
Yun Hee masih tidak sadarkan diri di sebuah kamar rumah sakit itu karena masih terkena pengaruh bius di obat penenang tadi.
Sementara Dae Ho sedang menjahit luka di tangan Jun Pyo akibat goresan pisau Yun Hee tadi.
Jun Pyo nampak tenang karena sudah di beri obat bius di tangannya agar tidak terasa sakit saat di jahit.
Dae Ho mulai mengajak Jun Pyo bicara agar rileks.
Kau sudah tahu kan tentang Yun Hee.
Iya,aku sudah tahu.
Ia sudah ceritakan semuanya padaku.
Tapi aku tidak menyangka kalau luka Yun Hee separah itu.
Begitulah cinta Jun Pyo,luka karena masalah hati tak semudah kita menyembuhkan luka seperti sekarang ini yang tinggal di jahit dan selesai sudah, tinggal menunggu sembuh dan keringnya luka itu.
Tapi luka karena masalah hati seperti kanker yang terus menggerogoti dan kemungkinan untuk sembuh sangat kecil.
Yun Hee sudah bertahan cukup lama dan sekarang penyakit hatinya sedang kumat.
Kita harus memakluminya Jun Pyo.
Iya Dae Ho,aku mengerti.
Yun Hee..Yun Hee.
Kenapa kau seperti itu.
Jika kau masih mengingat Jung Hwa,bagaimana aku bisa masuk kehatimu.
Jun Pyo sudah mulai jatuh pada Yun Hee rupanya.
Dae Ho sudah meninggalkan Jun Pyo di ruang praktek itu.
Tidak lama ada orang lain yang masuk,dan saat Jun Pyo mendelik rupanya itu Yun Hee.
Yun Hee menatap Jun Pyo dengan tatapan menyesal.
Yun Hee,kenapa kesini?
Istirahat saja di kamar pasien sana.
Kondisimu masih belum pulih dah lemah.
Yun Hee menangis dan segera menghampiri Jun Pyo.
Ia memeluk erat Jun Pyo.
Maaf Jun Pyo,maafkan aku.
Karena aku kau jadi terluka,aku menyesal Jun Pyo.
Aku terbawa perasaan tadi.
Yun Hee ingat semua yang terjadi rupanya.
Ia menyesal perbuatannya tadi telah menyebabkan Jun Pyo jadi terluka.
Jun Pyo mengelus punggung Yun Hee.
Tidak apa apa Yun Hee,aku paham situasinya.
Jangan menangis dan merasa berasalah lagi.
Yun Hee melepas pelukannya.
Jun Pyo menyeka air mata Yun Hee dengan tangannya sambil tersenyum.
Dewiku,jangan menangis lagi.
Hancur duniaku melihat tangismu yang menyedihkan ini.
Jun Pyo terlalu terhipnotis rupa Yun Hee yang rupawan.
Ia lalu mengecup pipi kanan Yun Hee.
Yun Hee kaget dan tak bisa berkata apa apa.
Mata Yun Hee dan Jun Pyo juga saling menatap seakan terkait jerat asmara.
Jun Pyo mendekati wajah Yun Hee lagi yang sepertinya ingin menembak bibir Yun Hee.
Saat sudah sangat dekat,Yun Hee lalu memalingkan wajahnya.
Ia masih belum siap dengan hal itu.
Ia masih merasa kalau ia adalah istri Jung Hwa dan masih milik suaminya.
Jun Pyo tidak berkecil hati.
Jun Pyo memegang lagi wajah Yun Hee dan membaliknya lagi ke arahnya dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Yun Hee.
Yun Hee memejamkan mata.
Aku harus bagaimana?
Tidakkah ini salah??
Jun Pyo juga menggenggam tangan kanan Yun Hee dan tangan kirinya merangkul badan Yun Hee.
Yun Hee,sadarlah.
Suamimu sudah tiada.
Kau berhak menemukan cinta baru untuk mengisi hatimu.
Dan biarkan aku yang mengisi posisi itu.
Jun Pyo mencium lembut bibir Yun Hee dan menyesapnya perlahan,berharap Yun Hee bisa tergetar dan berdebar.
