekali, konon kata nya, kedua nya mempunyai kejeniusan masing masing yang sama besar, kesamaan juga mendominasi antara kedua nya, entah itu dari kebiasaan, kepribadian, kesukaan, bahkan sampai hal sepele pun kedua nya selalu sama, beda nya hanya dari jenis kelamin saja" jelas Mama yang perlahan membuat Mahen mengerti
"kamu nggak tahu Mahen, meski pun hanya di beri tahu satu kali, tetapi dia memilih untuk menikah dengan mu, menuruti apa yang menjadi keputusan dari Papa sama Mama saat itu,," Mama terlihat menoleh sekilas ke arah Papa di samping nya "kami sebagai orang tua, pasti adalah orang yang bisa di percaya oleh nya, cepat atau lambat, Mama yakin, rasa nyaman itu, akan timbul dari benak kalian, entah dari kamu terlebih dahulu, atau kah dia, namun Mama percaya, sejauh ini, Ayla, putri tunggal Mama sudah menjadi istri mu, semua nya Mama percaya kan pada mu, Mama mohon bantuan mu untuk itu Mahen, sejak kalian menikah, dan sah secara hukum dan secara agama sebagai pasangan suami istri, ada beberapa hal, yang ingin Mama kata kan sama kamu, pertama, saat dia dalam masa sulit nya, dia suka makan makanan yang pedas, yang bisa membuat dia menangis, karena dia tidak ingin orang lain mengetahui kala dia menangis karena dalam kesulitan, sama dengan apa yang menjadi pertanyaan mu, kebiasaan ini sudah tertanam sejak lahir, pada kedua anak Mama, entah pada si sulung, atau kah si bungsu, hanya beda versi saja, jika dia perempuan, maka mas nya persis seperti nya, beda nya mas nya dalam versi laki laki, namun kedua nya benar benar anak kesayangan Mama dan Papa, kemandirian yang tumbuh pada diri kedua nya, membuat Mama begitu sulit, untuk bisa membuat kedua nya kecewa, yang kedua, dia selalu memiliki sebuah mimpi, untuk menjadi seorang yang mandiri, karena itu, di usia muda nya, dia berusaha meraih banyak kemenangan, namun sayang, masa lalu yang cukup pahit itu,, tidak bisa di hindari nya, jika dia di rumah, Mama nggak yakin bisa mengikhlaskan kepergian mas nya sepenuh nya, sekarang akhir nya, dia bisa meninggal kan rumah yang mungkin, memang begitu banyak kenangan bersama mas nya, Mama ikut merasa senang untuk nya, jadi, semoga kamu bisa memberi nya kebebasan dan dukungan, dan semoga kehidupan dia selanjut nya, tidak sama, seperti apa yang pernah di lalui nya di masa lalu kelam nya, kehidupan yang biasa, biar kan dia tetap mengejar mimpi nya, melakukan apa yang dia suka, hanya itu do'a Mama selama ini" jelas Mama yang memang di simak oleh dia sendiri
"selanjut nya, dia akan terus menatap langit, jika keadaan hati atau mood nya sedang rusak dan buruk Mahen, kamu bisa ikut menghibur nya jika kamu melihat nya selalu termenung dan melihat ke arah langit biru, jika demikian, maka bisa di pasti kan, hati nya sedang dilema" lanjut Mama
"baik Ma, Pa, terima kasih, atas kepercayaan nya, aku nggak bakalan buat dia merasa terkekang, percaya sama aku, aku nggak bakalan buat dia kecewa" jawab Mahen yang hanya bisa meyakin kan, entah lah, tapi untuk saat ini relung hati Mahen sendiri yang mendorong untuk bisa berkata demikian, selengkap nya, biar kan dia pikir kan nanti
melihat kesedihan yang tersirat dalam yang ada pada kedua nya, membuat Mahen tidak tega jika memang harus menyakiti hati kedua nya
mendengar hal itu, kini berhasil membuat kedua orang tua nya percaya sepenuh nya, namun tatapan menggoda itu ikut keluar, kala melihat sedikit demi sedikit rasa pada diri menantu nya ini
