That Naughty Girl Is My Wife (Love Different Nature)

That Naughty Girl Is My Wife (Love Different Nature)
Naughty Girl Is My Wife



Jujur saja, memandangi wajah nya kala tertidur yang terlihat begitu polos dan natural, bulu mata yang lentik, alis tebal, hidung mancung dan mungil, bibir tipis dan kecil, kumis tipis, serta lesung pipi kala diri nya tersenyum, cantik, mungkin itu lah satu kata yang cocok untuk mendeskripsikan apa yang ada pada diri nya, bahkan diri nya selalu saja tampil cantik, entah kala saat gadis itu memakai kerudung nya, atau pun tidak, penampilan nya selalu saja berhasil membuat siapapun yang melihat nya merasa kagum dengan keanggunan nya, entah itu orang yang sudah mengenal akrab diri nya, atau bahkan orang yang sekedar berpapasan dengan nya tanpa sengaja, dan hal itu berhasil membuat Mahen cukup sulit untuk bisa mengalih kan perhatian dan pandangan dari nya barang sesaat


yah, gadis ini memang mempunyai kadar kecantikan yang cukup tinggi untuk porsi seorang perempuan, selain dari diri nya yang terlahir sebagai gadis blasteran, namun kepribadian nya yang selalu tampil polos tanpa polesan make up pun turut membuat paras cantik nya menjadi semakin natural dan terpancar


namun ada satu hal yang berhasil membuat pria di samping nya itu cukup bingung, mengapa demikian seorang gadis berparas cantik itu begitu galak hingga titisan macan betina nya pun seringkali muncul kala diri nya terbangun dari tidur nya? Benar-benar membingungkan


sial nya semakin Mahen memandangi wajah cantik yang terkesan damai itu mengapa Mahen semakin uring uringan melihat nya, laki laki itu tampak nya tidak suka dengan wajah yang damai itu, bahkan kepala laki laki itu pun semakin di selimuti oleh rasa khawatir yang tidak pernah bisa Mahen elak lagi barang sesaat.....


untuk sejenak diri nya pun bingung, bisa berada di tengah taman yang cukup sunyi dan sepi di malam ini, tunggu,, bukan kah tadi diri nya tengah siap-siap untuk tertidur menjemput alam mimpi nya di samping si makhluk asal planet Uranus itu? Dan mengapa diri nya bisa terduduk di sini dengan mengenakan dress berwarna putih dengan selendang yang membaluti kedua tangan nya?


tidak sampai 5 menit diri nya berpikir dan pertanyaan itu seolah selalu berputar di pikiran nya, kini pertanyaan pertanyaan itu pun membuyar kala diri nya tengah melihat bayangan seseorang yang tengah berjalan menghampiri nya, dan derap langkah kaki yang terdengar semakin mendekat ke arah nya pun berhasil membuat nya cukup terkejut dan cukup penasaran dengan siapa kah orang yang menghampiri nya itu?


hingga tak lama kemudian, langkah kaki itu kian terdengar semakin jelas di telinga nya, membuat kedua mata nya melihat sosok seseorang yang kini tengah dirindukan nya selama ini, terlihat seorang laki-laki bertubuh tegap, dengan balutan jas putih yang membalut tubuh atletis nya kini tengah tersenyum hangat pada nya, membuat dia benar-benar terkejut melihat nya, apakah ini nyata? Pikir nya


"assalamualaikum cantik, kamu apa kabar hmmm?" Tanya Gustian kala sudah mendudukkan diri nya di samping nya


namun melihat hal itu sungguh membuat nya sulit untuk mempunyai sekedar rasa percaya, benar kah di samping nya ini Gustian, cinta kedua setelah ayah nya yang selalu dirindukan nya 10 tahun silam, sosok yang selalu diharapkan kehadiran nya kembali di sisi nya? Rasa nya benar-benar sulit dipercaya,, hingga,,


Plak,,


"akh,," rintih nya kala tangan nya melayang pada pipi mulus nya sendiri, mengapa ini terasa begitu nyata? Pikir nya


