
Won Hee ingi membuat strategi baru,kali ini ia akan menjebak Dong Joo agar bisa tidur dengannya.
Won Hee sudah memesan obat yang akan membuat Dong Joo tidak sadarkan diri dan nantinya akan terangsang.
Won Hee berniat menjebak Dong Joo agar bisa tidur dengannya dan nantinya akan meminta Dong Joo bertanggung jawab dan menikahinya.
□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
Hari ini,Ha Na selalu tersenyum dan semangat bekerja.
Itu semua karena Min Jae yang semalam berbicara manis padanya.
Walau tadi sempat berpapasan dengan Dong Joo,Ha Na tidak lagi terpuruk dan sudah bisa menjadi kuat.
Tapi Dong Joo masih berat kepalanya karena banyak minum semalam.
Dong Joo juga menyadari,Ha Na sekarang berbeda setelah menjalin hubungan dengan Min Jae.
Dong Joo mulai takut posisinya di hati Ha Na tergeser oleh Min Jae.
UGD kedatangan pasien lagi hari ini.
Seorang wanita tua berusia 62 tahun mengeluh sakit di area perutnya.
Ha Na segera meminta perawat melakukan pindai CT pada pasien itu.
Setelah mendapatkan hasil CT yang terlihat adalah pasien di diagnosis dengan Kolesistitis (Radang saluran empedu).
Hal ini ternjadi karena penyumbatan saluran empedu dan sudah dalam kategori akut.
Kolesistitis berpotensi untuk terjadi secara berulang,apabila hal tersebut terjadi maka biasanya akan disarankan untuk di lakukan tindakan operasi pengangkatan kantong empedu (Kolesistektomi).
Prosedur ini juga bertujuan untuk mengurangi risiko komplikasi serius pada pengidap Kolesistitis.
Maka dari itu,Ha Na akan melakukan operasi pengangkatan kantong empedu pada pasien.
Tapi ada kendala,menantu pasien tidak memberikan izin suaminya untuk menyetujui operasi itu.
"Sayang,sebaiknya kita tidak usah saja mengoperasi ibu.
Minta obat untuk meredakan rasa sakit saja seperti biasa.
"Tapi Min Sun,ibu harus di operasi agar tidak lebih parah lagi,apa kau tidak kasihan.
Dia yang merawatku sejak kecil,aku harus berbakti padanya.
"Ibu sudah tua,wajar saja dia sakit.
Toh usianya juga tidak lama lagi..
Lebih baik,uangmu yang ada untuk kebutuhan kita sehari hari saja.
"Min Sun!!!
Wajah si isteri nampak masam,sang isteri tidak mau operasi itu di lakukan karena alasan ekonomi padahal si suami masih memiliki uang tabungannya.
Jelas si wanita tidak menyukai ibu mertuanya.
Ha Na segera menghampiri pasien itu.
Jadi bagaimana pak?
Ibu anda harus segera di operasi..
Si isteri lalu menggunakan senjata pamungkasnya.
Kau pilih aku atau ibumu!!
Jika kau memberikan izin untuk operasi itu lebih baik kita bercerai dan aku akan meninggalkan rumah juga membawa putri kita angkat kaki!!
Lebih baik ibumu mati saja daripada menyusahkan!!
Dia selalu sakit sakitan dan tidak bisa membantu apapun!!
Dia tidak berguna dan hanya beban saja.
Jadi silahkan putuskan!!
Ha Na tidak percaya dengan kata kata yang keluar dari mulut wanita itu.
Si suami juga nampak bingung.
Ia tidak mungkin bisa memilih dua wanita yang berarti di hidupnya.
Ha Na tidak bisa tinggal diam.
Pak Sang Min,ibu anda benar benar masih memiliki peluang untuk sembuh.
Terlepas dari urusan atau masalah keluarga yang kalian hadapi tapi jika suatu saat kau di posisi ibumu dan menantumu memperlakukanmu seperti itu bagaimana?
Istrimu memang ibu dari anakmu,tapi kau adalah anak dari ibumu.
Air susu yang dulu ia berikan untukmu juga setiap suapan makanan yang dulu ia masakkan untukmu hingga membuatmu tumbuh besar dan sehat seperti sekarang,kau tidak akan mampu menilainya dengan uang.
Jika kau melewatkan kesempatan ini kau akan menyesalinya seumur hidup karena ibumu tidak bersalah apa apa,tapi jika kau memilih isterimu maka kau akan menyesalinya dua kali baik di dunia dan juga di alam baka sana.
Kau adalah kepala keluarga dan kau juga seorang anak.
Buatlah keputusan yang bijak.
Jangan ikut campur urusan keluarga kami!!
"Si isteri mulai marah pada Ha Na.
Ha Na juga menegur wanita itu.
Dan kau juga!
Kau itu wanita yang sama seperti ibunya pernah merasakan betapa sakitnya melahirkan.
