THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
AKU SUDAH PUNYA TUNANGAN



Jae Ha berjabat tangan dengan Jung Hwa di luar ruang sidang itu.


Mereka profesional sebagai rekan kerja di bidang hukum yang sama.


Di lorong pengadilan itu,Jae Ha malah berjumpa Ha Na yang baru keluar dari toilet.


Mereka saling bertatapan datar.


Jae Ha tiba tiba malah mengatakan sesuatu yang spontan saat melihat Ha Na.


"Ayo minum kopi sebentar.


Jae Ha mengajak Ha Na keluar untuk minum kopi bersama.


Ha Na setuju saja mengingat waktunya juga senggang.


Jae Ha nampak gugup saat duduk berdua di cafe itu.


Ha Na menyesap kopinya dengan santai.


Ha Na tahu gelagat Jae Ha yang gugup dengan kakinya yang terus bergoyang juga memandang kesana kemari serba salah serta cengengesan tanpa sebab yang jelas.


Ha Na memutuskan bicara untuk mencairkan suasana.


"Apa kau tidak kembali ke kantor?


Jae Ha menjawab dengan kaget..


"Eh,tidak..


Aku kebetulan agak santai hari ini..


Oh iya,kita belum berkenalan secara resmi.


Terakhir kali kita di kantor polisi dan yah..


Situasinya cukup kacau saat itu.


Ha Na tersenyum dan segera mengulurkan tangannya.


"Namaku Hyun Ha Na..


Jae Ha segera menyambut tangan Ha Na.


"Aku Jung Jae Ha.


Setelah itu keduanya melepas tangan setelah saling berjabat tadi.


"Bicara santai saja Jae Ha.


Aku tidak segalak di persidangan tadi.


Aku hanya mencoba bersikap tegas saja tadi bukan maksud menyudutkanmu.


Jae Ha menggaruk kepala belakangnya.


"Iya,tatapanmu di ruang sidang tadi sangat seram.


"Eiy,aku tidak seram..


Bukankah menurutmu aku ini cantik..


Jae Ha tertawa melihat Ha Na yang sangat percaya diri itu.


"Wah,aku tidak menyangka kau ternyata lumayan konyol.


Aku kira kau orang yang serius dan tidak pandai bercada.


Ha Na hanya tersenyum membalas omongan Jae Ha.


Sebenarnya ada hal yang ingin Jae Ha tanyakan terkait hal yang membawa Ha Na saat mereka baru pertama bertemu dulu.


Namun mengingat mereka yang baru kenal juga itu juga masalah pribadi rasanya tidak pantas dan terkesan lancang jika ia bertanya sekarang.


Jae Ha yakin,Ha Na memiliki luka di masa lalu yang mendalam.


Setelah berbincang ringan,keduanya kembali ke rutinitas masing masing.


Ha Na menolak tawaran Jae Ha yang ingin mengantarnya.


______________________________________________


Di rumah sakit.


In Joo dan Ah Ra sedang kesulitan menangani seorang wali pasien.


Suaminya menderita tumor di lehernya,ia berkonsultasi ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan untuk tumornya.


Namun isterinya menyusul dan marah marah.


Ia juga meminta suaminya ikut pulang.


Isterinya adalah seorang dukun yang biasa di percaya mengobati orang orang dengan cara mistis di sebuah desa.


Ia memarahi suaminya karena datang ke rumah sakit dan menolak pengobatan darinya.


Jadilah pasangan lanjut usia itu bertengkar di rumah sakit.


"Suamiku!!!


Ayo pulang saja,untuk apa kau buang buang uang ke rumah sakit.


Aku bisa mengobati dan menyembuhkanmu.


"Isteriku,aku sudah tidak tahan dengan rasa sakit ini.


Sudah 3 tahun kau mengobatiku tapi aku belum juga sembuh.


Benjolan ini malah semakin membesar.


Aku masih punya cukup tabungan untuk membayar biaya rumah sakit ini.


