
pagi ini, kedua nya masih terlihat berbaring di atas tempat tidur dengan kemalasan yang tinggi, latah,, maksud nya hanya Mahen yang terlihat bermalas malasan di pagi hari ini, padahal hari ini cuaca begitu cerah dan mendukung serta cocok untuk kembali menjalani aktivitas yang biasa di kerja kan oleh kedua nya
"ehm,, kamu mau ke mana?" tanya Mahen yang melihat nya hendak beranjak dari tempat tidur, berbicara namun kedua mata nya masih tertutup
"bangun lah Nan, ini sudah cukup siang, kamu nggak lihat?" jawab nya seraya menoleh sekilas ke arah Mahen dengan kesadaran yang sudah terkumpul
"iya,, tapi bentar dulu,, aku masih mau malas malasan dulu sama kamu,, sini dulu, mending kamu temani aku tidur lagi?" ajak Mahen dengan menarik tangan nya yang tertutupi kemeja putih polos kebesaran milik Mahen
"Nan,, ayo lah, ini sudah jam berapa, yang ada nanti kita datang telat ke universitas!!" ujar nya yang tidak bisa melawan karena Mahen yang terlihat merengkuh tubuh nya dari belakang
"hmmm, nanti dulu, aku mau kayak gini dulu ish,, kamu nggak ngerti banget, bentar dulu apa?" jawab Mahen yang berusaha mencari kenyamanan dalam pelukan nya kemudian kembali menarik selimut hingga menutupi tubuh kedua nya
"Nan ish,, kamu kenapa gitu si,, sudah lah,, kita harus cepat pergi ke universitas, mengerti lah Nan,, heran deh,, nggak biasa nya kan kamu malas malasan gini?" tanya nya yang mulai mengomel
"hmmm,, sekarang kan ada kamu,, istri aku,, nanti saja lah,, ke universitas nya,, sekarang aku mau nya sama kamu dulu,, diem bentar saja" jawab Mahen
"kamu ngerti nggak sih,, semalaman kamu nggak lepas kan aku, bahkan sekarang juga,, kalau kita telat gimana?" tanya nya dengan mendelik
"hmmm, aku tinggal titip izin sama Bagas, sama Kania juga biar dia izin kan buat kamu" jawab Mahen
"nggak akh,, aku nggak mau, buat apa aku izin dari universitas" jawab nya
"hhhhh,, ya sudah,, kamu dulu atau aku dulu yang ke kamar mandi,, atau,, mau mandi bareng lagi kayak waktu itu?" tanya Mahen dengan tersenyum penuh arti
"nggak,, apaan sih, jangan aneh aneh deh, aku dulu ke kamar mandi, tapi kamu juga jangan tidur lagi, awas kalau tidur lagi, aku cubit hidung kamu sampai nggak bisa nafas lagi" ancam nya seraya berlalu ke kamar mandi
"hhhhh,, sesuka mu lah sayang,," jawab Mahen
pagi ini, kedua nya sudah sama sama siap dan mulai melaju kan motor sport yang biasa Mahen gunakan untuk menuju ke universitas
motor sport itu kini mulai membelah jalanan Purbalingga ini dengan kecepatan normal, karena memang diri nya yang merasa takut kesiangan saat datang ke universitas, yang padahal waktu pun masih menunjukkan pukul 07:30, rasa semangat nya saja yang ketinggian, sehingga membuat nya merasa selalu kesiangan saat sampai di universitas pada pukul lebih dari 07:00
"Ay,, kamu nggak apa apa kalau aku terus terusan bawa motor sport kayak gini ke universitas?" tanya Mahen yang sedikit tidak enak hati karena harus membawa motor ke universitas
"maksud nya gimana?" tanya nya yang kurang paham dengan arah pembicaraan yang Mahen tanya kan
"iya,, aku nggak bawa mobil lagi, kamu jadi nggak bisa duduk samping aku?" tanya Mahen lagi memperjelas pertanyaan, yang padahal di pikiran nya takut perempuan ini kepanasan lah, keringatan lah, padahal diri nya bukan tipe orang seperti itu, karena diri nya sendiri memiliki kepribadian tomboy
"ya nggak lah Nan, tapi,, bukan kah imam itu harus nya memang ada di depan yah, bukan di samping, aku baik baik saja kok, meski kamu enak nya bawa motor, yang penting kan sampai tujuan dengan selamat?" jawab nya yang membuat Mahen cukup tercengang
"lagi pula,, aku sendiri nggak masalah kok, asal kan kamu nggak ikut balap balapan kayak dulu" jawab nya yang lagi lagi membuat Mahen terkejut
