THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
LAMARAN



Song Yi,ibu dari In Joo mengalami masalah pada ginjalnya yang hanya tinggal satu itu.


Ia sering mengeluh sakit pada area ginjalnya.


Di umurnya yang tidak lagi muda,Song Yi teledor mengatur pola hidup sehatnya padahal hanya memiliki satu ginjal tersisa,efeknya sekarang ia sering cepat lelah dan staminanya menurun.


Hal ini pasti di sebabkan fungsi ginjalnya yang juga sudah mulai menurun seiring usia dan aktifitasnya yang padat.


Dae Ho sangat mencemaskan isterinya


Setelah di periksa,Song Yi bahkan harus melewati prosedur cuci darah yang menyakitkan karena efek dari ginjal yang mulai rusak tersebut.


Hal itu membuat In Joo dan ayahnya Dae Hoo merasa prihatin.


Saat ini Song Yi sedang di rawat inap di sebuah rumah sakit.


Sahabatnya,Yun Hee dah Ae Ri dengan setia berada di sisi Song Yi karena mencemaskannya.


Hei,sudahlah jagan pasang wajah sedih seperti itu.


Kalian seperti melihat aku akan mati besok saja...


Ae Ri marah...


Hei!!!


Beraninya kau bicara seperti itu Song Yi!


Kita bahkan belum melihat cucu kita lahir,mana boleh kau mati duluan!!


Song Yi tersenyum pada Ae Ri yang sudah hampir menangis di buatnya.


"Iya iya,aku minta maaf besanku.


Song Yi juga menatap Yun Hee yang wajahnya sudah sangat murung dan mendung melihatnya..


Aigo,kenapa kau seperti itu melihatku Yun Hee?


Aku bisa lebih sakit jika melihat wajahmu yang menakutkan itu..


Song Yi!!


Kenapa masih bisa bercanda?


Apa kau tahu betapa berbahayanya keadaanmu sekarang??


Song Yi terlihat tenang.


"Aku tahu Yun Hee


Sebenarnya aku sangat takut dan gelisah.


Aku hanya tidak ingin menunjukkannya.


Aku kasihan pada anak dan suamiku.


Mereka tentu akan memberikan ginjal mereka jika cocok,tapi mereka sedih karena tidak satupun dari mereka cocok untuk mendonorkan ginjal padaku.


Aku hanya berpura pura kuat,padahal aku sangat takut jika saat ini aku tertidur dan besok tidak bisa bangun kembali..


Melihat Song Yi yang seperti itu,Yun Hee dan Ae Ri memeluknya sambil menangis.


Song Yi hanya bisa berpura pura tegar agar tidak memperburuk keadaan.


Tapi kesedihan itu tidak berlangsung lama.


Dae Ho mendapat telfon dari rumah sakit jika ada seorang pendonor ginjal yang cocok dengan milik isterinya.


Dae Ho sangat bahagia.


Orang yang mendonorkan ginjal itu adalah adik dari mantan tunangannya yang sudah meninggal dulu.


Adik mantan tunangan Dae Ho merasa bahagia bisa membantu Dae Ho,karena dulu Dae Ho sangat mencintai mendiang kakaknya.


Dan kini saat mendengar Dae Ho sedang kesusahan,adik dari mantan tunangannya itu ingin membantu sebisanya sebagai balas budi atas kebaikan Dae Ho dahulu.


In Joo dan Dae Ho sangat berterima kasih atas pertolongan tersebut.


Song Yi juga merasa lega atas kebaikan hati adik dari mendiang tunangan Dae Ho terdahulu yang sudah murah hati mau mendonorkan satu ginjal untuknya.


Operasi trasplantasi ginjal itu berjalan dengan sukses dan lancar.


Hal ini juga menyadarkan Dae Ho bahwa apapun hal baik yang kita lakukan di masa lalu akan tetap berbuah kebaikan di masa mendatang.


Dae Ho sudah merasakannya langsung.


Istri yang di cintainya bisa selamat dan sehat kembali berkat segala hal baik yang di lakukannya dulu pada mediang tunangannya yang telah tiada.


Dalam hati Dae Ho juga mengucapkan terima kasih pada mendiang tunangannya yang sudah lebih dulu berpulang karena mengirimkan bantuan yang tidak terduga di saat yang tepat.


□□□□□□□□□□□□□□□□□□□□□□□□


Hari hari berlalu begitu saja,tanpa terasa sudah 6 bulan sejak kepergian Min Jae.


Benih benih cinta antara Dong Joo dan Ha Na juga bersemi kembali.


Ha Na tidak bisa menolak Dong Joo yang selalu gigih berjuang memenangkan hatinya.


Dong Joo berulang kali menyatakan perasaannya.


Walau Ha Na seringkali menjawab belum siap,ia tidak menyerah begitu saja dan pantang mundur.


Kesabaran dan usahanya membuahkan hasil.


Dong Joo berhasil meyakinkan Ha Na dan mereka berhasil bersatu kembali.