In Joo dan Ah Ra juga mencoba menengahi.


Namun isterinya tetap kekeuh membawa sang suami pulang.


Saat itu Ha Na datang.


In Joo dan Ah Ra segera menjelaskan kronologinya.


Ha Na menangkap dengan baik apa yang di jelaskan sahabatnya.


Ia lalu menghampiri pasien dan isterinya itu.


"Nenek,kakek...


Ini rumah sakit.


Tolong jangan membuat keributan,tolong hormati pasien pasien kami yang lain.


Yang juga butuh ketenangan.


Suami isteri itu mulai malu dan menyadari kesalahan mereka.


Ha Na juga mulai memberi pengertiannya.


"Nenek...,


Kakek ini memang harus di rawat disini.


Dia mengidap tumor yang belum di ketahui jinak atau ganas.


Hal itu bisa mengancam jiwanya.


Nenek itu menjawab dengan sinis.


"Lihat saja,suamiku bisa bertahan selama ini.


Itu semua karena aku..


"Tapi nenek,lihat..


Benjolan di leher kakek ini semakin membesar dan kakek ini juga kesakitan.


Lebih baik biarkan kakek ini menjalani pengobatan.


Nenek itu terlihat kesal.


Tapi sang suami juga memberi pengertian.


"Isteriku,aku mohon


Biarkan aku menjalani pengobatan disini agar sembuh.


Aku tahu kau seorang dukun yang hebat.


Tapi ingat,kita tidak memiliki anak.


Jika kelak aku mati,siapa yang akan menemani orang tua cerewet sepertimu.


Siapa yang akan memasak dan mebersihkan rumah saat kau sibuk melayai pelanggan pelangganmu.


Aku mohon padamu untuk sekali ini saja.


Si nenek menatap mata suaminya yang renta itu.


Terbesit rasa bersalah dan ibanya.


Walau isterinya tidak subur dan tidak bisa memiliki anak,tidak pernah terbesit di hatinya untuk meninggalkan dan mencari yang lain.


Begitu juga soal pekerjaan rumah,isterinya tidak pandai memasak dan membersihkan rumah sehingga sang suamilah yang melakukannya tanpa mengeluh.


Isterinya sibuk mencari nafkah dari profesi sebagai dukun kampung dan peramal yang cukup terkenal di desanya.


Suaminya sangat mencintai isterinya itu.


Sang isteri lalu menyerah..


"Baiklah,lakukan apapun yang kau mau..


Sang suami tersenyum atas kemurahan hati isterinya.


Ha Na juga senang karen sang isteri akhirnya mengerti.


Ha Na akan menjadwalkan operasi untuk pasien itu.


Walau sebagian orang percaya pada sesuatu yang berbau di luar medis sebagai usaha pengobatan lain namun kita juga harus menghormati pilihan orang lain yang ingin mencari kesembuhan itu.


Karena kita yang tahu,mana pengobatan yang sesuai untuk kita.


Walau si kakek memiliki isteri yang biasa mengobati orang lain dengan caranya yang di luar medis karena merasa tidak kujung sembuh ia tetap ke rumah sakit sebagai alternatif pengobatan yang ia percayai.


●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●


Hari ini,Jae Ha sedang rapat dengan para staff di kantornya.


Saat sedang menjelaskan sesuatu di hadapan semua orang di ruang rapat itu,ia tiba tiba mimisan dan pingsan.


Semua orang panik,apalagi tunangannya.


Jae Ha segera di larikan ke rumah sakit.


Setelah sampai,Jae Ha segera di periksa dan di tempatkan di bangsal UGD rumah sakit itu.


Dari hasil diagnosis dokter yang bertugas,di ketahui semua yang di alami Jae Ha tadi karena kelelahan bekerja.


Jae Ha harus istirahat untuk beberapa hari.


Hong Ah baru ingat,karena berkas klien yang menumpuk juga jadwal sidang yang padat Jae Ha jadi kurang istirahat dan terus lembur.


