
Mahen tidak bisa merasa tenang barang sejenak, jika dua atau tiga hari demam pada tubuh sang istri hilang, laki laki ini tidak akan merasa khawatir yang berlebihan hingga membujuk diri nya berulang kali untuk pergi ke dokter
Mahen menggulir layar ponsel, membuka kontak dan mencari nomor dokter Ara, meminta bantuan dari dokter tersebut untuk memeriksa kan keadaan nya, laki laki ini bukan bodoh, hanya saja,, takut takut kesehatan mental nya juga akan terganggu karena perjalanan panjang yang pernah kedua nya lewati tempo hari lalu
...°°°...
"bagaimana keadaan nya kak,, apa kah dia baik baik saja,, apa kah kesehatan mental nya terganggu,,?" tanya Mahen saat melihat kak Ara tengah memasukkan stetoskop nya ke dalam saku jubah dokter nya
"hmm,, kamu akan segera mengetahui nya nanti,," jawab kak Ara dengan tersenyum,, melihat rasa penasaran yang lebih dominan ke arah rasa khawatir pada sang istri
"hhh,, jangan gini dong kak,, aku tanya baik baik juga terus pendam rasa khawatir sejak kemarin,, aku takut terjadi apa apa sama dia,,?" keluh Mahen dengan menghela nafas panjang
"hmmm,, tidak ada yang perlu di khawatir kan dari kondisi fisik atau mental nya Mahen,, dia baik baik saja,, namun setelah dia bangun nanti,, kamu harus selalu ingat kan dia agar dia tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat, banyak banyak istirahat, banyak makan ikan, buah, sayur, dan terutama, banyak banyak minum susu dan kamu jangan lupa untuk membelikan nya vitamin, jika ada keluhan lain,, kalian bisa cek ke dokter dan meminum obat resep dari dokter,," jelas kak Ara yang jelas saja membuat Mahen heran dan tidak mengerti dengan arah pembicaraan dari kak Ara
"tapi demam yang dia alami cukup tinggi dan naik turun kak,, aku bahkan sudah berusaha untuk mengompres nya,, tapi suhu tubuh nya tidak menurun dengan stabil juga,," tutur Mahen
"bukan DBD Mahen, istri kamu memang demam biasa,," jawab kak Ara dengan tenang dan selalu tersenyum
"baiklah,, kakak pulang dulu,, jika ada apa apa,," ucap kak Ara yang menggantung di kala menoleh ke arah nya yang rupa nya mulai sadar "dia punya kontak kakak,, bisa menghubungi kakak atau menemui dokter,, kakak pamit dulu,, semoga istri kamu cepat normal dan sehat lagi,, assalamualaikum,,?" ucap kak Ara yang seraya berjalan ke arah pintu kamar
"mau aku antar kak,, sebentar,,?" tawar Mahen yang lagi lagi membuat kak Ara tersenyum dan menoleh
"hmm,, kamu mau mengantar kakak ke mana,, Purbalingga,, kejauhan,, rawat saja istri mu di sini,, kakak sama suami dan anak kakak,," jawab kak Ara yang seraya benar benar pergi dan keluar dari kamar dengan menutup pintu kamar, membuat Mahen menggaruk tengkuk yang tidak gatal
menoleh arah nya, kini Mahen pun dapat melihat nya yang mengalih kan pandangan nya ke arah yang berlawanan, membuat Mahen menghela nafas kecil, di kala menyadari jika istri nya pasti merasa kesal karena dia tetap memanggil dokter tanpa sepengetahuan nya
"itu hanya kak Ara,," tutur Mahen seraya menghampiri dan duduk di hadapan nya yang kini beralih duduk juga namun dengan bersandar
"kak Ara juga dokter,, lagi pula kamu kenapa si ngeyel banget,, sudah aku bilangin juga nggak perlu ke dokter,, kak Ara itu dokter spesialis psikologi,, masa periksa aku yang demam,,?" tanya nya dengan melipat kedua tangan nya tanpa mau kembali menatap Mahen
"aku hanya khawatir kamu demam serius Za,," tutur Mahen dengan tatapan sayu
menghela nafas berat, rasa nya tidak ikhlas jika diri nya mengingin kan dia hari ini,, entah tapi ini sulit
