
sinar mentari pagi membuat tidur nyenyak nya perlahan terusik, kemudian terbangun dari tidur nya, aneh nya diri nya merasa memikul beban berat, apa lagi di bagian perut dan kedua kaki nya, dan,, alangkah terkejut nya diri nya, kala kedua mata indah itu di buka nya dan mendapati tangan kekar yang tengah bertengger di atas perut nya, tunggu, mendapati hal itu kini berhasil membuat nya tak berani untuk sekedar menyapu kan pandangan nya atau bahkan menoleh kan kepala nya pada samping nya, kala mendengar deruan nafas teratur seseorang yang tengah tertidur pulas di samping nya,
namun dengan keberanian yang tengah di kumpul kan nya, kini kepala nya pun akhir nya mau menoleh walau dengan perlahan, hingga mendapati laki laki teman ribut nya di setiap momen, dalam keadaan masih tertidur dengan nyenyak
tunggu, sejenak gadis itu mulai tersadar akan diri nya yang tertidur dengan masih mengenakan hijab di kepala nya, rasa nya benar benar nyaman, tidak bohong, baru kali ini diri nya merasa nyaman dengan benda luar biasa itu, biasa nya akan sangat jarang, bahkan sangat langka bagi nya, namun kali ini, semua nya benar benar nyaman, bahkan diri nya sendiri pun tidak pernah menduga akan merasa senyaman ini tertidur dalam mengenakan hijab
"ugh,, udah bangun Ay, apa perut nya masih kram?" tanya laki laki itu yang tengah menatap nya dari samping
"kenapa senyum senyum sendiri, nyaman ada di posisi kayak gini hmm, mau tiap malam kayak gini?" tanya Mahen tengil, yang terlihat memaju kan wajah ke arah nya
"ih Keenan apaan si', nggak kok, btw kenapa gue bisa tidur di sini, se ingat gue,,," ucapan nya terpotong kala mendengar Mahen menghembuskan nafas panjang
"hhhhh, Ay, gue yang pindah kan lo ke sini, lagi pula,, kenapa bisa senyenyak itu sih tidur nya, yang padahal tidur di sofa juga!!" seru Mahen merasa tidak suka
"gue memang terbiasa tidur di sofa nan, waktu masih lajang kan gue tidur sendiri, di mana aja gue nyaman, pasti gue tidur, lagi pula, kemarin perut gue kram juga, jadi nggak sanggup buat gerak aja, eh,, lo kenapa tahu kalau gue kram di perut?" tanya nya yang baru menyadari
"ya tahu lah, itu waktu lo masih lajang, sekarang lo udah punyak gue, suami lo kalau lo lupa, dah lah, pokok nya mulai detik ini, kebiasaan nya jangan sampai terulang lagi Ay, gue nggak kasih izin buat ini, heran, punya kebiasaan kok buruk banget" seru Mahen lagi
"perut nya masih kram nggak, mau gue pijit lagi?" tanya Mahen yang berhasil membuat nya membulat kan kedua bola mata
"apaan, jangan sembarangan ngomong yah lo, lancang banget sok sok'an mau pijitin perut!!" seru nya dengan menepis tangan Mahen yang hendak bergerak
"dih, semalam keenakan tuh, aku pijitin, kenapa sekarang sok sok'an nggak mau?" tanya Mahen dengan masih menggoda nya
"ih apaan sih nan, jangan canda deh, orang semalam gue udah tidur kok, kenapa juga lo pindah kan gue ke sini!" ujar nya mengalihkan pandangan nya
"dih, beneran nggak merasa ternyata, padahal yah, kamu tuh semalam enak banget perut nya aku yang pijitin, kamu nya aja yang nggak merasa, tapi masa sih, orang kamu yang pegang tangan aku, kamu arah kan ke perut kamu, suruh aku buat pijitin, pura pura tidur yah,," terdiam sejenak "lagi pula,, semalam kamu berjalan dan berbicara dalam tidur sih" lanjut Mahen yang melihat ke atas, seolah sedang berpikir
"jalan, jalan ke mana?" tanya nya yang merasa heran dan kembali melihat Mahen di samping nya
"ke arah balkon" jawab Mahen santai
"kamu suka yah sama aku?" tanya Mahen dengan tiba tiba, dan memandangi wajah nya yang tepat sedang melihat Mahen sendiri
"ap,, apa, suka apa, ya nggak lah, kalau suka lo, berarti gue kanibal dong" jawab nya yang merasa yakin
"emmm, masa, orang semalam bicara gini kok 'Keenan tampan, Keenan punya aku, jangan tinggal kan aku ya nan, aku mau sama kamu' gitu kok" jawab Mahen yang menyerupai gaya bicara nya
"dih, siapa juga yang suka sama lo, nggak yah, gue nggak suka daging manusia, karena gue juga masih manusia, yang gue suka itu mochi sama sushi" jawab nya "lagian, mana ada gue ngingau kayak gitu, orang gue nggak mimpi semalam, itu tanda nya gue nyenyak, napa lo harus pindah kan gue ke sini sih?" tanya nya
"ck, udah aku bilang, aku ini suami kamu, ya kali aku biar kan kamu tidur di sofa, sementara aku di sini!" seru Mahen
"ck, dah lah, gue mau ke kamar mandi, males banget lama lama sama lo, pengap tahu nggak" ujar nya seraya terduduk hendak bangun
namun tiba tiba
"aarrgghh,," rintih nya karena terkejut karena kedua kaki nya yang masih berada di bawah kaki Mahen membuat nya sedikit sulit untuk sekedar bergerak saja, dan tangan nya yang di tarik oleh Mahen secara tiba tiba, membuat nya terjatuh dan terbaring di,, atas tubuh Mahen?
