
"kamu benar Ay, tapi,, nanti lah, kakak belum menemukan orang yang cocok buat kakak bahagia kan" jawab Sandi singkat, namun membuat nya paham
Canteen university of Harvard 10:30
terlihat diri nya dengan Kania sedang makan siang di kantin universitas ini, dengan tenang
"kamu ada hubungan apa sama Mahen, sama teman teman nya juga?" tanya Kania dengan ragu
"hubungan, sama Mahen,, sama teman teman nya, memang nya aku ada hubungan apa sama mereka?" tanya nya bertanya balik, karena merasa ada yang mengganjal
mendengar pertanyaan itu, membuat Kania menunjukkan layar ponsel ke arah nya yang menunjukkan diri nya yang tengah membantu mengobati luka pada tangan Bintang
"aku rasa gambar ini cukup buat kamu paham, dengan apa yang aku pertanya kan" ucap Kania yang membuat nya cukup terkejut
"kamu dapat dari mana gambar itu, itu,, itu nggak seperti yang kamu pikir kan Kania" jawab nya kala melihat Kania kembali menyimpan ponsel
"Ay, kamu tahu nggak sih, gambar itu tanpa aku cari juga udah pasti ada di penyimpanan ponsel aku, bahkan ponsel kamu sendiri, gambar nya sudah tersebar luas kan di area universitas ini, di group, kamu bayangin aja, mereka berempat itu cukup populer di universitas ini, otomatis kamu bakalan jadi trending topik lah kalau bareng sama mereka" jelas Kania
"bukan Kania, itu memang aku, tapi,, aku cuman bantu obati luka nya kak Bintang saat kak Bintang jatuh tadi, itu aja, salah?" tanya nya
"nggak juga Ay, ini memang rasa kemanusiaan, tapi, gambar nya memang sudah tersebar luas kan di universitas ini" lanjut Kania yang membuat nya hanya bisa pasrah
"nggak masalah, selama itu nggak usik ketenangan aku di sini" jawab nya yang tidak ingin mengambil pusing dengan rumor yang ada
perhatian nya teralih kan, kala suara deringan ponsel nya masuk ke dalam indera pendengaran nya, membuat nya mengangkat dan melihat siapa yang memberi nya pesan
+62xxxx
di mana, aku mau bicara?
melihat pesan singkat yang sudah tertera di layar kunci ponsel nya saja, kini sudah membuat nya menarik nafas panjang, dia lagi
"siapa yang kasih kamu pesan?" tanya Kania saat melihat wajah nya yang tampak jutek dengan sekejap
"Mahen,," jawab nya yang sedikit bosan kala mengucap kan nama itu, padahal di rumah dia kerap memanggil laki laki itu dengan panggilan Keenan, namun karena ini di luar, jadi lah dia memanggil nya dengan sebutan Mahen
"dia hubungi kamu lagi?" tanya Kania yang kelihatan nya sudah mengetahui jika Mahen selalu memberi nya pesan meski terkesan singkat
"kamu tahu,, kenapa,, jangan bilang kalau,,," ucapan nya terhenti, kala melihat sahabat di hadapan nya cengengesan
"hehe,, maafin aku Ay, memang aku yang memberi tahu nya nomor ponsel mu, abis nya dia maksa aku buat itu,, aku sudah berusaha menolak nya, cuman ya' gitu, tahu sendiri lah, kalau laki laki ada mau nya pasti di kejar" jelas Kania dengan menggaruk tengkuk yang tidak gatal
"karena ini juga aku selalu tanya sama kamu ada hubungan apa sama dia, dia nggak mungkin kan, kalau nyari nomor ponsel kamu tanpa alasan?" lanjut Kania yang sedikit merasa heran
"dia memang suami aku" jawab nya dengan bergumam, namun dapat Kania dengar dengan jelas hingga menggebrak meja
"what the hell!!! dia,,, dia,,," seru Kania sambil menggebrak meja yang sontak berdiri, namun sesaat kemudian kembali duduk karena melihat tatapan dingin dari nya