Saat ini,Dong Joo dan Ha Na sedang berada di ruang operasi bersama.


Mereka sedang mengoperasi pasien yang terkena jantung bocor.


Ha Na dengan fokus melihat teknik yang di lakukan oleh Dong Joo.


Hingga operasi itu berjalan sukses dan lancar.


Keluar dari ruang operasi.


Dong Joo dan Ha Na berpegangan tangan sambil menyusuri koridor rumah sakit.


Ha Na,akhir minggu ini bagaimana kalau kita ke pantai?


Ha Na mendelik pada Dong Joo.


Boleh saja..


Aku juga sudah merindukan pasir pantai,angin laut dan ombak kecil yang menyapu pantai..


Baiklah..


Aku akan menjemputmu nanti..


Buatkan bekal yang enak agar kita bisa menikmatinya di pantai nanti..


Tentu..


"Jawab Ha Na bersemangat saat melihat Dong Joo.


Jung Hwa dan Yun Hee juga sedang bersantai bersama sambil minum teh..


Mereka biasa berbincang ringan sambil menikmati secangkir teh seperti ini.


Yun Hee,kenapa tiba tiba aku ingin melihat Ha Na menikah ya?


Aku rasa Dong Joo sudah cukup mapan untuk di bawa ke jenjang serius.


Apa dia belum ada niat melamar Ha Na?


Yun Hee mulai menjawab omongan suaminya.


Jung Hwa,ayolah jangan kolot begitu.


Mereka kan masih muda,anak anak zaman sekarang tidak begitu fokus dan berpusat pada pernikahan selama mereka saling mencintai.


Biarkan mereka menentukan arah hubungan mereka dan merancang rencana pernikahannya dengan baik.


Jika sudah mencapai titik temu,aku yakin mereka akan maju dengan sendirinya dan meminta izin menikah pada kita.


Kau tidak harus khawatir dan repot repot berfikir begitu.


Jung Hwa pasrah setelah di ceramahi oleh isterinya.


Tidak ada alasan untuk berdebat dengan isterinya karena ia tahu pasal satu dalam rumah ini adalah "Wanita selalu benar".


Hari ini adalah akhir pekan yang sudah di tunggu tunggu Ha Na dan Dong Joo.


Walau sempat mendapat panggilan darurat untuk mengoperasi pasien yang mengalami pendarahan di area dada tadi subuh namun Dong Joo bisa menyelesaikannya dengan cepat agar rencana liburan mereka berjalan lancar sesuai rencana.


Dong Joo bahkan tidak sempat mandi dan hanya mencuci wajahnya saja juga menggosok gigi agar nafasnya tetap segar.


Setelah itu ia langsung meluncur dan menjemput


Ha Na ke rumah.


Dong Joo sangat bersemangat.


Dong Joo sepertinya sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Ha Na.


Setelah izin dan pamit pada orang tua Ha Na.


Dong Joo pergi membawa Ha Na meluncur dengan mobil bersamanya.


Di mobil,Dong Joo terus menggenggam tangan Ha Na.


Hal itu membuat Ha Na agak risih..


"Dong Joo,tanganku berkeringat karena kau genggam terus.


Aku tidak akan kabur..


Ayo lepaskan..


Jawab Dong Joo sambil menggelengkan kepala.


Aku takut kau kabur lagi ke hati yang lain.


Kau tahu betapa kerasnya hatiku untuk memenangkan hatimu kembali.


Mengingat hari hari yang sulit itu membuatku tidak ingin jauh jauh darimu tahu.


Ha Na merasa tersanjung mendengar omongan yang keluar dari mulut Dong Joo.


O..manis sekali pacarku..


"Puji Ha Na manis pada pacarnya.


Dong Joo hanya terkekeh kecil dan lanjut menyetir sambil memegang tangan kekasihnya.


Dong Joo mengingat kembali masa sulitnya saat akhirnya bisa memenangkan hati Ha Na setelah sempat di geser oleh keberadaan Min Jae.


Flash back..


Saat itu seperti biasa,Dong Joo menyatakan perasaanya pada Ha Na di lantai gedung teratas rumah sakit itu.


Saat itu kematian Min Jae sudah berlalu hampir 3 bulan.


Dong Joo bicara 4 mata dengan Ha Na di tempat itu.


"Bukankah ini sudah cukup lama untuk kau berkabung mengenangnya.


Aku juga sudah cukup bersabar dan ingin bersamamu kembali.


Tolong lihat aku Ha Na..


Aku juga membutuhkanmu..


Hati dan perasaanku sudah aku biarkan mengalah untuk memberimu ruang menempatkan Min Jae sementara di atasku.


Tapi sekarang aku pikir itu sudah cukup,kau juga harus melihat diriku ini yang selalu ada di dekatmu.


Aku yang masih hidup ini juga ingin kau fikirkan dan kau hargai seperti dulu.


"Wajah Ha Na masih sedih dan penuh duka..


Ha Na tidak bisa menjawab apa apa saat itu.


Bahkan kata maaf yang ingin ia ucap juga tidak bisa keluar dari mulutnya.


