
Ha Na kembali ke rumah sakit keesokan harinya.
Kehadiran Ha Na kembali ke rumah sakit itu membawa angin segar dan di sambut baik oleh semua staff.
In Joo dan Ah Ra segera memeluk Ha Na begitu ia datang
HANA.....
Teriak In Joo dan Ah Ra dari jauh sambil berlarian lalu merangkul Ha Na.
"Aku sangat merindukanmu Ha Na..
"Iya Ah Ra,aku juga merindukanmu.
Hari ini adalah hari baru bagi ketiga sahabat ini bekerja sama kembali.
Walau rumah sakit ini nampak kurang setelah Dong Joo tiada.
Di setiap sudut rumah sakit ini masih sangat mengingatkan Ha Na akan Dong Joo.
Walau begitu Ha Na menepisnya dan mencoba kuat.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Di sutu jalan.
Ada seorang remaja pria yang ingin melintas karena lampu hijau untuk pejalan kaki sudah menyala.
Tapi sebuah mobil meluncur dengan kecepatan kencang tanpa memedulikan rambu lalu lintas.
Remaja yang sedang berjalan kaki itu tidak bisa menghindar lagi saat mobil mewah itu menabrak dirinya.
Tubuhnya terlempar jauh karena sundulan mobil yang kuat itu.
Kepalanya terhempas ke jalanan.
Darah remaja yang masih berseragam itu juga mulai membasahi jalan.
Tidak lama,sirine ambulance berbunyi dan mengangkat tubuh remaja pria itu.
Pihak rumah sakit sudah menelfon rumah sakit akan kedatangan pasien kecelakaan lalu lintas itu.
Ha Na juga sudah bersiap menangani pasien pertamanya setelah cuti panjang sekian lama.
Pasien itu akhirnya datang.
Ia di bawa dengan tergesa.
Remaja itu berusia 18 tahun bernama Park Jung Woo.
Perawat sudah di minta untuk menghubungi walinya.
Ha Na membuka baju pasien dan memeriksanya.
Terlihat memar di area perutnya yang menandakan banyak pendarahan di dalam.
Memar di kepalanya juga sepertinya mengakibatkan pendarahan sehingga pasien harus melakukan pindai CT secara menyeluruh.
Namun,tiba tiba jantung pasien berhenti.
Ternyata,pasien juga memiliki riwayat lemah jantung.
Ha Na berusaha memopa jantung pasien.
Mungkin ada sekitar setengah jam.
Aku mohon..
Aku mohon..
Kau masih terlalu muda.
Ayo bangunlah
Tapi usaha Ha Na sia sia.
Perawat menepuk pundaknya..
Dokter Hyun hentikanlah..
Ha Na menatap perawat itu lalu mengumumkan waktu kematian pasien.
Ha Na kecewa pada dirinya yang tidak bisa menyelamatkan pasien itu.
Tidak lama,ayah dan ibu pasien datang.
Dengan berat hati,Ha Na selaku dokter yang menaganinya turun berduka dan prihatin.
Sang ibu mendekati putranya yang tidak lagi bernyawa.
"Jung Woo,ibu sudah datang nak...
"Jung Woo,Jong Woo..
Ibu mohon bangun nak...
Bukankah kita sudah berjanji nanti malam akan makan malam di restoran pilihanmu.
Ayah sudah gajian nak,seperti janjinya minggu lalu jika ia sudah menerima gaji kita akan makan sepuasnya di restoran jepang favoritmu.
Bangun nak,bangun.....
Sang suami tidak kuasa menahan tangis.
Ha Na juga ikut sedih..
Tidak lama tangis sang ibu pecah.
Sementara itu si penabrak hanya terkena cidera ringan.
Pria yang menabraknya adalah seorang mahasiswa semester akhir,ia buru buru ke kampus sampai tidak mematuhi rambu lalu lintas demi agar tidak terlambat mengikuti kelas.
Pria yang menabrak itu sendiri bukan orang biasa.
Ia adalah putra dari pengusaha batu bara yang terkenal.
Ia sendiri adalah putera dari isteri kedua pengusaha itu.
Namun sangat di sayang oleh ayahnya yang memang menginginkan seorang putera.
Ayahnya menikah lagi karena karena istri pertamanya tidak bisa memberikan seorang putera.
Ketiga anaknya dari isteri pertama adalah wanita semua.
Sang ibu pelaku menemui puteranya di rumah sakit.
Ibunya terlihat khawatir melihat keadaan puteranya.
Namun puteranya takut karena tahu jelas dirinya bersalah.
Ia takut di seret ke ranah hukum dan harus mendekam di penjara.
Namun sang ibu meyakinkannya agar tidak khawatir karena ayahnya akan membereskan semuanya.
