That Naughty Girl Is My Wife (Love Different Nature)

That Naughty Girl Is My Wife (Love Different Nature)
That Naughty Girl Is My Wife (Love Different Nature)



tiba di depan sebuah hotel yang menjulang tinggi, pintu mobil di samping nya terlihat di buka kan oleh seorang laki laki dengan pakaian kerja formal, juga dengan wajah yang mengenakan kaca mata hitam, mungkin di kenal sebagai bodyguard, namun mengapa demikian diri nya harus mendapat kan semua ini?


mulai berjalan ke dalam loby hotel dengan di ikuti oleh empat orang dengan pakaian yang sama, entah apa yang terjadi, tidak mungkin jika sesuatu terjadi sama kakek kan? bahkan untuk kemungkinan besar nya, kakek sangat terlihat sehat di waktu waktu kala diri nya sering menjenguk kakek ke rumah, tidak mungkin juga kakek di rawat di hotel semegah ini


karpet merah terlihat menggelar di tempat nya berdiri, entah sedang di adakan acara apa di dalam, tiba tiba di anjurkan naik ke lantai paling atas, tanpa pemberitahuan, pasti nya, sendiri, tanpa ada yang mengikuti nya seperti tadi


angin nya malam di sini cukup menusuk hingga membuat nya cukup merasa kedinginan sekali pun diri nya mengenakan pakaian dengan tangan yang panjang, namun tetap saja hal itu membuat bulu tangan nya berdiri karena kedianginan


diri nya terus melangkah dengan sepatu high heels pemberian perias tadi dengan warna yang senada dengan gaun yang tengah di kenakan nya, membuat kaki nya merasa pegal dan terasa lecet, namun diri nya masih memilih untuk terus mengikuti kata hati nya, pikiran nya hanya berpikir untuk bertemu kakek, siapa tahu kakek ada di hotel ini, tapi,, bukan kah itu tidak mungkin, karena jelas jelas diri nya mendengar nya sendiri tadi, bahwa Mahen berbicara kakek jatuh dari tangga, mana mungkin orang jatuh langsung di bawa ke hotel bukan rumah sakit?


kaki panjang itu terus melangkah, hingga diri nya tiba di depan sebuah pintu rooftoof yang terlihat dingin, entah apa yang ada di sini


tanpa menunggu lama lagi, kini diri nya pun memilih untuk segera membuka pintu ini, namun aneh nya, saat pintu mulai terbuka, lampu pun padam seketika, membuat nya terkejut bukan main


"astaghfirullah,," ujar nya spontan kala menyadari diri nya berada di tengah kegelapan


hati nya kian merasa takut, meski diri nya terbilang cukup berani berada di tengah kegelapan, namun jika itu di tempat yang di rasa cukup asing bagi nya, itu membuat nya cukup takut juga


namun hati nya selalu memaksa nya untuk tetap terus berjalan ke depan, melangkah lebih dalam lagi ke arah kegelapan sana hingga


"miau,, miau,," ujaran seseorang yang membuat nya tersadar, jika itu adalah Mauza yang sebenar nya


"hai Mauza, kamu di mana, di sini cukup gelap, kakak nggak bisa lihat kamu, bahkan tas kakak pun tertinggal di mobil, jadi kakak nggak bisa lihat dengan jelas karena tidak ada penerangan,, come here,," ucap nya dengan lembut seraya berjongkok


"hmmm, kucing yang manis, ngapain kamu di sini, kok main nya jauh jauh sih, kan sudah kakak bilang, kamu jangan main jauh jauh kalau kakak nggak di rumah, kamu memang suka buat kakak khawatir ya?" tutur nya seraya membawa Mauza ke dalam gendongan nya dengan lembut namun masih dengan posisi berjongkok


