
Terduduk di tepi tempat tidur, rupa nya diri nya masih tetap dengan pendirian nya, mendiamkan Mahen yang terlihat senyum senyum sendiri sambil memandangi nya di hadapan nya
"kamu merasa rindu banget nggak si?" tanya Mahen yang membuat kening nya mengerut bingung
"sama siapa?" tanya nya yang terdengar jutek
"masakan kamu, kalau kita di rumah kan, kita saat ini bisa makan masakan kamu" jawab Mahen yang semakin memandangi nya dengan tatapan yang cukup dalam
mendengar hal itu, kini berhasil membuat nya yang tadi nya menjutek kini menjadi uring uringan
"astaghfirullah nan, aku lupa" ujar nya seraya sontak berdiri dari duduk nya
"lupa apa?" tanya Mahen yang ikut mendongak namun masih dengan posisi duduk
"Mauza, apa dia sudah makan, dia di mana sekarang, aku harus melihat nya, apa dia ada sama Mama ya?" tanya nya yang terlihat panik, membuat Mahen menarik tangan nya hingga diri nya terduduk kembali
"hhhhh, yang kamu pikir kan selalu sama Mauza, kucing itu sudah sama Mama dan Papa, tidak bisa kah sekali saja kamu mempunyai waktu untuk bersama ku?" imbuh Mahen yang malah memeluk nya erat dari belakang, dengan tangan yang masih berpegangan
"tapi nan,, dia,, dia,,," jawab nya berusaha untuk tetap tenang kala mendapat kan perlakuan seperti itu
"sssttt,, sekarang waktu nya kamu sama aku, waktu kamu sama Mauza sudah habis, aku mau kita punya waktu berdua" jawab Mahen yang menghentikan pergerakan nya
"tapi nan,, aku bahkan nggak tahu Mauza sudah makan atau belum, aku harus memberi nya makan terlebih dahulu" jawab nya dengan sedikit terbata
"Ay,, Mama sama Papa pasti sudah memberi nya makan,," bisik Mahen yang membuat nya geli
"nan, jangan gini, aku nggak nyaman,," pinta nya yang berusaha keras untuk terlepas dari rengkuhan lembut Mahen
"nggak bisa,, aku mau diskusi kan sesuatu sama kamu" jawab Mahen yang masih saja belum melepaskan rengkuhan pada nya
"iya,, kamu mau diskusi kan apa, tapi jangan gini, aku nggak nyaman, aku bahkan belum sempat mengganti pakaian,," jawab nya yang malah menahan nafas
"ya udah, tapi,, jangan ganti baju dulu, diskusi dulu, nanti selesai diskusi, kamu boleh ganti pakaian" jawab Mahen yang mulai mengalah
kedua nya terlihat mengganti posisi menjadi duduk seperti semula, berhadapan di tengah tempat tidur
"ya udah, apa yang mau kamu diskusi kan?" tanya nya yang terduduk di kelilingi oleh kado pemberian keluarga nya
"kamu nggak mau buka kado nya?" tanya Mahen yang membuat nya memutar bola mata nya malas
"diskusi aja dulu, kado nya nanti aja, sekalian ganti baju, aku juga belum shalat" jawab nya
"ya sudah,,," terjeda sejenak "kamu ingat nggak, sampai sekarang, kita bahkan belum memutus kan sesuatu?" tanya Mahen dengan memandangi wajah nya
"memutuskan sesuatu,,, apa?" tanya nya yang malah menjadi kebingungan sendiri
"perihal pembicaraan kakek,, apa kamu sudah memikir kan nya?" tanya Mahen yang berhasil membuat nya berpikir keras
"pembicaraan kakek,,,
"anak,, itu kan yang kamu maksud?" tanya nya dengan rasa malas untuk kesekian kali nya
hal itu berhasil membuat Mahen mengangguk sambil tersenyum hangat ke arah nya
"apa kamu benar benar menginginkan seorang anak?" tanya nya dengan wajah datar, membuat Mahen mengerut kan kening perlahan
"ya, aku benar benar menginginkan nya, aku suka anak kecil, lalu,, apa kamu ada masalah,, mengenai ini?" tanya Mahen dengan hati hati, takut menyinggung hati nya, dan membuat nya mengalihkan pandangan
"a,, aku,, aku belum siap Keenan, aku,, aku bahkan masih belajar memperbaiki diri aku yang masih urakan, lantas bagaimana bisa aku merawat anak?" jawab nya
"aku mengerti apa yang kamu maksud kan Ay, tapi,, aku lihat kamu bisa merawat Mauza menjadi kucing yang sehat dan penurut, itu buat aku semakin merasa yakin, jika kamu akan bisa merawat anak kita dengan baik,,
satu lagi, kita sama sama belajar, bahkan Bunda hamil aku masih di usia muda, 18 tahun Bunda hamil aku, sekarang kamu sudah berusia 20 tahun, itu waktu dan usia yang pas, untuk mempunyai anak, lagi pula,, kamu tahu sendiri kan, aku anak tunggal, Ayah sebentar lagi akan mengalihkan jabatan di salah satu perusahaan nya buat aku, mereka semua sangat menanti pewaris tunggal dari aku, aku nggak mau paksa kan kamu mengenai hal ini Ay, kamu bisa memikir kan nya matang matang,," lanjut Mahen dengan bertutur kata lembut
"aku mengerti ketidak siap an mu mengenai hal ini, karena itu aku tidak ingin memaksa mu jika kamu memang belum siap sepenuh nya" tutur Mahen lagi yang membuat nya terkagum dengan bertambah
"makasih untuk semua nya Keenan, namun,,," ucapan nya terpotong, kala mendengar suara nada dering ponsel Mahen
"bentar ya, aku angkat panggilan dulu?" pamit Mahen yang di angguki juga oleh nya sendiri
Hingga beberapa saat kemudian
"buat apa?" tanya Mahen yang terdengar jelas oleh nya
",,,"
"ya udah, gue ke sana sekarang, tapi gue nggak bisa lama lama, gue masih ada urusan lain di sini" jawab Mahen pada akhir nya
setelah menutup panggilan suara nya, Mahen pun terlihat menghampiri nya yang masih terduduk di tepi tempat tidur
"maaf Ay, tapi seperti nya, aku harus keluar sebentar, kamu nggak papa kan, aku tinggal di sini sendiri?" tanya Mahen seraya menyimpan ponsel ke dalam saku celana nya
"keluar, selarut ini, mau ke mana?" tanya nya yang sontak saja langsung berdiri dari duduk nya, membuat Mahen tersenyum tipis
"nggak, hanya ke lobby, Bagas telepon, kata nya,, Atlas di keroyok sekelompok preman menjelang isya tadi, kamu nggak papa hmm, aku tinggal di sini?" tanya Mahen lagi yang berusaha menjelas kan
"ya udah, tapi jangan lama lama, takut nya,,," ucapan nya terpotong, kala melihat Mahen yang tersenyum penuh arti
"xixi, kamu makin lucu deh kalau khawatir gitu, kok aku baru sadar ya, punya istri gemesin kayak kamu, nggak usah khawatir, aku akan baik baik saja, percaya lah" imbuh Mahen seraya mengacak kepala nya yang masih tertutupi hijab
"jangan kangen ya, assalamualaikum?" ucap Mahen seraya menutup pintu kamar hotel dengan terus tersenyum ke arah nya
melihat hal itu, kini berhasil membuat nya menggeleng geleng kan kepala nya tak habis pikir
_**That Naughty Girl Is My Wife (LDN)_
Senin, 10 Juli 2023**