Kau juga merasa bagaimana mendidik dan membesarkan anakmu.
Apa kau tidak mengerti hukum karma!
Saat tua nanti,jika kau sakit dan di posisi sekarat dan anakmu tidak memberi izin operasi karena hasutan pasangannya saat itu baru kau akan menyesali hari ini.
Dan kelak 7 turunanmu juga akan mengulang terus tragedi itu karena ulahmu sekarang.
Sang Suami,tidak ingin hal buruk terjadi.
Ia memang mencintai isterinya,tapi ibunya juga adalah segalanya untuknya.
Lakukanlah dokter,tolong operasi ibuku.
Ha Na mengangguk dan segera menghampiri pasien.
Kini tinggal urusan pria itu dan isterinya.
Aku bukan bermaksud tidak mencintaimu dan tidak memilihmu tapi aku tidak bisa membayangkan hidupku ini akan dikutuk dan di cap sebagai anak durhaka oleh Tuhan.
Jika kau ingin membenciku maka bencilah,tapi aku akan tetap mencintaimu.
Si isteri kesal bercampur marah namun kata kata Ha Na terus berputar di otaknya.
Ia tidak ingin keturunannya terikat karma karena ulahnya,ia juga bisa kehilangan suami dan rumah tangganya hancur karena keegoisannya.
Wanita itu akhirnya sadar dan minta maaf pada suaminya.
Ia berjanji akan menjaga ibu mertuanya dengan baik mulai sekarang.
Akhirnya karena campur tangan Ha Na masalah itu bisa terpecahkan.
Operasi juga berjalan dengan lancar..
Selesai operasi,hal pertama yang Ha Na lakukan adalah menelepon Min Jae.
*Hei,kau dimana??
Aku,aku sedang berkelahi.
Sudah dulu ya*..
Min Jae menutup ponselnya begitu saja..
Rupanya,ia sedang berkelahi di sebuah parkiran gedung melawan anak buah dari bandar judi yang membawa kabur sejumlah uang milik bosnya.
Min Jae sempat tersudut karena kalah jumlah,untung saja bala bantuan datang dari anak buahnya yang menyusul datang ke tempat itu.
Tapi ia cukup babak belur dan bonyok karena perkelahian itu.
Ha Na malah merasa khawatir dengan Min Jae.
Apa yang terjadi dengan pria itu?
Nafasnya terengah dan sepertinya penuh dengan keributan..
Ha Na jadi tidak konsen bekerja,di sela sela itu Ah Ra menjumpai Ha Na dan memberitahu sebuah kabar..
Tiga hari kedepan,Won Hee dan Dong Joo akan di kirim ke pusat medis di Sokcho.
Won Hee yang menghasut kepala bedah untuk mengirimnya walau sebenarnya hanya Dong Joo yang diizinkan pergi.
Alih alih mendengar omongan Ah Ra tentang Dong Joo,fikiran Ha Na malah berpusat pada keadaan Min Jae saat ini.
Hei,kau mendengar ucapakanku tidak?
Iya,aku dengar.
Biarkan saja mereka..
Apa kau sudah tidak punya perasaan pada Dong Joo?
Ah Ra mulai penasaran..
Ha Na tidak menjawab dan malah pergi berlari..
Hei,kau mau kemana??!!!
Ha Na segera tancap gas dengan mobilnya untuk mencari Min Jae.
Di sana ia menanyakan pada salah satu pelayan tentang keberadan Min Jae.
Saat pelayan itu bertanya apa hubungannya dengan Min Jae,Ha Na lekas menjawab..
Aku adalah pacarnya..
Pelayan itu tercengang dan memutuskan memberi tahu dimana Min Jae berada.
Rupanya di belakang kasino itu ada apartemen untuk orang orang yang bekerja pada Bos besar kasino,salah satunya Min Jae.
No apartemen Min Jae adalah 214..
Ha Na sudah di depan pintu apartemen itu dan mengetuk pintu..
Tok..Tok..Tok
Setelah sekitar 2 menit menunggu,pintu itu terbuka.
Dari celah pintu terlihat wajah Min Jae yang membiru dan babak belur setelah terlibat perkelahian.
Min Jae juga kaget melihat yang ada di hadapan pintunya adalah Ha Na.
Ha Na langsung menerobos masuk.
Tampilan Min Jae benar benar kacau,sebelah matanya lebam.
Bibirnya juga terluka..
Kedua punggung tangannya juga lecet dan kaki kirinya agak pincang saat berjalan.
Tapi,ia masih bisa mencoba tersenyum di hadapan Ha Na.
Hei,kenapa kemari?
Aku sangat tidak senang saat orang melihatku dalam keadaan tidak keren dan tidak tampan seperti ini.
Ha Na tanpa sengaja menitikkan air mata.
Raut wajah Min Jae tiba tiba berubah melihat hal itu..
Dasar bodoh!!
Kau itu punya pacar seorang dokter!!