"tapi,, mengapa Papa kurang yakin yah sama kamu Hen, soal nya kalian debat terus di hadapan kita, itu buat Papa nggak yakin kalau kalian bisa akur di sana, apa lagi tanpa kami?" tanya Papa dengan terdengar menggoda
"nggak Pa, mungkin memang kita sering debat di depan kalian, tapi yang sebenar nya, dia memang istri yang bertanggung jawab kok, ya,, sekali pun dia suka kerja kan pekerjaan rumah dengan mengomel sih" jawab Mahen yang spontan saja membuat orang tua nya terkikik geli
"begitu kah, dia anteng nggak, jadi istri, trus nurut sama kamu nggak, trus dia mau kasih kewajiban nya sebagai istri yang lain nggak sama kamu?" kali ini, kala mendengar Papa yang angkat bicara dengan nada semangat, membuat dia tercekat
"Pa, apaan sih, jangan sampai segitu nya kali!" seru Mama yang menggeplak lengan Papa
"ya bukan gitu Ma, ini kan harus juga Papa pertanyakan, bukan kah ini juga penting, untuk kelancaran kita perihal cucu?" tanya Papa yang memang di benar kan juga oleh Mama
"iya, tapi,, udah lah, lihat tuh, batu es nya malah merona, malu kali dengar Papa mertua yang tanya sampai segitu nya, jangan di masukin ke hati ya Hen, Papa kamu ini memang humoris, suka nya bercanda aja?" ucap Mama yang melihat dia menunduk sejak tadi
"nggak masalah kok Ma" jawab dia seraya menggaruk tengkuk yang padahal tidak gatal, sial nya lagi kenapa suasana tiba tiba mendadak canggung?
"menantu Papa memang udah faham sama Papa, sama Papa nya aja udah sefaham itu, gimana nih, kalau sama istri, udah sejauh ini, hidup dalam satu atap bersama, pasti udah saling memahami juga dong?" tanya Papa dengan lanjut menggoda
"hmmm, Papa bisa aja" jawab Mahen dengan tersenyum tipis
"Papa jangan pertanyakan hal yang aneh aneh deh, sekarang Mama yang mau tanya Hen, Ayla, dia itu di rumah gimana sih, bisa atur waktu gitu buat kuliah sama buat rawat rumah, apa bisa yah?" tanya Mama yang kembali serius
"bisa Ma, aku juga nggak tahu lebih sih, tapi ya' memang kenyataan nya gitu, bisa rawat rumah sekaligus kerja kan tugas di universitas, padahal universitas di sini cukup terbilang ketat dari peraturan sampai tugas nya juga, tapi ya',, mungkin nggak masalah masalah aja buat dia, aku juga udah pernah kasih saran sama dia buat cari art di sini, tapi, dia nya yang nggak mau sih, ya udah, aku nurut aja, benar kata Papa, dia keras kepala juga kalau aku kasih tahu" jelas Mahen yang membuat Mama semakin kagum
"Mama jadi makin penasaran deh, gimana sih keseharian kalian di sana, jadi pengen kunjungi kalian ke sana, kalian juga sering kunjungi kakek kalian di sana kan?" tanya Mama yang sudah tidak sabaran
"sering juga sih Ma, kalau ada waktu, kita suka kunjungi kakek di sini, ya udah, Mama Papa Ayah sama Bunda ke sini kalau ada waktu luang, aku tunggu" jawab Mahen dengan ramah
"apa Ma?" tanya dia dan Papa dengan bersamaan, kemudian menoleh ke arah Mama dengan bersamaan juga
"bentar lagi kan Ay ulang tahun, gimana kalau kita berkunjung ke sana sambil kasih surprise buat dia?" ucap Mama yang di setujui oleh kedua nya
"boleh juga tuh Ma, ajak Ayah sama Bunda juga ke sini, takut nya Mama sama Papa belum tahu alamat rumah kami di sini" jawab Mahen
"ya udah, nanti kita kabari kamu lagi yah Hen, jangan bilang sama Ay, kalau kita habis bicara di panggilan video kayak gini yah?" tutur Papa yang di turuti oleh Mahen sendiri
di satu sisi, Mahen memikir kan apa yang menjadi pembicaraan nya dengan kedua orang tua nya, memikir kan apa yang bagus yang bisa dia jadikan sebagai hadiah di hari ulang tahun nya nanti?
