THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
RUMAH SAKIT GEULIP



Hari itu akhirnya tiba..


Ha Na dan Dong Joo akan pergi menuju tempat baru dimana mereka akan di tugaskan dan bekerja sana.


Untuk menebus rasa bersalahnya karena menyeret Ha Na ke pusara kesalahannya,Dong Joo bersedia memberi tumpangan pada Ha Na untuk pergi bersama.


Tapi,saat Dong Joo menjemput Ha Na tadi,ada sesuatu yang lain di mata Yun Hee saat melihat dan bertemu Dong Joo langsung untuk pertama kalinya.


Sosok Dong Joo sangat mirip seseorang yang Yun Hee kenal dulu,namun Yun Hee tidak ingat siapa orang yang mirip dengan Dong Joo itu.


Yun Hee hanya merasa tidak asing sama sekali.


Walau ketus dan angkuh di hadapan para juniornya tapi Dong Joo bersikap sopan pada orang tua Ha Na.


Ia berpamitan dengan bahasa yang halus dan lembut sehingga membuat Ha Na berfikir,apakah Dong Joo itu memiliki kepribadian ganda atau bermuka lebih dari satu.


Sangat beda dengan sikapnya di rumah sakit,untung saja ia masih tahu sopan santun pada orang tua.


Tapi suasana Ha Na dan Dong Joo di dalam mobil seperti suasana di kamar mayat yang sunyi namun mencekam.


Kenapa juga dia mengajakku pergi bersama tapi tidak mau bicara denganku.


Apa aku ini tidak terlihat atau hanya di anggap angin olehnya.


Ha Na didiamkan Dong Joo selama perjalanan itu.


Musik juga tidak di nyalakan.


Ha Na berinisiatif ingin memulai pembicaraan..


Senior...


Panggil saja aku Dong Joo.


Eh,tapi kan kau memang seniorku.


Ha Na merasa heran sesaat..


Apa tidak kurang ajar kalau aku memanggilnya dengan nama saja?


Tidak apa apa,toh kita juga di buang dari rumah sakit itu.


Kenapa dibuang?


Apa maksudmu?


Dong Joo menghela nafas dan menceritakan hal yang sudah pasti membuat mereka di singkirkan dan di kirim ke desa rawan konflik itu.


Istri yang suaminya meninggal di meja operasi kemarin,ayahnya ada orang yang berkuasa di dunia politik dan bisnis..


Ia menuruti permintaan putrinya untuk mengusir kita dari rumah sakit itu dan membuang kita kesini karena tidak berhasil menyelamatkan suaminya dan berdebat dengannya kemarin.


Apa????


Kenapa baru memberi tahuku sekarang?


Dong Hoo hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan atas rasa kebingungan Kyung Mi.


Melihat Dong Joo diam dan dingin adanya,Ha Na menyerah dan menyandarkan diri dalam diam lagi di kursi mobil itu.


Jadi karena itu Dong Joo mau memberiku tumpangan.


Dia pasti merasa bersalah karena menyeretku ke sini.


Tapi.....


Semoga saja aku bisa lebih dekat dan memahaminya.


Walau terasa berat namun Ha Na tetap bersemangat dengan penugasan di tempat barunya ini.


Semalam saat berselancar di internet tentang desa itu,jiwa kemanusiaannya terpanggil melihat banyak warga yang meninggal sia sia karena tidak di tangani dengan baik,kekurangan tenaga medis, juga keadaan berat yang kadang membuat harus membedah pasien di tengah konflik yang memanas.


Ha Na bertekad menyalurkan kemampuannya dengan baik dan menjadi dokter yang benar benar berguna untuk masyarakat di sana.


Perjalanan sangat jauh dan melelahkan,kini sampailah Ha Na dan Dong Joo masuk ke desa sepi yang penuh dengan hawa ketegangan itu.


Baru memasuki area itu saja sudah banyak pemeriksaan yang harus dilakukan Ha Na dan Dong Joo oleh tentara di sana.


Untungnya mereka selamat dan berhasil melewati pemeriksaan itu.


Saat mobil di pacu kembali terlihat para tentara yang mondar mandir di tepian jalan.


Mereka berjaga jaga dengan siaga agar bisa langsung menghadapi jika ada serangan yang mendadak.


Setelah sekian waktu menghabiskan perjalanan di dalam mobil,sampailah mereka di rumah sakit itu..


Rumah sakit Geulip (dalam bahasa Kporea di artikan mencekam),nama yang sesuai dengan kondisi di sana.


Ha Na dan Dong Joo beranjak keluar dari mobil..


Dong Joo prihatin dengan rumah sakit ini.


Pantas saja banyak pasien yang tidak bisa di selamatkan di sini.


