
Sebelum fajar menyingsing,Dae Ho dan teman temannya segera meninggalkan tempat Yun Hee agar tidak membuat keributan di sekitar juga menutupi fakta Jung Hwa yang ingatannya sudah kembali.
Sebelum pergi,Dae Ho berbisik ke telinga Jung Hwa.
Hei,Yun Hee sudah bisa hamil sekarang.
Pengaruh suntik penunda kehamilan itu sudah habis.
Kening Jung Hwa langsung berdenyit dan wajahnya memerah.
Dae Ho mengedipkan mata pada Jung Hwa.
Jung Hwa menelan ludah dan baru ingat sudah lama tidak bermesraan dengan Yun Hee.
Ae Ri juga berbisik pada Yun Hee.
Yun Hee,kalau kau tidak mau Jung Hwa di rebut.
Cepatlah hamil,gunakan kesempatan ini baik baik.
Song Yi juga ikut bergabung dan membisiki Yun Hee.
Kau pasti sudah rindu kan dengan kehangatan tubuh suamimu itu.
Wajah Yun Hee juga memerah karena di goda Song Yi dan Ae Ri.
Aishh..kalian..
Song Yi,sekarang sudah pandai ya...
Mentang mentang sudah akan menikah omonganmu vulgar sekali,dan Ae Ri wah kalian seperti ingin pamer padaku tentang kehidupan intim kalian ya.
Pulanglah dengan selamat sana,biar aku yang berinisiatif di sini.
Song Yi dan Ae Ri tertawa mendengar omongan Yun Hee.
Di sela sela itu,Jung Hwa dan Yun Hee saling berlihatan dan malu malu karena pembahasan yang di bicarakan dengan teman mereka tadi.
Fernando juga semapat bicara dengan Jung Hwa.
Ia ingin mendirikan Firma hukum baru dengan Jung Hwa jika kelak Jung Hwa sudah kembali ke Seoul.
Jung Hwa tersenyum dan berjanji akan mempertimbangkannya.
Fernando juga mengatakan siap memberi bantuan hukum terkait perusahaan yang membuang limbah sembarangan itu.
Jung Hwa tentu sangat senang mendengarnya.
Dae Ho dan yang lainnya bergegas pulang dari tempat itu.
Yun Hee dan Jung Hwa juga melambai tangan melepas kepergian mereka.
Yun Hee dan Jung Hwa saling tersenyum..
Kalau begitu aku juga pulang dulu Jung Hwa.
Iya,kau jadi tidak ada tidur semalaman.
Tidur saja di kamarku..
Eh???
Yun Hee jadi malu dan wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Apa apaan Jung Hwa,kenapa terus terang sekali.
Padahal kan masih terasa canggung.
Jung Hwa juga jadi merasa panas dan gerah.
Niatku terlihat sangat jelas,bicaraku seperti pria mesum saja.
Tapi,dia kan istriku.
Wajar saja kan.
Untung saja ayah angkat Jung Hwa tidak di situ dan mendengar omongan suami istri kikuk yang baru kembali bersama ini.
Aku ke tempatku saja,lagipula kau juga masih harus berpura pura,pasti mencurigakan kalau aku lama di sini.
Jung Hwa harus menerima jawaban Yun Hee.
Iya,baiklah.
Yun Hee,aku sangat rindu masakanmu.
Iya,nanti jika sudah senggang aku akan memasak untukmu.
Sebelum pergi,Jung Hwa menarik tangan Yun Hee dan membawanya ke balik pintu.
Ia memegang kedua pundak Yun Hee,lalu mencumbu bibir Yun Hee yang sudah sangat mengganggunya.
Yun Hee dan Jung Hwa saling memejamkan mata meresapi cimuman itu.
Tangan Jung Hwa yang memegang pundak Yun Hee perlahan turun meluncur melalui kedua lengan Yun Hee dan berakhir menggenggam Jari jari Yun Hee.
Ia selipkan jari jari tangannya di selah jari tangan Yun Hee.
Jung Hwa melahap bibir Yun Hee dengan rakus dan lahap.
Yun Hee,aku sangat merindukanmu.
Aku tidak akan bisa mengira seberapa banyak penderitaanmu setelah di tinggalkan olehku.
Lebih lebih lagi,aku dikira sudah meninggal.
Kau pasti sangat sedih.
Walau begitu,4 tahun kepergianku tidak membuat cincin pernikahan di jari manismu kau lepas meski aku telah dinggap tiada.
Yun Hee juga merindukan sentuhan bibir Jung Hwa yang selama beberapa waktu sempat menghilang bahkan tertambat di hati yang lain.
Kini Yun Hee bisa menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Jung Hwa kembali.
Setelah sekian lama beradu lidah dan bibir,Jung Hwa dan Yun Hee sama sama melepas pautan bibir itu.
Mereka harus menyudahinya sebelum larut terlalu jauh.
Yun Hee pamit pergi di selumuti perasaan bahagia.
Jung Hwa juga memulai semangat hidup baru.
Tapi Jung Hwa di hadapkan dengan dilema untuk berpisah dengan Mi Ra.
Mi Ra sangat keras kepala dan tidak akan menerima alasan perpisahan ini,apa lagi jika tahu ia sudah memiliki istri di kehidupannya sebelum amnesia.
Mi Ra menyambangi rumah Jung Hwa siang ini.
