
Canteen University of Harvard 11:30
Hanya membutuh kan waktu satu bulan saja untuk bisa membuat kejeniusan dalam diri nya terpancar, dari mulai selalu mengharumkan nama universitas Harvard, menjadi primadona di universitas karena memang di kenal sebagai mahasiswi yang baik hati, menjadi senior yang ramah dan mau membantu, juga cukup ahli dalam bidang akademik, kini membuat gadis satu ini cukup di sukai sebagian besar dosen dan mahasiswa juga mahasiswi di universitas negeri ini, bahkan ilmu agama yang selalu ingin di pelajari nya pun nyaris cukup dan bahkan mulai bisa dicari jawaban nya sendiri, bukan tanpa alasan, diri nya yang sebenar nya mempunyai kejeniusan yang tersembunyi, juga pikiran yang cepat paham dalam sesuatu kini membuat nya perlahan bisa mencari jawaban dari segala tanya nya, hal ini pun sempat di akui oleh ustadz Hamzah sendiri bahwa dia memang gadis yang lain dari pada yang lain, begitu lah kata ustadz Hamzah Ahad lalu mengenai nya, kala diri nya berpamitan pada sang ustadz, namun tak jarang juga ustadz Hamzah pun tengah menyuruh nya untuk tidak sungkan dalam mendatangi dan singgah barang sebentar di mesjid depan universitas itu
Namun perihal sikap nya pada Mahen, akh, seperti nya masih dengan sikap yang sama, karena memang laki laki itu selalu saja bersikap dingin pada nya, sekali pun laki laki ini telah merasakan sedikit kenyamanan kala kedua nya tengah bersama dan saat diri nya tak jauh dari pandangan laki laki ini, entah apa yang laki laki satu ini ingin kan
Setelah mengikuti dua kelas tadi pagi, kini siang ini, Ayla, diri nya tengah duduk di salah satu bangku kantin seorang diri, dengan memainkan sepasang sumpit yang menjadi alat bantu nya untuk memakan dimsum di hadapan nya, tangan nya terlihat lihai dalam mengaduk sepasang sumpit tersebut, namun mata nya sangat terlihat jelas, sarat akan lamunan nya, memikir kan saran dari keluarga nya yang tengah menyuruh nya untuk kembali membeli dan memegang ponsel
Yaah, sejauh ini bahkan diri nya belum kembali mempunyai ponsel, bukan tanpa alasan, pasal nya gadis ini sangat bosan dengan benda pipih itu, bukan tidak ingin lagi, sebenar nya masih ada keinginan barang sekecil tahi lalat dalam diri nya, namun diri nya cukup merasa, jika kejeniusan nya itu datang karena diri nya yang selalu memfokuskan pikiran nya, pada apa yang sedang di pelajari nya, tanpa ponsel tentu nya, karena memang hampir semua kebutuhan nya selalu dia lakukan melalui laptop kesayangan nya, hanya komunikasi saja yang sedikit sulit, hingga menyebab kan Mama dan Papa kini mengomel, karena diri nya yang belum juga membeli benda pipih tersebut, padahal kedua orang tua nya cukup tahu, jika anak gadis semata wayang nya ini tidak akan pernah merasa kesulitan perihal uang
"assalamualaikum?" ucap seseorang yang masih saja belum di sadari nya, membuat seseorang itu mengernyit kan kening heran
"astaghfirullah,, Ayla Kanza Cakrawala,," ujar laki laki ini yang ternyata adalah Sandi, menggebrak sedikit meja yang berhasil membuat nya cukup terkejut dan tersadar dari lamunan nya
"astaghfirullah kak, ternyata kakak, aku kira siapa, kebiasaan nya buruk banget deh, ngagetin terus tiap muncul depan aku, ucap salam dulu kek!" ujar nya spontan, dengan memegangi dada nya yang tiba tiba berdebar kencang akibat terkejut juga menoleh ke arah Sandi yang berdiri di hadapan nya hanya terhalang meja kantin saja
"kakak udah ucap salam yah, kamu nya aja yang banyak melamun, lamunin apa coba, sampai nggak sadar ada orang ucap salam aja nggak di jawab, huft,," jawab Sandi dengan mendengus kesal dan mengalihkan pandangan jangan lupa kan kedua tangan yang di sedekap kan di depan dada bidang nya
"ya', ya maaf, waalaikum salam warahmatullah, maaf deh, aku telat jawab salam?" ucap nya gelagapan kemudian kembali menunduk
"ya udah, karena kamu junior aku, aku maaf kan, tapi,, kamu kenapa, hari ini kamu agak aneh deh, melamun terus, kenapa coba?" tanya Sandi langsung to the poin seraya ikut duduk di hadapan nya
"aku nggak apa apa kak, lagi dikit bimbang aja" jawab nya yang tidak ingin merepotkan sosok di hadapan nya
"lagi bimbang kenapa sih Ay, ayo cerita sama kakak, siapa tahu, kakak ada solusi, buat ke bimbangan yang kamu alami?" tanya Sandi dengan lengkap namun berhasil menyisakan kerutan pada kening nya
"tumben kakak tanya lengkap, biasa nya suka singkat, pasti ada mau nya?" tanya nya yang sontak saja membuat Sandi lagi lagi menarik nafas panjang saat baru saja menurunkan kedua tangan nya
