
The Main bedroom of the mansion 19:25
"kok kamu nggak bilang kalau udah beli ponsel lagi, tahu gitu biar aku aja yang beli kan kamu ponsel baru?" tanya Mahen yang melihat nya duduk kembali
"gue nggak beli ponsel lagi" jawab nya singkat namun mengundang kerutan di wajah Mahen
"terus ini ponsel siapa, kok bisa sama kamu?" tanya Mahen yang sejak tadi sudah sangat penasaran
"nggak mungkin gue pegang ponsel orang lain, ini ponsel gue pemberian mas Gus" jawab nya yang sontak saja membuat Mahen yang mendengar beranjak berdiri dengan tergesa
"sudah lah Ay, mas Gus lagi mas Gus lagi, bosan aku dengar nya, apa sih, keistimewaan nya mas Gus mu itu, selalu saja nama mas Gus yang kau ucap kan?" tanya Mahen yang sekarang membuat nya mengerutkan kening nya
"hhhhh, jelas hanya nama mas Gus yang selalu gue ucap kan, Keenan, dia,," ucapan nya tercekat, bingung antara memberi tahu atau tidak pada Mahen "Gustian Gilvan Cakrawala, kakak sulung gue, anak pertama di keluarga Cakrawala, namun,, sayang nya,, dia,, sudah tidak terlihat" jawab nya yang yang terdengar melemas dengan kedua mata yang menerawang jauh di kejadian beberapa tahun lalu, juga ikut berdiri dari duduk nya, kala mendengar Mahen seperti tidak menyukai sosok mas Gus namun membuat Mahen yang mendengar mematung dan tercekat bahkan sekaligus merasa terkejut
"ka,, kamu,,," ucapan Mahen terputus kala melihat nya meninggal kan Mahen sendiri yang tengah berdiri, ekor mata laki laki itu mengikuti ke mana kaki nya melangkah
menghampiri nya dengan perlahan, duduk di sofa tepat di samping nya yang tengah menutupi wajah nya dengan kedua telapak tangan nya, memandang nya, hendak bertanya dengan rasa ragu
"k,,, kakak kandung kamu, jangan bilang yang waktu itu aku lihat orang yang tengah tersenyum dalam foto saat bersama dengan mu Ay?" tanya Mahen yang tidak di tanggapi sama sekali oleh nya sendiri
"Ay tolong jawab aku, dia,, dia kakak kamu, laki laki yang aku lihat tersenyum hangat di dalam foto itu kakak mu?" tanya Mahen lagi dengan menghadap ke arah nya
"yah Keenan yah, dia kakak gue, kakak kandung gue, orang yang selalu dukung dan mengerti dengan apa yang gue sukai, dia yang sulit buat gue lupa sama masa lalu gue, dan dia, adalah orang yang tepat, saat gue lemah, dia yang selalu jadi bahu kokoh buat gue, dia tempat gue pulang paling tenang nan" racau nya seraya membuka kedua telapak tangan nya yang sebelum nya menutupi wajah nya, menampil kan pipi mulus itu kini di aliri dengan banyak nya tetesan air mata hingga membuat pipi nya sembab, membuat Mahen yang melihat merasa tak tega
"jangan tanya gue perihal ini ya nan, ini nggak ada hubungan nya sama gue" jawab nya sambil menggeleng pelan, masih menjawab dengan nada melemah
"ya udah, aku nggak bakalan tanya kan hal yang sama, tapi,, kamu yang tenang dulu yah, sssttt,, aku yakin kamu kuat, kamu bisa hadapi hal ini" ucap Mahen seraya mengelus lembut kepala hingga punggung nya yang masih tertutupi hijab, membuat nya perlahan mengangguk
berusaha membuat nya kembali tenang dalam dekapan kokoh dia, yang menjadi pertanyaan di benak dia saat ini 'mengapa istri nya tidak pernah bercerita tentang kehidupan yang mungkin begitu rumit untuk di lalui nya, mengapa Mama sama Papa juga tidak pernah cerita perihal ini pada dia, padahal mungkin saja dia bisa membuat nya keluar dari kerapuhan yang sempat di alami nya?'
karena bagaimana pun, gadis yang ada dalam dekapan dia saat ini adalah istri nya, satu satu nya yang harus di jaga oleh dia sendiri, tanggung jawab yang tidak pernah ada ujung nya, sekali pun kedua nya terbilang bersatu karena sebuah perjodohan dari kedua keluarga, dan terkesan terpaksa, namun pernikahan tetap lah pernikahan, hal yang sakral, di mana setiap insan hanya menginginkan nya sekali dalam seumur hidup, itu lah pandangan dia perihal sebuah pernikahan sendiri, janji suci yang sengaja di buat, agar kedua belah pihak tidak melanggar
bahkan meski apa yang nama nya perasaan itu belum ada di benak dia sendiri, namun dia juga tidak pernah berniat untuk melalaikan tanggung jawab sebagai suami terhadap nya
apa? meski perasaan itu belum ada dia pikir? lalu,, apa nama nya jika takut yang di landasi khawatir yang berlebihan itu ada, apa nama yang tepat, untuk rasa bimbang hanya karena tidak melihat dan sekedar berpapasan dengan nya di universitas? apa kah itu yang nama nya simpati? pantas kah rasa itu masih di sebut rasa simpati yang masih hinggap dalam benak nya?
sejenak dia merenung, gadis itu terlihat lugu, jika dalam keadaan tertidur seperti ini, wajah yang polos, apa lagi jika mengenakan jilbab pada kepala nya, terkesan lebih anggun, dan apa kah mungkin, jika diri nya yang sedang tidak tertidur dengan mengomel yang tidak jelas itu adalah cara nya untuk menyembunyikan kesedihan yang di rasa kan nya, yah,, dia harus segera mencari tahu perihal ini, dan meminta jawaban dari kedua orang tua nya perihal apa yang sudah dia pertanyakan di dalam benak dia
sejak dulu, diri nya memang selalu terlihat cantik, dan dia sendiri pun tidak pernah bisa memungkiri hal itu, dulu saja dia sudah cukup mengangumi nya tanpa balutan hijab pada kepala nya, apa lagi sekarang, yang kini diri nya selalu berusaha memperbaiki akhlak nya dengan perilaku yang baik, tata krama yang tinggi, rasa saling menghormati, yah,, kini dia sendiri menyadari hal itu, meski mengomel terkadang masih mendominasi, namun diri nya tidak pernah melupakan kewajiban nya sebagai seorang istri, tidak salah juga jika dia memberi nya kesempatan untuk bisa berbuat baik lagi dan menata hubungan kedua nya dengan rapi, bukan kah semua orang juga pernah mengalami hal buruk, apa lagi yang bersangkutan dengan yang nama nya masa lalu?
bukan kah tidak ada salah nya jika dia mulai membuka hati, untuk nya, meski hanya sekedar sedikit saja, rasa tanggung jawab yang biasa sebagai pasangan suami dan istri, bukan lebih dari hal ini, namun untuk rasa yang di nama kan cinta? akh tidak, rasa itu rupa nya tidak pernah bisa di miliki oleh dia dan diri nya, kedua nya sama sama keras kepala, tidak mungkin rasa itu hinggap pada diri nya begitu saja
_**That Naughty Girl Is My Wife_
Rabu, 28 Juni 2023**