"sayang, kenapa begitu hmmm, berhenti sayang, kamu bahkan belum jawab salam mas lho Za?" Tutur Gustian seraya menggenggam erat kedua tangan nya, menghentikan gerakan nya yang bersikap seolah tidak mempercayai apa yang nampak di depan mata nya


"w,, waalaikumsalam warahmatullah,, m,, mas Gus, b,, benar kah ini mas, yang selalu aku rindukan kehadiran nya?" Tanya nya dengan terbata juga dengan raut wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa haru sekaligus senang nya


"hmmm, iya sayang, ini benar-benar mas Gus nya Kanza, kamu apa kabar Za, dan bagaimana kabar Mama sama Papa di rumah?" Tanya Gustian dengan lembut sambil terus tersenyum ke arah nya


"s,, semua nya baik mas" jawab nya seraya menunduk dalam dengan dua jari telunjuk yang saling bertautan


"kecuali kamu kan?" Tanya Gustian yang sontak saja membuat nya mengangkat kepala nya terkejut bagaimana mas bisa tahu? pikir nya


"m,, mas tahu?" Tanya nya yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut nya


"Bagaimana mas bisa tidak mengetahui nya sayang, mas selalu ada di samping mu, bukan kah dulu kamu sering bilang, jika mas akan selalu ada di dalam hati kamu?" tanya Gustian mengingat kan dan memang di benar kan juga oleh nya dalam hati


"percaya lah Za, kita hanya sudah berbeda alam saja, namun kehidupan kita, itu tetap sama, mas selalu berdiri di samping mu, sampai kapan pun, mas akan selalu menemani mu, menjaga mu, dan melindungi mu" nasehat Gustian dengan memandangi wajah nya intens dari samping


"rasa nya sulit jadi Kanza yang sekarang mas, harus di hadap kan dengan setiap beban kehidupan, juga masalah yang selalu Kanza lalui di setiap hari nya, semua itu terasa sulit untuk Kanza hadapi seorang diri, tanpa ada nya sosok yang bisa Kanza jadi kan tempat pulang paling tenang seperti mas" jawab nya mulai mengeluar kan isi hati nya


"bukan kah ada Mahen, suami kamu, bukan kah dia bersedia untuk selalu ada di samping mu Za?" Tanya Gustian


mendengar hal itu kini berhasil membuat nya yang menyimak benar benar terkejut, bukan mengapa, tapi,, mengingat acara perjodohan dan pernikahan yang di jalani nya dengan suami nya itu tentu tanpa kesaksian dari sang kakak tercinta, lantas, dari mana sosok di samping nya ini tahu perihal suami nya?


"m,, mas mengenal Keenan?" dan lagi lagi, pertanyaan itu tidak bisa di hindari nya


"sayang, apa kamu lupa, dengan apa yang telah mas utara kan di dalam video?" tanya Gustian yang berhasil membuat nya mengingat


"Hhhhh, benar apa yang mas bilang, tapi,, Azza nggak mungkin terus terusan bergantung pada Keenan mas, dia pasti punya kehidupan dan kesibukan sendiri" tutur nya yang seraya menunduk kan kepala nya, membuat yang mendengar hanya bisa mengulas senyum tipis


"Hhhhh, bagaimana cara nya mas memberikan pengertian sama kamu sayang, Mahen itu sudah menjadi suami kamu sekarang Zaa, dia tanggung jawab kamu sekarang, begitu pun juga sebalik nya sayang, kamu sudah menjadi tanggung jawab nya, dia se harus nya memang selalu ada di samping mu, bukan kah kamu mengetahui hal itu?" Tanya Gustian yang berhasil menyadarkan nya


"yang mas kata kan memang tidak ada yang salah, semua nya benar, tapi,,, nggak tahu mengapa mas, rasa nya sulit, jujur saja, sulit bagi Kanza untuk bisa mempunyai rasa percaya begitu saja pada sebagian besar laki laki di luaran sana mas" jawab nya


"Karena perpisahan 10 tahun lalu, bukan kah Azza selalu menaruh rasa percaya penuh pada mas sama Papa, namun mengapa demikian Za?" Tanya Gustian