"oy Hen, lo mikirin apaan sih, nggak biasa nya lo melamun kayak gini!" seruan Bintang sontak saja masuk ke dalam indera pendengaran dia yang memang melihat dia sejak tadi termenung
"nggak" jawab Mahen seraya memperbaiki posisi duduk menjadi tegak
"oh iya, menurut kalian nih ya, kira kira, Ayla,, dia itu terima tawaran anak curut itu nggak sih?" tanya Dimas kala mengingat kejadian tadi
"maksud lo?" tanya Mahen dengan tak santai
"kalian ingat kan, waktu kita kerja kan tugas dari Bu Cantik saat di perpus, tuh biang kerok nyariin Ayla tahu, sok sok'an mau bicara hal penting lagi sama Ay gue" jawab Dimas masih dengan mengingat
"terus gimana?" kali ini Bagas pun ikut angkat bicara karena merasa ikut penasaran dengan cerita yang di bawa Dimas
"ya gue ikutin dua dua nya lah, ya kali gue rela gitu aja mati kutu penasaran gitu!" seru Dimas
"lo ikutin kedua nya, gila, parah banget lo Dim, terus, curut itu bawa kemana Ayla, bukan ke tempat yang nggak nggak kan?" tanya Bintang dengan menyerobot
"awal nya sih yang gue denger dia ajak Ayla ke rooftoof, cuman karena Ayla itu anak nya udah kalem sekarang, dia kayak nggak nyaman gitu dia ajak ke rooftoof, dia kasih usul tuh, sampai akhir nya kedua nya ke taman belakang, gue masih ikutin dua dua nya, penasaran cok, tuh curut mau ngomong apa sama Ay kesayangan gue" jelas Dimas lagi
"gila, lo nguping pembicaraan kedua nya, dosa banget lo" seru Bagas dengan menggeleng dramatis
"cih, sok alim banget lo tahu dari mana kata berdosa, lagian kan meski pun dosa, gue nggak bakalan rela lah, biar kan kesayangan gue di apa apain sama tuh anak curut, dan lo pada tahu, apa yang di bicarain biang kerok itu sama Ay?" ujar Dimas dengan berakhir berseru heboh
ketiga teman yang mendengar hal itu pun ikut penasaran dengan cerita Dimas perihal nya
"apa, dia bilang apa sama calon istri gue?" tanya Bintang spontan
"DIA NEMBAK AYLA COOK, SAKIT BANGET HATI GUE DENGER NYA!!" seru Dimas yang berhasil membuat Mahen terkejut namun masih dengan ekspresi datar khas laki laki ini
"WHAT THE ****, DIA NEMBAK AYLA wah, benar benar halal buat di tampol ni anak kayak nya" lanjut Bintang yang tak kalah terkejut
"terus lo lihat dua dua nya gimana, tingkah nya kayak yang abis jadian atau, aroma aroma bucin gitu nggak?" tanya Bagas lagi mengintimidasi
"*nah, abis itu, gue lihat, untung ada Sandi yang samperin kedua nya, jadi kepotong tuh kan, kayak adegan di skip gitu" jawab Dimas dengan bercanda
"yee, gue serius markonah, lo malah ajak kita canda elah, giliran Ay ada pawang nya, lo nangis kejer ntar" ujar Bintang lagi*
"tahu, abis itu gue ketahuan Bu Cantik, al hasil, kuping gue sakit di jewer nih sampai merah kayak gini lo pada lihat, ya ini nggak seberapa sih, di banding hati gue yang sakit karena tahu hal ini, tahu gini gue musti gercep nih, nembak Ayla" ujar Dimas dengan meninju telapak tangan kiri dengan dramatis
dan di sisi lain, dia termenung karena memikir kan pembicaraan teman teman di universitas perihal nya, bagaimana jika diri nya memang sudah jadian dengan laki laki itu? Aarrgghh,, kenapa semua nya menjadi se membingungkan ini?
_**That Naughty Girl Is My Wife_
Kamis, 29 Juni 2023**