Ha Na hanya memberi Dong Joo tatapan sedihnya,namun Dong Joo menatapnya dengan mata melas dan penuh harapan.


Ha Na jadi merasa serba salah..


Di satu sisi aku masih merasa tidak siap karena takut menerima Dong Joo hanya sebagai pelampiasan dan pengalihan untuk melupakan Min Jae sehingga hanya memberi perasaan palsu yang tidak tulus padanya.


Tapi di satu sisi aku juga sebenarnya ingin memulai lagi sebuah hubungan dengan Dong Joo,hanya saja rasa kehilangan yang amat dalam itu masih sangat menghantuiku dan begitu menyakitkan.


Apa yang harus aku lakukan?


Akan sangat salah jika aku terus menggantungkan Dong Joo padahal dia tidak melakukan salah apapun.


Perasaannya akan tersakiti dan dia akan terus sakit setiap melihatku karena sudah mengabaikan perasaannya tanpa sebab yang jelas.


Dong Joo mulai putus asa karena Ha Na tidak kunjung menjawab.


Hal itu benar benar mematahkan semangat Dong Joo.


Sehingga memancing Dong Joo untuk melakukan hal yang serius.


"Ha Na,kau berfikir terlalu rumit.


Karena itulah kau seringkali sedih di awal dan menyesal di akhir.


Jika memang di hidup ini aku tidak berarti bagimu maka tidak susah bagiku untuk melompat dari atas gedung ini dan mati sekarang juga agar kau melihatku dan memikirkanku.


Aku yakin kau akan sedih dan menyesal setelah aku tiada nanti.


Kau akan menyesal karena telah menyianyiakanku yang selalu berada di dekatmu dan nanti saat aku jauh darimu kau akan lebih menyesalinya.


Dong Joo benar benar nekad.


Ia bahkan sudah membalikkan badan dan berjalan menuju tepian gedung.


Saat melihat punggung Dong Joo,Ha Na akhirnya sadar.


Tidak.


Tidak..


Aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai lagi..


Tidak!!


Ha Na berlari ke arah Dong Joo dan memeluknya dari belakang.


Ha Na memeluknya dengat erat.


"Tidak!!


Jangan lakukan Dong Joo!!


Aku tidak mau kehilanganmu.


Dong Joo akhirnya menang.


Dong Joo membalikkan badannya dan menatap Ha Na.


"Ha Na,aku mencintaimu..


Ayo kita mulai dari awal lagi..


Jangan banyak berfikir,hanya lakukan dan jalani saja.


Kita sudah berjuang sejauh ini.


Ha Na mengangguk..


"Iya Dong Joo,ayo kita mulai lagi semuanya.


Maafkan aku yang rapuh dan penuh keraguan.


Dong Joo memegang wajah Ha Na dengan kedua tangannya lalu mengecup bibir Ha Na dalam.


Itulah awal hubungan Ha Na dan Dong Joo kembali baik dan di mulai dari awal.


Kembali ke masa sekarang.


Ha Na dan Dong Joo sudah sampai di pantai yang ingin mereka kunjungi.


Ha Na turun dari mobil dan berlarian ke pantai


Wahhhhhh


Pasirnya banyak sekali..


Pantai yang indah..


Dong Joo berjalan di belakang Ha Na sambil tersenyum..


Ia bahagia melihat Ha Na yang tersenyum lebar..


"Dong Joo,ayo tangkap aku..


"Baiklah..


Aku akan menangkapmu dan membasahi kakimu ke air laut itu..


Ha Na berlari di diikuti Dong Joo yang mengejarnya dari belakang.


Dong Joo menangkap Ha Na dan mengangkat badan Ha Na juga sesekali memutarnya.


Ha Na dan Dong Joo begitu bahagia.


Menikmati pasir putih,pantai yang indah juga cahaya matahari yang mulai meredup di ujung lautan sana.


Saat itulah,Ha Na dan Dong Joo yang duduk di atas pasir putih itu memulai sebuah cerita baru.


Dong Joo mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.


Dong Joo membuka kotak itu sembari Ha Na menikmati pemandangan sunset yang indah.


Lalu..


Ha Na...


"Panggil Dong Joo lirih..


Ha Na berpaling dan menatap Dong Joo yang memegang sebuah cincin indah di tangannya.


Ha Na kaget dan memandang Dong Joo serius.


"Ha Na,aku sengaja membawamu kesini untuk melamarmu..


Ha Na,mau kah kau menikah denganku?


Ha Na terharu sekali..


Tanpa basa basi lagi,Ha Na menjawab apa yang Dong Joo lontarkan


"Iya Dong Joo.


Aku mau..


Dong Joo sangat senang lamarannya di terima.


Dong Joo menyematkan cincin cantik itu di jari manis Ha Na dan mengecup lembut kening Ha Na dengan latar sunset di belakangnya.


Lamaran sempurna dengan pemandangan yang mendukung..


Sebuah lamaran yang sempurna tercipta di kala senja itu.