"dia suami kamu,, kamu serius?" tanya Kania saat sudah duduk dan memaju kan wajah nya juga berbicara dengan sedikit berbisik
"iya,, dia suami aku,, kita di jodoh kan se waktu SMA akhir" jawab nya singkat dan terkesan tenang
"jadi,, kalian sudah menjadi pasangan dong sebelum ke sini, lalu,,, kenapa kalian terlihat seperti remaja biasa nya, maksud ku, kenapa kalian bisa menyembunyikan ini sampai sejauh ini Ay?" tanya Kania dengan mata yang membulat
"nggak papa, nggak ada yang harus di jelas kan" jawab nya seraya kembali menyuap kan sesendok makan nasi goreng
"jadi,, kalian tinggal satu atap dong?" tanya Kania yang sontak saja membuat nya mengangguk
mendengar hal itu kini berhasil membuat nya tersenyum lantas mengangguk, jika di pikir lagi, memang benar ada nya, kedua nya kini saling mengacuhkan, bagaimana bisa kedua nya hidup bersama dengan status sebagai sepasang suami istri, takdir memang tak ada yang tahu
"dan apa kamu percaya, dulu tuh sebenar nya,, aku ini adalah gadis yang cukup urakan?" jawab nya di sela senyuman nya
"tunggu, urakan,, urakan apa yang kamu maksud kan Aku?" tanya Kania yang sudah sangat kebingungan
"iya urakan, maksud nya, aku berandalan, aku yang mantan bad Girl dulu, yang suka ikut balapan liar, aku yang pernah pimpin salah satu geng motor, suka menentang keras kedua orang tua, pokok nya, aku adalah gadis pemilik masa lalu yang kelam dan cukup mengerikan,,
pulang ke rumah selalu dalam keadaan larut, penampilan juga nggak pernah benar, pengendara motor sport juga, jadi mungkin,,," menjeda sejenak penuturan nya, meminum jus jeruk di hadapan nya, sebelum melanjut kan cerita nya
"kedua orang tua aku memutuskan untuk menjodohkan aku dengan seseorang, pada awal nya aku nggak tahu, karena ini begitu mendadak bagi aku, bahkan begitu cepat berlalu di dalam hidup aku, dulu saja aku sama dia menempuh pendidikan di sekolah yang sama, tapi ya gitu, aku nggak pernah sekali pun terbilang akrab sama dia, hingga aku pun merasa,, aku,, aku benar benar nggak mau,, di jodohkan sama dia, sekali pun aku sama dia terbilang kenal sejak awal kami masuk sekolah di SMA, tapi aku benar benar nggak mau, untuk hal ini, mungkin kamu tahu sendiri jawaban nya, dia laki laki seperti apa, juga satu hal yang menjadi prinsip aku kala itu, aku nggak pernah mau, dekat sama yang nama nya laki laki, karena dulu,, aku hanya merasa dekat dengan dua laki laki saja,, yaitu Papa ku, dan juga kakak sulung ku,," lanjut nya dengan memperbaiki posisi duduk nya menjadi bersandar di kursi meja kantin
"kamu,,, kamu punya kakak, kok aku nggak pernah tahu perihal ini?" tanya Kania yang merasa sedikit terkejut kala mendengar nya
mendengar hal itu, hanya membuat nya mengangguk lemah, dengan senyum yang selalu berusaha di pertahan kan nya
"hmmm, tapi sayang nya itu dulu Nia, sekarang,," kembali menggantung ucapan nya, menggeleng pilu yang malah terlihat lemah
hal itu berhasil membuat Kania menutup mulut saking terkejut nya melihat kerapuhan sahabat nya ini, mengapa banyak tanda tanya pada diri sahabat nya ini? pikir Kania
"maaf Ay, aku,, aku sama sekali nggak tahu perihal ini?" ucap Kania yang merasa bersalah, tanpa sengaja sudah membuat nya bersedih
