THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
DEWI PENYELAMAT



Ha Na yang masih merinsak menangis dalam pelukan Dong Joo membuat Dong Joo prihatin.


Dong Joo melepas pelukannya dan meminta Ha Na menatapnya.


Dong Joo menyeka tiap tiap air mata Ha Na yang membasahi pipinya itu.


Hei,sudah jangan menangis.


Apa kau ingin pulang saja?


Wajah Dong Joo sangat khawatir menatap Ha Na.


Ha Na menggelengkan kepala memberikan jawaban..


Aku tidak akan membiarkan senior sendiri di sini.


Aku akan terus di sini dan memberikanmu dukungan juga bantuan


walau belum sehebat dirimu.


Senior selalu menyendiri dan menjauh dari orang lain karena berfikir semua orang akan menjauh dan merendahkanmu saat tahu latar belakang ibumu.


Tapi itu dulu senior,sekarang kau sudah menjadi orang hebat.


Dan lagi tidak semua orang itu merendahkan dan megucilkanmu hanya karena tahu latar belakangmu.


Jika kau bertemu orang seperti itu maka hindari dia tapi bukan yang lainnya yang bahkan tidak menyakitimu.


Ha Na lalu memegang kedua tangan Dong Joo.


Aku Hyun Ha Na berjanji,tidak akan lari dari tempat ini dan meninggalkanmu...


Dong Joo dilanda gelombang haru dan terkesima dalam waktu yang bersamaan.


Tanpa bisa berkata kata,Dong Joo memegang sebelah wajah Ha Na dengan tangannya lalu menjatuhkan bibirnya pada bibir Ha Na.


Ha Na kaget dan masih dengan mata yang terbuka.


Ia tidak percaya dengan perlakuan Dong Joo sekarang.


Senior,ada apa denganmu?


Apa ini begitu menyentuhmu?


Kenapa kau membuatku bingung dengan semua ini?


Dong Joo membenamkan bibirnya dengan hangat..


Kau yang membuatku seperti ini.


Harapan yang kau berikan membuatku tidak bisa berucap dan hanya bisa membalasmu seperti ini.


Kau telah memulai sesuatu yang memancingku untuk lebih jauh.


Setelah sekian menit berlalu,Dong Joo melepas ciumannya.


Tidak sampai di situ dan hanya langsung pergi,Dong Joo menyandarkan dahinya pada dahi Ha Na.


Dong Joo juga memegang kedua tangan Ha Na.


Ha Na menatap sendu pada Dong Joo.


Dong Joo lalu menaikkan tangan kiri Ha Na dan menempatkannya di atas dadanya...


Kau bisa merasakan debaran ini?


Ha Na mengedipkan mata pertanda jawabannya adalah 'iya'.


Ini adalah hasil ulahmu dengan kata katamu tadi.


Mulai sekarang jangan salahkan aku yang akan memegang kata katamu juga berharap lebih dari sekedar kedekatan biasa di antara kita.


Kau akan menjadi asisten di hidupku dan bukan hanya di ruang operasi.


Kau mau kan pacaran denganku?


SLAAAPPPP


Bagaimana ini?


Dong Joo malah menyatakan perasaannya padaku di saat seperti ini.


Aku juga masih bingung akan menjawab apa.


Aku belum tahu arah perasaanku padanya..


Dong Joo berniat mengecup bibir Ha Na kembali tapi Ha Na menghalaunya dengan meletakkan satu tangannya menutup bibirnya.


Dong Joo kaget..


Saat Dong Joo berhenti,barulah Ha Na melepas tangan yang menutup bibirnya tadi.


Maaf senior,untuk masalah perasaan aku ingin minta waktu untuk memikirkannya dahulu.


Aku memang akan selalu berada disisimu,tapi aku belum bisa menerima perasaanmu untuk saat ini.


Tolong berikan aku waktu.


Hem,baiklah..


Aku tidak akan menekanmu,tapi aku akan sangat kecewa jika jawabanmu tidak sesuai keinginanku..


Dong Joo meninggalkan Ha Na dengan senyum yang lemah.


Ha Na juga berjalan ke arah berlawanan sambil memegang dadanya.