tangan kekar yang tadi nya menyentuh perut nya kini maju dengan perlahan, melingkari pinggang nya, menahan nya agar diri nya semakin tidak bisa bergerak
"nan, lepas, lo apa apaan sih, gue mau ke kamar mandi?" tanya nya yang berusaha untuk lepas dari laki laki dingin ini
mendengar hal itu, kini semakin membuat nya merasa terancam, dengan apa yang Mahen lakukan pagi ini
"nan, ayo lah, jangan kayak gini lo bisa nggak sih,,," ujaran nya terpotong, kala kedua nya mendengar suara nada dering ponsel di atas nakas
melihat panggilan yang berbededing dan mendapati Ayah dan Bunda yang menghubungi yang juga sudah di hubungkan dengan Mama dan Papa
senyum jahil itu terlihat dari bibir tipis Mahen, kala laki laki itu menemukan sebuah ide untuk menjahili nya, tanpa ragu, Mahen pun mengangkat panggilan video dan mengarah kan kamera ponsel pada kedua nya
"duuh, pagi pagi udah tebar kemesraan aja yah, abis ngapain kalian semalam, sampai kamar berantakan kayak gitu?" tanya Papa dengan tersenyum manis
"iya nih Pa, hehe, biasa lah, kayak yang nggak ngerti aja orang tua sama pasutri baru" jawab Mahen dengan ramah
"gitu yah, tapi kita memang belum mengerti, kan gadis semata wayang nya Papa suka menentang anak nya, kok bisa luluh gitu sama kamu?" tanya Papa masih dengan tersenyum
"Papa apaan sih, nan, lepas nggak?" bisik nya yang mendapati gelengan dari Mahen yang masih tersenyum jahil
"gadis semata wayang Papa sama Mama bahkan nggak mau lepas kan aku, padahal aku baru bangun lho, kata nya tampan nya kelebihan, jadi nempel terus sama aku sejak semalam Pa" seru Mahen dengan bangga
"apa, nggak kok itu salah Ma, Pa, Yah, Bund, semua nya nggak sesuai dengan apa yang kalian bayang kan" seru nya yang tengah menahan malu
"lepas nggak" tanya nya yang sudah benar benar malu
"kalau aku nggak mau lepas gimana?" tantang Mahen
menyeringai dalam diam, tangan kanan nya maju dengan perlahan, dan pasti nya, tanpa di sadari oleh Mahen sendiri
"Auh,, auh,, auh,,, sakit Ay ish, kenapa sih?" tanya Mahen yang mendapat cubitan di pinggang kiri
"makan nya jangan suka main main sama gue!" jawab nya dengan dingin, kemudian menghindari dan terlepas dari Mahen, segera masuk ke dalam kamar mandi
"hhhhh" helaan nafas itu terdengar kala pintu kamar mandi sudah di tutup rapat oleh nya
"kamu pasti ngerjain Ay lagi yah, sampai kayak ngambek gitu?" kali ini, Bunda yang bertanya
"hehe, abis nya aku kecanduan banget Bund, kerjain dia kayak gitu, di godain, asyik banget tahu Bund" jawab Mahen
"kamu udah mulai suka sama anak gadis Ayah yah?" tanya Ayah dengan menyeringai namun berhasil membuat Mahen tercekat
"dah deh, seperti nya dia benar benar marah sama kamu, kamu bujuk dia yah, nanti lanjut ngobrol lagi, kalau kalian udah baikan, assalamualaikum?" ucap Bunda di ikuti dengan panggilan video yang terputus
"waalaikum salam" gumam Mahen yang masih termenung
'apa iya gue udah mulai suka sama dia ya?' batin Mahen
"tahu akh, sekarang mending siapin sarapan dulu buat dia, sarapan salmon kayak nya enak tuh" monolog Mahen seraya bangun dan keluar dari kamar
_That Naughty Girl Is My Wife_
Senin, 19 Juni 2023