Ia masih belum tahu kalau ingatan Jung Hwa sudah kembali.
Begitu datang,Mi Ra langsung melompat memeluk Jung Hwa.
Hyun Ki,aku rindu sekali..
Akhirnya aku bisa memelukmu setelah kesibukanmu mengurus para orang sakit itu.
Jung Hwa ragu untuk membalas pelukan Mi Ra.
Ini jelas salah,aku adalah suami dari Yun Hee.
Tapi aku juga kekasih Mi Ra.
Bagaimana ini.
Ada apa Mi Ra?
Wajah Mi Ra cemberut..
Kan sudah aku bilang,kalau aku rindu tadi.
Jung Hwa tersenyum lemah dan terpaksa.
Maafkan aku Mi Ra,sepertinya tali kasih di antara kita harus segera putus.
Aku memiliki seorang istri yang sangat aku cintai.
Kini,saat ingatanku kembali aku mulai tidak menginginkan sentuhan fisik di antara kita.
Tapi aku berterima kasih karena kau sudah baik dan banyak membantuku.
Hyun Ki kenapa menatapku begitu?
Kau terpesona ya melihatku yang makin cantik?
Iya Mi Ra.
Mi Ra lalu berjinjit ingin mencium bibir Jung Hwa.
Tapi Jung Hwa segera menghindar dan memalingkan wajahnya ke sisi lain.
Mi Ra lalu terpaku dan merasa aneh.
Kenapa Hyun Ki?
Jung Hwa segera membuat alasan.
Ada ayah,tidak enak kalau dia sampai melihat.
Kenapa dengan Hyun Ki,kenapa aku merasa ia seperti sosok yang berbeda?
Jung Hwa segera meloloskan diri dengan alasan membantu di posko kesehatan lagi hari ini.
Sementara di Seoul..
Dae Ho bercerita pada Jun Pyo kalau suami Yun Hee ternyata masih hidup dan ia juga bertemu dengan Jung Hwa.
Dae Ho melihat wajah Jun Pyo yang sepertinya patah hati.
Dae Ho mencoba menyemangati Jun Pyo.
Ia menepuk pundak Jun Pyo yang wajahnya sedang tertunduk.
Sudahlah Jun Pyo,jangan berkecil hati.
Aku yakin masih ada yang lebih baik untukmu.
Kau tahu kan Yun Hee sangat mencintai suaminya.
Walau Jun Pyo tersenyum di hadapan Dae Ho tetap saja hatinya perih.
Ternyata ini sudah di gariskan yang di atas.
Yun Hee memang di pertemukan dengan orang yang dicintainya lagi di perjalanan dinas itu untuk membuatku tersadar kalau dia bukan untukku.
Aku sejujurnya belum bisa menerima semua ini.
Tapi bagaimana lagi...
Jun Pyo sangat patah hati dan berjalan dengan gontai.
Walau cuaca di luar cerah tapi hatinya di selimuti awan mendung yang tebal.
Begitu juga Mi Ra yang akan bersiap untuk kehilangan sebentar lagi.
Yun Hee sedang menangani pasien di posko kesehatan itu.
Seorang remaja wanita mengalami masa kritis karena baru berobat setelah sangat dehidrasi.
Yun Hee dan timnya panik.
Jung Hwa yang kebetulan membawa pasien itu.
Yun Hee merasa gadis ini juga menderita penyakit lain.
Sepertinya Yun Hee harus membedahnya..
Mi Ra mengintip dari luar posko itu.
Ia melihat Jung Hwa terlalu dekat dengan Yun Hee.
Hal itu membuatnya cemburu.
Mi Ra lalu masuk dan membuat keributan.
Ia menarik Jung Hwa ke dekatnya sementara pasien yang terbaring itu sedang kesakitan.
Hyun Ki ayo keluar.
Di sini sudah banyak yang membantu,kau tidak perlu ikut ikutan.
Mi Ra lihatlah situasi ini mengertilah.
Yun Hee juga terganggu melihat tingkah Mi Ra yang kekanakan.
Nona,tolong keluar.
Jika kau ada masalah lain tolong jangan ribut di sini.
Kondisi pasien sedang kritis.
Ia perlu ketenangan dalam menghadapi situsai ini.
Mi Ra malah memanas.
Kau jangan ikut campur!!
Ini tidak ada hubungannya denganmu!!
Aku mengajak bicara pacarku dan bukan kau!!
Orang yang sakit ini juga akan mati nantinya,kenapa kau repot repot cemas pada nyawa orang sekarat yang akan mati ini!!!!
PLAKKKKKK...
Yun Hee langsung melesatkan tamparan ke pipi Mi Ra yang bicara lancang itu.
Jaga mulutmu!!
Apa hakmu mendikte hidup pasienku!!
Kau bukanlah tuhan yang bisa menentukan hidup mati seseorang!!!
Yun Hee benar benar marah karena perkataan Mi Ra yang meremehkan dan menyepelekan nyawa orang lain seakan tak berharga.
Mi Ra juga memanas.
Dasar dokter jalang..
Mi Ra ingin balas menampar Yun Hee namun Jung Hwa mengahalau tangannya dengan tatapan marah.
Hentikan Mi Ra.
Mi Ra belum pernah melihat Jung Hwa menatapnya dengan semarah itu.
Mi Ra yang sakit hati lalu pergi dari tempat itu sambil menahan malu dan sakit hati.