Dong Joo masih di sisakan dengan perasaannya yang masih menggantung,sementara Ha Na masih mencari arah hatinya yang berpaut dan dibingungkan dengan perasaan apa yang ia tambatkan dan miliki pada Dong Joo saat ini.


Apakah ini perasaan yang bersifat lebih dan mengarah pada cinta atau hanya sebatas simpati yang ingin membuat Dong Joo tidak sendirian dan menghindari orang lain lagi.


Ha Na benar benar bingung dan bimbang.


Di Korea..


Yun Hee sedang berbincang berdua dengan Jung Hwa di sebuah sofa di rumah mereka .


Jung Hwa berbaring di atas paha Yun Hee.


Yang di bahas tidak lain adalah masalah penempatan Ha Na.


Yun Hee,bagaimana caranya agar aku bisa bernegosiasi dengan pria berkuasa yang menyebabkan anak kita di pindah tugaskan itu agar bisa kembali ke Seoul ya?


Sambil membelai rambut Jung Hwa,Yun Hee mulai masuk dalam pembahasan itu.


Tidak usah seperti itu Jung Hwa,jika memang disana Ha Na mampu dan bertahan biarkan saja.


Jika memang ia tidak mampu,ia bisa berhenti.


Masih banyak rumah sakit lain yang bisa menerimanya magang dan tidak harus kembali ke rumah sakit lamanya lagi.


Ha Na sedang dalam pembelajaran kedewasaan,biarkan dia yang menentukan dan memilih.


Jangan sampai kita terlalu ikut campur dan malah mengaturnya sesuai kemauan kita.


Segala kesulitan yang Ha Na hadapi akan menjadikannya wanita yang kuat.


Jadi,kau sebaiknya tidak bermain belakang dan melakukan hal yang memengaruhi karirnya.


Kau dan Ha Na adalah ayah dan anak.


Lakukan tugasmu sebagai ayah yang mendukungnya dan bukan memperlakukannya sebagai klien yang harus kau bela di pengadilan.


Biarkan Ha Na yang berusaha saat ini,kecuali ia meminta bantuan barulah kita sebagai orang tua mengambil tindakan dan membantunya.


Jung Hwa memegang tangan Yun Hee dan menghembuskan nafas berat.


Kata kata Yun Hee adalah benar adanya,Jung Hwa terlalu berfikiran sempit pada puterinya.


Di samping itu,In Joo dan Ah Ra sudah sangat merindukan Ha Na.


Mereka makan di kantin rumah sakit sambil membahas tentang Ha Na.


Ah Ra,bagaimana yang kabar Ha Na di sana?


Em,tidak tahu In Joo.


Aku juga sangat merindukan Ha Na.


Tiba tiba tercetus ide dari mulut Ah Ra.


Hei,bagaimana kalau kita menjenguk Ha Na?


Kita bisa menumpang mobil Ah Young dan merayunya.


Di sana juga ada Dong Joo,Ah Young pasti mau..


Hem,ide yang cemerlang.


Baiklah,kau rayu saja Ah Young.


Jika berhasil dan dia mau,kita pergi hari sabtu nanti.


Ah Ra mengangguk.


Kembali pada Ha Na dan Dong Joo di desa itu.


Sejak pernyataan cinta dari Dong Joo untuk Ha Na di nyatakan,ada situasi kikuk yang sediki terasa di antara mereka saaat saling bertemu.


Bahkan saat ini,saat Ha Na menjadi asisten Dong Joo di meja operasi.


Ha Na agak susah fokus dan terus berdebar di


samping Dong Joo.


Fokuslah dokter Hyun!!!


Ha Na malah semakin salah tingkah dan menjatuhkan alat alat bedah.


Semua mata tertuju pada Ha Na.


Aku minta maaf...


Ada apa sebenarnya denganku ini?


Kenapa aku malah kacau tidak karuan??


Untung saja setelah itu Ha Na bisa kembali fokus dan menyelesaikan operasi dengan baik.


Keluar dari ruang operasi itu,Dong Joo menarik tangan Ha Na dan membawa Ha Na bicara di sebuah ruangan penyimpanan stok obat obatan yang sepi.