"kamu sudah di sini saja, kakak kira tadi suara kamu di rumah, mungkin kakak sudah sangat merindukan kamu, jadi buat kakak suka mendengar sapaan kamu yang terus berguna di telinga kakak" tutur nya lagi, belum menyadari jika banyak orang di sekitar nya yang tengah menyaksikan drama kerinduan tersebut


hingga lampu pun di nyala kan, dan berhasil membuat nya cukup terkejut, aneh nya lagi, ada sepasang kaki yang tengah berdiri di hadapan nya yang sedang berjongkok mengelus bulu lembut yang Mauza miliki, membuat nya benar benar kebingungan, kemudian memilih bangkit dari jongkok nya dengan perlahan, hingga,,,


"P,, Papa,," ucap nya kalau melihat pria yang tengah di rindukan nya tengah berdiri tegak di hadapan nya dengan tersenyum tipis kemudian mengangguk ke arah nya, tak lupa dengan membuka kedua tangan nya lebar lebar, membuat nya yang melihat sontak saja berhambur ke dalam pelukan orang yang begitu di rindukan nya saat ini


"Papa, ini kah Papa, sosok yang aku rindukan selama ini, Papa apa kabar, hhu, kini Papa sudah membuat tidur ku tak nyaman,," racau nya kala kedua tangan nya sudah mengalung pada leher sang Papa, membuat sang Papa tersenyum juga membalas memeluk pinggang nya dengan erat


"hmmm, iya sayang, ini Papa, sosok yang juga sangat merindukan kamu, maaf kan Papa nak, kamu pasti merasa kesulitan, harus menjalani kehidupan jauh dengan Papa?" jawab Papa dengan mata terpejam


"akh iya, satu hal yang hampir Papa lupa kan, barakallah FII umrik sayang, semoga semua keinginan kamu bisa kamu dapat kan dengan mudah, dan semoga keridhoan Allah, selalu menyertaimu, kemanapun kaki mu melangkah?" ucap Papa yang sayang nya membuat kening nya mengerut


"Pa, tunggu, ada apa dengan hari ini, aku masih nggak ngerti?" tanya nya yang membuat semua yang mendengar nya pun tertawa


"Barakallah FII umrik Ayla?" ucap Mahen seraya maju dan berhenti tepat di hadapan nya di samping Papa dengan membawa nampan yang sudah berisi kue tart dengan lilin yang menyala


"kamu berulang tahun sekarang, apa kamu lupa?" jawab Mahen seraya tersenyum tipis


"aku,, aku bahkan nggak tahu, lebih tepat nya lagi, aku nggak sadar, kalau sekarang aku memang sedang berulang tahun, hmmm, mungkin karena tugas numpuk, jadi buat aku salah fokus" jawab nya yang sudah tidak bisa memungkiri jika diri nya benar benar merasa terharu dan semua keluarga nya


"Papa jahat, masa Papa nggak kasih kabar aku dulu kalau mau ke sini sih!!" seru nya dengan merajuk


"ish anak ini benar benar ya, itu tiup dulu lilin nya, sebelum kamu ada di tengah kegelapan lagi, itu kasihan juga lho suami kamu tangan nya pegal gara gara pegangin kue terus sejak tadi?" jawab Papa tak kalah berujar


"maaf Keenan, aku nggak bisa tiup lilin nya langsung, tapi aku kipas aja, nggak papa kan?" tanya nya yang meras tak enak hati


"hmmm, nggak masalah Ay, apa sih yang nggak buat kamu?" jawab Mahen dengan tersenyum tipis dan mengundang senyum dari semua nya


...°°° ...


waktu terus berjalan, hingga kini, acara suap menyuap kue pun tiba


"nih, yang ditunggu tunggu, suapan pertama mau kamu kasih sama siapa Ay?" tanya Papa


"jelas sama Mahen lah Pa, dia kan suami nya" jawab Mama dengan nada menggoda sambil tersenyum


"Mama apaan si, mungkin sama Mama aja deh, suapan pertama nya, Mama kan orang yang udah lahir kan aku, rawat aku juga sampai sedewasa ini" jawab nya yang hendak menyuapi Mama


