
Cukup lama Ha Na mendekap dan menangis dalam pelukan hangat Jae Ha.
Jae Ha perlahan melepas pelukan itu dan menyeka wajah Ha Na yang berlumuran air mata.
Juga merapihkan rambut Ha Na yang berantakan.
Jae Ha memandang wajah Ha Na yang sangat menyedihkan dan memilukan itu.
Reflek saja,Jae Ha mengecup lembut kening Ha Na.
Ha Na merasa aneh....
Jae Ha juga jadi kikuk setelah apa yang di perbuatnya.
"Ma..maaf jika aku sudah lancang..
Aku hanya terbawa perasaan dan mengasihanimu...
Ha Na menggeleng..
"Tidak apa apa,aku tahu kau iba padaku.
Kau juga baik dan sudah menolongku untuk kedua kalinya.
Karena itu,apa boleh aku menganggapmu seperti kakak laki lakiku saja?
Kau persis seperti seorang kakak bagiku yang selalu berusaha melindungiku..
Bagaimana?
Jae Ha langsung menjawab tanpa fikir panjang lagi.
"Setuju..
Mulai sekarang aku akan jadi kakak laki lakimu..
Panggil aku oppa...
Ha Na tersenyum..
" Iya oppa.
Jae Ha dan Ha Na sama sama lega.
Setidaknya sekarang hubungan mereka sudah membaik dan bahkan menjadi kakak adik.
Dengan hubungan baru ini,Jae Ha bisa membuat alasan jika nantinya ia memikirkan dan peduli pada Ha Na tanpa bingung akan perasaannya lagi.
Jae Ha merasa sudah cukup jika Ha Na di anggap sebagai adik.
Jae Ha juga bisa saling sharing dan bertukar fikiran tentang masalah pekerjaan dengan Ha Na.
Jae Ha mengantar Ha Na pulang dan sekarang entah kenapa perasaannya seringan kapas.
"Sekarang aku punya adik perempuan..
Aku senang dan bersemangat sekali rasanya...
Jae Ha sangat senang sampai bersiul ria di dalam mobil.
Jae Ha juga sudah berjanji besok akan mengantar Ha Na pergi bekerja.
Belum puas sampai di situ
Sesampainya di rumah,Jae Ha langsung menelepon Ha Na lagi..
"*Adikku,oppamu sudah sampai di rumah..
"Baguslah,aku baru saja selesai mandi.
Oppa sedang apa..
Ha Na sedikit belum terbiasa dengan panggilan barunya terhadap Jae Ha*.
"*Aku..,aku sedang melukis..
"Eiy,oppa bisa melukis??
"Tentu saja,aku punya bakat itu.
Kapan kapan akan aku perlihatkan koleksi lukisanku padamu..
"Benarkah???
"Tentu saja...
Sudah,istirahat sana...
"Iya oppa..
Selamat malam*.
Telepon itu di tutup.
Yun Hee dan Jung Hwa rupanya menguping di balik pintu kamar Ha Na.
Mereka sangat senang karena menduga sudah ada pria yang bisa mengobati hati Ha Na sekarang.
Tapi Jae Ha agak kerepotan dan panas telinganya karena di marahi ayahnya atas ulahnya pada putera group Gokil yang kurang ajar pada Ha Na itu.
Jae Ha lalu menjelaskan duduk perkaranya dan alhasil ayahnya tidak begitu marah.
Jae Ha selamat.
Dan untuk Hong Ah,saat Jae Ha menelepon Ha Na tadi rupanya Hong Ah mencoba menelepon Jae Ha dan nomor Jae Ha sibuk.
Hong Ah mengira mungkin Jae Ha sedang menelepon kliennya tanpa tahu Jae Ha sedang di bingungkan dengan perasaannya yang menganggap Ha Na adik namun kenyataannya sepertinya Jae Ha mempunyai sesuatu pada Ha Na.
Esok paginya,Jae Ha bangun dengan penuh semangat dan berpakaian rapi.
Ia juga menyemprotkan pafrum favoritnya dengan wangi maskulin itu.
Setelah itu ia langsung menjemput Ha Na seperti janjinya..
Mobil merah Jae Ha sudah di depan rumah Ha Na.
Ha Na segera berlari dan masuk ke mobil itu.
"Selamat pagi oppa.
Sapa Ha Na..
Tapi saat melihat Ha Na,Jae Ha malah terganggu dengan tepian bibir Ha Na dengan butiran sisa roti itu..
"Eiy..bersihkan dulu mulutmu setelah makan Ha Na..
Jangan belepotan begitu.
Kan terkesan jorok,kau ini dokter..
Walau sambil mengomel tetap saja Jae Ha yang membersihkan tepian bibir Ha Na itu dengan tanganya sendiri.
Sementara Ha Na hanya tersenyum.
"Terima kasih oppa..
Jae Ha juga ikut tersenyum melihat wajah Ha Na yang menggemaskan itu.
Tidak lama ponsel Jae Ha berdering.
Rupanya itu dari tunagannya..
Jae Ha menatap Ha Na..
Tapi anehnya,Jae Ha malah agak tegang karena merasa seperti ketahuan selingkuh..
Jae Ha menjawab telfon dari Hong Ah sebentar yang ternyata masalah pekerjaan.
Setelah selesai,Jae Ha mematikan telfon itu..