"hhhhh,, kamu udah tahu kakak kalau serius ya gini, nggak suka basa basi, apaan sih, lagian kakak banyak canda nya juga bukan berarti kakak nggak bisa di ajak serius kali Ay, gitu aja nggak tahu!!" ucap Sandi dengan mendelik tajam seraya kembali bersedekap
"hhh baiklah baik,, jadi,, orang tua aku terus terusan omelin aku kak, bahkan sempet ancam aku juga" ucap nya yang pada akhir nya mengalah, dan memilih menceritakan apa yang ada di pikiran nya saat ini, membuat kening Sandi mengerut bingung
"omelin,, gara gara apa lagi, perasaan kakak banyak denger kabar kamu terus terusan di omelin sama orang tua kamu, entah itu karena kamu yang kebanyakan konsumsi mie instan, kamu yang suka telat makan, kamu yang hobi nya maraton Drakor sampai gadang, kamu yang kerja kan jurnal sampai ketiduran di meja belajar, kamu yang ketua geng motor, selain itu apa lagi, kamu nggak mungkin kan, hambur hambur kan uang sampai membuat kedua orang tua kamu ancam kamu gitu?" tanya Sandi yang memang sudah sangat mengenal akrab diri nya, berusaha menghitung satu persatu kekurangan nya di mata kedua orang tua nya dengan jari nya
"ya kamu tinggal beli ponsel lah, kamu ada uang kan, mau kakak beliin, setelah pulang dari sini kakak ada waktu kok?" tanya Sandi dengan beruntun, sambil melihat arloji di pergelangan tangan kiri nya
"ish,, bukan gitu apaan si' kakak ini, ini bukan masalah uang kak, kalau masalah uang, ya', aku masih ada sedikit simpanan lah, cuman bukan itu masalah nya" jawab nya dengan cepat
"huum, iya juga sih, kakak percaya kalau masalah simpan uang sama kamu, orang kamu irit gitu, bukti nya, dimsum ini aja belum kamu habis kan, gimana mau hamburin uang?" tanya Sandi sekaligus menyindir nya, namun tidak di tanggapi oleh nya sendiri
"gimana ya kak, aku nggak biasa, aku nggak nyaman pegang ponsel, ganggu tahu nggak, lagi pula, kalau aku kembali pegang ponsel, aku takut perhatian dan kefokusan ku teralih kan sama ponsel, kalau di laptop kan notif nya cuman waktu kita buka laptop aja, ini kalau ponsel, aku takut ganggu, mana beberapa menit lalu ada yang ponsel nya kena sita pak Zhang lagi, waktu kelas berlangsung, aku juga takut kena, lagi pula, aku takut salah fokus kalau kembali pegang ponsel" jawab nya berusaha menjelas kan
"ya kamu pasang mode silent lah Ay, biar nggak ganggu" usul Sandi dengan tak heran
"entah lah kak, masalah nya aku males banget cuman buat pegang nya aja, kakak kan tahu sendiri aku itu tipikal orang yang suka dengan ketenangan, aku nggak suka keributan" jawab nya mulai mengeluarkan isi pikiran nya
"iya si', kakak cukup paham dengan apa yang kamu katakan, tapi Ay, saran kakak, setidak nya turuti apa yang menjadi keinginan kedua orang tua kamu, lagi pula, orang tua mana yang mau lost kontak sama anak nya, menjalani kehidupan masing masing tanpa ada nya sarana bertukar kabar, kasihan kan kalau gitu jadi nya, kamu bisa kok, nggak pegang ponsel, kamu bisa pertimbangkan keputusan ini, malas atau tidak nya kamu memegang ponsel, itu bisa kamu atur saat kamu sudah memiliki nya,,,"
"lagi pula,,, memang nya kamu mau berbohong aja sama kedua orang tua kamu perihal ponsel?" tanya Sandi yang memang di pertimbangkan juga oleh nya
"iya juga si' kak, aku nggak bakalan bohongi kedua orang tua aku perihal ini, tapi jujur kak, aku masih bingung" jawab nya yang sudah merasa sangat serba salah
"lagi pula,, bukan kah kakak juga belum memiliki kontak kamu, setidak nya untuk bertukar kabar agar tidak terputus tali silaturahmi di antara kita, kamu mau biar kan kakak menunggu sampai kapan lagi, kakak dikit bimbang juga tahu, Kania, dia selalu tanya kakak kalau cari kabar tentang kamu, kasihan kan dia, padahal dia belum tahu pasti kakak selalu tahu kabar kamu atau nggak" jelas Sandi dengan sengaja agar diri nya mau membeli ponsel
"apa yang kakak bilang memang nggak ada yang salah si', tapi ini sulit kak, aku masih ragu" jawab nya yang memang keras kepala
"ya udah, gini aja, kamu pikirkan dulu aja perihal ini, pertimbangan kan lagi apa yang sudah kakak katakan sama kamu, untuk keputusan nya nanti, kamu bisa datang ke mesjid dan temui kak Hamzah, biar dia bantu kamu hubungi kakak" putus Sandi pada akhir nya
"yah, nggak usah bimbang dengan ini juga kali Ay" ucap Sandi yang melihat anggukan kepala itu kini lagi lagi menjadi jawaban dari segala usul nya
"gue cariin ternyata lo di sini!!" suara bariton itu kini sontak saja membuat nya yang sedikit melamun mempertimbangkan usul Sandi kini membuyar dengan sekejap, membuat nya menoleh ke arah sumber suara tersebut
_That Naughty Girl Is My Wife_
Rabu, 24 Mei 2023