"eh,, nggak Ay, Mahen, dia yang layak mendapat kan suapan pertama dari kamu, dia kan sekarang suami kamu, kamu nggak ada hak lagi buat suapi Mama tanpa seizin Mahen, sama,, kecuali kalau kamu nggak lagi ulang tahun" jawab Mama panjang lebar yang hanya bisa di turuti saja oleh nya


"hhhhh, baiklah baik,," jawab nya yang sudah pasrah


"tapi ini sendok nya kemana, garpu nya juga, masa aku suapi dia pakai tangan langsung?" tanya nya yang baru menyadari jika tidak ada sendok dan garpu di atas meja


mendengar hal itu, sial nya semua yang mendengar nya berpura pura tidak mendengar nya, dan membuang tatapan masing masing


"hhhhh, ya udah, aku nggak mau suapi, Mama aja yang suapi dia,," ucap nya seraya beranjak


"eh, eh, eh,, nggak Ay, sekarang kamu yang sedang berulang tahun, bukan Mama, jadi yang harus nya suapi dia itu kamu dong, bukan Mama!" seru Mama seraya menahan tangan kanan nya


"Ay,, turuti saja,," jawab Bunda dengan berimbuh lembut


"hhhhh, baiklah Bund,," jawab nya


suapan pertama sudah mendarat di mulut Mahen, namun, rasa mengganjal itu kembali di rasa kan nya kala, ada cream yang menyangkut di sudut bibir laki laki ini, Mahen pun hendak mengelap nya, namun,,


"Mahen,, ingat kata Papa sama Ayah tadi?" cegah Papa yang membuat Mahen mengurungkan niat nya


"Ay, itu masih ada cream di wajah nya Mahen, kamu lap dong, masa di biar kan gitu aja, nanti yang ada, suami kamu di jadi kan rumah buat para semut lagi" ejek Papa yang berhasil membuat nya tercekat


"Pa,, dia bisa kali bersih kan wajah nya sendiri, masa harus tetap aku yang bersih kan?" jawab nya yang masih protes


"sudah lah Pa, biar aku aja" jawab Mahen seraya menunduk kemudian mengangkat tangan kanan


"nggak, sekali nggak tetap nggak, orang kamu yang suapi kok malah Mahen yang bersih kan sih" jawab Papa yang membuat nya memilih mengalah


"hhhhh, iya iya,," jawab nya pasrah seraya hendak mengambil tisu


"Pa, ini tisu nya mana?" tanya nya yang tidak melihat tisu di atas meja


"mana Papa tahu, kabur kali" jawaban Papa yang terdengar datar, namun dapat mengundang senyum dari semua orang


"dah lah Ay, pakai tangan aja kan bisa, kasihan lho, anak Ayah nunggu nya lama sejak tadi?" desak Ayah yang terlihat tenang tenang saja, namun membuat nya menurut


"makan sesuatu itu yang benar, jadi gini kan?" ujar nya yang seraya mengelap sudut bibir Mahen


"hmmm, iya, maaf yah, makasih juga?" ucap Mahen yang melihat jari nya yang ternodai oleh cream


"eh bentar Ay?" ucap Mahen saat tangan nya sudah di letak kan di samping nya


alangkah terkejut nya diri nya kala Mahen mengemut jari nya yang ternodai oleh cream tersebut dengan lembut


"ada sisa cream yang menyangkut di jari kamu, maaf, aku bantu bersih kan" jawab Mahen yang terlihat salah tingkah sendiri


"hmm, makasih?" jawab nya dingin


"sudah sudah, sejak tadi di pending dulu bucin bucinan nya, masih ada orang tua di sini, sekarang lanjut ke acara awal, suapi kue" seru Bunda sembari menyindir Mahen


mendengar hal itu, membuat nya tersenyum hangat, kemudian menyuap kan potongan kue ke dua pada Mama


"met milad ya sayang, semoga panjang umur, di berikan rezeki yang berkah dan berlimpah, semoga kemudahan selalu menyertai mu?" ucap Mama setelah diri nya selesai menyuapi kue


