
terus melamun, bahkan hingga istri nya datang pun dia tetap tidak menyadari kehadiran nya yang tengah terduduk di kursi balkon
"assalamualaikum?" ucap nya yang entah mengapa tidak mendapat kan jawaban
"lo kenapa sih, lamun aja, nggak ada kerjaan banget!!" ujar nya yang merasa kesal karena tidak mendapat jawaban dari laki laki yang sekarang duduk di samping nya
"astaghfirullah Ay, bisa kali bicara baik baik, lagi pula, kamu kenapa sih, tumben banget samperin suami di sini, mau salim, nih, biasa kan cium tangan aku kalau kamu baru pulang?" jawab Mahen seraya mengulur kan tangan
"ck,, iya iya,,," jawab nya seraya menurut dan menyalami tangan kanan suami nya itu dengan di awali dengan putaran bola mata malas khas nya
"gue udah ucap salam tadi, kenapa lo nggak jawab, lagian gue ke sini mau ambil gitar gue, kenapa lo yang pegang sih, awas akh,, biasa nya juga nggak suka sama kerjaan gue" ujar nya berseru membuat Mahen berdecak
"ck,, aku kan cuman tanya, lagian kamu ke mana aja sih antar Kania, nggak punya temen lain apa selain kamu, selalu aja kamu kamu dan kamu, nggak tahu apa kalau kamu udah punya suami di rumah yang tungguin!!" ujar Mahen dengan berakhir kesal
"dia memang nggak tahu gue punya suami, anak universitas masa ada yang tahu, awas kalau mulut lo ember sampai nyebar kalau gue punya suami, gue sikat lo!!" ujar nya balas mengancam
"iya iya,, lagian kamu kenapa sih nggak mau anak universitas tahu, kita kan memang udah sah kali" imbuh Mahen
"nggak!! sekali enggak ya enggak, siapa tahu kita bakalan cerai, jadi nggak buat gue susah buat nyari jodoh lagi" jawab nya
"nggak, kalau yang ini nggak bakalan, aku nggak bakalan mau pisah sama kamu, apaan sih, kamu tuh kalau bicara nggak di saring dulu yah, asal bilang aja, aku udah jodoh kamu, JODOH SEKALI SEUMUR HIDUP, ingat itu" ujar Mahen yang entah mengapa menjadi sangat emosi kala mendengar nya melontarkan kata cerai atau pisah
"gak jelas banget, tadi kan udah gue bilang siapa tahu, jadi perumpamaan aja lo ngerti nggak sih?" tanya nya yang malah menjadi heran
"nggak, aku nggak ngerti dan nggak mau ngerti, jodoh tetap jodoh, nggak ada siapa tahu nggak ada perumpamaan juga" imbuh Mahen namun dengan rasa yang penuh amarah seraya meninggalkan nya sendiri di kursi balkon sendiri
"dasar aneh" gumama nya kala mata nya menatap kepergian Mahen yang semakin menjauh dari pandangan nya
"tapi,, apa gue salah ya' untuk ini?" gumam nya yang sial nya malah di akhiri dengan rasa bersalah kala menyadari tanggapan Mahen yang benar benar marah dengan nya
"ck,, tahu akh,, ribet banget" lanjut nya seraya menggeleng geleng kan kepala, berusaha mengusir pikiran aneh nya
siang menjadi sore, matahari terus meninggi hingga akhir nya menjadi malam, dia insan ini rupa nya sedang makan malam bersama, namun sejak tadi, tepat nya sejak Mahen mengeluarkan amarah nya meski dengan bertutur kata lembut, kini laki laki itu terlihat masih mendiami nya, kembali menjadi Mahen yang baru di kenali nya di awal rumah tangga kedua nya, wajah datar dan dingin, tanpa mau sekedar menoleh ke arah nya
"gue lupa bilang sama lo, boleh kan, kalau gue bawa hewan peliharaan kesayangan gue ke sini?" tanya nya kala mengingat sesuatu seraya mengangkat kandang Mauza ke atas meja makan
"hmm" jawab Mahen tanpa mau untuk sekedar menoleh saja ke arah Mauza yang mengeong seakan menyapa laki laki ini
"jadi boleh nggak, jangan cuman hmm aja tapi hati nggak ikhlas" sindir nya kala menyadari jika Mahen mengabaikan sapaan dari Mauza
"boleh,," jawab Mahen singkat, namun entah mengapa Mauza terlihat menunduk dengan seketika
"udah nggak apa apa sayang,, kamu boleh tinggal di sini kok, kakak janji, bakalan pertemukan kamu sama kak Muezza nanti, sekarang, kamu makan yah, kasihan adek nya kakak jadi kurus?" tutur nya yang mendapati tanggapan dari Mauza yang terlihat mengangkat kepala nya, kemudian menoleh sekilas ke arah Mahen