"hmmm, nggak masalah Kania, aku bahkan senang bisa bercerita sama kamu seperti sekarang ini, setidak nya,, beban yang ku pikul,, tidak terlalu berat, dan membuat hati aku sedikit lega, setelah aku bercerita sama kamu,, namun,,," untuk sejenak, diri nya merasa ragu, dengan apa yang akan di pertanyakan nya
"namun kenapa Ay?" tanya Kania dengan kening mengerut bingung
"namun,,, apa kah kmu tidak merasa jijik atau bahkan malu, dengan memiliki teman seperti ku, mempunyai masa lalu yang cukup kelam, dan bahkan mungkin,, tidak pernah bisa di terima,, oleh siapa pun?" lanjut nya bertanya dengan penuh keraguan
mendengar hal itu, bukan nya membuat Kania di hadapan ny tak suka, melain kan malah membuat Kania tersenyum hangat, bahkan di sadari juga oleh nya sendiri
"kenapa kamu malah tersenyum?" tanya nya yang sekarang giliran nya yang merasa heran dan bingung
"hhhhh, Ay,, dengar, setiap insan, itu berbeda, kita mempunyai kelebihan dan kekurangan masing masing, tidak ada insan yang sempurna di dunia ini, lagi pula,, kita tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan kan?" tanya Kania yang meminta persetujuan dengan lembut dan masih terus tersenyum, namun berhasil membuat nya tercekat
"ma,, maksud kamu?" tanya nya lagi yang masih kurang faham dengan arah pembicaraan yang Kania lontar kan
"hhhhh, aku tahu kok, di balik diri mu yang memang urakan di masa lalu, di balik sikap mu yang berandalan, di situ ada sesuatu yang mungkin bahkan bisa saja membuat mu memutus kan hal itu, karena hidup tidak ada yang tahu Ay,,
tapi,,," mendengar penuturan Kania saat ini membuat nya semakin merasa penasaran, dan membuat nya memilih memusat kan perhatian nya hanya pada Kania di hadapan nya
"tapi apa Nia?" tanya nya bingung
"Kalau aku boleh jujur, aku,,, aku sedikit nggak yakin deh, dengan apa yang kamu kata kan, coba lihat diri kamu yang sekarang, kamu yang sekarang adalah Ayla yang anggun, dan bahkan cukup di bilang Istiqomah, bisa hijrah seperti sekarang, dan aku nggak tahu, yang membuat aku menjadi nggak yakin nya itu kayak,, kenapa kamu bisa mempunyai tekad yang begitu besar untuk hijrah dari yang awalnya memang gadis berandalan mantan bad Girl, sampai sekarang seanggun ini, jadi wanita yang tertutup banget?" tutur Kania yang merasa benar benar salut dengan apa yang sudah di lalui nya
mendengar nya membuat nya tersipu malu, sejauh itu kah perjalanan yang telah di lalui nya? pikir nya
"hmmm, berhenti lah memuji ku Kania, kita manusia biasa, lagi pula, aku nggak pernah merasa seanggun itu kok, aku nggak pernah merasa sempurna dari siapa pun, dan aku nggak pernah merasa menjadi lebih baik dari siapa pun, tapi selama ini, aku selalu berusaha agar aku menjadi lebih baik, dari diri ku yang dulu" jawab nya tanpa rasa ragu
"justru hal itu yang aku heran kan Ay, jika dulu nya kamu memang gadis yang cukup urakan bahkan berandalan, namun sekarang,, kamu bahkan bisa se anggun ini, Istiqomah juga, emang kamu benar benar tinggi, pendirian kamu juga cukup teguh, aku salut sama kamu untuk itu, mengapa kamu bisa se Istiqomah itu, dalam memantaskan diri kamu sendiri" tutur Kania lagi
"entah lah Kania, aku rasa,, mungkin aku sudah mendapatkan hidayah, dari yang maha kuasa" jawab nya dengan tenang dan tatapan meneduh kan
_**That Naughty Girl Is My Wife_
Senin, 3 Juli 2023**