"Allahumma aamiin, makasih Ma, do'a kebalikan nya juga buat Mama, maafin Ay, kalau Ay nggak pernah jadi anak yang penurut buat Mama?" jawab nya seraya memeluk tubuh Mama


"iya sayang, kamu nggak pernah jadi anak penurut buat Mama sama Papa gimana coba, kan kamu udah nurut buat nikah sama Mahen, itu udah cukup buat Mama dan Papa senang sayang" jawab Mama dengan berbisik


"Mama,, jangan buat aku malu" tutur nya menunduk


"sudah lah, ini kado dari Mama, semoga kamu suka dengan isi nya yah?" ucap Mama dengan menyerah kan paper bag ke arah nya


"makasih Ma, padahal aku nggak mengharap kan ini, orang ulang tahun nya aja aku nggak sadar kok?" ucap nya seraya menerima pemberian dari Mama, membuat Mama mengangguk


"selamat ulang tahu gadis manja nya Papa, moga makin baik, makin cantik, makin salehah, makin pandai,,," ucapan Papa terpotong


"maaf dulu bentar deh Pa, ini ucapan dari Papa atau ucapan dari Mama si, perasaan banyak banget!!" ujar nya berseru seraya terkekeh kecil


"xixi, iya sayang, kan Papa selalu ingin kamu menjadi yang terbaik, ini buat kamu, semoga kamu suka yah?" ucap Papa seraya menyerah kan kotak kado ke arah nya


"apa ini Pa?" tanya nya dengan kening mengerut


"itu hadiah dari Papa, semoga kamu suka, Papa nggak yakin sih kamu bakalan suka sama isi nya, tapi semoga aja berguna buat kamu" tutur Papa


"heem, apa pun isi nya, aku terima yah Pa, makasih?" ucap nya yang menerima


"Ayah,," panggil nya seraya menyuap kan sepotong kue ke arah Ayah


"emmm, enak banget si kue nya, apa lagi di suapi sama putri nya Ayah yang cantik ini, selamat ulang tahun sayang, cie yang udah sweet twenty, semoga panjang umur, sehat selalu yah?" ucap Ayah


"allahumma aamiin, makasih Ayah?" ucap nya


"dan ini buat kamu, terima yah?" ucap Ayah yang menyerah kan kotak kado ke arah nya


"apa ini Ayah?" tanya nya merasa bingung


"hmmm, buka aja sayang, tapi nanti yah, jangan kamu buka di depan Ayah?" ucap Ayah sembari tersenyum


"hmmm, Ayah, makasih banyak?" ucap nya berhambur ke dalam pelukan Ayah


"ih, ih, sudah sudah, sudah,, kamu jangan peluk Ayah, lihat kan, suami kamu bentar lagi tanduk nya muncul, Ayah nggak mau kena marah dia ih, serem banget, nggak marah aja muka nya lempeng gitu, gimana kalau marah coba" ujar Ayah berniat menggoda Mahen


"Yah,, apaan si?" ujar Mahen berseru


"Bunda,," ucap nya kemudian, menghampiri bunda yang tengah tersenyum sejak tadi


"hai sayang, barakallah fii umrik cantik nya Bunda, semoga apa yang kamu ingin kan, bisa kamu dapat kan?" ucap Bunda menerima suapan dari nya


"allahumma aamiin, makasih Bund, waah, banyak repotin Bunda nih aku nih, maaf juga ya Bund, aku belum bisa jadi anak yang baik buat Bunda?" ucap nya


"kamu memang bukan anak Bunda, karena kamu adalah menantu nya Bunda, ini, pokok nya kamu harus terima yah, jangan nolak, karena Bunda, nggak suka penolakan?" ucap Bunda mendesak


"ya,, yaudah deh Bund, ini aku terima yah, makasih Bunda?" ucap nya seraya menerima paper bag pemberian Bunda