Ibu dari korban menghampiri kamar tempat si penabrak puteranya di rawat.
Ia di temani Ha Na dan suaminya.
"Puteraku sudah tiada.
Begitu ucap si ibu korban dengan nada datar.
Si penabrak yang bernama Won Joon itu di tutupi telinganya oleh ibunya.
Ibunya tidak ingin anaknya tertekan dan menganggap dirinya pembunuh walau memanglah begitu keadaannya.
Namun si anak sepertinya sudah mendengar.
Ia menjadi panik dan gemetar.
Ibunya lalu marah pada ibu korban.
"Hei!!!!
Jaga perkataanmu!!
Apa kau tahu puteraku mempunyai gangguan cemas!!
Ia mudah panik dan tertekan!
Ibu korbannya menatap seakan tidak percaya.
"Apa!!!!
Puteraku telah mati karena anakmu!!
Anakmu adalah seorang pembunuh!!!!!
Teriak ibu Jung Woo.
Apa gangguan panik anakmu sebanding dengan nyawa anakku yang telah tiada hah!!
Dimana otakmu!!!
Dan dimana perasaanmu sebagai ibu!!
Kita sama sama seorang ibu!!
Bagaimana perasaanku sekarang saat puteraku satu satunya telah mati karena ulah anakmu itu!!!
Kau bahkan tidak menunjukkan rasa penyesalanmu!!
Biadap!!!
Ibu pelaku juga semakin memanas.
"Lalu aku harus bagaimana hah!!
Puteramu sudah mati,apa aku bisa menghidupkannya lagi?!
Kau iri karena puteraku masih hidup!
Kecelakaan,sakit atau hal lainnya adalah hal biasa yang terjadi nyonya!!
Kita tidak bisa menghindari itu!
" Tidak bisa katamu!!!
Jika saja anakmu itu mematuhi rambu lalu lintas ini semua tidak akan terjadi.
Anakku tidak akan mati di usia muda!!!!
Won Joon si korban lalu melepas tangan ibunya yang menutup kupingnya.
Anak itu masih tahu diri dan mint maaf.
"Maafkan aku bibi..
Aku salah...
Aku juga pantas mati..
Tapi hal berikutnya yang ia lakukan benar benar ekstrim.
Ia menampar wajahnya sendiri dengan kuat bergantian, juga memukul dadanya.
Ia mencoba menyakiti dirinya.
Bahkan sang ibu tidak bisa menghentikannya.
Sepertinya ia trauma karena di sebut sebagai pembunuh tadi.
Ibunya panik dan menangis.
"Won Joon,hentikan nak..
Hentikan!
Ibu mohon.
Lalu ibu pelaku marah pada ibu korban.
"LIHAT!!!!LIHATLAH HASIL LIDAH TAJAMMU ITU!!!
KAU PUAS!!!!
Ibu korban juga tidak mau kalah.
"BIARKAN SAJA DIA!!
Jika ini hanya akting semata dan membuatku luluh,itu salah!!!
Aku tetap akan menuntut kalian!!!!
Aku akan tetap menuntut anakmu itu!!!!
Ha Na bingung bagaimana menengahi ini semua.
Keadaan sama sama runyam dan panik di kedua belah pihak.
Tidak akan baik baginya jika hanya memihak salah satu pihak.
Si ibu pelaku tidak takut dan meyakinkan kalau ia akan menang di meja hijau kelak dengan uang dan kekuasaan suaminya.
Tapi,di sini yang membuat Ha Na miris adalah walau si pelaku sudah bersalah.
Ibunya tetap melindunginya dan menjauhkannya dari rasa bersalah yang seharusnya ia pertanggung jawabkan.
Ia memposisikan anaknya agar buta tuli pada kejadian mengerikan itu.
Ia juga tidak menyuruh anaknya meminta maaf dan tidak membenarkan saat tadi anaknya melakukan perbuatan yang benar dengan meminta maaf.
Hanya karena mereka dari keluarga berada,si pelaku tidak takut di seret ke jalur hukum dan marendahkan keluarga korban dengan iming iming akan memberi kompensasi atas kematian anak itu.
Ibu korban akan tetap menempuh jalur hukum untuk menangani kasus ini.
Karena itu,Ha Na memberi bantuan hukum dengan menyewakan pengacara gratis untuk ibu korban yang tidak lain adalah ayahnya.
Ayahnya pasti akan suka rela membantu,apalagi untuk kasus seperti ini.
Ha Na juga rela menjadi saksi untuk ibu korban.
Di sisi lain,pihak si pelaku juga turun tangan dengan menggunakan dan menunjuk jasa Jae Ha sebagai kuasa hukum mereka.
Pertarungan di pengadilan ini akan di lakukan oleh Jae Ha dan Jung Hwa yang akan saling berhadapan nantinya