"sayang,," diri nya masih tidak menghirau kan panggilan Mahen, memilih kembali menutup kedua mata, membiar kan Mahen yang kini menatap nya sendu, diri nya yang sebelum nya tidak pernah mengabai kan Mahen, kini mengabaikan Mahen juga pada akhir nya
"jangan marah yang,," pinta Mahen yang terdengar begitu lembut,, namun diri nya bahkan tidak ada niatan untuk mengubris atau kembali membuka kedua mata nya
"hhh,, aku harus berbuat apa agar kamu mau memaaf kan aku,,?" seru Mahen,, di awali dengan helaan nafas kecil saat melihat nya yang masih saja mendiamkan dia
"Kanza,," panggil Mahen yang terdengar pasrah, namun beralih mendekati wajah nya dan mencium kening nya cukup lama "maaf sayang,, maaf sudah membuat mu kesal,, aku,, aku hanya khawatir,, aku takut sesuatu terjadi sama kamu,, karena itu aku,, aku memanggil kak Ara ke sini,," ungkap Mahen yang merasa khawatir
air mata jatuh seiringan dengan hal itu dari pelupuk mata nya,, diri nya bahkan tidak mengerti ada apa dengan nya hari ini,, perasaan nya menjadi sensitif dan mengabaikan Mahen yang meminta maaf pada nya,, padahal diri nya sendiri pun bahkan mengetahui jika Mahen jelas begitu khawatir akan keadaan diri nya
kembali membuka kedua mata begitu merasakan ciuman Mahen pada kening nya sudah terlepas,, bahkan tatapan khawatir itu langsung menyambut indera penglihatan nya hingga membuat nya kini menangis
"Kanza,," melihat nya menangis, Mahen langsung menghapus air mata nya dengan jari "jangan nangis Za,,"
"a,, aku minta maaf Nan,," ucap nya yang kini membuat Mahen terdiam dan bingung
"kamu nggak marah,,?"
mendengar hal itu diri nya menggeleng,, menatap Mahen masih dengan mata yang berair, lantas memeluk Mahen yang membuat Mahen sendiri semakin di buat bingung namun sekaligus merasa senang,, karena ini pertama kali nya diri nya mempunyai inisiatif untuk memeluk Mahen terlebih dahulu
"mana mungkin aku marah,, saat mendapat kan kekhawatiran dari orang istimewa seperti mu,, tapi maaf kan aku,, aku juga nggak tahu kenapa perasaan aku menjadi semakin sensitif seperti ini apa lagi sama kamu Nan,,?" ucap nya di balik pelukan kedua nya
"emm nggak,, kamu perempuan,, kamu berhak merasa kesal,, mungkin datang bulan mu akan segera tiba,, karena itu perasaan mu menjadi lebih sensitif Ay,, jangan menyalah kan diri sendiri,," tutur Mahen,, menggeleng tidak setuju saat mendengar penuturan nya
dddrrrttt,,, dddrrrttt,,, dddrrrttt,,,
'his,, ganggu saja si ponsel!!' gerutu Mahen dalam hati, di kala mendengar ponsel nya yang tersimpan di atas meja nakas sejak tadi berdering
"bentar ya,, aku izin angkat panggilan dulu?" izin nya seraya melepas kan pelukan kedua nya
"iya assalamualaikum kak ada apa?"
"..."
"mmm,, iya,, Keenan panggil kakak padahal kakak dokter spesialis psikologi, bukan dokter umum,, tapi makasih ya kak,, kakak sudah bantu periksa aku?"
"..."
"hmm,, iya nih kak, alhamdulillaah,, aku baikan sekarang,,"
"..."
"pusing nya sudah hilang kak,,"
"..."
"be,, beli apa kak?" dengan kening mengerut
"..."
"kakak yakin?"
"..."
"ya,, untuk bulan ini aku rasa belum si kak,,"
"..."
"bagaimana jika bukan?"
"..."
"masalah nya aku malu membeli nya kak,,"
"..."
"memang nya dia akan bersedia membelikan nya untuk ku?"
"..."
"kakak bisa seyakin itu, tapi jujur saja ya kak,, malah aku yang menjadi ragu,,"
"..."
"b,, baiklah kak, akan ku coba,,"
"..."
"iya kak,, makasih sebelum nya?"
"..."
"hmm,,"
"..."
"waalaikum salam,,"
_That Naughty Girl Is My Wife (LDN)_
Ahad, 17 September 2023