"sama sama sayang" jawab Bunda seraya menyentuh dagu lancip nya dengan lembut sambil terus tersenyum


setelah di rasa cukup untuk menyuapi semua orang di sekitar nya, kini diri nya pun memilih kembali duduk di tempat nya semula, di samping Mahen


"akh iya, aku lupa, Keenan bilang kan, kakek jatuh dari tangga, aku pikir kenapa kakek di bawa ke sini, tahu nya untuk kasih kejutan buat aku, lantas, di mana kakek sekarang, apakah kabar nya baik?" tanya nya meminta kebenaran seraya duduk dan menatap keluarga nya satu persatu


"hmmm, kamu akan mengetahui nya sayang" jawab Bunda yang menyadari kekhawatiran yang ada pada putri nya


tanpa menunggu lama lagi, kini terlihat laki laki paruh baya yang menghampiri kumpulan keluarga itu dengan tersenyum lebar


"assalamualaikum?" ucap laki laki ini yang berhasil membuat semua nya menjawab salam kedatangan kemudian menoleh ke arah sumber suara


melihat seseorang yang tengah di bicarakan, membuat nya cukup terkejut, apa lagi dengan keadaan laki laki ini


yah, kakek lah yang datang di malam ini, membuat suasana semakin sempurna bagi nya namun


"kak,, kakek, kakek apa kabar, sini, duduk dekat aku, Keenan bilang, kakek jatuh, tapi, apa yang terjadi dengan kaki kakek, kakek sudah bisa berdiri dengan tegak sekarang?" tanya nya yang datang menghampiri kakek juga mencium punggung tangan kakek dengan khidmat, kemudian mengajak kakek duduk di samping nya


"hmmm, satu satu dong tanya nya sayang, kakek bingung ini, mau jawab pertanyaan kamu dari mana dulu?" jawab kakek saat kedua nya sudah terduduk dengan tenang


"iya juga ya kek, maaf hehe, tapi yang paling ingin aku tanya kan sama kakek, kakek apa kabar, Keenan bilang, kakek jatuh dari tangga‽" seru nya dengan melirik Mahen sekilas dengan tatapan tajam, kemudian lanjut menatap kakek di samping nya


"hmmm, alhamdulillaah, seperti yang sedang kamu lihat, kabar kakek baik, bahkan sangat sangat baik, oh iya, ini, sedikit dari kakek, semoga kamu suka ya, selamat ulang tahun cucuk menantu kesayangan nya kakek, semoga kebahagiaan selalu menyertai kamu?" ucap kakek seraya menyerahkan paper bag ke arah nya dengan tersenyum tentu nya


"kakek,, kakek juga,, harus nya nggak usah repot repot kek?" jawab nya yang malah tak enak hati saat harus menerima pemberian kakek


"nggak masalah sayang, ini rezeki untuk kamu, terima lah?" jawab kakek dengan lembut


mendengar hal itu hanya membuat nya mengangguk patuh "baiklah kek, ini aku terima ya, semoga Allah balas yang lebih, makasih banyak kakek?" ucap nya seraya memeluk kakek


"Allahumma aamiin, iya sayang, sama sama" jawab kakek


"hari ini aku cukup senang kek, tapi,, kakek belum jawab pertanyaan aku tadi" keluh nya seraya menunduk


"pertanyaan yang mana?" tanya kakek seraya memandang ke arah nya


"bagaimana bisa kakek bisa berdiri dengan tegak sekarang, apa kakek memaksakan diri?" tanya nya


"nggak sayang, kamu jangan salah kan suami kamu di sini, dia tidak usil sama kakek kok sekarang, kan,," ucapan kakek terpotong kala melihat Mahen sejenak dan mendapati lirikan tak bersahabat dari Mahen


"iya iya,, kakek tidak akan mengatakan nya, kamu tenang saja, kakek merasa baik sayang, yang di kata kan suami kamu memang benar ada nya, kakek sempat jatuh dari tangga, tapi itu kemarin lusa" jawab kakek dengan menjelas kan


