
malam semakin larut, setelah mengada kan party barbeque, namun entah mengapa, diri nya sedikit susah untuk tertidur di malam ini, hanya ingin merenung di atas dipan kayu ini, sambil duduk dengan menyilang kan kedua kaki nya
"yang lain sudah tidur, kenapa belum tidur?" sontak suara berat Mahen kini menyadar kan nya dari lamunan nya
"kamu sendiri kenapa masih di sini?" tanya nya yang menoleh dengan sekilas ke arah Mahen yang kini entah membawa dua cangkir minuman apa
"buat kamu,," ucap Mahen seraya mengulur kan tangan kanan nya yang memegang cangkir minuman
"apa ini?" tanya nya yang menerima cangkir tersebut dengan rasa penasaran yang cukup tinggi
"cuaca dingin, cocok minum teh jahe" jawab Mahen seraya ikut duduk di samping kiri nya
mendengar hal itu, kini hanya membuatnya mengangguk dengan perlahan
"kamu belum menjawab pertanyaan aku tadi, kenapa kamu sendiri masih di sini, dan,, belum tidur juga?" tanya nya seraya meniup teh jahe yang ada di kedua tangan nya, kemudian meneguk nya dengan perlahan
"hhhhh,, dua laki laki itu ngorok, buat tidur gelisah" jawab Mahen yang berhasil mengundang gelak tawa dari nya yang mendengar
"masa si mereka gitu,, oh,, biasa nya kalau orang tidur nya ngorok, kamu jangan biar kan orang itu tidur dalam posisi telentang, harus menyamping gitu tidur nya, jadi kayak nya nggak bakalan ngorok deh,," jelas nya
"dari mana tahu gitu?" tanya Mahen yang menerima saran nya dengan penuh perasaan ragu
"entah,, aku banyak dengar sih, aku juga sedikit ragu, tapi coba saja,, mungkin ada benar nya juga" jawab nya yang mengundang putaran bola mata malas dari Mahen
'hhhhh,,, gini banget punya istri kurang peka, suami mana yang bakalan nyaman tidur kalau nggak di samping istri nya, gitu aja nggak tahu?' batin Mahen
"tapi menurut ku,, seperti nya kak Sandi sama Agas nggak bakalan tidur sambil ngorok seperti apa yang kamu maksud deh?" lanjut nya dengan tiba tiba
"nuduh bohong, iya?" tanya Mahen dengan nada tak suka dengan pembicaraan nya
"bukan,, bukan gitu maksud aku" jawab nya dengan menggeleng pelan
"terus?" tanya Mahen lagi yang merasa muak dengan pembicaraan mengenai dua orang itu
"ya', aku lihat saja, kedua nya mempunyai sikap yang sama sama rapi nya masing masing, baik juga, ya',, meski pun sedikit usil sih" jawab nya membenar kan, namun dengan rasa yang entah mengapa sedikit gugup
"jadi lebih nggak percaya sama suami sendiri di banding dengan dua orang usil itu??" ujar Mahen merasa tak terima jika diri nya membela laki laki lain di hadapan nya
"bukan gitu apaan sih kamu itu,, main klaim gitu aja, ini menurut apa yang ada pada pandangan aku sama dua orang itu, bukan nggak percaya sama kamu" jawab nya
"sudah lah, bilang aja nggak percaya sama suami sendiri!" ujar Mahen yang masih saja berkeras kepala
namun hal itu kini membuat nya tersenyum tipis dan memandangi wajah kesal Mahen di samping nya, membuat Mahen salah tingkah
"kenapa pandangi sampai segitu nya, baru nyadar kalau punya suami tampan?" ujar Mahen yang jelas salah tingkah
"hmmm,, kamu cemburu karena menurut kamu aku lebih percaya sama orang lain di banding kamu?" tanya nya dengan tersenyum namun berhasil membuat Mahen membuang pandangan nya dan tercekat
"nggak,, buat apa cemburu, GR banget" jawab Mahen yang padahal hati nya membenar kan