Ha Na,kenapa kau begitu tadi?


Apa aku begitu mengacaukan fikiranmu?


Aku mohon saat kita sedang menghadapi pasien,kau harus fokus dan melupakan semua yang kita rasakan dan alami di luar perihal pasien yang kita hadapi.


Iya senior,aku minta maaf.


Ha Na tampak menyesal dan menunduk..


Sepertinya ia sudah memahami kesalahannya.


Dong Joo lalu melangkah selangkah dan memeluk Ha Na.


Maaf karena aku menyulitkanmu Ha Na,tapi percayalah...


Aku akan selalu melindungimu.


Saat itu Ha Na ingin mengetes perasaannya,perlahan kedua tangannya naik dan memeluk Dong Joo juga.


Ajaibnya setelah melakukan hal itu,Ha Na merasa tenang dan hilang segala kegalauannya.


Perasaannya menjadi tenang di dalam pelukan Dong Joo.


Rung IGD mendapat telepon darurat.


Seorang wanita hendak melahirkan dan terjebak di area konflik.


Rupanya,konflik antar negara itu sedang memanas hari ini karena ada warga Korea utara melakukan latihan menembak dan peluru itu malah masuk ke wilayah negara tetangga.


Untungnya peluru nyasar itu tidak mengenai warga dan tertambat pada sebuah pohon.


Tapi hal itu sudah membuat kubu Korea selatan marah karena hal itu dapat membahayakan warga sipilnya.


Terjadilah sedikit kerusuhan di sini,tapi malangnya ada seorang wanita yang sudah waktunya melahirkan terjebak.


Mau tidak mau,dokter harus turun langsung ke lapangan.


Ha Na menawarkan dirinya untuk pergi,Dong Joo juga ikut untuk berjaga jaga.


Mereka meluncur dengan ambulance,dan saat sampai..


Daerah itu di penuhi suara tembakan juga orang orang yang sepertinya dari kawasan Korea utara masuk ke tempat ini untuk ikut meramaikan kerusuhan.


Rumah wanita yang hendak melahirkan itu harus melewati daerah konflik ini.


Ambulance tidak diizinkan lewat padahal sangat darurat.


Dengan memberanikan diri Ha Na turun dari ambulance di temani satu perawat dan tentunya Dong Joo.


Ha Na mencoba minta perlindungan oleh tentara yang berjaga.


Untungnya tentara itu mau membantu.


Walau dengan rasa takut yang mencekam dan medan yang mengancam nyawa untuk di lewati,niat baik dan jiwa pahlawan mereka membuat semua tindakan dan langkah mereka selalu di sertai yang kuasa.


Atas restu yang di atas,mereka berhasil masuk ke rumah pasien yang membutuhkan itu.


Ha Na segera menghampirinya.


Wanita itu hanya di temani suaminya di sampingnya.


Nyonya,bagaimana keadaanmu...


Sambil meringis sakit,pasien itu mencoba menjawab.


Aku sudah tidak kuat dokter...


Ha Na meminta perawat memberi oksigen portable pada wanita itu.


Ha Na hanya tahu sedikit soal menangani pasien yang akan melahirkan karena bukan dokter kandungan.


Dokter kandungan yang ada di rumah sakit sedang menangani pasien yang melakukan operasi sesar.


Sedangkan pasien tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


Saat Ha Na memeriksa,pembukaan pasien itu sudah cukup.


Tapi bayi belum juga turun.


Ada apa ini?


Bukankah seharusnya bayi ini sudah waktunya keluar?


Dong Joo menyela..


Ha Na,mungkinkah bayi ini terlilit ari arinya di dalam sana?


Ha Na langsung menatap Dong Joo..


Ayah anak itu juga berkomentar.


Dokter,sebenarnya posisi bayi ini juga sunsang dengan posisi kaki di bawah.


Bagaimana ini...


Hal lebih gawat malah terjadi,ketuban wanita itu pecah...


Air ketubannya merembes mebasahi baju dan tempat tidurnya.


Bagaimana ini??