"kakek sedang apa waktu itu, kok nggak kasih tahu aku, maaf ya kek, aku nggak sering jenguk kakek, harus nya aku sering jenguk kakek, hingga kakek membutuh kan sesuatu yang bisa aku bantu, jika aku menjenguk kakek saat itu, mungkin kakek nggak akan jatuh?" ucap nya yang merasa bersalah


"nggak sayang, ini bukan salah kamu, jadi gini Ay, kakek jatuh kemarin lusa, itu buat kakek mau nggak mau harus jalani operasi, alhamdulillaah, hingga operasi yang kakek jalani berjalan dengan lancar, dan sekarang kamu bisa lihat kan, kakek bisa pulih, dan berjalan kembali?" tutur kakek


"harus nya kalian nggak usah repot repot buat kejutan buat aku kayak gini, jauh jauh dari Jakarta ke sini, terutama dengan kakek, kakek kan sudah jalani operasi, harus nya kakek istirahat dengan total dong, buat pemulihan lagi?" tutur nya seraya memperbaiki posisi duduk nya


"hmmm, ini bukan rencana kita sayang" jawab Mama dengan tenang


"terus, ini,,?" tanya nya yang tengah penasaran


"ini rencana Mahen, suami kamu, dia bilang sama kita, di saat kita ingin sekali kunjungi kalian di sini" lanjut Papa yang membuat nya sontak menoleh ke arah Mahen yang mendengar


namun Mahen tetap lah Mahen, laki laki dengan rasa gengsi yang tinggi itu malah membuang pandangan nya


"iya, kakek hampir saja lupa" tutur kakek yang membuat nya spontan menoleh


"ada apa kek?" tanya nya


"Ay, sekarang kan usia kamu sudah genap ke 20 tahun?" tutur kakek yang memberi nya petuah


"iya kek, lantas mengapa?" tanya nya yang menyuap kan sepotong kue ke dalam mulut nya sendiri


"kakek tahu, kalian bersatu karena sebuah perjodohan, namun kakek harap, kalian tidak menunda untuk mempunyai anak, bukan kah usia kamu sudah genap 20 tahun, dan kakek harap, usia kamu tidak menjadi penghalang kamu dalam hal ini hmmm?" tutur kakek yang entah kapan sudah menggenggam kedua tangan nya dengan lembut, namun membuat nya tercekat dan cukup terkejut


"a, anak ya kek, apa harus secepat itu?" tanya nya yang entah mengapa tiba tiba merasa kan suasana akward


"hmm, sayang, kakek tahu ini mungkin memang keputusan yang rumit untuk kamu, tapi,, kamu juga tahu sendiri kan, jika hal baik, tidak akan menjadi baik, jika banyak di tunda?" bujuk kakek yang di benar kan juga oleh nya meski dalam hati


"kakek, boleh kah aku memikir kan nya terlebih dahulu, ini bahkan belum ada di pikiran aku sama sekali" jawab nya


"baiklah sayang, kalian diskusi kan dulu sebelum nya dengan Mahen, pikir kan baik nya bagaimana, kakek pamit istirahat duluan ya?" pamit kakek yang mengundang kerutan pada kening nya lagi


"jauh dong kek, apa kakek masih di rumah sakit sekarang?" tanya nya yang melihat kakek beranjak, membuat nya mendongak


"hmmm, nggak sayang, kakek sewa suster, malam ini kakek akan cukup istirahat di salah satu kamar hotel ini" jawab kakek seraya beranjak


"Yah, biar aku antar" ujar Ayah yang melihat kakek mulai berjalan


"Yah, aku juga" tambah Bunda, Mama dan juga Papa bersamaan, membuat kening nya mengerut heran, mengapa orang tua nya ini mendadak seperti ini dengan tiba tiba?


^^^_**That Naughty Girl Is My Wife (LDN)_^^^


Jum'at, 7 Juli 202**$