Bahkan dari depan pun rumah sakit ini sudah tidak meyakinkan.


Ha Na juga ikut bergumam..


Mengingat desa ini jauh dari kota juga banyak pemeriksaan yang ketat sudah pasti untuk memasok obat obatan dalam waktu yang cepat pasti susah.


Di sini terlalu ketat dan banyak orang yang menaruh curiga satu sama lain karena sering terjadi warga Korea utara menyusup masuk ke daerah ini.


Karena itulah pemeriksaan ketat sangat di utamakan mengingat hubungan kedua negara ini yang masih panas dingin.


Ha Na dan Dong Joo melangkah masuk ke dalam.


Baru juga masuk..


Hei,kalian dokter dokter baru dari Seoul itu kan?


Ha Na dan Dong Joo masih mebengong,bahkan tas dan koper masih mereka jinjing di tangan dan belum di taruh.


Apa yang kalian tunggu,cepat tangani para pasien disini.


Baiklah,sepertinya memang tidak ada waktu untuk istirahat.


Ha Na dan Dong Joo langsung berkutat dalam perkerjaan dan menangani pasien.


Ha Na menangani seorang pasien, gadis remaja berusia 13 tahun.


Dari hasil diagnosanya pasien itu terkena DBD atau demam berdarah.


Dengue hemorrhagic fever (DBD) atau demam berdarah adalah komplikasi dari demam dengue atau dengue fever yang semakin memburuk.


Salah satu gejala utama DBD adalah kerusakan pembuluh darah dan kelenjar getah bening.Selain itu pasien ini juga sudah postif terkena DBD dari gejala gejala DBD yang sudah ia alami saat baru memasuki rumah sakit ini seperti:


Darah yang muncul saat muntah dan dari gusi serta hidung.


Pernafasannya juga berat terlihat dari gadis ini yang terus terengah engah sejak tadi.


Pasien juga mengeluh perutnya terasa sakit,itu terjadi karena pembengkakan organ hati.


Pasien Ha Na ini sendiri tegolong terkena DBD derajat III.


Hipotensi atau tekanan nadi yang menurun,sianosis di sekitar mulut,kulit yang terasa dingin dan lembab di sertai kegelisahan yang terus terjadi pada pasiennya.


Ha Na segera meminta perawat untuk memasang infus pada anak ini karena ia harus terus terhidrasi dan selalu memberikan pasien minum.


Panasnya yang tinggi juga harus di atasi dengan pemberian paracetamol dan acetaminophen untuk meringankan gejala DBD,juga pasien harus terus di pantau untuk memastikan demamnya turun dalam waktu 2 sampai 5 hari.


Ha Na meminta perawat menghindari memberi pasien ini obat pereda nyeri seperti aspirin dan ibuprofen dan naproxen sodium untuk menghindari pendarahan internal.


Wabah DBD sepertinya cukup melanda dan parah di sini.


Karena ada beberapa korban yang berjatuhan bahkan menurut perawat yang bertugas kemarin ada pasien yang nyawanya tidak terselamatkan karena hal ini.


Ha Na sangat prihatin,bagaimana tidak..


Hal ini pasti berasal dari lingkungan yang tidak sehat.


Para warga masih berusaha datang ke sini karena hanya ini satu satunya akses tenaga kesehatan yang bisa mereka jangkau.


Tapi sejauh mata Ha Na memandang,di sini benar benar kekurangan tenaga medis dan peralatan medis.


Bahkan ada pasien yang harus rela terbaring di lantai karena ranjang untuk pasien sudah penuh semua.


Ha Na sampai ingin mengeluarkan air mata karena prihatin.


Banyak jeritan tolong yang harus ia datangi tanpa ada cukup tangan untuk membantu mereka.


Andai saja aku punya seribu tangan di satu badan ini.


Aku pasti akan menyelamatkan pasien pasien ini dalam satu waktu tanpa membuat kalian menunggu dan menjerit sana sini seperti ini.


Dong Joo melihat Ha Na yang kacau itu.


Ia merasa iba dan sempat tergelitik di hatinya untuk ingin menenangkan Ha Na yang ia sangat tahu sedang terguncang sekarang.


Gadis itu pasti merasa kacau dan bingung dengan situasi mematikan ini.


Gadis yang sejak kecil selalu bahagia dan tidak pernah di rundung susah itu akan larut dalam kemelut batinnya saat melihat orang orang yang susah dan terkapar karena penyakit sebanyak ini.


Maaf,karena aku telah menyeretmu ke sini.


Tapi aku akan berjuang agar kau bisa keluar dari sini dan biarkan aku yang bertanggung jawab atas semuanya.


Karena dari awal ini semua memang seharusnya untukku dan tidak ada sangkut pautnya denganmu.