Yun Hee pasrah dan diam saja.
Yun Hee di landa bimbang dan entah rasa apa yang ia tak tahu artinya lagi.
Walau Jun Pyo yang menciumnya tapi Jung Hwa yang ia bayangkan sedang menyentuh bibirnya itu.
Karena lagi lagi terbawa khayalan,Yun Hee malah melayani ciuman Jun Pyo.
Jun Pyo salah paham dan mengira Yun Hee sepertinya menerima dirinya padahal itu semua karena Yun Hee membayangkan Jung Hwa.
Jun Pyo dan Jung Hwa sudah di kondisi yang lebih baik.
Mereka berjalan diam melewati koridor rumah sakit itu.
Yun Hee merasa bersalah karena tadi meladeni ciuman Jun Pyo.
Aduh,kenapa aku seperti tadi.
Sekarang Jun Pyo pasti salah faham.
Bagaimana aku akan menjelaskannya.
Jun Pyo juga menatap Yun Hee dengan malu malu.
Asik..
Yun Hee sepertinya sudah memberi lampu hijau padaku.
Aku tidak pernah sebahagia ini.
Jun Pyo pelahan dan malu malu ingin menggenggam tangan Yun Hee.Yun Hee serba salah dan akhirnya saat tangan Jun Pyo berhasil menggenggam tangannya ia terdiam saja.
Di depan mereka,Yun Hee dan Jun Pyo di hadang oleh pria yang mengamuk di IGD tadi siang.
Yun Hee dan pria itu saling menghadap lalu memutuskan bicara di taman rumah sakit.
Dokter,aku minta maaf.
Aku menyesali semua tingkah lakumu.
Iya tuan,aku juga minta maaf.
Aku malah terbawa perasaan dan mengamuk sendiri.
Pria itu lalu mengehela nafas panjang.
Ia lalu berdiri dan membungkuk di hadapan Yun Hee lalu bangun lagi.
Baiklah dokter,aku akan kembali ke rumah duka untuk menemani jenazah istriku agar tidak kesepian.
Kita tidak perlu membahas penyesalan yang tiada habisnya lagi.
Ayo kita sama sama bangkit dan mengahargai orang orang di sekitar kita dokter.
Yun Hee tersenyum dan ikut berdiri.
Iya tuan,ayo kita bangkit.
Bukan untuk melupakan tapi untuk menghargai hidup ini dan melakukan yang terbaik agar di sana orang yang kita cintai tidak perlu berduka dan bisa menikmati hidup di alam baka dengan tenang.
Yun Hee dan pria itu saling berjabat tangan.
_______________________________
Jung Hwa sedang membantu ayahnya menangani pasien akupuntur.
Belakangan desa tempat Jung Hwa tinggal sedang di landa wabah muntaber.
Banyak anak anak dan orang dewasa yang jatuh dan tumbang karena wabah penyakit itu.
Ayah Jung Hwa sangat kewalahan karena pasien yang memblundak.
Di sini sangat jauh dari rumah sakit dan tidak ada pos kesehatan.
Padahal sudah ada warga yang melapor ke kantor desa untuk meminta bantuan tenaga medis di desa ini.
Jung Hwa sedang sibuk membantu ayahnya,sementara Mi Ra malah marah karena merasa tidak di pedulikan Jung Hwa belakangan ini.
Mi Ra selalu di suruh menunggu dan sabar.
Huh pasien pasien ini,orang orang sakit seperti kalian membuat orang yang sehat malah sibuk dan tidak ada waktu untuk pacarnya.
Kenapa tidak langsung mati saja!
Merepotkan!!!
Perangai Mi Ra memang buruk,ia hanya baik pada orang yang ia sukai saja.
Mi Ra lagi lagi harus kecewa dan pulang dari rumah Jung Hwa dengan wajah kesal.
Jung Hwa menyadari kalau Mi Ra marah padanya,tapi jiwa kemanusiaan Jung Hwa tidak bisa menelantarkan pasien pasien ini hanya demi urusan percintaannya yang masih bisa di tunda.