"kamu tahu aku sempat ikut balapan liar dulu?" tanya Mahen dengan kening mengerut
"tahu lah, jangan kamu pikir aku nggak tahu perihal ini" jawab nya
"kalau kamu memang tahu itu, kenapa kamu nggak cegah aku buat ikut balapan waktu itu?" tanya Mahen yang masih terheran sendiri
"ya aku nggak cegah kamu karena dulu kita memang nggak sedekat itu, aku juga nggak pernah menyangka akan menikah sama kamu, jadi aku biar kan saja kamu ikut, toh waktu itu juga kita nggak ada hubungan apa apa kan?" tanya nya yang di benar kan juga oleh Mahen sendiri
"kalau sekarang aku ikut acara balapan liar, kamu kasih izin nggak?" tanya Mahen dengan tersenyum penuh arti
"aw,, sakit Ay,, iya iya,, ibu negara, aku nggak akan ikut acara gitu lagi,, sekarang masa depan yang cerah sama kamu itu jauh lebih penting dari apa pun, kamu nya tenang saja" jawab Mahen seraya tersenyum
"tapi bukan kah itu juga hobi kamu dulu yah, sekarang kenapa kamu kayak nggak mau gitu, aku bahas tentang balapan liar?" tanya Mahen saat setelah beberapa saat hening
"dulu yah Nan, itu dulu,, sekarang aku sudah nggak mau lagi, aku sudah memutus kan untuk berubah dari aku yang dulu" jawab nya
"istiqamah selalu istri nya aku,, eh tapi kamu masih bisa bawa motor sport nya dong, motor sport nya kamu di tinggal gitu saja di Jakarta, apa itu nggak di pakai?" tanya Mahen lagi kala mengingat sesuatu
"nggak,, aku simpan di basecamp, mungkin anak anak yang pakai,, entah lah, aku sedikit lupa cara nya bawa motor sport" jawab nya dengan mengangkat kedua bahu nya tak acuh
tak berapa lama,, kini motor sport yang di kendarai oleh Mahen pun terparkir rapi di area parkir universitas, lagi lagi, membuat kedua nya menjadi pusat perhatian di sini
"gila men,, tumben tumbenan lo datang sesiang ini ke universitas, biasa nya suka agak pagi an?" ujar Dimas kala melihat kedatangan kedua nya
"lo kayak nggak tahu aja kehidupan pengantin baru kayak gimana dah Dim?" jawab Bagas yang menepuk bahu Mahen dengan menggoda
"biasa saja kali" jawab Mahen dengan membuang pandangan nya ke sembarang arah
"iya nggak Ay?" tanya Mahen ke arah nya, sambil melingkar kan tangan kanan nya ke pinggang nya
"ooh, gue tahu, lo pasti habis pacaran halal ya semalam?" tanya Bagas dengan menebak
"Bagas apaan sih?" tanya nya yang berusaha menyembunyikan rasa malu nya
"santai saja Ay,, gue juga gitu kok, sama sahabat kamu?" jawab Bagas dengan menaik turun kan kedua alis nya menggoda
"oh iya, Kania nya mana Agas,, kok nggak kelihatan di sini?" tanya nya yang memang tidak melihat kehadiran sahabat nya ini
"dia ke kantin duluan Ay,, takut nya kamu nyariin kata nya, jadi aku di minta buat nunggu kamu, kasih tahu kamu kalau dia sarapan duluan di kantin" jawab Bagas
"oh gitu,, nanti deh, aku sudah sarapan tadi, jadi ke kantin aja tapi nggak sarapan?" jawab nya
"kenapa, kamu ikut sarapan saja yang, kenapa nggak sarapan, biar dua kali juga nggak apa apa kali?" tanya Mahen seraya memandangi wajah nya
"nggak akh,, aku sudah kenyang, kalau kamu mau makan saja lagi" jawab nya
"makan lagi atau aku cium hah?" ancam Mahen yang membuat nya tertunduk malu
"apaan sih Nan, kamu saja,, aku nggak mau" jawab nya
"ya elah,, kalau mau pamer kemesraan jangan di hadapan jones kayak gue napa,, sadis banget,, sohib sendiri di biarin nggak punya pasangan?" keluh Dimas
"ya nikah lah anjrit!!" jawab Mahen yang sudah tak santai lagi harus menanggapi setiap ocehan sahabat nya ini
"nah, ini nih, jarang ngomong, giliran ngomong langsung toxik, beracun bener mulut lo" jawab Dimas lagi menyindir Mahen, namun Mahen tetap lah Mahen, si pria dingin sepuluh pintu yang tidak akan pernah mencair meski banyak yang berusaha membuat nya mencair kecuali diri nya yang notabene istri nya sendiri
_**That Naughty Girl Is My Wife (LDN)_
Ahad, 30 Juli 2023**