Ha Na mulai panik,ia lalu teringat saat dulu ayah In Joo membantu proses kelahiran Ah Young di saat genting.


Sekarang,ia juga harus berjuang karena jika memang takdir bayi itu hidup maka sang pencipta juga akan ikut canpur tangan membantu.


Ha Na,sepertinya pasien ini harus di operasi.


Akan sulit untuk ia bisa melahirkan secara vaginal.


Tidak senior,keadaan sudah tidak memungkinkan membawanya keluar.


Ia juga tidak bisa banyak bergerak lagi..


Kita harus berusaha membantunya melahirkan secara normal.


Karena ibu ini dilanda cemas dan takut,Ha Na menenangkannya terlebih dahulu dan meyakinkan kalau ia pasti bisa.Hanya saja Ha Na akan menyobek jalan lahir bayi lebih besar agar membantu bayi itu keluar lebih cepat dengan bantuan tangannya.


Ibu itu menyanggupi.


Pertama,ibu itu diminta mengeden perlahan dan mengatur pernafasan.


Ha Na juga meminta perawat menyiapkan air hangat untuk memandikan bayi nanti.


Setelah sekiranya ada celah,Ha Na mulai menggunting selaput tipis jalan lahir itu.


Sang ibu terlihat meringis..


Dalam pekerjaan ini,Ha Na berdoa dalam hati.


Ya tuhan,izinkanlah bayi ini keluar dengan selamat dan biarkan ia melihat dunia ini.


Berikanlah berkah besarmu di tengah konflik yang memanas ini.


Jadikan bayi ini penyejuk di antara panasnya hawa kerusuhan ini.


Dengan kekuatan Doa itu,bayi itu berhasil keluar walau anggota badannya agak membiru,bayi itu tidak menangis.


Dong Joo segera membantu Ha Na melepaskan ari ari bayi yang melilitnya itu.


Setelah itu,Ha Na membalikkan badan baik dan menepuk nepuk bayi itu perlahan,Ha Na juga memberi nafas buatan untuk bayi itu.


Juga mengggosok punggung juga telapak tangan dan kaki bayi itu.


Aku mohon,menangislah...


Dengan usaha dan keringat juga kerja kerasnya,


bayi itu perlahan memerah dan kemudian mulai menangis.


Menangisnya sangat kencang hingga membuat semua orang merinding bahagia.


Sang ibu dan ayah bayi juga menangis haru menyambut kelahiran bayi mereka.


Ha Na terduduk lemas dengat nafas yang terengah.


Dong Joo yang berada di samping Ha Na menaruh kagum padanya..


Wanita ini mungkin adalah dewi penyelamat yang reinkarnasi dan terlahir kedunia untuk menyelamatkan setiap orang yang membutuhkannya.


Walau hanya dengan kemungkinan kecil dan mustahil,ia berhasil mengatasinya dan menyelamatkan pasien yang bergantung padanya.


Selesai menyelamatkan pasien itu dan melihat keadaan sang ibu juga sudah stabil,Ha Na dan yang lainnya pamit untuk pergi.


Baik sang suami maupun sang istri tidak henti hentinya mengucapkan terima kasih pada Ha Na dan Dong Joo berulang kali.


Ha Na dan Dong Joo beranjak keluar dan harus melewati medan yang memanas itu lagi..


Tapi tak di sangka sangka,salah seorang perusuh melempar batu dan mengenai lengan kanan Ha Na.


Batu itu rupanya runcing dan menyebabkan tangan Ha Na berdarah..


Aaaaarggghhh...


Ha Na sempat menjerit kesakitan.


Dong Joo langsung panik dan memapah Ha Na.


Bertahanlah Ha Na,kita sudah di dekat ambulance..


Dong Joo memapah Ha Na dengan hati hati agar tidak terkena imbas kerusuhan itu lagi.


Walau penuh ketegangan dan rasa takut yang mencekam,akhirnya Ha Na dan Dong Joo bisa sampai di ambulance.


Sebuah pengorbanan besar yang di lakukan petugas medis ini demi menyelamatkan pasiennya.


Bahkan medan berbahayapun rela mereka tembus demi menjalankan tugasnya.