Karena itu saat sadar dan melihat Hong Ah di sisinya Jae Ha tersenyum lemah.


"Aku baik baik saja Hong Ah..


Hong Ah nampak sedih.


"Kau tahu betapa aku sangat khawatir?


Pokoknya kau harus menginap di sini beberapa hari sampai pulih!


Jae Ha agak keberatan.


"Tapi.....


Tapi Hong Ah tetap bersikeras dan membuat wajah tegas hingga membuat Jae Ha tunduk.


"Iya...iya,aku akan menurutimu Hong Ah.


Tapi setidaknya bawakan laptopku agar aku bisa bekerja dari sini..


Hong Ah hanya geleng geleng kepala pada tunangannya yang gila kerja ini.


Tapi setidaknya ia mau menetap di rumah sakit dan tidak kekantor.


"Baiklah,nanti akan aku ambilkan


Setelah kau berpindah kamar..


Jae Ha tersenyum lebar.


Jae Ha akan menetap di kamar VIP beberapa hari.


Orang tuanya belum sempat menjenguk karena masih kerja.


Hong Ah juga kembali ke kantor untuk mengambil laptop Jae Ha dan menyelesaikan sedikit pekerjaan..


Tinggallah Jae Ha sendiri di ruangan itu.


"Hem,membosankan sekali di sini.


Aku tidak suka.


Gumam Jae Ha dalam hati.


Tidak lama,seorang dokter masuk untuk memeriksa keadaan Jae Ha.


Dia adalah Ha Na..


Jae Ha yang duduk di ranjangnya dengan baju pasien kaget melihat Ha Na.


Begitu juga Ha Na.


Keduanya lalu sama sama tersenyum.


"Pak pengacara aku akan memeriksamu dulu ya..


"Baik,silahkan bu dokter..


Kedua orang itu malah saling bercanda dan nampak akrab.


"Semuanya baik baik saja.


Tapi kau masih perlu istirahat untuk pulih.


Jangan banyak berfikir dan tenangkan fikiramu.


Ha Na juga menyetel infus Jae Ha.


Jae Ha lalu ingin bertanya sesuatu.


"Maaf,apa di sini ada menjual kopi atau minuman ringan??


Ha Na berwajah seakan tidak percaya..


Tapi ujungnya ia tetap mengantar Jae Ha membeli minuman ringan di mesin otomatis dan duduk di kursi luar rumah sakit itu sambil meneguk minuman di temani Ha Na.


"Hem,begini lebih enak.


Aku benar benar tidak betah di dalam sana tanpa pekerjaan dan orang yang menemaniku.


"Kau sesenang itu??


Jae Ha mengangguk pada Ha Na.


In Joo dan Ah Ra memerhatikan Ha Na dari jauh.


"In Joo,sepertinya Ha Na akrab dengan pasien itu.


"Iya Ah Ra,bukankah pasien itu pengacara?


"Aku juga tidak tahu In Joo..


In Joo dan Ah Ra agak penasaran dengan sosok Jae Ha.


_______________________________________________


Ha Na mengantar Jae Ha kembali ke kamarnya.


Tapi saat Jae Ha hendak duduk,rambut panjang Ha Na malah tersangkut di kancing baju Jae Ha.


Aaaa.....


Sakit...


Jae Ha kaget dan berusaha menolong Ha Na.


"Tunggu tunggu,aku akan melepasnya


Saat itu Jae Ha menatap Ha Na dengan seksama


"Wajahnya sangat mulus dan putih..


Bibirnya juga tipis...


Ha Na ternyata lumayan cantik..


Tiba tiba Jae Ha sadar..


"Apa yang aku fikirkan!


Aku ini sudah punya tunangan!!!


Setelah melepas rambut Ha Na dari bajunya


Ha Na mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih Jae Ha.


Tapi jawaban Jae Ha malah lain.


"Aku sudah punya tunangan..


Ha Na menjadi bingung..