'tapi tetap saja, aku nggak suka lihat kamu lebih nyaman sama yang lain dari pada aku' batin Mahen
"xixi, canda Nan, nggak usah di masukin ke hati kali, aku tahu kok, kamu nggak bakalan punya rasa suka apa lagi cinta sama aku, mana mungkin itu terjadi" lanjut nya
"tapi kita kan sudah,,," ucapan Mahen terhenti, kala diri nya meletak kan jari telunjuk nya tepat, di depan bibir Mahen dengan tiba tiba
"sudah ku bilang, itu sekedar bantuan saja buat kamu, aku tahu, karena saat itu, nggak ada yang bisa bantu kamu selain aku, yang notabene nya istri kamu, semoga itu bisa membantu kesulitan yang kamu alami" lanjut nya
"sudah malam, pergi lah tidur, banyak kegiatan yang harus kita lakukan besok,," tutur nya seraya berjalan ke arah dapur dengan membawa dua cangkir minuman yang sudah di minum sampai habis
melihat hal itu, kini Mahen pun hanya terdiam di tempat, tanpa bisa berkata apa apa, memandangi kepergian nya yang perlahan mulai menghilang di telan tembok dapur
'apa kamu masih merasa,, jika aku tidak pernah menyukai mu, sekali pun kamu tahu,, bahwa aku sendiri selalu memperhatikan mu jauh sejak perjodohan itu terjadi?' batin Mahen dengan tatapan nanar
jauh di balik ambang pintu sana, kini diri nya pun yang sedang mencuci dua cangkir minuman terdiam sejenak
'nggak,, nggak mungkin aku menyukai nya, aku nggak pernah pantas untuk nya, sadar Ay, kamu siapa di mata nya, kamu harus menghapus rasa yang pernah singgah di hati mu, jika kamu tidak ingin perpisahan itu terjadi,, untuk yang kesekian kali nya!!' batin nya dalam hati, di iringi dengan gelengan kepala yang cepat
"nggak,, kamu nggak boleh suka sama dia Ay, kamu harus mengubur rasa itu dalam dalam,," monolog nya yang berbisik, sampai tidak ada seorang pun yang mendengar suara nya
namun nyata nya, se pelan apa pun gumaman nya, itu masih bisa di dengar oleh Sandi sendiri, yang kebetulan sedang ke kamar mandi dapur
"Ay,, apa maksud dari ucapan kamu itu?" tanya kak Sandi seraya menghampiri nya di depan wastafel
"e',, kak,, kak Sandi,, sejak kapan kakak di sini?" tanya nya seraya membilas kedua tangan nya kala sudah selesai mencuci
"jangan berusaha mengalih kan pembicaraan Ay,, apa maksud dari ucapan yang kakak dengar jelas dari mulut kamu?" tanya kak Sandi lagi dengan raut wajah serius
"ternyata kakak mendengar nya, itu bukan apa apa kak" jawab nya dengan membuang tatapan nya
"jawab kakak Ay, kakak butuh penjelasan,, apa maksud nya,, bukan kah kamu sudah menikah dengan nya, lantas mengapa kamu bisa berbicara seperti itu?" tanya kak Sandi lagi
"oke aku jawab, aku tidak pantas, hanya tiga kata itu yang tepat untuk pertanyaan kakak tadi" jawab nya yang berhasil membuat kak Sandi tercekat
"tapi,,, kenapa harus tidak pantas Ay,, kata kan, apa dia menyakiti mu?" tanya kak Sandi
"nggak,, dia baik pada ku, bahkan sangat begitu baik, tapi aku memang tidak pantas untuk nya" jawab nya dengan memandangi wajah kak Sandi dengan mata yang berkaca kaca
"nggak,, itu salah, bukan kamu yang tidak pantas, kamu hanya merasa tidak pantas, hanya perasaan kamu saja" jawab kak Sandi dengan lembut
"sudah lah kak, kembali lah dan tidur, besok masih banyak hal yang harus dilakukan" jawab nya dan berlalu pergi
_**That Naughty Girl Is My Wife (LDN)_
Sabtu, 22 Juli 2022**