Jae Ha lalu menjelaskan pada Ha Na..
"Yang menelfon tadi tunanganku..
"Hebat,Oppa sudah punya tunangan.
Dia pasti cantik..
Ayo perlihatkan padaku oppa..
Jae Ha lalu memperlihatkan foto Hong Ah.
"Wah,cantik sekali..
Seperti model saja..
Dia sangat serasi dengan oppa..
Jae Ha juga sedikit bercerita jika Hong Ah adalah sahabat kecilnya dulu.
"Em,semoga oppa dan Hong Ah segera menikah ya.
Jangan gila kerja dan lupa untuk menikah ya..
Jae Ha geli sendiri mendengar Ha Na yang sok menceramahinya.
Ia menggosok gosok kepala Ha Na.
"Oppa,hentikan...
"Iya..iya baiklah..
"Kapan oppa akan mengajakku melihat lukisanmu?
"Emm,hari rabu saja ya..
Bagaimana??
"Emm,boleh juga...
Setuju..
Setelah itu,Jae Ha mengantar Ha Na ke rumah sakit tempatnya bekerja..
Di rumah sakit,seorang siswi SMP menjadi korban bullying dan pengeroyokan teman temannya.
Siswi itu berusia 15 tahun bernama Han Ga Eun.
Ha Na yang menangani pasien itu bergidik ngeri.
Pelaku pengeroyokan yang berjumlah 3 orang juga masih berusia 15 tahun.
Korban sendiri menderita lebam di seluruh wajah.
Jari kelingking kiri patah juga memar di badan akibat hantaman kayu atau benda tumpul lainnya.
Dari hasil penyelidikan,teman temanya mengeroyok Ga Eun hanya karena masalah sepele yaitu ia berpacaran dengan pria yang di sukai oleh salah satu dari tiga sekawan itu.
Bullying memang marak terjadi sekarang.
Para pelaku juga tidak takut,karena mereka masih di bawah umur maka tidak akan di penjara dan hanya di rehabilitasi atau sebatas teguran lalu bisa bebas kembali.
Namun bagi Ha Na,ini tidak bisa di biarkan.
Ia segera mengadukan hal ini ke ayahnya.
Untungnya luka pasien masih bisa di obati dari luar tanpa perlu operasi.
Hanya saja setelah ini ia perlu penanganan khusus dari psikiater untuk masalah trauma yang di hadapinya.
Jung Hwa dengan sigap menanggapi hal seperti ini.
Ia akan segera memperosesnya.
Jung Hwa akan menemui keluarga korban di rumah sakit nantinya.
Ibu korban sangat sedih melihat puterinya seperti ini.
Setelah semua kejadian ini,apa puterinya masih mau untuk bersekolah lagi.
Ia juga pasti akan sulit bersosialisasi karena trauma yang sangat mendalam.
Karena ulah para bocah itu,masa depan anaknya bisa saja berhenti sampai di sini.
Ha Na mendekati orang tua korban dan mengajaknya bicara.
"Paman,bibi..tenang saja.
Ayahku akan membantu kalian mendapat keadilan..
Ayahku adalah seorang pengacara...
Suami isteri itu saling berpandangan.
Ayah sang anak lalu buka suara.
"Tidak dokter,kami tidak ingin membawa hal ini ke ranah hukum.
Lagipula para pelaku semuanya masih di bawah umur.
Mereka tidak mungkin di penjara.
Mereka akan di minta hanya minta maaf dan tidak mengulangi perbuatannya saja.Hanya hal itu yang bisa terjadi.
Jika kami terlalu ngotot pada hukum,anak kami akan semakin di bully oleh teman temannya di sekolah.
Anak anak berandal itu juga akan semakin dendam dan mengincar anak kami.
Sekarang ini,kami hanya ingin Ga Eun sembuh dan bersekolah lagi dokter...
Apa yang di katakan orang tua anak itu benar adanya.
Yang sekarang mereka butuhkan bukan memeberi hukuman tidak seberapa bagi para pelakunya.
Tapi bagaimana anak mereka bisa pulih kembali.
Itulah yang terpenting.
Tidak lama Jung Hwa juga sudah datang.
Ha Na menjelaskan apa yang di inginkan ayah korban tadi.
Ia tidak ingin menuntut kebenaran,tapi bagaimana agar puterinya tidak mengalami hal seperti ini lagi.
Karena itu,Ha Na akan merujuk anak itu ke rumah sakit khusus korban trauma agar mendapat perawatan lebih baik.
Jung Hwa juga akan berupaya merekomendasikan korban itu ke sekolah lainnya yang lebih aman.
Lebih baik anak itu di sekolah baru di banding tetap bertahan di sekolah lama karena para pelaku kemungkinan akan mengulangi perbuatannya lagi.
Atas bantuan dari Ha Na dan ayahnya itu,keluarga korban sangat mengucapkan terima kasih.
Terkadang kita mengelak dari hukum dan memilih untuk menghindar dari kebenaran bukan karena kita tidak percaya pada hukum namun terkadang jika tidak mendapat hasil seperti yang kita inginkan dan hanya merugikan kita.
Akan lebih baik jika kita mencari jalan lain yang lebih baik dan lebih menguntungkan di banding mencari sesuatu untuk membalas secara setimpal namun kita tetap menjadi pihak yang di rugikan.