"Sayang,, dengar kan mas baik baik, mas benar benar berharap, Azza nggak pernah mengalami masa masa sulit hanya karena perpisahan kita Zaa, Mama dan Papa bisa meng ikhlas kan kepergian mas, masa Azza nggak, kamu pasti bisa sayang, ikhlas kan kepergian mas, karena itu, akan mengganggu kesibukan yang kamu miliki" jelas Gustian


Mendengar hal itu, kini berhasil membuat nya kembali menggeleng geleng kan kepala nya tak mengerti "nggak mas, kenapa semua orang seolah memaksa ku untuk melakukan hal yang sama sekali tidak bisa ku lakukan, sulit mas, sulit bagi ku untuk bisa melupakan mas dalam kehidupan ku, melupakan sosok yang dahulu selalu ada di sisi ku, mengapa semua nya seolah tak mengerti" ujar nya


Mendengar hal yang di lontar kan oleh sang adik, kini berhasil membuat Gustian menggeleng tak setuju "nggak sayang, bukan itu maksud dari ucapan mas, mas hanya minta, Azza ikhlas kan kepergian mas ikhlas kan dan biar kan mas menjalani kehidupan baru nya mas di sini, berbeda dunia, bukan berarti dua insan sulit untuk bertemu Za, mas hanya meminta Azza untuk ikhlas, mas bahagia di sini, mas sudah tenang di alam sini, bersama kekasih abadi mas, yang sudah mendahului mas" tutur Gustian dengan lembut


"K,, kak Safa?" Tanya nya memandangi wajah sang kakak dengan mata berkaca kaca


"Hmmm, yaah, kini Tuhan berbaik hati pada mas, sehingga Tuhan memberikan kesempatan kedua pada mas, untuk bisa menjaga istri mas dengan baik di sini" jawab Gustian dengan tersenyum tipis


Shafania Radya Almira, istri dari sang kakak yang telah meninggal terselang waktu tiga tahun sebelum Gustian menyusul, meninggal kala dua insan ini tengah di landa rasa bahagia karena baru saja resmi menjadi pasangan suami istri, meninggal kala kedua nya tengah selesai melakukan shalat isya berjamaah untuk pertama kali nya, namun kebahagiaan itu tidak berselang lama, kala Gustian harus melihat sang istri yang terbujur kaku di atas brankar rumah sakit, dengan kenyataan, istri nya adalah korban tabrak lari beruntun, kenyataan bahwa Gustian melihat istri yang begitu di cintai nya untuk yang terakhir kali nya, berhasil membuat Gustian sendiri benar benar terpuruk dengan hal ini


"lagi pula,, Mahen kan suami kamu, dia bukan orang lain lagi sayang, percayai lah dia,," tutur Gustian dengan tatapan sayu


"A,, Azza nggak bisa mas, hal itu sudah Azza coba, tapi entah mengapa, Azza begitu sulit hanya untu sekedar mempunyai rasa percaya, apa lagi dengan Keenan, Azza takut kecewa berlebihan karena debat yang sering kita lalui hampir setiap hari mas" jawab nya yang benar benar memperlihatkan apa yang ada dalam pikiran nya


"pelan pelan kamu pasti bisa sayang, Kasihan Mahen, jika kamu terus terusan seperti ini Za, ayo bangkit, kamu harus bersemangat dalam menjalani kehidupan yang kamu jalani, mas yakin, Mahen, dia laki laki yang baik, dia tidak seburuk apa yang kamu kira sayang, mulai lah kehidupan baru mu bersama nya, mas yakin, kamu pasti akan bahagia bersama dengan nya" tutur Gustian memberikan semangat baru untuk nya


"hhhhh,, Kanza,, mas baik-baik saja sekarang, mas bahagia di rumah baru nya mas bersama kakak ipar kamu, karena mas sudah bahagia di tempat yang kekal ini, maka kamu juga harus bahagia dengan kehidupan baru yang kamu tempuh, patuhi orang sekitar mu, terutama suami mu, kasihan dia kalau kamu masih menyusahkan nya Za" tutur Gustian dengan menangkup kedua pipi nya


"Maaf kalau aku nggak pernah bisa jadi istri yang baik dan anak yang diinginkan Papa sama Mama mas?" Ucap nya seraya menunduk semakin dalam