mengerti dengan maksud Mauza, membuat nya membuang nafas panjang "nggak usah pedulikan dia lagi, dia memang lempeng orang nya, yang penting kan kita bisa sama sama lagi sekarang, makan aja, nggak usah takut sama dia, ada kakak di sini" imbuh nya dengan mengelus lembut tubuh Mauza membuat Mahen berdecak kesal
'sama kucing aja bisa semudah itu akrab, pakai panggil sayang segala lagi, jangan sampai karna kucing ini aku jadi nggak bisa dekati dia lagi!!' batin Mahen seraya bersedekap
"kamar" jawab Mahen tanpa menoleh ke arah belakang, melihat nya yang bertanya
'ya kali aku harus lihat dia bucin bucinan meski cuman sama kucing' batin Mahen lagi
"kamu habis kan makan nya yah sayang, nanti kalau kamu suka sama masakan nya, kakak masakin lagi khusus buat kamu" tutur nya yang masih saja mengelus lembut tubuh Mauza dengan sayang
The Main Bedroom of the mansion 20:15
setelah memastikan Mauza makan dengan lahap, kini diri nya pun mengajak kucing itu ke dalam kamar dengan menggendong nya
"tidur nyenyak yah cantik, maaf, waktu kakak suka habis sama masalah kuliah dan tugas, tapi kamu nggak usah khawatir, lain waktu, kakak akan mengajak mu berkeliling kompleks, sekarang kamu tidur dulu yah?" imbuh nya yang membawa Mauza duduk di tempat tidur
"hewan yang nggak bisa bicara malah di ajak bicara, suami sendiri nggak di ajak bicara, heran!!" sindir Mahen yang berhasil membuat nya mencebik
"dih,, orang dari tadi lo sendiri yang punya niat mogok ngomong, sekarang kenapa juga berharap di ajak ngomong sama gue" skakmat, jika jawaban nya sudah seperti itu, Mahen sendiri tidak bisa berkutik lagi di depan nya
jika di pikir, memang sejak tadi siang laki laki ini yang berniat mendiami nya, lantas, kenapa sekarang dia sendiri yang rusuh ketika diri nya mengikuti alur nya? sungguh menganeh kan juga membuat nya bingung saja
'napa sih, harus ada dia (kucing), jadi usaha buat dekati dia gagal kan, dasar kucing pengganggu' umpat Mahen dalam hati
terus mengumpat dan melemparkan tatapan tidak suka pada Mauza, melihat keakraban nya dengan kucing tersebut kini berhasil membuat Mahen jengkel, dari mulai diri nya yang memberi makan kucing, mempunyai nama kesayangan buat kucing, bahkan seperti nya saking sayang nya diri nya terhadap kucing, sampai memberi kucing itu nama, aneh saja, tapi tidak bisa di biar kan, mana bisa diri nya di abaikan gara gara hanya seekor kucing saja yang ikut hadir di sisi nya?
lamunan Mahen kini buyar, kala mendengar ponsel berbunyi, tanda ada pesan masuk
_Mama_
*Mahen, siap siap aja yah, besok lusa Ay ulang tahun, kita jadi ke sana, tapi nggak ke rumah kalian dulu, Ayah sama Bunda ajak kita langsung ke rumah kakek, sepulang dari universitas, kamu langsung ke sana, tapi jangan ajak Ay atau bilang sama Ay, sekarang kita akan berangkat
Mama send a photo*
^^^^^^_Me_^^^^^^
^^^iya Ma, Mama sama yang lain hati hati, aku tunggu di sini, oke Ma, besok kabarin aja kalau udah sampai, nanti aku susul ke sana^^^
terus chatting dengan Mama, hingga Mahen pun tidak menyadari jika istri serta kucing di pangkuan nya sudah tertidur pulas
"hhhhh,, cepet juga tidur nya, padahal mau bicara, kamu Mauza, iya, kenapa sih, kamu jadi penghalang buat hubungan aku sama Ay, jangan gini dong, kayak nya kamu memang kesayangan dia yah, rela aja tidur sambil gendong kamu, mana nggak pakai selimut lagi, jadi iri boleh nggak sih" gumam Mahen seraya menaikkan selimut agar di kenakan oleh nya, menyelimuti nya sampai sebatas bahu
"untuk malam ini, kamu boleh deh, tidur di sini, tapi jangan lupa nafas yah, asal kamu jangan ganggu hubungan aku sama Ay, aku nggak masalah kalau kamu memang mau dekat sama istri aku" lanjut Mahen dengan memindah kan Mauza di tengah antara dia dan diri nya
namun tetap saja, meski Mauza sudah di pindah kan oleh Mahen, setelah kedua nya sama sama tidur dengan posisi masing masing, diri nya berubah posisi menjadi memeluk Mauza di samping nya, membuat Mahen menggeleng pelan, se sayang itu kah istri nya ini pada kucing ini? pikir Mahen
_**That Naughty Girl Is My Wife_
Jum'at, 30 Juni 2023**