Kenapa tidak ke rumah sakit dan mendatangiku!!
Dulu walau hanya tergores kau tetap datang padaku tapi sekarang walau didera luka berat kau malah bersembunyi di sini dan memendamnya.
Dasar bodoh!!!!
Ha Na menangis pecah sekarang,melihat hal itu Min Jae segera melangkah maju dan memeluknya.
Maafkan aku Ha Na.
Aku hanya tidak ingin kau seperti ini..
Ha Na menangis cukup lama,dari rumah sakit tadi Ha Na membawa beberapa obat dan peralatan medis saat mendengar Min Jae terlibat perkelahian.
Dan sekarang setelah selesai menangis,Ha Na mulai mengobati luka Min Jae.
Min Jae sempat meringis sakit saat lukanya di obati.
Lebih parah lagi,ternyata perut sebelah kiri Min Jae robek cukup dalam.
Ha Na agak kesal karena Min Jae baru memberi tahunya.
Tapi Ha Na tetap menjahit luka itu.
Di sela lukanya di jahit,Min Jae ingin meraih rokoknya.
Namun..peringatan datang.
Jangan merokok saat kau bersamaku!!
Min Jae langsung mengurungkan niatnya dan tersenyum.
Ia memutuskan memandang wajah Ha Na yang sekarang menjahit lukanya.
Beruntung sekali orang yang tidak berpendidikan sepertiku bisa memiliki kekasih seorang dokter cantik seperti ini.
Ha Na lalu memandang Min Jae yang sekarang menatapnya.
Suasana kikuk mulai terasa..
Bahkan sangat canggung.
Tidak satupun dari mereka ingin melepas tatapan itu.
Min Jae memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada Ha Na dan Mengecup lembut bibir Ha Na.
Ha Na memejamkan matanya...
Setelah itu..
Ha Na akan pamit pulang setelah selesai mengobati luka Min Jae.
Keduanya malah sangat kaku dan salah tingkah setelah ciuman itu..
Aku pulang dulu,kalau ada masalah dengan lukamu hubungi saja aku.
Oh,iya..iya..
Baiklah...
Tapi ada yang mengganggu pandangan Min Jae.
Sebuah kalung yang menjutai di leher Ha Na.
Dilihat dari bentuknya itu pasti pemberian mantan pacarnya dulu...
Ha Na...
Iya?
Kenapa??
Kalung itu apa dari mantan pacarmu?
Em,iya....
Apa kau tidak suka..
Ha Na jadi merasa tidak enak..
Tidak tidak,aku hanya bertanya saja.
Itu pasti mahal dan kau juga cocok mengenakannya
Tidak apa apa.
Min Jae berpura pura baik baik saja,tapi Ha Na tahu jika itu hanya kebohongan belaka..
Kasihan Min Jae.
Aku yang salah,tidak sepantasnya aku memakai pemberian Dong Joo padahal sekarang aku sudah menjadi kekasihnya.
Karena itu Ha Na membuat keputusan,Ha Na melepas kalung itu dari lehernya..
Min Jae kaget....
Hei,tidak perlu melakukan itu..
Padahal dalam hati Min Jae bersorak sorai bahagia.
Sebagai gantinya,untuk mengisi leher Ha Na yang kosong.
Min Jae memberi kalung perak polosnya pada Ha Na.
Min Jae menyematkan kalung itu di leher Ha Na.
Walau tidak mahal,tapi tolong terima pemberianku itu ya.
Jika sudah ada uang lagi,aku akan membelikanmu sesuatu yang mahal.
Ha Na tersenyum.
Terima kasih...
Ha Na pulang dengan perasaan bahagia...
Kini,ia tahu jika Min Jae memang memiliki arti untuknya.
Tapi jauh di lubuk hatinya,posisi Dong Joo juga masih bertengger di hatinya.
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Won Hee sangat bersemagat untuk bersama Dengan Dong Joo di perjalan untuk penelitian medis kali ini.
Terlebih ia juga satu mobil dengan Dong Joo.
Saat perjalanan pergi,Dong Joo mengirimi Ha Na pesan.
Ha Na,aku akan pergi beberapa hari.
Aku harap kau baik baik saja.
Aku berjanji tidak akan pernah menggatikan posisimu untuk siapapun walau sekarang kau bersama yang lain.
Aku percaya kau akan kembali lagi padaku nanti.
Aku membiarkanmu sekarang bukan karena aku sudah merelakanmu dan mampu melepaskanmu tapi itu semua aku lakukan agar setidaknya kau bisa tersenyum dan tidak selalu tersiksa.
Jika semua sudah beres,aku berjanji akan menjemputmu kembali ke hatiku.
Ha Na menerima pesan itu,dan kini ia sedih lagi.
Lagi lagi Ha Na menangis tersedu di dalam mobil itu walau sebelumnya sempat bahagia dan sedikit lupa tentang Dong Joo karena kehadiran Min Jae..