Mendengar hal itu sontak saja membuat Gustian tersenyum lebar yang mendengar nya "bukan nggak bisa sayang, tapi belum, kamu belum bisa juga belum terbiasa, bagus kamu sudah mencoba berusaha memperbaiki diri Za, itu sudah tepat, mas bantu do'a kan yang terbaik buat kamu, asal kan kamu mau berusaha, percaya sama mas, proses tidak akan pernah mengkhianati hasil, mas juga percaya kalau kamu pasti bisa" menasihati adik nya dengan lembut, kini Gustian pun mulai mengambil langkah, kemudian menghadap adik nya dan berjongkok di hadapan nya dengan senyum yang tidak pernah di pudar kan nya, seolah membantu meyakin kan nya dan mendukung nya meski dari jarak yang cukup jauh bagi kedua nya karena sudah berbeda alam


mendengar penuturan demi penuturan itu, kini hanya berhasil membuat nya semakin menunduk dalam


"akh iya, kamu pasti kedinginan, pakai jas nya mas ya, ayo semangat, Kanza nya mas pasti bisa, lawan trauma kamu Za, rutin minum obat, sering-sering cek ke psikiater, yakin, kamu pasti bisa sembuh" ucap Gustian seraya memakaikan jas nya di bahu nya, juga menarik selendang putih yang dikenakan nya, membalut kepala adik cantik nya ini dengan selendang


"cantik, kamu memang benar-benar cantik, mas yakin, itu akan membuat adik ipar mas tertarik, walau dengan perlahan, jangan kecewakan dia ya sayang?" Tutur Gustian


"aku nggak bisa janji mas, aku nggak bisa meraih atau bahkan membuat nya merasa senang apalagi bahagia, aku,, aku cukup sadar, kini aku bukan istri yang baik untuk nya" jawab nya dengan menggeleng geleng kan kepala nya yang di tunduk kan juga dengan kedua tangan yang saling bertautan, sangat kentara akan kegugupan


"dia tidak seperti itu Za, asal kan kamu mau menuruti apa yang menjadi keinginan nya, dia akan meluluh dengan perlahan, mas yakin itu" tutur Gustian dengan tatapan yang berhasil membuat nya sedikit yakin


"m,, mas mau ke mana?" tanya nya kala menyadari sosok di hadapan nya akan pergi dengan kedua tangan yang masih saling menggenggam dan membuat kepala nya kini mendongak dengan tatapan yang sayu dan berkaca kaca


"hmm, mas pamit sama kamu yah sayang, mas yakin kamu pasti bisa melewati semua nya, mas titip Mama sama Papa, mas percaya, kamu pasti bisa membahagiakan kedua nya, bahkan seluruh anggota keluarga kita" jawab Gustian dengan terus tersenyum


namun mengundang gelengan kepala tak setuju dari nya yang notabene nya sudah banyak memendam rasa rindu itu terlalu lama "nggak mas, aku mohon, jangan tinggal kan aku lagi, nyata nya aku nggak pernah terbiasa hidup tanpa mas" rintih nya yang sudah tidak bisa membendung air mata nya lagi, menangis di hadapan orang tersayang nya


"nggak sayang, kamu anak yang kuat, dan akan selalu seperti itu di mata mas, kamu harus bisa dan kamu pasti bisa, kamu lihat,," ucap Gustian yang menunjuk pada bayangan sosok dari kejauhan sana


"ada kekasih halal nya mas yang selalu setia menunggu kedatangan mas, jika mas terus bersama mu, bagaimana dengan dia, bukan kah kamu sangat menyayangi nya juga, percaya lah, kita akan selalu jaga kamu dari sini" ucap Gustian yang mulai memaksa melepas genggaman di masing masing kedua tangan nya


"nggak mas, nggak maas,," teriak nya dengan histeris kala melihat Gustian kini mulai semakin menjauh dari pandangan nya, lalu menjadi titik kecil kemudian menghilang


"mengapa harus mas yang aku sayangi, mengapa begitu cepat mas di lahir kan dan kembali kepada-NYA?" gumam nya dengan tangan kanan mengangkat, seolah masih meraba wajah sang kakak yang kini sudah berlalu sejak tadi


_**Naughty Girl Is My Wife_


Selasa, 4 April 2023**